Selasa, 19 Januari 2016

Kenangan Yang Terlupakan





Kadang gelap dan kadang membuai dengan keheningan yang ia bawa. Mungkin sebuah nyanyiaan, nyanyian sendu yang terdengar begitu menyayat detik-detik akhir malam. Belakangan ini aku sangat khawatir dengan keadaannya, usianya mulai senja dan hampir membawa semua ingatannya. Saat aku duduk di dekatnya acap kali ia menanyaiku dengan petanyaan yang sama.

“Siapa kau?”.

          Dengan sedikit rasa kejenuhan bercampur sedih aku menjawab pertanyaannya,

“Ini Uun, Nek!”.

          Setelah aku menjawab pertanyaannya ia kemudian terdiam dan termenung, mungkin ia berfikir. Terlihat wajahnya yang sudah keriput semakin menyedihkan saat mata tua itu melirik ke arahku. Nenek apa yang harus aku katakan padamu, agar kau kembali mengingatku. Mengingat bayi mungil yang dulu engkau buai dalam pelukanmu, mengingat masa kanak-kanakku yang kadang nakal dan suka membuatmu khawatir.

          Saat hujan aku sering berlari menerjang hujan dan saat itu juga engkau mengejarku, memanggiku dan mengeringkan badanku dengan handuk hangat yang tadinya engkau kenakan untuk melindungi kepalamu dari tetesan hujan. Oh, aku saat itu sangat menyukai guyuran air hujan, tapi saat ini air mata Nenek yang sering kali terlihat mengguyur.

          Kini Nenek sudah berusia 97 tahun, nyaris satu abad ia lewati. Andai saja matanya bisa memperlihatkan apa yang telah ia lihat dari masa ke masa. Mungkin saja aku dapat melihat tubuh mungilku dan tikah nakalku, atau aku bisa melihat betapa tampannya wajah kakek saat masih menjadi pengantin yang bersanding duduk manis dengan nenek.

          Kakek adalah orang yang paling awal meninggalkan Nenek, diikuti dengan kepergian satu orang anak bungsu nenek dan dua orang putrinya yang baru-baru ini meninggal. Takdir tak selalu berleha-leha bagai buaian hangat yang Nenek berikan, akhirnya saat ini Nenek tinggal sendirian dirumahnya. Terpisah dari Anak-anaknya dan cucunya. Kenyataan yang kadang membuatku enggan melangkahkan kaki kerumah Nenek, bahwa aku memiliki kesibukan lain dan ditambah lagi rumah Nenek yang cukup jauh.

          Maaf Nek, aku tidak bisa terus berada di dekat Nenek. Andai saja ada sebagian dari mereka yang mau bergantian untuk menjaga Nenek. Setidaknya mereka bisa mendengar  rintihannya yang terdengar sendu.

*****

          “Miun mau makan Nek?”, pintaku lembut padanya.
         
          “Sebentar, ya. Nek!”, balas Nenek sembari menyalakan kompor.

          Saat itu kami belum mengenal kompor gas ataupun tabung gas, yang kami gunakan untuk memasak hanyalah kopor dan minyak tanah. Yang setiap hari jumlahnya sudah semakin langkah.

          Makanan khas yang di suguhkan Nenekpun berbeda dengan makanan yang Ibu buatkan untukku. Nenek sering membuatkan aku kepingan roti yang bentuknya seperti telur dadar, katanya martabak tapi rasanya tidak begitu mengecewakan. Hanya berbahan tepung roti yang di aduk dalam air dan sedikit tambahan gula, kemudian di goreng dengan sedikit minyak. Ya, kata Nenek rasanya akan lebih enak kalau minyaknya diganti dengan mentega.

          Biasanya saat malam, kue dadar nenek selalu menjadi santapan wajib sebelum aku tidur dipangkuannya. Kue itu semakin enak jika di santap saat hangat, rasanya ada semacam bumbu rahasia yang tidak aku ketahui. Itu terbukti saat sekarang ini, aku mencoba membuatnya sendiri dan tetap saja rasanya tak seenak buatan Nenek.

