Kamis, 18 Februari 2016

Dua Laki-laki Pilihan



         Saat itu angin berhembus sejuk membawa masa depanku yang tengah melambaikan tangannya, kian jauh ditelan birunya warna laut. Lambaian halusnya seperti tamparan angin sepoi-sepoi yang tak kunjung menghilang dari benak ini, sangat indah.
         
          Randa berjanji kelak saat dia kembali pastinya dia akan mempersuntingku sebagai istrinya. Ya, aku sangat tidak sabar menunggu hari dimana kekasihku datang sebagai cendikiawan muda yang telah memikul segepok ilmu dan pastinya telah mengenakan toga kebesarannya, seperti yang selalu ia idamkan. Kelak mungkin ia akan tampak lebih gagah, tidak lagi seperti saat dia masih anak kampung yang baru pisah dari putih abu-abu.

Dia tidak pernah bialng padaku kalau aku juga harus sama seperti dia. Satu hal yang kuingat, dia bilang aku harus menjaga janji kami sampai penantian itu tiba. Sungguh tanggung jawab yang sama beratnya dengan menjaga nyawa, lebih lagi kerenggangan keluarga kami yang sulit bersatu. Bisa dibilang seperti air dan minyak.

Namun hari ini tampaknya penantian bahagia itu harus usai. Sepertinya tidak lagi dengan hayalain yang saat ini nyata-nyata adalah gambaran semu. Gambaran semu yang menguatkanku dalam memegang amanahnya.

“Sayang maafkan aku karena tidak bisa lagi pulang ke kampung kita.
Aku sekarang sudah punya anak dan istri, kehidupanku juga sangat susah
disini. Carilah orang lain yang mau menjadikanmu istri, aku ikhlas.
Sekalai lagi maaf.”

Memo yang kali pertama aku terima dari Randa setelah empat tahun penantiaku. Tahun ini seharusnya aku besrtemu dengan tambatan hatiku yang berselempangkan toga serta dengan wejangan arifnya. Namun kenapa semuanya ia titipkan lewat selembar memo yang harus menghancurkan hatiku. Jujur, sakit hati pasti ada. Tapi aku tak mengerti kenapa harus sekarang dan kenapa harus dengan memo ia mengatakan ini padaku.

Empat tahun penantian, pagi dan malam aku selalu membayangakan pernikahan kami. Bahakan aku tak pernah mau tahu dengan laki-laki manapun yang coba mendekat, baik yang berniat mempersunting aku atau hanya sekedar dekat. Jodoh yang di tunjuk orang tuaku kerap aku tolak dengan segenap cara dan usah, setiap aku merindukannya selalu aku mendoakan dia agar cepat menyelesaikan kuliahnya dan kembali untuk menjemput aku dari penantian ini.


Memo yang dikirim Randa akhirnya menjadi sebuah perintah, perintah untuk tidak lagi menunggunya dan segera mengganti harapan itu dengan kekecewaan yang sebenarnya tak perlu. Aku pasrah dan menuruti perjodohan yang ditentukan orangtuaku, mungkin ini bukan jalan yang terbaik tapi Randa sendiri yang memintanya dan aku tak berdaya untuk menolak.

Aku menikah dan dibawa oleh suamiku pergi kekota, katanya untuk mengawali kehidupan yang baru lebih baik pergi ketempat yang baru dan memulai segalanya dari nol. Bersamanya saat ini aku hidup, hanya ada canda tawa yang selalu ia suguhkan dengan manisnya kasihnya. Sepertinya ia sangat memahami perasaanku yang pernah kecewa dan sempat putus asa namun ia memperlakukan aku dengan bijak dari yang kubayangkan.

*****

Sebentar lagi aku akan medengar tangisan seorang bayi. Ya, aku tengah mengandung anak pertamaku. Ia menjadi anugrah dan menumbuhkan cinta yang baru, awalnya aku tak sedikitpun mencintai suamiku serta masih saja mengingat-ingat Randa. Saat aku tahu di dalam perutku ada seorang bayi, cinta itupun tumbuh. Entah berapa tahun terlambatnya cinta itu datang yang jelas selama berumah tangga, inilah kali pertama ak merakannya.

