Siang ini cukup panas
dengan sensasi gerahnya, mengingat mata kuliah yang masih harus dilanjutkan.
Hanya ada jendela sebagai pembuai gerah yang mencairkan keringat. Untuk sekelas
kampus berakreditasi A, cukup mencengankan memang saat harus kepanasan karena
AC tidak berfungsi sebagaimana biasanya.
Inilah siang yang ku impikan selama bertahun-tahun saat
masih SMA dulu, bayangan yang selalu hadir adalah kenyamanan dan ketenagan bila
berada di ruangan ber-AC. Ntah itu mimpi yang salah atau terlalu berlebihan,
pastinya tak sedingin dan tak senyaman hayalanku.
****
Kata orang aku biasa saja namun sebagian kecil dari mereka
yang pernah menjadi pacarku selalu bilang kalau aku itu istimewa, mungkin
sebuah pujian atau gombalan. Bagiku saat ini hanyalah perasaan yang dibuai
angan-angan, lambat laur pergi bersama waktu.
Aku siang ini sedikit jenuh menunggu dan hanya mendengarkan
teman-teman menggerutu, walau di samping itu aku sedang berbalas pesan dengan orang
yangbaru saja sangat dekat denganku. Mahadi. Begitu unik nama itu, seunik
tingkahnya dan cara dia berfikir.
Pertemuan itu entah disengaja atau tidak namun bermuara
pada pandangan yang membuatku sungguh kepayang, untuk laki-laki yang cukup
memberikan kesan. Awalnya aku prihatin melihat kesehariannya, ia selalu
menyendiri di tengah ramainnya temannya. Banyak yang bilang dia itu kuper
padahal dia punya banyak orang yang menyukainya dan membutuhkannya. Tapi tidak
dengan dia, dia lebih sering menyendiri dan melamun. Wajah itu selalu merengut
ragu dan ekspresi yang sangat sulit di tebak.
Perlahan tapi pasti, akhirnya banyak dugaanku dan rumor
yang beredar tentangnnya terjawab. Mahadi ternyata memang anak yang suka
menarik diri, banyak orang yang tak mengerti tentang dia meski banyak orang
yang membutuhkannya. Dia dan mahasiswa lainnya tampaknya tak sama, dia hanya
terlihat murung dan tak menyadari kalau dia adalah orang yang berharga bagi
oranglain. Padahal Yudi teman dekatnya yang juga abang kelasku, sangat populer
dan terkenal dengan geng-nya. “Apakah
Mahadi tidak termaksud dalam geng yang
sedang Yudi geluti?”.
****
“Bang, Dona boleh nanyak enggak?”, bisikku pdanya yang
duduk di sapingku.
“Jangan tentang tugas ya”, btahnya dengan suara halus.
“ihh, enggak ya!”, balasku mencubit pipinya.
Iapun tersenyum kearahku, menatapku dan sedikit memaikan
alis matanya. Sungguh ekspresi wajah Mahadi yang tak pernah ku lihat selama
ini.
“Ok, sayang mau nanya apa?”, sabungnya bertanya.
Aku sedikit gugup merespon pandangannya yang tak biasa
menurutku.
“Abang, kok sering kali menyendiri?”, tanyaku tersenyum
kembali memandangnya.
“Menyendiri gimana?”
“ya, Dona perhatiin. Abng tuh, kayakanya kesepian, enggak
ada kawan dan duduknya sediri!”, tanyaku runtun.
“entahla, dek. Mungkin udah dari sononya kali.”, balas
Mahadi.
Akupun tak mau lagi menyinggung masalah kenapa Mahadi suka
menyendiri. Iya hanya menjawab dengan tenag dan sungguh singkat, maknanya cukup
jelas terlihat di bola matanya. Sungguh sulit menebaknya dan memahaminya.
Kamipun selesai makan siang. Dia memegang tanganku dan
seakan tak peduli dengan siapa dan sedang dimana kami. Mahadi terus mengiriku
sampai kami sampai dan berbocengan naik sepeda motornya. Rengganis katanya,
temannya yang paling setia dan setiap hari bersamanya namun masalahnnya
Rengganis bukanlah wanita atau manusia pada umumnya. Rengganis adalah sebutan
untuk sepeda motor miliknya, Mahadi bilang kalau ia suka menamai barang-barang
kesayangannya dengan nama yang menurut dia memiliki makna atau unik.
Misalnya
Rengganis adalah naman seorang ratu legendaris dari novel yang pernah ia baca, kemudian
Kasasi adalah nama untuk laptop
miliknya dan teman Mahadi yang terakhir adalah Tomy. Tomy Wijaya Fahlefa, subutannya
untuk smart-foon miliknya yang katanya ia beli dengan uang
hasil kerjanya selam libur kuliah.
Dia
hadir dengan segala ke-unikan yang dia miliki, aku menggapnya anak indigo.
Mahadi mampu mengerjakan apa yang dianggap orangsulit, memiliki multi talenta dan IPK yang di atas
rata-rata. Hanya saja dia baru bisa membuat satu ke ajaiban. Keajaiban yang
membuatkubisa melupakan mantan-mantanku, keajaiban yang membuat hariku berwarna
dan keajaiban yang membuatku bahagia melewati hariku.
Adakah
keajaiban yang bisa aku berikan untuknya, agar Mahadi bisa mengungari
lamunannya yang membuatnya terasing dan menyendiri. Menyadarkan Mahadi akan
sikapnya yang sulit di tebak dan keajaiban yang bisa membuat Mahadi membagi
senyum indahnya pada oranglain, meski aku sedikit cemburu.
Aku menyayangimu dengan segenap
kemampuanku, aku tak memiliki kekuatan ajaib atau apapun yang istimewa. Meski
kita saling memiliki satu sama lain, ingatlah dunia ini tidak berada dalam alam
lamunanmu bang. Aku tak ingin kau menjadi diri orang lain, cukup dengan
senyummu dan keramahanmu untuk duduk di samping teman-temanmu dan di sampingku.
“Bagaimana aku bisa memilikimu kalau kau lebih banyak berada di alammu sendiri”
, dan “bagaiman aku bisa memperkenalkanmu pada teman-temanku kalau kau hanya
asyik dengan Rengganis, Kasasi dan Tomy”. liriklah sedikit ke arah pergaulan
dan cukupkanlah keraguanmu sampai di sini.