          Berkali-kali aku mencoba belajar dari nenek dan memahaminya, tapi usaha itu sepertinya sia-sia. Sekarang aku masih merindukan kue dadar buatan Nenek dan tidur kembali di pangkuannya, mendengar ceritanya dan di nina bobokkannya. 


Kenangan itu saat ini hanya ada dalam benaknya dan benakku, tak tahu entah Nenek masih mengingatnya. Setidaknya kenangan itu sangat indah meski aku kadang sedikit geli dan malu jika mengingatnya.

*****

“Nek, kita makan yuk”, ajakku pada Nenek.

“Emnhh”, Nenek mengangguk dengan bingung.

Aku harap kali ini ia tidak betanya, siapa aku?.

“Ayo, Nek!”, akupun menunutun langkah rentahnya menuju meja makan.

Tak lama iapun duduk di meja makan, ia terus memandangi aku yang tengah sibuk menyiapkan bubur nasi untuknya serta teh hangat yang tak terlalu pekat dan tidak terlalu manis. Yah, teh manis hangat yang tak terlalu pekat dan tak terlalu manis, dulunya aku juga sering meminumnya saat Nenek masih mengasuhku.

“Un”, tiba-tiba Nenek memanggilku.

“Iya, Nek!”, aku sedikit terkejut.

“Mau makan kue dadar kau!”, balas nenek kembali sedikit terbata dan gemetar.

“iya, Nek”, jawabku dengan rasa bahagia bercampur terkejut serta tak mengerti.

Nenekpun berdiri meski sedikit gemetaran, aku yang melihatnya langsung meninggalkan piring yang tadinya kupegang. Ku rangkul tubuhnya yang rentah itu dan aku memapahnya, perlahan menuju kompor. Meski aku tak yakin dengan apa yang baru aku dengar dan aku lihat, tapi rasa bahagiaku mengatakan Nenek akan segera membuatkanku kue dadarnya yang enak.

Tapi langkahnya tak sejauh yang ia mau, iapun menarik langkahku untuk duduk kembali. Akupun mendudukkan Nenek di kursi yang terdekat.

“Aduhhh”, keluhnya.

“kenapa Nek!”, tanyaku.

“Enggak sanggup Nenek Un!”, balasnya kembali.

“yaudah Uun aja yang masak!”

“hemnhh”, balas Nenek menggelengkan kepala.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk memasak kue dadar, kali ini aku berharap rasanya tidak seburuk seperti hari sebelumnya. Meski tidak seenak buatan Nenek setidaknya rasanya enak dan tidak terlalu manis.

“Ini, Nek!”,

Aku menyulangkannya dengan pelan-pelan, Nenekpun menyantapnya. Sejauh ini belum ada komentar ataupun keluhan, hatiku berdebar-debar tak beralasan. Rasa penasaran dan takut, takut kalau kue dadar buatanku tidak enak, mulai bergejolak dan menimbulkan rasa penasaran.

“enak, Nek?”, tanyaku padanya.

Tak ada jawaban, ia hanya menatapku dengan pandangan kebingungan. Sehingga aku hanya bisa diam dan menyulanginya kembali.

“Cucuku si Minun, sukak kali makan kue ini. Tapi dia udah jarang kemari”

Tidak, tidaklah mungkin. Akulah Miun Nek, cucu Nenek. Tapi kenapa Nenek malah menggumam kepadaku seolah aku orang lain, seolah Nenek tak mengenalkku. Maaf Nek, maaf kalau Miun jarang kerumah Nenek. Tapi jangan lupakan Miun, jangan Nek. Tangisku membatin, mendengar ucapan Nenek.
  

Kamis, 14 Januari 2016

Cinta Bau Belerang Part II

Malam sudah menunjukkan gelapnya tapi masih belum, belum membuatku bisa tidur. Bahkan meski tubuhku sudah di hinggapi rasa lelah yang begitu berat. Aku masih berintraksi dengan ponselku yang sedari tadi terus mencoba menyambungkan aku dengan orang di seberang sana. Ini kesekian kalinya aku mencoba menghubungi Feby, adik kelasku yang baru-baru  ini jadi pacarku. sudah hampir satu jam hasilnya tetap nihil, tidak ada jawaban.

