Saat
itu angin berhembus sejuk membawa masa depanku yang tengah melambaikan
tangannya, kian jauh ditelan birunya warna laut. Lambaian halusnya seperti
tamparan angin sepoi-sepoi yang tak kunjung menghilang dari benak ini, sangat
indah.
Randa berjanji kelak saat dia kembali pastinya dia akan
mempersuntingku sebagai istrinya. Ya, aku sangat tidak sabar menunggu hari
dimana kekasihku datang sebagai cendikiawan muda yang telah memikul segepok
ilmu dan pastinya telah mengenakan toga kebesarannya, seperti yang selalu ia
idamkan. Kelak mungkin ia akan tampak lebih gagah, tidak lagi seperti saat dia
masih anak kampung yang baru pisah dari putih abu-abu.
Dia
tidak pernah bialng padaku kalau aku juga harus sama seperti dia. Satu hal yang
kuingat, dia bilang aku harus menjaga janji kami sampai penantian itu tiba.
Sungguh tanggung jawab yang sama beratnya dengan menjaga nyawa, lebih lagi
kerenggangan keluarga kami yang sulit bersatu. Bisa dibilang seperti air dan
minyak.
Namun
hari ini tampaknya penantian bahagia itu harus usai. Sepertinya tidak lagi
dengan hayalain yang saat ini nyata-nyata adalah gambaran semu. Gambaran semu
yang menguatkanku dalam memegang amanahnya.
“Sayang maafkan aku karena tidak bisa lagi
pulang ke kampung kita.
Aku sekarang sudah punya anak dan istri,
kehidupanku juga sangat susah
disini. Carilah orang lain yang mau
menjadikanmu istri, aku ikhlas.
Sekalai lagi maaf.”
Memo
yang kali pertama aku terima dari Randa setelah empat tahun penantiaku. Tahun
ini seharusnya aku besrtemu dengan tambatan hatiku yang berselempangkan toga
serta dengan wejangan arifnya. Namun kenapa semuanya ia titipkan lewat selembar
memo yang harus menghancurkan hatiku. Jujur, sakit hati pasti ada. Tapi aku tak
mengerti kenapa harus sekarang dan kenapa harus dengan memo ia mengatakan ini
padaku.
Empat
tahun penantian, pagi dan malam aku selalu membayangakan pernikahan kami.
Bahakan aku tak pernah mau tahu dengan laki-laki manapun yang coba mendekat,
baik yang berniat mempersunting aku atau hanya sekedar dekat. Jodoh yang di
tunjuk orang tuaku kerap aku tolak dengan segenap cara dan usah, setiap aku
merindukannya selalu aku mendoakan dia agar cepat menyelesaikan kuliahnya dan
kembali untuk menjemput aku dari penantian ini.
Memo
yang dikirim Randa akhirnya menjadi sebuah perintah, perintah untuk tidak lagi
menunggunya dan segera mengganti harapan itu dengan kekecewaan yang sebenarnya
tak perlu. Aku pasrah dan menuruti perjodohan yang ditentukan orangtuaku,
mungkin ini bukan jalan yang terbaik tapi Randa sendiri yang memintanya dan aku
tak berdaya untuk menolak.
Aku
menikah dan dibawa oleh suamiku pergi kekota, katanya untuk mengawali kehidupan
yang baru lebih baik pergi ketempat yang baru dan memulai segalanya dari nol. Bersamanya
saat ini aku hidup, hanya ada canda tawa yang selalu ia suguhkan dengan
manisnya kasihnya. Sepertinya ia sangat memahami perasaanku yang pernah kecewa
dan sempat putus asa namun ia memperlakukan aku dengan bijak dari yang
kubayangkan.
*****
Sebentar
lagi aku akan medengar tangisan seorang bayi. Ya, aku tengah mengandung anak
pertamaku. Ia menjadi anugrah dan menumbuhkan cinta yang baru, awalnya aku tak
sedikitpun mencintai suamiku serta masih saja mengingat-ingat Randa. Saat aku
tahu di dalam perutku ada seorang bayi, cinta itupun tumbuh. Entah berapa tahun
terlambatnya cinta itu datang yang jelas selama berumah tangga, inilah kali
pertama ak merakannya.
Biasanya
aku hanya melayani suamiku tidak karena cinta tapi karena hormat pada ayah dan padanya yang telah mengangkatku dari
kekecewaan. Tapi lama-kelamaan semuanya berubah. Dia laki-laki yang ulet,
sabar, dan bijak. Hari ini ia membuktikan padaku bahwa sesungguhnya cinta yang
ia berikan benarlah sejati.
“Ma!”,
panggil suamiku sembari mengelus keningku.
“Iya!”,
jawabku yang terkejut dari lamunanku dan sedikit terharu karena sebentar lagi
ada seorang anak yang akan memanggilku dengan sebutan yang baru saja suamiku
ucapkan padaku.
“Mama
udah makan?”, tanya samiku, kembali mengajak berbicara.
“belum,
Pa. Mama belum laper!”
Ia
tersenyum kearahku dan mengelus perutku. Iapun duduk di sampingku yang sedari
tadi hanya melamun. Akupun dirangkulnya dengan mesra. Tak pernah aku merasakan
bahagia seperti siang ini, rasanya aku ingin balas merangkulnya demi mengakhiri
kebodohan selama dua tahun ini dan membalas cintanya dengan sesunguh-sunguhnya
sebagai seorang istri. Kamipun bernostalgia untuk yang pertama kalinya
kurasakan dengan cinta. Sangat indah.
*****
Dia akhirnya datang dan hadir di pangkuan kami, suamiku
memberinya nama Krisan.
“Krisna dan Sandra”, ucap suamiku tertawa bahgia.
Bahkan hingga saat memberikan nama anak kami dia terus
mencoba menyatukan kami. Dengan memadukan tiga huruf depan pada masing-masing
nama kami dan mungkin Ayahku saja tak memiliki nama sebagus itu untuk cucunya.
Tampaknya inilah ganti dari penantian yang panjang itu, dua
orang laki-laki yang kumiliki dan keduanya mencintaiku. Krisna suamiku dan
Krisan anakku. Selama ini aku mengeluh pada Allah atas apa yang aku anggap tidak
pilihanku tapi Dia menunjukkan betapa indahnya sesungguhnya pilihanNya. Sungguh
aku sangat bodoh yang dulunya mencoba bertahan dan tak peduli dengan takdirnya.
Kini aku bahagia dan bersyukur dengan semua ini.
“Krisna suamiku
dan Krisan anakku, aku mencintai kalian. Hidupku saat ini terasa sempurna
karena kalian.”
Pesan penulis:
“Saat kita semakin tenggelam dalam cinta yang semu,
sesungguhnya kita telah buta saat itu juga. Ingatlah cinta sejati adalah cinta
yang nyata-nyata kauniaNya sedangkan cinta semu hanyalah hasrat dan muslihat
nafsu”


