Rabu, 23 Maret 2016

Aku Bukan Pilihan Part II

Siang ini cukup panas dengan sensasi gerahnya, mengingat mata kuliah yang masih harus dilanjutkan. Hanya ada jendela sebagai pembuai gerah yang mencairkan keringat. Untuk sekelas kampus berakreditasi A, cukup mencengankan memang saat harus kepanasan karena AC tidak berfungsi sebagaimana biasanya.

          Inilah siang yang ku impikan selama bertahun-tahun saat masih SMA dulu, bayangan yang selalu hadir adalah kenyamanan dan ketenagan bila berada di ruangan ber-AC. Ntah itu mimpi yang salah atau terlalu berlebihan, pastinya tak sedingin dan tak senyaman hayalanku.

****
          Kata orang aku biasa saja namun sebagian kecil dari mereka yang pernah menjadi pacarku selalu bilang kalau aku itu istimewa, mungkin sebuah pujian atau gombalan. Bagiku saat ini hanyalah perasaan yang dibuai angan-angan, lambat laur pergi bersama waktu.

          Aku siang ini sedikit jenuh menunggu dan hanya mendengarkan teman-teman menggerutu, walau di samping itu aku sedang berbalas pesan dengan orang yangbaru saja sangat dekat denganku. Mahadi. Begitu unik nama itu, seunik tingkahnya dan cara dia berfikir.

          Pertemuan itu entah disengaja atau tidak namun bermuara pada pandangan yang membuatku sungguh kepayang, untuk laki-laki yang cukup memberikan kesan. Awalnya aku prihatin melihat kesehariannya, ia selalu menyendiri di tengah ramainnya temannya. Banyak yang bilang dia itu kuper padahal dia punya banyak orang yang menyukainya dan membutuhkannya. Tapi tidak dengan dia, dia lebih sering menyendiri dan melamun. Wajah itu selalu merengut ragu dan ekspresi yang sangat sulit di tebak.

          Perlahan tapi pasti, akhirnya banyak dugaanku dan rumor yang beredar tentangnnya terjawab. Mahadi ternyata memang anak yang suka menarik diri, banyak orang yang tak mengerti tentang dia meski banyak orang yang membutuhkannya. Dia dan mahasiswa lainnya tampaknya tak sama, dia hanya terlihat murung dan tak menyadari kalau dia adalah orang yang berharga bagi oranglain. Padahal Yudi teman dekatnya yang juga abang kelasku, sangat populer dan terkenal dengan geng-nya. “Apakah Mahadi tidak termaksud dalam geng yang sedang Yudi geluti?”.
****

          “Bang, Dona boleh nanyak enggak?”, bisikku pdanya yang duduk di sapingku.

          “Jangan tentang tugas ya”, btahnya dengan suara halus.

          “ihh, enggak ya!”, balasku mencubit pipinya.

          Iapun tersenyum kearahku, menatapku dan sedikit memaikan alis matanya. Sungguh ekspresi wajah Mahadi yang tak pernah ku lihat selama ini.

          “Ok, sayang mau nanya apa?”, sabungnya bertanya.

          Aku sedikit gugup merespon pandangannya yang tak biasa menurutku.

          “Abang, kok sering kali menyendiri?”, tanyaku tersenyum kembali memandangnya.

          “Menyendiri gimana?”

          “ya, Dona perhatiin. Abng tuh, kayakanya kesepian, enggak ada kawan dan duduknya sediri!”, tanyaku runtun.

          “entahla, dek. Mungkin udah dari sononya kali.”, balas Mahadi.

          Akupun tak mau lagi menyinggung masalah kenapa Mahadi suka menyendiri. Iya hanya menjawab dengan tenag dan sungguh singkat, maknanya cukup jelas terlihat di bola matanya. Sungguh sulit menebaknya dan memahaminya.