Kesibukan yang dijanjikan Dirman sekarang benar-benar menyedot waktuku, bahkan malam ini aku melewatinya tanpa belajar dan membaca buku kesayanganku. Feby kenapa harus begini?. Tanda tanya yang terus berkecamuk di dalam hatiku.

***


“Mas Feby capek, ngadepin Mas. Feby jugak ngak suka Mas terlalu ikut campur urusan Feby. Kita udah enggak cocok, Feby minta putus Mas”.

Ya, pesan itulah yang menyebabkan aku semakin memburunya. Dua belas hari bersamanya dan itu hanya terasa dua hari. Belakangan ini aku memang sedikit awas. Terlebih lagi dengan siapa saja yang dekat dengan Feby, entah itu laki-laki atau perempuan. Yang aku inginkan, mereka menjauh dan memebrikan aku lebih banyak waktu untuk berdua-duan dengan Feby. Tapi mimpi buruk menhampiriku, hampir setiap malam sehingga aku tak bisa tidur.

Feby minta putus. Oh, ironi dalam sebuah percintaan singkat. Rasanya saat pesan itu kuterima dan ku baca, terbayang wajah Dirman dan tawanya  seolah mengejekku. Namun aku berusaha tidak cengeng dan mencoba sabar. Sabar meski tidak ada batasnya.

Terus aku memantau dia dari kejauhan, saat Feby sendirian aku datang mendekatinya dan meminta waktunya untuk bicara. Hingga akhirnya kesempatan itu datang.

“Dek, kenapa cepat kali adek minta putus?. Apa Mas enggak punya kesempatan kedua?”, tanyaku langsung padanya.

“Udahla, Mas. Kalau Mas mau ngomong nanti malam aja lewat telpon. Feby lagi sibuk, lagian malu ngomong masalah ini di muka umum. Sanalaa, ahh. Tuhh duliatiin sama Mas Rian”, usir Feby sambil mendongak kan pandangannya ke arah Rian

 Mungkin salahku tak bisa di maafkan, mungkin dia sangat marah, atau karena aku terlalu berharap. Yang jelas dia mengusirku, untuk kali pertama bagiku diusir oleh perempuan. Mungkin ini yang terakhir.

Aku tak sanggup memohon pada Feby dan aku hanya pasarah, ini adalah ending ceritaku dan akupun pergi meninggalkannya. Meninggalkannya dengan kesibukan yang dia katan, dengan berjalan menuju ruangan kuliah. Aneh, hari ini aku masuk ruangan kuliah paling lama. Dengan lesu aku mengetuk pintu dan masuk ke dalam kelas.

Dosenku tersenyum kearahku, menghibur karena aku terlihat kurang sehat. Tapi senyumnya tidak begitu banyak membantu, rasanya aku pengen pulang dan tidak ingin melanjutkan kuliah hari ini. Cukup dengan perbincangan beberapa detik  dan penolakan yang menyakitkan.
***

Seperti angin menghembuskan debu, saat itu berita tentang hubunganku dan Febypun sampai ke telingan Dirman. Aku cukup malu dan takut memulai pembicaraan dengannya, rasanya percuma karena hanya ada nasehat dan sedikit harapan. Harapan yang di peruntukuan untuk orang yang putus asa.

“Kenapa, Brow?”, sapa Dirman sembari menpuk bahuku.

Seketika itu aku ciut untuk menjawab ataupun membalas sapaannya dengan senyum.  Mungkin dia akan menertawai aku. Menertawai badut yang beberapa bulan lalu memberanikan diri untuk bertingkah konyol demi membuatnya tersenyum dan tertawa geli.

“Masalh Feby, kan!”, Dirman langsung blak-blakan.

“Iya, Man!”

“Aku udah dengar dari dia langsung, aku rasa kau enggak perlu cemas karena dia cuma emosi. Paling sebentar lagi jugak reda.”, sambung Dirman seperti seorang bapak yang menasehati anaknya.

