Kadang gelap dan kadang
membuai dengan keheningan yang ia bawa. Mungkin sebuah nyanyiaan, nyanyian
sendu yang terdengar begitu menyayat detik-detik akhir malam. Belakangan ini
aku sangat khawatir dengan keadaannya, usianya mulai senja dan hampir membawa
semua ingatannya. Saat aku duduk di dekatnya acap kali ia menanyaiku dengan
petanyaan yang sama.
“Siapa kau?”.
Dengan
sedikit rasa kejenuhan bercampur sedih aku menjawab pertanyaannya,
“Ini Uun, Nek!”.
Setelah
aku menjawab pertanyaannya ia kemudian terdiam dan termenung, mungkin ia berfikir.
Terlihat wajahnya yang sudah keriput semakin menyedihkan saat mata tua itu melirik
ke arahku. Nenek apa yang harus aku katakan padamu, agar kau kembali
mengingatku. Mengingat bayi mungil yang dulu engkau buai dalam pelukanmu,
mengingat masa kanak-kanakku yang kadang nakal dan suka membuatmu khawatir.
Saat
hujan aku sering berlari menerjang hujan dan saat itu juga engkau mengejarku,
memanggiku dan mengeringkan badanku dengan handuk hangat yang tadinya engkau kenakan
untuk melindungi kepalamu dari tetesan hujan. Oh, aku saat itu sangat menyukai
guyuran air hujan, tapi saat ini air mata Nenek yang sering kali terlihat
mengguyur.
Kini
Nenek sudah berusia 97 tahun, nyaris satu abad ia lewati. Andai saja matanya bisa
memperlihatkan apa yang telah ia lihat dari masa ke masa. Mungkin saja aku
dapat melihat tubuh mungilku dan tikah nakalku, atau aku bisa melihat betapa
tampannya wajah kakek saat masih menjadi pengantin yang bersanding duduk manis
dengan nenek.
Kakek
adalah orang yang paling awal meninggalkan Nenek, diikuti dengan kepergian satu
orang anak bungsu nenek dan dua orang putrinya yang baru-baru ini meninggal.
Takdir tak selalu berleha-leha bagai buaian hangat yang Nenek berikan, akhirnya
saat ini Nenek tinggal sendirian dirumahnya. Terpisah dari Anak-anaknya dan
cucunya. Kenyataan yang kadang membuatku enggan melangkahkan kaki kerumah
Nenek, bahwa aku memiliki kesibukan lain dan ditambah lagi rumah Nenek yang
cukup jauh.
Maaf
Nek, aku tidak bisa terus berada di dekat Nenek. Andai saja ada sebagian dari
mereka yang mau bergantian untuk menjaga Nenek. Setidaknya mereka bisa
mendengar rintihannya yang terdengar
sendu.
*****
“Miun
mau makan Nek?”, pintaku lembut padanya.
“Sebentar,
ya. Nek!”, balas Nenek sembari menyalakan kompor.
Saat
itu kami belum mengenal kompor gas ataupun tabung gas, yang kami gunakan untuk
memasak hanyalah kopor dan minyak tanah. Yang setiap hari jumlahnya sudah
semakin langkah.
Makanan
khas yang di suguhkan Nenekpun berbeda dengan makanan yang Ibu buatkan untukku.
Nenek sering membuatkan aku kepingan roti yang bentuknya seperti telur dadar,
katanya martabak tapi rasanya tidak begitu mengecewakan. Hanya berbahan tepung
roti yang di aduk dalam air dan sedikit tambahan gula, kemudian di goreng
dengan sedikit minyak. Ya, kata Nenek rasanya akan lebih enak kalau minyaknya
diganti dengan mentega.
Biasanya
saat malam, kue dadar nenek selalu menjadi santapan wajib sebelum aku tidur dipangkuannya.