Biasanya aku hanya melayani suamiku tidak karena cinta tapi karena hormat pada  ayah dan padanya yang telah mengangkatku dari kekecewaan. Tapi lama-kelamaan semuanya berubah. Dia laki-laki yang ulet, sabar, dan bijak. Hari ini ia membuktikan padaku bahwa sesungguhnya cinta yang ia berikan benarlah sejati.

“Ma!”, panggil suamiku sembari mengelus keningku.

“Iya!”, jawabku yang terkejut dari lamunanku dan sedikit terharu karena sebentar lagi ada seorang anak yang akan memanggilku dengan sebutan yang baru saja suamiku ucapkan padaku.

“Mama udah makan?”, tanya samiku, kembali mengajak berbicara.

“belum, Pa. Mama belum laper!”

Ia tersenyum kearahku dan mengelus perutku. Iapun duduk di sampingku yang sedari tadi hanya melamun. Akupun dirangkulnya dengan mesra. Tak pernah aku merasakan bahagia seperti siang ini, rasanya aku ingin balas merangkulnya demi mengakhiri kebodohan selama dua tahun ini dan membalas cintanya dengan sesunguh-sunguhnya sebagai seorang istri. Kamipun bernostalgia untuk yang pertama kalinya kurasakan dengan cinta. Sangat indah.

*****
          Dia akhirnya datang dan hadir di pangkuan kami, suamiku memberinya nama Krisan.

          “Krisna dan Sandra”, ucap suamiku tertawa bahgia.

          Bahkan hingga saat memberikan nama anak kami dia terus mencoba menyatukan kami. Dengan memadukan tiga huruf depan pada masing-masing nama kami dan mungkin Ayahku saja tak memiliki nama sebagus itu untuk cucunya.

          Tampaknya inilah ganti dari penantian yang panjang itu, dua orang laki-laki yang kumiliki dan keduanya mencintaiku. Krisna suamiku dan Krisan anakku. Selama ini aku mengeluh pada Allah atas apa yang aku anggap tidak pilihanku tapi Dia menunjukkan betapa indahnya sesungguhnya pilihanNya. Sungguh aku sangat bodoh yang dulunya mencoba bertahan dan tak peduli dengan takdirnya. Kini aku bahagia dan bersyukur dengan semua ini. 

          “Krisna suamiku dan Krisan anakku, aku mencintai kalian. Hidupku saat ini terasa sempurna karena kalian.”


Pesan penulis:
“Saat kita semakin tenggelam dalam cinta yang semu, sesungguhnya kita telah buta saat itu juga. Ingatlah cinta sejati adalah cinta yang nyata-nyata kauniaNya sedangkan cinta semu hanyalah hasrat dan muslihat nafsu”

Jumat, 12 Februari 2016

Januari Itu Luka (Part IV)





          Malam itu adalah malam yang paling indah, saat bersama laki-laki idaman dan besandar di pelukan hangatnya. Oh, apakah karena mungkin ini cinta pertamaku. Sangat tidak biasa dan aku tak ingin ini berakhir. Ya, walau aku tidak suka dengan suasana ribut-ribut dan lampu yang kelap-kelip mengikuti musik Dj, tapi aku bersamanya dan dia pacarku. pacar yang selama ini aku idamkan dan selalu hadir dalam hayalanku. Lisman Admaja.

“Aku lebih suka menjadi b*jingan dari pada laki-laki baik!”, ucapnya dengan sangat percaya diri padaku.

          “Kenapa, Lin?, tanyaku penasaran.

          “karena saat menjadi b*jingan akan selalu ada wanita yang cantik di sampingku!”. Jawabnya sabil melirik manis ke arahku.

          “ahhh, gomball”, balasku tersenyum malu menghadapnya.

          Begitu indah gombalannya yang bercampur dengan hangatnya alk*hol di gelas kami. Ya, cukup untuk membuatku nyaman dengan hal-hal baru seperti situasi klabing malam ini.

          “sayang”, bisik Lin di telingaku, terdengar sangat maco suaranya.

          Aku tak menjawab dan ternyata bisikannya bermuara pada ciuman hangat yang ia tempelkan  pada pipi kiriku, pipi kiri yang merah setelah kali pertama merasakan ciuman dari seorang laki-laki. Semuanyapun semakin memanas dan aku seakan melayang, melayang ke atas puncak indahnya asmara. Jujur aku katakan sulit untukku membedakan cinta dan nafsu saat itu, semuanya berpadu dalam buaiyan manis Lin.