“Maksudnya?”

“masalahnya kan kelen baru jadiaan dan dia belun sepenuhnya bisa nyesuaikan diri dengan duania kau, dia juga punya dunia, dia juga penya kawan-kawan. Dan kau, datang-datang kau terlalu kepo dan ngikutiin dia terus. Mana tahan anak orang kau gitui!”, sabung dirman “Sabar brow, nanati pelan-pelan aku coba ngemong dengan Feby”

“sekarang jadinya cemana?”, tanyaku kurang yakin.

“nyantai aja, tunggu tanggal mainnya!”, balas Dirman semakin yakin dengan argumennya.

Aku tak mengerti dengan apa yang direncanakan Dirman yang jelas Dia mencoba memperjuankan hubunganku dengan Feby. Lelaki macam apa kaui ini, untuk mempertahankan hubungan saja aku harus dibantu. Memang aku cupu, memang aku kuper tapi aku masih laki-laki. Berat hati harus menggantugkan harapan pada Dirman meski dia bukan orang lain.

“Ok, makasi.”, jawabku terakhir kali sebelum meninggalkan Dirman. 

****
Masih dihantui mimpi buruk yang membuatku tidak bisa tidur. Namun pagi ini aku harus beragkat ke kampus. Meski dengan rasa ngantuk yang luar bisa akupun pergi mengendarai sepada motorku menuju kampus. Walau ngantuk tai aku tetap waspada pada persimpangan-persimpangan yang aku leawati, apa saja bisa terjadi karena jalan tak selalu mulus dan terartur.

Akhirnya akupun sampai di kapusku, kapus hijau tempat para calon pendidik di tempah dengan kemampuan yang khusus. Seorang guru tiap tahunnya lahir dari kampus ini, mungkin jumlahnya lebih dari ribuaan. Ya, mungkin!.

Belum sempat turun dari sepeda motorku aku melihat Dirman melambaikan tangannya. Lamabaian yang memanggiku, akupun secepatnya menhapirinya berharap kabar baik akan dikatakannya.

“Ada apa Man?”, tanyaku langsung.

“Kau tunggu disini, aku nanti mau ngong sama Feby!”

“Ngapain aku disini Man, nanti ngak mau dia!”, balasku meyakinkan Dirman.

Dirmanpun tak menggubrisnya, akhirnya kamipun menunuggu Feby datang. Sambil menunggu Feby datang Dirman meyakinkanku akan rencananya itu. Kamipun asyik memainkan peran pagi itu, aku sebagai klain dan Dirman sebagai konsultan. Klain yang patah hati karena putus dari pacarnya dan konsultan yang yakin dengan teori-teori jitunya. Taklam berselang, Febypun muncul.

“ehh, Feby!”, ujar Dirman menyapanya.

“Iya, Bang!”, balasnya.

“Man, aku luan ya!”, pintaku padanya sambil pergi meninggalkan mereka.

Bukan karena aku takut mengahadapi feby, tapi Febypun kelihat tidak peduli padaku. Serasa asing dan belum kenal dengannya sehingga akupun memilih meninggalkan mereka menuju kelas.

Aku hanya duduk menunggu Dirman datang, kali ini aku sangat berharap Dirman cepat datang. Seperti mengharapkan kedatanga dosen yang akan memberikan ilmu padaku, namun tampaknya menit berjalan begitu lama sehingga batang hidung Dirmanpun tak kunjung terlihat.

          Tiba-tiba ponselku berdering, tanda SMS masuk. Akupun melihtanya, tak kusangka ternya pesan dari Feby. Aku bingung dan takut untuk membacanya, apakah yang ia kirimkan?. Akupun memutuskan untuk menunggu Dirman datang. Tapi dosen tiba-tiba masuk kelas bersamaan dengan Dirman. Aku tak sempat menanyakan apa yang mereka bicarakan, tapi yang jelas apapun itu aku yakin ada hubungannya dengan SMS yang dikirimkan Feby.