          Kamipun selesai makan siang. Dia memegang tanganku dan seakan tak peduli dengan siapa dan sedang dimana kami. Mahadi terus mengiriku sampai kami sampai dan berbocengan naik sepeda motornya. Rengganis katanya, temannya yang paling setia dan setiap hari bersamanya namun masalahnnya Rengganis bukanlah wanita atau manusia pada umumnya. Rengganis adalah sebutan untuk sepeda motor miliknya, Mahadi bilang kalau ia suka menamai barang-barang kesayangannya dengan nama yang menurut dia memiliki makna atau unik.

Misalnya Rengganis adalah naman seorang ratu legendaris dari novel yang pernah ia baca, kemudian Kasasi adalah nama untuk laptop miliknya dan teman Mahadi yang terakhir adalah Tomy. Tomy Wijaya Fahlefa, subutannya untuk smart-foon  miliknya yang katanya ia beli dengan uang hasil kerjanya selam libur kuliah.

Dia hadir dengan segala ke-unikan yang dia miliki, aku menggapnya anak indigo. Mahadi mampu mengerjakan apa yang dianggap orangsulit, memiliki multi talenta dan IPK yang di atas rata-rata. Hanya saja dia baru bisa membuat satu ke ajaiban. Keajaiban yang membuatkubisa melupakan mantan-mantanku, keajaiban yang membuat hariku berwarna dan keajaiban yang membuatku bahagia melewati hariku.

Adakah keajaiban yang bisa aku berikan untuknya, agar Mahadi bisa mengungari lamunannya yang membuatnya terasing dan menyendiri. Menyadarkan Mahadi akan sikapnya yang sulit di tebak dan keajaiban yang bisa membuat Mahadi membagi senyum indahnya pada oranglain, meski aku sedikit cemburu.

Aku menyayangimu dengan segenap kemampuanku, aku tak memiliki kekuatan ajaib atau apapun yang istimewa. Meski kita saling memiliki satu sama lain, ingatlah dunia ini tidak berada dalam alam lamunanmu bang. Aku tak ingin kau menjadi diri orang lain, cukup dengan senyummu dan keramahanmu untuk duduk di samping teman-temanmu dan di sampingku. “Bagaimana aku bisa memilikimu kalau kau lebih banyak berada di alammu sendiri” , dan “bagaiman aku bisa memperkenalkanmu pada teman-temanku kalau kau hanya asyik dengan Rengganis, Kasasi dan Tomy”. liriklah sedikit ke arah pergaulan dan cukupkanlah keraguanmu sampai di sini.


           

Rabu, 16 Maret 2016

Aku Bukan Pilihan Part I




       Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, menyangkut “apa yang dia fikirkan tentangku!”. Mengikuti tatapan misteriusnya dan menjawab prasangka akan dirinya. Hanya dia dan selalu dia dalam benakku, benak yang kini bungkam dalam bayangan dejavu. Seakan semalam semuanya telah terlewati dan saat ini berulang kembali, hal yang begitu serupa tergambar begitu jelas. Sejelas saat senyum indah itu berubah menjadi rengut yang segelisah mungkin.

****

          Kami memulai semuanya di sini, tempat saat dia bertanya akan kebodohan yang pernah menimpahku. Saat itu adalah kali pertama aku memegang tangannya, setelah tatantangan itu diberikan. Ya, aku yang bodoh inipun terhasut dengan ajakan Yudi. Menghampiri wanita yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kami dan mengajak dia berkenalan.   

          “aku, Dona!”, balas wanita itu menjabat tanganku dan tersenyum.
         
          “kok sendiran aja, temannya mana?”, tanyaku kembali padanya.

          Meski awalnya aku deg-degan tapi akhirnya rasa itupun menghilang. Mungkin karena mengikuti saran Yudi, walau  sedikit SKSD namun percakapan ini terasa indah. Enggak tahu dari sudut mananya indah yang kurasakan, yang jelas ada banyak hal yang sulit untuk dijelaskan.

          Selepas perbincangan singkat itupun aku lega dan Yudipun datang menghampiriku dengan senyum ledekannya. Entah karena ia salut padaku atau mungkin ada hal lain.