****

          Hatiku serasa terbakar dan tanganku menggengam erat segumpal amarah, amarah yang siap aku tumpahkan pada wajah b*jingan itu. Kau berhutang padaku b*jingan, b*ajinga Lin dan pacarnya yang sok muslimah. Keduanya telah merampas duniaku dan Riskha adalah penyebab semua ini. Penyebab Lin menjauhi aku.

          Awalnya kami cecok karena perangai buruk Lin yang kesekian kalinya, mencumbui siapa saja yang ia sukai. Melihatnya aku sangat marah, percekcokan itupun berakhir saat ia mendiami aku dan pergi bergandengan dengan wanita yang bersamanya malam itu. Aku mencegahnya dan mencoba melerai pertengkaran kami, Lin-pun menyuruh wanita itu pergi tanpanya dan ia mengajakku duduk bersamanya.

          “Lin, aku ini pacarmu”, ucapku padanya yang setengah mabuk.

          “Heheheee”, ia tersnyum geli dan melanjutkan. “tapi kau lupa, kalau aku b*ajingan”. Jawabnya ringan.

          Mendengarnya aku seperti tersambar petir, petir diantara kemerlap lampu klabing. Sungguh kata-kata yang membuatku luka. Akupun menangis di hadapannya berharap ia membujukku dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

          “udah, jangan cengen ahhh”

          Mendengar suara Lin, aku menghentikan tangisku. Namun Lin lebih dulu mengusap air mataku dengan kedua tangannya. Seketika tangisan luka itu berhenti dan aku sedikit merasa lega.

          “jangan nangis lagi ya!”, ucap Lin kembali.

          Aku masih tak berani bersuara dan hanya menganggukkan kepalaku. Lin tersenyum begitu manis dan mengusap kepalaku. Aku sangat merasakan kenyamanan karenanya. Iapun mulai agresif dan tak memperdulikan orang-orang yang ada di klabing malam itu. Rangkulan mesranya kembali menjerat tubuhku yang ia paksa berdiri melayani sahwatnya. Kamipun berdisko melupakan apa yang telah terjadi.   

          Namun hari ini ia melupakan semuanya, semuanya tentang aku dan malam-malam yang kami lewati dengan kehangatan asmara. Kini Lin tak lagi datang ke klabing dan kamipun putus hubungan. Memang karena aku yang memintanya sebab Lin mulai sibuk dengan kuliahnya. Tak kusangka iapun begitu cepat mendapatkan kekasih baru. mengabaikan perasaan aku, aku yang mencintainya dan menyerahkan diriku padanya.

          Januari ini adalah awal luka itu menganga, tepat saat aku mendengar kabar dari Jony tentang hububungan Lin dan Riskha. Selama ini aku tak pernah merasakan luka atas ketidak setian Lin, kali ini luka itu di karenakan Riskha. Riskha tetanggaku, kami sama-sama berasal dari kampung dan merantau ke mari dengan tujuan untuk kuliah. Ayah selalu membanding-bandingkan aku dengannya, karena memang dari SMA Riskha lebih unggul. Saat ini ia kuliah di universitas negeri dan aku hanya di universitas swasta. Sungguh pengacau yang harus di musnahkan. Dan kini dia datang untuk mengambil Lin pacarku.  jika hanya karena prestasi ataupun status, aku sama sekali tidak menggubrisnya. Kali ini semuanya aku pertaruhkan karena menyangkut kebahagianku, aku berjanji ia akan merasakan luka yang tengah aku rasakan.

          Rencana itupun akhirnya muncul dan sukses aku jalankan, Riskha di tarik pulang ke kampung dan akan segera menikah. Menikahi lelaki yang di jodohkan oleh orang tuanya, orang tuanya yang merasa malu padanya. Ya, karena ia berani berdua-duaan dengan Lin. Isupun akhirnya aku edarkan untuk membuatnya tidak lagi bisa kuliah, Abi Riskhapun beranggapan ia telah terkontaminasi dengan prilaku buruk teman-temannya. Pernikahanpun adalah hukuman yang pantas untuknya dan sekaligus balasan dariku akan rasa sakit ini.