          Perkuliahanpun dimulai sebagai mana bisasanya, aku tetap bertanya-tanya akan hal tadi tapi aku juga tetap fokus pada kuliahku. Sepanjang perkuliahan aku lebih memilih diam dan memperhatikan jalannya presentasi, entah itu bertanya, menjawab dan bahkan menyanggah seklipun. Aku tak melakukannya, meski memiliki kesempatan untuk itu.

          Perkuliahanpun selesai, aku langsung menjegat Dirman bermaksud menanyakan perbincangannya dengan Feby.

          “Man giman tadi?, Apa respon Feby?”, tanyaku beruntun.

          “Aman, kok. Dia bilang kau terlalu mengekang dia, dia ngak suka Brow!”

          “Terus, apalagi?”

          “ya, aku bilang sama dia. Masa gara-gara gitu aja langsung mita putus?, setidaknyakan ada pertibangan atau kesempatan kedua!”.

          Tampaknya doktrin Dirman berhasil membujuk Feby, aku semakin yakin kalau rencana Dirman berhasil seperti yang dia katakan.

          “terus, kok dia nge-SMS aku?”

          “kalo masalah itu, aku yang nyuruh. Tinggal lagi kau yang nyelesaian sisahnya?”

          Terdengar ambigu, tapi sepertinya isi SMS itu tidak mengecewakan. Akupun mengambil ponselku melihatnya dan membaca SMS yang dikirimkan Feby tadi.
“Mas, Feby enggak bisa jadi pacar Mas lagi. Jadi jangan mintak tolong sama siapapun untuk memperbaki hubungan kita. Anggap aja Feby ini adiknya Mas”

          Akupun tak berani menunjukkan isi SMS dari Feby pada Dirman, tidak mungkin. Tidak mungkin Dirman gagal meyakinkan feby bahwa betapa menyesalnya aku akan semua ini. Namaun saat aku termenung sejenak karena membaca SMS dari Feby, Dirman malah menepuk bahuku lantas bertanya. Apa isi SMS itu.

          Aku menatap wajah Dirman dengan rasa malu, semalu-malunya. Sehingga akupun mengatakan apa isi SMS itu meski dengan sedikit memutus urat maluku. Namun respon Dirman membuatku berhasil melupakan apa yang sudah terjadi, pelan-pelan aku mencoba meniru perawakannya yang menganggap bahwa ini bukan masalah ataupun akhir dari semunya.

          Seperti selesai berendam di air belerang, baunya tetap akan tercium dan terasa menyengat. Butuh waktu yang cukup buat ngilanginya. Begitulah saat aku kehilangan seseorang yang kucintai, perasaan cinta itu tidak hilang bersamanya tapi tercium dan terasa sangat menyengat.   

Rabu, 13 Januari 2016

Aneh Jadi Cewek









Kerumunan orang kadang membuatku tak nyaman, bising dan banyak suara-suara sumbang yang tak ingin aku dengar. Aku lebih suka suasana sunyi dan tenang, meski mustahil rasanya untuk mendapatkan suasana seperti itu di kota yang cukup besar seperti Medan. Kota yang terkenal dengan kehidupan masyarakatnya yang keras.

          Siang itu adalah siang yang paling buruk dalam hidupku, aku harus berjalan kaki dari sekolah karena uangku hilang entah kemana. Saat itu aku masih mengenakan seragam putih abu-abu, tampak sedikit culun kata mereka karena pakaianku selalu rapi dengan baju di masukkan dan dasi abu-abu yang terus menempel rapi.

          Panas yang terik semakin menjadi-jadi, mulanya hanya membuatku gerah namun akhirnya pandanganku juga berhasil dibuat kunang-kunang. Aku tak mengerti betapa lemahnya fisik yang kumiliki, mungkin karena aku selalu bermalas-malasan dan malas berolah raga. Di sekelilingku banyak terlihat orang-orang yang sangat gigih, ada yang sedang mendayung becak, ada yang sedang berteriak, dan ada juga yang sedang berjalan kaki sama seperti aku.

          “Huhhhh”, aku menghela nafas sedikit lelah.

