Senin, 04 April 2016

Lantai 2 part II


 
          Waktu kini tak lagi akan berulang, hanya ada hari-hari yang melelahkan. Mungkin untuk dia yang menunggu ketidak pastian, akan sebuah pengharapan yang tengah ia tunggu dan berlalu bersama orang lain. Ia hanya bisa melihat dan mengagumi dengan segenap ke-kikukkannya.

          Ini mungkin semester akhir Dika untuk berkuliah, semua telah ia leweti dengan komitmennya. Termaksud komitmen untuk wisuda di tahun ke empat. Yah, sidang meja hijau hari ini tengah menunggu. Bisa jadi ini akan memberikan tekannan pada Dika, atau hanya sedikit kecemburuan pada teman-temannya yang hari ini di dampingi oleh masing-masing pacarnya.

          Setidaknya sidang meja hijau hanya di peruntukkan bagi calon sarjana dan pasti tidak harus menghadirkan pacar sebagai pendamping. Walau bagi mereka dukungan emosional akan berpengaruh dengan ferforma mereka saat menjawab pertanyaan para dosen.

          “Hemnhhh”, Dika sedikit lemas meratapi kesunyian disampingnya.

          Dika hanya berdiam diri sembari menunggu beberapa menit lagi untuk masuk keruangan sidang, sementara teman-temannya terus gelisah. Hanya saja kegelisahan mereka selalu di lerai dengan motivasi dari pendampingnya.

          Akhirnya Dikapun melangkah masuk ke dalam ruangan sidang, hanya Dika dan para penguji yang merupakan dosen Dika. Semuanya terlihat senyum dan hanya menampakkan suasana hati yang senang. Tidak setegang pemikiran teman-teman Dika lainnya yang ingin sidang.

          Persidangan dimulai dengan sangat santai. Dika terus berusaha menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang semakin mengkrucut pada kesimpulan skripsi miliknya. Perlahan tapi pasti semuanya berjalan begitu mulus, walau membuat Dika banjir keringat. Setidaknya persidangan usai dengan hasil yang memuaskan.  Iapun ke luar melangkah ringan, seperti seekor burung mengepakkan sayapnya mengudara bebas.

          “Hay, Dik!” tegur bang Jaya.

          “hay”, balas Dika dengan sangat antusias.
          “selamat, ya!”, sambung lelaki itu sembari menyodorkan tangannya.

          “Iya, makasi Bang!”, balas Dika menjabat tanganya.

          Merekapun duduk di kursi dekat tangga. Dika dan jaya bercerita layaknya saudara yang saling merindukan. Mungkin karena Dika sudah satu setengah tahun tidak bertemu Jaya yang telah duluan wisuda, keduanya tetaplah akrab bagai seniordan junior.

          Saat asyik bercerita tiba-tiba percakapan mereka harus terhenti, bukan karena ada sebuah insiden atau kecelakaan. Percakapan keudannya terhenti saat Putri datang dan mengalihkan pandangan Dika yang sejak tadi hanya bertatap muka dengan jaya.

          “Bang, ayo kita pulang”, ajak Putri pada jaya.

          “iya, bentar”, bantah Jaya dan melanjutkan ”Oia, dek. Kenalin ini Dika temen Abang”. Ujarnya sembari mendongakkan pandangan ke arah putri.

          Dika dan Putripun berjabat tangan, ini jabatan tangan kesekian kalinya. Walau sedikit aneh tapi tetap saja Dika menahan rasa cemasnya yang datang tidak tepat waktu itu.

          “Oia, Dik. Putri ini tunangan Abang”, tanpa ragu Jaya mengatakannya.

          “Hemnh”, Dika tersenyum.

            Tapi saat jaya usai menyampaikan berita bahagianya, iapun mohon diri untuk pulang bersama tunangannya itu.

          Dika mehan kecewa dan terus memandangjauh ke arah lambaian tangan Jaya yang membawa Putri pergi bersamanya. Perlahan hilang di tengah hijaunya suasana kampus yang mulai senja.

*****

          Hari ini adalah hari yang sangat di nanti oleh semua mahasisiwa, mereka mengenakan toga sebagai perlambang ke arifan ilmu yang telah mereka ampu. Tampak semuanya saling bersalam-salamman mengucapkan selamat. Atas wisda di hari yang indah ini banyak pula yang menitihkan air mata bahagia dan ada yang berfoto seolah-olah hari ini takkan pernah terulang  kembali.

          Namun Dika hanya bisa mengurut dada dan dengan berat hati menatap dari kejauhan indahnya gedung tempat ia berkuliah, ada banyak ruangan dan fasilitas yang sering ia gunakan. Lantas tampaknya pengunjung setia lantai dua fakultas ini, harus rela melepas intaiannya setiap pagi. Putri Sri Rahayu, kini hanya sebuah nama yang akan tertulis bersanding dengan nama seniornya. Yah. Mendengar keduanya telah bertunangan, pastilah sangat tidak mungkin bagi Dika untuk mendekati putri.

          Adai waktu bisa berulang, andai saat itu Dika memiliki sedikit keberanian dan kesempatan. Mungkin saja hari ini akan menambah kebahagiannya atau setidaknya rasa yang ia miliki telah ia ungkapkan pada Putri, tidak pada lanatai dua. Hanya ada senyuman dan kedipan mata yang terpasang pada pada wajah Dika, mengingat semuanya harus ia tinggalkan dan harus Dika relakan.

          Mungkin hanya ada dua pilihan saat dilanda asmara, mengungkapkannya atau menyimpannya. Bila mengungkapkannya, saat itu hanya ada kebahagiaan jika diterima dan hanya ada kepastian bila di tolak. Namuan bila menyimpannya, hanya ada senyuman dan kedipan mata yang memaksa untuk melupakanya serta menyeretkan kaki untuk beranjak pergi.”