          Saat aku datang menemui Riskha sehari sebelum pernikahannya dengan Surya, ia tampak begitu lesu dan sedikit pucat. Kedatanaganku bukan untuk melihatnya atau untuk menghiburnya, karena bagiku hiburan yang menyenangkan adalah saat bertemu Riskha yang sedang berputus asa. Rencanaku sangat menguntungkkan aku, meski belum semuanya berhasil.

          Akupun meminta bantuan Jony untuk bertemu Lin, saat itu Lin sangat galau dengan ke adaan Riskha yang tak kunjung masuk kuliah dan tak memberi kabar. Jony mengatur pertemuan kami di tempat biasa, aku menyiasatinya dan menyediakan minuman hangat yang akan membuat Lin lupa pada Riskha. Aku menyamar sebagai Mira dan berura-pura sebagai tetangga sekaligus teman dekat Riskha satu kampung. Awalnya berjalan dengan mulus, Lin datang dan duduk bersama kami. Ia ternyata tidak mengenali aku, aku yang dulu selalu mendengarkan gombalaannya dan berpelukan mesra dengannya di tempat ini.

          Ternyata di balik rencanaku ini, ada sekenario besar yang tak bisa ku elakkan. Keputusan Tuhan membuat Lin semakin gigih untuk menghindar dari jebakkan ini. Ia hanya pergi dan berlalu tanpa menenggak minuman dan tetap saja tidak menghiraukan aku. Aku kira januari ini adalah bulan yang baik untuk kami merajut hubungan baru dan melupakan bulan-bulan sebelumnya, Tuhan berkata lain dan Lin tetap teguh dan mantap dengan komitmennya. Lalu pergi meninggalkan aku dan Jony.

          Semuanya hancur berantakan. Riskha akan segera menikah dengan orang yang tidak ia cintai, Lin tetap dengan komitmennya dan dilema akan kerinduannya pada Riska. Sementara aku dihantui rasa bersalah akan luka ini, luka yang aku timbulkan karena dendam.

          "oh,  januari itu luka”    

Januari itu luka Part (III)





          Mimpi yang indah adalah saat mimpi itu menjadi nyata, selaras antara harapan dan kenyataan yang akan memberikan lengkungan senyum. Senyum kebahagiaan. Tapi hidup ini tak seindah hayalan dan tak semudah logika, akan ada banyak tanjakan dan tikungan yang menyediakan lubang atau kerikil. Membuat terjatuh dan menjatuhkan.

          Ini adalah minggu kedua kami masuk kuliah, seperti minggu sebelumnya Lin masih terlihat murung. Entah kapan akan berakhir murungnya, jelasnya hapir sejuta tawaran aku suguhkan untuknya. Berharap untuk murungnya hilang, bagai mengharapkan awan hujun mengguyur tanah yang sudah tandus bertahun-tahun. Sampai hanya ada hujan air mata.

          ****

          “Aku mencintainya Jon!”, ucap bibir pucat Riskha.

          Saat itu aku dan  Afni datang kerumah Riskha. Harapanku sama seperti harapan sahabatku Lin, ingin membunjuk Riskha agar mau berkomunikasi dan mejelaskan semuanya pada Lin. Lin saat ini sangat rapuh dan rentan akan hal-hal sepele, ia pun sangat tempramen. Bahkan melihatnya sajapun teman-teman sedikit takut, takut kalau Lin akan tersinggung dan marah. Sosok misterius dan aneh selalu tergambar dari langkah gontainya yang asing untuk di kenali.

          Wajah murung dan lamunannya acap kali membuatku ngeri, aku hampir putus komunikasi dengannya. Walau aku sediripun tahu kalau dia tidak selemah itu. Namun aku tak tahu sekuat apakah hatinya yang saat ini sedang bergejolak, antara menunggu kepastian dari Riskha atau berhenti memikirkannya.

          Tapi sepertinya pertemuanku dan Riskha tidak sama sekali mampu mengubah Lisman atau mengajak Riskha kembali untuk kuliah. Benar kalau Riskha telah mengambil cuti, benar kalau Riskha bakalan merit, tapi kebenaran yang paling mencengangkan adalah kesetian Riskha pada laki-laki itu. Laki-laki yang telah membuainya dan telah membesarkannya.  Abi, panggilan yang acap kali Riskha sebut-sebut pada laki-laki itu. Keputusannya untuk menjodohkan Riskha pada lelaki bernama Surya adalah ibadah yang harus Riskha jalani, sebagai seorang anak yang berbakti pada orang tuannya.
Sangat disayangkan, cinta keduanya berbataskan sebuah kewajiban seorang anak dan memberikan luka pada keduanya yang dulunya saling menjaga serta saling percaya. Kisah mereka sungguh membuatku harus mengurut dada dan sedikit terharu, satu bajingan yang mendapat hidayah dan seorang muslimah yang tengah di uji kesabarannya. Betapa dilematisnya mereka, antara penghianatan dan pengorbanan.  