          Aku duduk di bawah pohon pinang yang tinggi sekitar 2 meter lebih, tersusun rapi di sepanjang jalanan. Rasanya pengen minum tapi uang kandas, bahkan air ludahpun rasanya sudah kering.

          “TINN..TINN..”, suara klakson.

          Akupun terkejud mendengarnya, spontan aku berdiri dari tempatku berteduh dan mendongak kan pandangan kearaah suara klakson. Ternyata Sandra yang mengejutkanku. Iapun turun dari matic putihnya, mungkin menghampiriku dan minta maaf atau apalah.

          “Bay, kok duduk di sini?”, tanya Sandra memulai percakapan.
         
“Capek, aku. Abis jalan tadi!”, balasku memelas.
         
“Ahh, kaunya. Ada angkot malah jalan kaki?”, sindir Sandra.
         
“Uang aku hilang, tadi. Terpaksalaa, jalan kaki!”
          “Aduhh, kan bisa bisa pinjam!”, sentak Sandra padaku.

          Akupun diam terbodoh, benar yang baru saja dia katakan. Kenapa enggak terifikir tadi, mungkin aja sekarang ini aku sudah sampai dirumah. Terkadang panas matahari di siang bolong bisa mencairkan otakku yang beku ini.

          “Yaudahla, ayo kita pulang sama!”, ajak Sandra.
         
Akupun mengangguk dan langsung naik ke matic milik Sandra. Ternyata sekali lagi aku membuat kebodohan, sehingga Sandra kembali menegurku.

“Biasanya cowok yang bonceng cewek, kau kok malah mau di bonceng Bay!”

“Udah jalan aja, lagiankan rumah aku yang lebih dekat. Ntar kalau udah nyampek akukan bisa langsung lompat”, sangkalku kali ini yang tak mahu kelihattan bodoh di depan Sandra.

“Terseahlah, tapi jangan macem-macem!”, balas Sandra nngotot.

“Iyalahhh!”

Sandrapun menyalakan maticnya, akhirnya kami berangkat. Rasa letih sekarang hilang sudah, suasana panas sedikit demi sedikit hilang di hembus angin sepoi-sepoi.

Cewek yang satu ini aku udah kenal lama tapi perawakan tomboynya kadang bisa buat cowok yang baru kenal dengannya setres. Dia suka tertawa keras-keras, kadang suka nyanyi-nyanyi barat enggak jelas, dan kadang dia suka ngupil di depan umum. Sikap gokil Sandra yang buat dia begitu di takuti cowok, terbukti sampai detik ini enggak ada cowok yang mau jadi pacarnya.

“Eh, eh, ehhhh”

Menadak Sandra ngerem, akupun menubruknya. Dia tertawa geli, membuatku mengkerutkan kening dan bertanya akan hal gila apalagi yang akan dia lakukannya. Ternyata firasatku benar, beberapa saat setelah itu Sandra ngebut dan dia behasil. Berhasil membuatku cemas secemas-cemasnya.

“San, San, San, San!”, aku menepuk bahunya.
         
Sandrapun menghentikan maticnya, Ia menoneleh kearahku dan ini kali pertama aku melihat sisi cantik darinya. Namun pandangan itu pudar seketika.

“Apa, Bay.!”, Sandra sedikit meninggikan suaranya.

“pelan-pelan, la!. Harga beras mahal.!, ntar kalau nabrak”

“Anak cowok kok, takut..!”, balasnya semakin judes.

Tampak manis dan cantik, mungkin lebih cantik kalau Sandra lagi marah.

“Yaudah aku aja yang bawa!”, pintaku padanya.

Kamipun bertukar posisi. Aku sedikit gemetaran mengendarai matic milik Sandra, sementara Sandra tampak dari kaca spion begitu menawan. Rambutnya tergerai di hembus angin, mungkin angi-angin nakal mulai menggodaku. Namun tiba-tiba ada lubang di aspal, aku mendadak ngerem. Kali ini Sandra menubrukku dari belakang, terasa sedikit aneh karena memang mentok dadanya menempel di bahuku.

“HOI”, teriak Sandra dari belakang.