Kue itu semakin enak jika di santap saat hangat, rasanya ada semacam bumbu
rahasia yang tidak aku ketahui. Itu terbukti saat sekarang ini, aku mencoba
membuatnya sendiri dan tetap saja rasanya tak seenak buatan Nenek.
Berkali-kali
aku mencoba belajar dari nenek dan memahaminya, tapi usaha itu sepertinya
sia-sia. Sekarang aku masih merindukan kue dadar buatan Nenek dan tidur kembali
di pangkuannya, mendengar ceritanya dan di nina bobokkannya.
Kenangan itu saat ini hanya ada dalam benaknya dan benakku, tak tahu
entah Nenek masih mengingatnya. Setidaknya kenangan itu sangat indah meski aku
kadang sedikit geli dan malu jika mengingatnya.
*****
“Nek, kita makan yuk”, ajakku pada Nenek.
“Emnhh”, Nenek mengangguk dengan bingung.
Aku harap kali ini ia tidak betanya, siapa aku?.
“Ayo, Nek!”, akupun menunutun langkah rentahnya menuju meja makan.
Tak lama iapun duduk di meja makan, ia terus memandangi aku yang
tengah sibuk menyiapkan bubur nasi untuknya serta teh hangat yang tak terlalu
pekat dan tidak terlalu manis. Yah, teh manis hangat yang tak terlalu pekat dan
tak terlalu manis, dulunya aku juga sering meminumnya saat Nenek masih mengasuhku.
“Un”, tiba-tiba Nenek memanggilku.
“Iya, Nek!”, aku sedikit terkejut.
“Mau makan kue dadar kau!”, balas nenek kembali sedikit terbata dan
gemetar.
“iya, Nek”, jawabku dengan rasa bahagia bercampur terkejut serta tak
mengerti.
Nenekpun berdiri meski sedikit gemetaran, aku yang melihatnya
langsung meninggalkan piring yang tadinya kupegang. Ku rangkul tubuhnya yang
rentah itu dan aku memapahnya, perlahan menuju kompor. Meski aku tak yakin
dengan apa yang baru aku dengar dan aku lihat, tapi rasa bahagiaku mengatakan
Nenek akan segera membuatkanku kue dadarnya yang enak.
Tapi langkahnya tak sejauh yang ia mau, iapun menarik langkahku untuk
duduk kembali. Akupun mendudukkan Nenek di kursi yang terdekat.
“Aduhhh”, keluhnya.
“kenapa Nek!”, tanyaku.
“Enggak sanggup Nenek Un!”, balasnya kembali.
“yaudah Uun aja yang masak!”
“hemnhh”, balas Nenek menggelengkan kepala.
Tak butuh waktu lama bagiku untuk memasak kue dadar, kali ini aku
berharap rasanya tidak seburuk seperti hari sebelumnya. Meski tidak seenak
buatan Nenek setidaknya rasanya enak dan tidak terlalu manis.
“Ini, Nek!”,
Aku menyulangkannya dengan pelan-pelan, Nenekpun menyantapnya. Sejauh
ini belum ada komentar ataupun keluhan, hatiku berdebar-debar tak beralasan.
Rasa penasaran dan takut, takut kalau kue dadar buatanku tidak enak, mulai
bergejolak dan menimbulkan rasa penasaran.
“enak, Nek?”, tanyaku padanya.
Tak ada jawaban, ia hanya menatapku dengan pandangan kebingungan.
Sehingga aku hanya bisa diam dan menyulanginya kembali.
“Cucuku si Minun, sukak kali makan kue ini. Tapi dia udah jarang
kemari”
Tidak, tidaklah mungkin. Akulah Miun Nek, cucu Nenek. Tapi kenapa Nenek
malah menggumam kepadaku seolah aku orang lain, seolah Nenek tak mengenalkku.
Maaf Nek, maaf kalau Miun jarang kerumah Nenek. Tapi jangan lupakan Miun,
jangan Nek. Tangisku membatin, mendengar ucapan Nenek.