          Akupun memutuskan mengikuti jejak Lin, meninggalkan apa yang dulu kami senangi dan sedikit menahan nahsu yang sealalu menyala setiap kali melihat wanita. Meski aku tidak sebaik Lin tapi tampaknya cobaanku sedikit ringan darinya. Afnipun kini mengikutiku dan kami menjalin hubungan asmara yang rumit, sungguh rumit karena Afni sendiri selalu menggodaku dengan masalaluku.

          Selain aku mencintainya sebagai seseorang kekasih, di satu sisi aku iba padanya. Alasanku mempertahankannya tak lain agar ia bisa move-on dari rasa kesepian yang sangat ambigu, kesepian ditengah kemerlam dunia malam dan kesepian diantara bisikan-bisikan setan. Afni memiliki keanggunan bidadari dan kelembutan seorang ibu namun saat Lin memutuskannya Afni semakin urak-urakan. Ia memotong rambutnya dan pakaiannya hingga ia tampak lebih menggairahkan birahi, birahi siapa saja yang menatapnya.

          Perubahannya yang drastis tidak membuat Lin ingin kembali padanya, melaikan membuatku ingin memilikinya. Kamipun saling dekat antara satu sama lain, menenggak asmara yang sangat glamor di tengah gemerlapnya lampu disko. Ya, aku menikmatinya tidak seperti saat Lin bersamanya. Hingga pada akhirnya kamipun harus terseret kedalam masalah asmara yang tengah menyandung Lin dan riskha.

          Awalnya Afni merasa senang karena mungkin saja Lin akan kembali bergabung dengan kami, menghabiskan waktu malamnya dan berdisko seperti dulu. Begitupun denganku yang juga ikut gembira akan kehadiran teman lama di samingku kembali. Aku tidak kawatir jika Afni akan kembali ke pelukan Lin, aku juga tidak perduli kalau Afni tidak lagi dekat denganku. Lin adalah teman yang suka berbagi padaku, bukan masalah besar baginya jika hanya berbagi pacar untuk semalam atau bahkan sampai beberapa malam.

          Perkiraan itu meleset, rencana yang awalnya aku dan Afni susun dengan rapi akhirnya berakhir berantakan. Ya, ternyata cinta yang ia bangun bersama Riskha adalah hidayah yang merubah jalan hidupnya. Sahabatku tetap bertekat pada janji dan komitmennya, komitmennya untuk menjadi lelaki yang di dambakan oleh Riskha. Akhirnya pintu hatikupun terketuk untuk bertaubat, bertaubat karena apa yang selam ini aku jalani adalah hal yang salah dan sia-sia.    
           
           Kesia-siaan itupun terus datang menggoda dengan ciuman hangat yang selalu Afni suguhkan setiap saat. Saat kami bertemu dan saat itu juga penolakan yang selalu aku lakukan terhadap ciumannya, meski terkadang bisikan setan sangat kuat sehingga akupun lupa. Namun aku yakin, bagian dari cobaan terberat itu adalah menundukkan birahi Afni dan menyadarkannya agar ia meninggalkan kesia-siaan yang dulu kami gemari.

          “Hemnhh, inikah cobaan itu?” 

Senin, 08 Februari 2016

Januari Itu Luka (Part II)






          Detik-detik terus berjalan mengikuti jarum menit yang menunggu kapan akan bergeser. Begeser untuk membujuk waktu segera berganti hari, hari dimana akan menjadi hari yang melelahkan.

          Aku sangat lelah memikirkan semua beban yang kini menunpuk di pundakku, pundak seorang gadis muda yang tengah mengubur angan-angannya bersama lamunan hampanya. Ya, lamaunan ini terasa hampa.

          “Ris, udah malam nak. Kok ngelamun aja!”