Akupun turun, takut kalau Sandra mengamuk. Dan pelan-pelan aku mencoba menjelaskan padanya kalau sebenarnya di depan ada lubang. Namaun kecantikannya semakin memuncak ditambah dengan omelan pedas dari mulutnya, kata-kata mutiarapun berhamburan dan penghuni kebun binatang juga ikut keluar dari bibir judes itu.

“Maaf, aku enggak sengaja!”

“Enggak sengaja tapi enak kau, kan!”, bentaknya semakin marah

“Oke, aku turun disini aja!”, balasku mencoba memutus percakapan kami.

“Yaudah!”, sambung Sandra menggebu-gebu.

Iapun pergi begitu saja tanpa aku sempat mengucapkan terimakasi. Tapi Sandra tetaplah Sandra. Perawakannya sulit untuk di pahami dan emosinyi juga sulit untuk di tebak.  

          ***
         
          Sandra nampaknya sudah melupakan kejadian semalam siang, diapun mau berbicara dan seperti biasanya duduk di dekatku, asyik bernyanyi lagu barat. Aneh kenapa aku teringat kejadian semalam siang, Sandra yang kukenal rasanya bukan Sandra yang dulu. Ia tampak semakin cantik dan omelan-omelannya semalam sore semakin menggelitiki otakku. Saat ini dia disampingku seperti hari-hari sebelumnya, tapi ini berbeda. Berbeda dari yang biasanya.

          Akupun beranjak dari meja kami dan meninggalkannya. Karena masih pagi dan guru belum datang, aku berdiri di depan pintu kelas sambil metap kearah cewek gokil itu. Oh, Sandra baru aku sadari kau ternya memang benar-benar cantik. Tak sadar karena sibuk memperhatikan Sandra, tiba-tiba Bu Bakara datang dan mepuk bahuku dari belakang.

          “Aduh Ibuk!” sapaku terkejut.

          Akupun kembali kemejaku dan Sandra tengah duduk manis dengan senyumnya yang mengejekku. Senyum itu sekarang membius,
konsentrasiku.  Aduh Sandra, kenapa jadi begini. Kenapa kau malah membuatku mabuk kepayang.

Akupun hanya melamun di sepanjang pelajaran Bu Bakara. Mungkin Bu Bakara tak tahu, atau mengkin ia teralalu bersemangat mengajar hari ini. Sampai-sampai tak memperhatikan siswa kesayangannya yang selalu menjawab pertanyaan-pertanyaannya ketiaka dia memberikan soal.      

          Akupun tersadar dari lamunan itu, kulihat Sandra sedang menulis. Menulis. Ya, akupun kemudian menulis. Tapi tidak menulis apa yang ditulis sandra dan tidak menulis apa yang di tulis teman-temanku yang lain. Aku menulis surat, surat untuk cewek yang ada di sebelahku. Kemudian tanpa sepengetahuannya aku menyelipkan surat itu kedalam tasnya. Pekerjaan yang cukup mencemaskan karena memang enggak mudah.

          Pelajaranpun usai, Bu Bakara meninggalkan kelas. Jam istirahatpun akhirnya tiba tapi aku sengaja tak beranjak keluar karena Sandra masih duduk sambil mengotak-ngatik Black Berry miliknya.  
           
          ***

          Hari ini aku sengaja pulang jalan kaki, berharap di jegat Sandra dan bisa berbocengan lagi bersamanya.

          “TIIIN”, suara klakson matic sandra.

          Ternyata harapanku terwujud, sekarang apa yang harus aku katakan dengannya. Atau aku pura-pura menolak ajakannya pulang.

          “BAY, tunggu bentar!”, nada bicara Sandra seperti membentak.

          “Apa, San.”

          Sandara menghampiriku dan menarik kerah bajuku, sontak aku terkejut dan cemas.

          “Maksud, kau apa?”, tanya Sandra semakin memojokkanku.

          “Ada apa, San?”, tanyaku cemas.
         
“Ngak usah pura-pura begok laaa!”

