Selasa, 26 April 2016
Senin, 18 April 2016
Senin, 04 April 2016
Lantai 2 part II
Waktu kini tak lagi akan berulang, hanya ada hari-hari yang
melelahkan. Mungkin untuk dia yang menunggu ketidak pastian, akan sebuah
pengharapan yang tengah ia tunggu dan berlalu bersama orang lain. Ia hanya bisa
melihat dan mengagumi dengan segenap ke-kikukkannya.
Ini mungkin semester akhir Dika untuk berkuliah, semua
telah ia leweti dengan komitmennya. Termaksud komitmen untuk wisuda di tahun ke
empat. Yah, sidang meja hijau hari ini tengah menunggu. Bisa jadi ini akan memberikan
tekannan pada Dika, atau hanya sedikit kecemburuan pada teman-temannya yang
hari ini di dampingi oleh masing-masing pacarnya.
Setidaknya sidang meja hijau hanya di peruntukkan bagi
calon sarjana dan pasti tidak harus menghadirkan pacar sebagai pendamping. Walau
bagi mereka dukungan emosional akan berpengaruh dengan ferforma mereka saat
menjawab pertanyaan para dosen.
“Hemnhhh”, Dika
sedikit lemas meratapi kesunyian disampingnya.
Dika hanya berdiam diri sembari menunggu beberapa menit lagi
untuk masuk keruangan sidang, sementara teman-temannya terus gelisah. Hanya
saja kegelisahan mereka selalu di lerai dengan motivasi dari pendampingnya.
Akhirnya Dikapun melangkah masuk ke dalam ruangan sidang,
hanya Dika dan para penguji yang merupakan dosen Dika. Semuanya terlihat senyum
dan hanya menampakkan suasana hati yang senang. Tidak setegang pemikiran
teman-teman Dika lainnya yang ingin sidang.
Persidangan dimulai dengan sangat santai. Dika terus
berusaha menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang semakin mengkrucut pada
kesimpulan skripsi miliknya. Perlahan tapi pasti semuanya berjalan begitu
mulus, walau membuat Dika banjir keringat. Setidaknya persidangan usai dengan
hasil yang memuaskan. Iapun ke luar melangkah
ringan, seperti seekor burung mengepakkan sayapnya mengudara bebas.
“Hay, Dik!” tegur bang Jaya.
“hay”, balas Dika dengan sangat antusias.
“selamat, ya!”, sambung lelaki itu sembari menyodorkan
tangannya.
“Iya, makasi Bang!”, balas Dika menjabat tanganya.
Merekapun duduk di kursi dekat tangga. Dika dan jaya
bercerita layaknya saudara yang saling merindukan. Mungkin karena Dika sudah
satu setengah tahun tidak bertemu Jaya yang telah duluan wisuda, keduanya
tetaplah akrab bagai seniordan junior.
Saat asyik bercerita tiba-tiba percakapan mereka harus
terhenti, bukan karena ada sebuah insiden atau kecelakaan. Percakapan keudannya
terhenti saat Putri datang dan mengalihkan pandangan Dika yang sejak tadi hanya
bertatap muka dengan jaya.
“Bang, ayo kita pulang”, ajak Putri pada jaya.
“iya, bentar”, bantah Jaya dan melanjutkan ”Oia, dek.
Kenalin ini Dika temen Abang”. Ujarnya sembari mendongakkan pandangan ke arah
putri.
Dika dan Putripun berjabat tangan, ini jabatan tangan
kesekian kalinya. Walau sedikit aneh tapi tetap saja Dika menahan rasa cemasnya
yang datang tidak tepat waktu itu.
“Oia, Dik. Putri ini tunangan Abang”, tanpa ragu Jaya
mengatakannya.
“Hemnh”, Dika tersenyum.
Tapi saat jaya usai menyampaikan berita
bahagianya, iapun mohon diri untuk pulang bersama tunangannya itu.
Dika mehan kecewa dan terus memandangjauh ke arah lambaian
tangan Jaya yang membawa Putri pergi bersamanya. Perlahan hilang di tengah
hijaunya suasana kampus yang mulai senja.
*****
Hari ini adalah hari yang sangat di nanti oleh semua
mahasisiwa, mereka mengenakan toga sebagai perlambang ke arifan ilmu yang telah
mereka ampu. Tampak semuanya saling bersalam-salamman mengucapkan selamat. Atas
wisda di hari yang indah ini banyak pula yang menitihkan air mata bahagia dan
ada yang berfoto seolah-olah hari ini takkan pernah terulang kembali.
Namun Dika hanya bisa mengurut dada dan dengan berat hati
menatap dari kejauhan indahnya gedung tempat ia berkuliah, ada banyak ruangan
dan fasilitas yang sering ia gunakan. Lantas tampaknya pengunjung setia lantai
dua fakultas ini, harus rela melepas intaiannya setiap pagi. Putri Sri Rahayu,
kini hanya sebuah nama yang akan tertulis bersanding dengan nama seniornya.
Yah. Mendengar keduanya telah bertunangan, pastilah sangat tidak mungkin bagi
Dika untuk mendekati putri.
Adai waktu bisa berulang, andai saat itu Dika memiliki
sedikit keberanian dan kesempatan. Mungkin saja hari ini akan menambah
kebahagiannya atau setidaknya rasa yang ia miliki telah ia ungkapkan pada
Putri, tidak pada lanatai dua. Hanya ada senyuman dan kedipan mata yang
terpasang pada pada wajah Dika, mengingat semuanya harus ia tinggalkan dan
harus Dika relakan.
“Mungkin hanya ada dua pilihan saat dilanda
asmara, mengungkapkannya atau menyimpannya. Bila mengungkapkannya, saat itu
hanya ada kebahagiaan jika diterima dan hanya ada kepastian bila di tolak.
Namuan bila menyimpannya, hanya ada senyuman dan kedipan mata yang memaksa
untuk melupakanya serta menyeretkan kaki untuk beranjak pergi.”
Langganan:
Komentar (Atom)