          “iya, Mak”, balasku mengindahkan teguran Mamak, yang belakangan ini sering khawatir akan kesehatanku.

          Memang aku tak terlalu lemah untuk menghadapi semua ini namun di satu sisi aku juga seorang wanita dan aku juga seorang manusia. Abi sangat sulit untuk di tentang, sehingga keputusannyapun menyeretku dalam kemulut ini. kemulut yang membuatku malas untuk makan, malas untuk bicara dan malas untuk beraktivitas.

          Hanya sebongkah kotak rubik yang menemaniku melewati hitungan hari yang tidak aku nantikan, hari dimana aku akan bersanding dengan leki-laki yang tidak aku kenal. Entah, dia tua atau muda, kaya atau miskin, dan tampan atau buruk. Abi bilang dia adalah calon menantu yang baik, buat Abi dia calon menantu yang baik tapi tidak buatku. Dia atau Abi sama saja bagiku, sama-sama tak memperdulikan aku.

*****
          “Selamat ulang tahun ya, Riskha”, ucap Lisman sembari menyerahkan kado.

          “iya, makasi ya!”, jawabku menyambut tanggannya yang memegang kado itu.

          Saat itu adalah saat-saat bahagia, terutama saat kado itu aku buka. Hadiah yang kali pertama saat usiaku genap 20 tahun aku terima adalah rubik istimewa yang pada bagian-bagian kotannya ada gambar wajahku dan wajah Lisman. Sungguh hadiah yang sangat unik dari seorang sahabat.

          Namun seorang kekasih baru detik itu juga muncul dan memberikan kado, kado ungkapan perasaan dan sebuah kejujuran yang sangat membuatku berdebar. Dengan rasa yang sangat terkejut aku menerima dua kado itu dan merasakan indahnya memasuki usia 20 tahunku.

          Saat itu januari 2015, aku dan dia melewatinya penuh dengan kemesraan. Kisah cinta pertamaku dan mungkin akan jadi yang terakhir. Bersamanya aku melatih diriku sebagai seorang muslimah sejati dan sebagai seorang guru yang tekun. Bayangkan saja, Lisman sering sekali mencoba menciumku dan takjarang dia kebabalasan memegang tanganku. Entah itu karena dia sengaja atau tidak tapi bagiku tiada hari tanpa menghidar darinya, awal-awalnya dia sangat genit dan nakal. Namun ia berhasil menunjukkan perubahan yang positif dan berusaha memperbaiki tingkahnya.

          Tapi satu tahun itu akan segera berakhir, berakhir saat besok pagi ayam akan berkokok. Ini pertama kalinya aku tidak menjadi muslimah sejati dan tidak menjadi guru yang baik untuk Lisman. Seminggu belakangan ini Lisman selalu menelfonku, tapi aku tak mengangkatnya dan bahkan sms darinya acap kali aku hiraukan. Dia selalu yakin padaku dan kini keyakinannya akan segera berubah saat aku jujur atau dia mengetahui tentang pernikahan ini.           

          Alasan mengapa aku menutup rahasia ini darinya dan menjauhinya, tak lain agar ia cepat melupakan aku. Melupakan Riskha kekasihnya. Setidaknnya ia mengaggapku tidak setia dan menurutku itu lebih baik. Lebih baik dari pada ia harus memikirkan aku yang akan segera menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak aku sayangi.

           Aku hanya ingin dia tidak merasakan sakit yang sedang aku rasakan, aku juga tidak ragu dengan mentalnya yang siap untuk menerima kenyataan ini. Tapi aku tidak sanggup melihat Lisman yang akan terus memikirkan aku dan frustasi karena keputusan Abi menjodohkanku, setidaknya perasaannya akan mudah goyang dan rapuh.

          Aku sangat mencintai dia, mencintai wataknya dan ketekunannya untuk berubah serta melawan kebiasaan buruknya. Kebiasaan buruk yang menganggap wanita hanyalah penghibur birahi, yang menganggap klabing dan zina adalah hobi belaka. Dia memang bukan lelaki yang baik tapi dia selalu memberikanku yang terbaik dan menyulap cintanya menjadi sebuah motivasi, motivasi untukku agar lebih gigih mengajarinya menjadi lelaki yang baik.

          Lisman Admaja, kini aku benar-benar merindukanmu sayang.

#Masih_ada_part_3....Tunggu_aja!