          “Udah, San. Malu di liatih orang”

          Sandrapun melepaskan kerah bajuku. Raut wajahnya berubah, kali ini matanya meneteskan air mata. Ya, air mata yang jatuh membanjiri pipinya. Melihat hal langkah ini, aku terpelongok. Sumpah selama kenal Sandra aku enggak pernah liahat dia menangis. Apa yang sudah aku perbuat padanya?, atau ada isi dari surat itu yang melukai hatinya?.
         
          “San, maaf kalau aku salah!”, ucapku padanya sambil menyodorkan tanganku, ingin menjabat tanggannya sebagai permohonan maaf.

          “kenapa, kau suakak sama aku Bay?”, tangisnya menolak jabatan tanganku.

          Kamipun jadi tontonan orang-orang yang lalu lalang siang itu.

          “oke, aku jelasin nanti. Sekaranng ayo kita pergi dari sini. Malu dilihat orang?”, ajakku melerai tangisnya.

          Iapun mengizinkanku mengendarai matic kesayangannya, kamipun berboncengan. Taklama kami tiba di sebuah tempat nongkrong. Disitulah kami singgah dan duduk sebentar.

          Sandra mengusap tangisnya. Akupun pelan-pelan memulai pembicaraan.

          “San, aku jujur memang suka sama kau!”
         
          “Kenapa?”, tanyannya kembali sedikit tenang.

          “Yahh, dari kejadian kemaren. Pas kau marah-marahin aku!”, jawabku meyakinkan Sandra.

          Sandra kembali diam, suasana hening sehening-heningnya.

          “Memang, aku enggak ngerti kenapa aku bisa suka. Tapi kau sekarang terlihat berbeda setelah marah-marah kemarin San”

          “Bay, sumpah ya. Aku juga udah lama suka sama kau, tapi aku malu Bay”, Sandra kembali menangis.

          “Malu, kenapa?”

          “Pikir ajalah Bay, kau itu anak baik dan aku di kelas sering selengekan dan banyak yang bilang aku gila.”

          “Tapi aku kan enggak pernah bialang kau gila”

          “Serius Bay, di hari pertama Bu Bakara nyuruh aku satu bangku dengan kau. Hari itu juga aku sukak sama kau, tapi aku fikir kalau kau tahu nanti kau bakalan berubah Bay!”

          “tapi sekarang, enggakkan!”

          “iya Bay, tapi berapa banyak hinaan lagi yang ahrus aku dengar!”, kali ini air mata yang sedari tadi ia tahan, tumpah kembali.

          Akupun menghapusnya dengan sangat hati-hati. Kemudian aku menggenggam erat tangannya yang putih halus itu.

          “Yang aku tahu, kau itu anaknya periang dan sekarang aku mau kita jadin. Kau kan bisa cerita tentang apa masalahmu?”

          “Bay!”, panggilnya sedikit terbata.

          Akupun menarik tangannya dan menciumnya.

          “jangan lagi pikirkan apa kata orang, sekarang ada aku dan aku sayang sama kau!”, kembali aku melerainya.

          Iapun menghapus tangisnya dan kembali tersenyum padaku. Kali ini kecantikannya tampak sangat sempurna, mungkin inilah kecantikannya yang sebenarnya. Akupun semakin kepayang, tak mengerti kenapa jantungku terus berdenyut kencang.

          Sejak hari itu kami jadian dan seperti hari biasanya kami menjalani hubungan kami sebagai Bayu dan Sandra yang dulu. Tapi sepulang sekolah kami sering berdua-duaan. Setiap hari Sandra mengantarku, aku selalu memboncengnya dan kami saling melengkapi satu sama lain. Sandra tidak lagi melakukan hal-hal gilanya baik itu tertawa keras-keras, nyanyi-nyanyi barat ngak jelas  atau ngupil di depan umum.

          Rasa cinta ini semakin besar pada Sandra, mungkin dia juga demikian. Ya, setidaknya dia tampak bahagia dan dia bisa berubah menjadi cewek yang semakin sempurna di mataku.

“Sandra aku sangat beruntung bisa menjadi pacarmu.