          “mantapkan?”, tanya Yudi tersenyum.

          “apa yang mantap?”, tanyaku kembali.

          Yudipun akhirny menjelaskan panjang lebar soal wanita tadi. Tidak banyak yang aku ingat dari penjelasannya saat itu, tapi wanita tadi adalah adik kelas kami yang masih semester dua. Yudi juga bilang kalau dia tipe cewek yang cocok untuk anggota HMJ seperti aku. HMJ, bukan sebuah sigkatan umum. Tapi MHJ adalah singkatan dari Himpunan Mahasiswa Jomblo katanya, sambil meledek aku.

          Entah itu motivasi atau ejekan, pastinya terdengar sedikit menyakitkan. Menyakitkan, saat Yudi mengkaitkan kenyataan dan humor dalam ungkapan HMJ. Itulah Yudi, soal wanita dia selalu nomor satu dan kalau soal kuliah dia selalu jadi nomor terakhir. Berbading terbalik dengan aku tapi kadang-kadang banyak hal gokil dan ide gila yang sama kami miliki.     

            Ide gila yang sama itupun akhirnya muncul di tengah ledekan Yudi. Mungkin ini tergila dari yang pernah aku lewati. Intinya dari kesepakatan itu, Yudi kembali memintaku untuk mendekati Dona dan kalau bisa kami jadian. Bukan hal yang mudah bagiku, mungkin mustahil tapi inilah kegilaan. Hanya muncul dan benar-benar terjadi saat bersama Yudi.

          Jabatan tangan kesepakatanpun akhirnya menutup negosiasi kami siang itu, keningku mulai semakin mengkerut memikirkan bagaimana untuk dekat dengan Dona. Hal sebaliknya terjadi pada Yudi, keningnya tampak bersinar kinclong dan seakan telah mengeluarkan gagasan brilian.

****

          Seminggu berlalu setelah hari dimana aku berkenalan dengan Dona, mungkin aku tidak bisa menyanggupi ide gila itu. Tapi sejak saat menyepakati ide itu, aku selalu dihantui senyum Dona dan tatapan manjanya. Dona begitu indah untuk dihidari meski begitu deg-degan untuk didekati. Dilema terus menggelitiki perasaanku, seperti senyum Yudi yang semakin hari semakin lebar padaku.

          “Men..!”kejut Yudi, memukul pundakku.

          Aku hanya diam dan melirik ke arahnya, mungkin ia akan lebih leluasa menyidirku dengan kegilaan barunya. Iya mungkin hari aku kurang beruntung.

          “kok diam aja, men!”, sambungnya mengajak bicara.

          “lagi suntuk aku ini!”, balasku masa bodoh.

          “aih, jangan bilang misi kita gagal!”, Yudi langsung menterjemahkan apa yang ingin aku ungkapkan.

          “abisnya, mau gimana lagi?”, akupun sedikit pasrah.

          “kejar terus kenapa!, jangan cemen kali, entar jomlo bangkotan kau!”.

          Motivasi dan hinaan terasa senada dalam logat Yudi. Ya, memang kalau lagi ngomong dengannya seperti ngomong dengan orang mabuk. Pintar tak terikuti, bodoh tak terajarai.
****

          Namun orang lemah dan bodoh selalu di sayang Tuhan, mungkin inilah buktinya. Bukti kalau aku yang lemah ini bisa melakukan hal di luar kemampuku, aku yakin sekali ini karena Tuhan. Akhinya, aku dan Dona resmi jadian. Sangat indah memang walau kadang sulit memahaminya. Tapi aku bahagia dan kelihatanyya dia juga.
         
          Aku sangat menyayanginya, sepertinya waktu seharian di kampus bersamanya tidak cukup. 24 jam nonstop bahkan aku sanggup bersamanya. Oh, akankah semuannya akan abadi atau akan segera berakhir. Terimakasi Dona atas hari-hari yang indah, ya hari yang sangat indah. Love You.