Saat ini Aku hanya bisa mendengar dan
berbicara, sebut saja Aku tuna netra. Bagiku satu-satunya cahaya adalah Tea.
Wanita yang sudi bercerita
panjang lebar dan menerangi kegelapan dalam dunia si buta ini. Berbeda
dengan kisah si buta dari gua hantu, kisah si buta dari abad dua satu ini
terkesan romantis.
Pagi itu Tea datang seperti biasa
untuk mengajakku bercerita.
“pagi, jony?”sapanya padaku
sambil merangkul tanganku.
Aku sangat senang mendengar suara
indah itu. Suara yang membuat kegelapan dalam hidupku sirnah.
“loh, kamu kok diam jon?”,
tanya Tea kembali.
“enggak apa-apa, Aku Cuma lagi
kurang sehat!”, kilahku padanya.
Tea kemudian meletakkan tangannya
ke arah keningku. Akupun mulai merasa deg-degan. Waktu seakan melambat ditambah lagi
dengan tangan Tea yang bersandar. Ingin rasanya Aku melihat parasnya.
“oh, kamu enggak apa-apa
kok!”, ucap Tea memecahkan suasana.
Kamipun bercerita seperti
biasanya. Tea selalu bercerita diawal dan setelah itu dia selalu menanyakan
perasaanku akan awan gelap yang menyelimuti pandanganku. Kadang juga Ia
bertanya harapanku dan tak jarang Dia memotivasi Aku yang lemah ini.
Namun hari ini Aku bertanya
kepadanya, apakah Aku yang sudah buta bisa melihat kembali seperti sedia kala.
Namun Tea mengatakan, bahwa cahaya itu akan datang dan menggantikan bola mataku yang sudah rusak.
Namun Aku tak mengerti cahaya yang dimaksudkan Tea. Perbincangan kami, akhirnya
usai. Tea beranjak pergi meninggalkan Aku. Dan setelah itu Tea tak pernah lagi
datang.
***
Hari ini genap sudah enam
bulan Aku tak mendengar suara indah Tea, dan berbincang dengannya. Aku heran
dan cemas akan keadaannya. Namun Dia tak kunjung datang dan kabarnya tak
kunjung terdengar.
Seperti dua tahun yang lalu,
saat Aku pertama kali sadar dari masa kritis dan sudah tidak bisa melihat.
Setiap harinya Aku hanya duduk di depan teras rumahku, Papa sibuk dengan
bisnisnya dan hanya ada Mama yang kadang-kadang memberi semangat padaku.
“jony!”, suara Mama yang
terdengar tak jauh.
“ia, Ma?”, jawabku sambil
meraba-raba dan mencoba berdiri.
“pagi ini, kita kerumah sakit
yuk!”
“siapa yang sakit Ma?”,
tanyaku cemas.
“enggak ada yang sakit!”
“terus, ngapain Ma?”
“Dokter spesialis mata Kamu,
semalam Nelpon. Katanya hari ini, mata Kamu harus dioprasi agar bisa melihat
lagi!”
“yang bener Ma?”, tanyaku
dengan penuh kegembiraan.
“Ia, sayang!”
Akupun tak berlama-lama lagi.
Aku menggandeng tangan Mama dan mengikuti langkahnya yang menuntunku kedalam
mobil. Cahaya yang pernah diceritakan Tea, kini sebentar lagi bersarang di
kantung mataku.
“Ya
Allah, jika Aku bisa melihat nanti. Berilah Aku kesempatan untuk melihat Tea
dan mendengarkan kata-kata indahnya, walau hanya sebentar.”ucapku dalam hati.
Perjalanan terasa singkat.
Mobil Mamapun akhirnya berhenti. Taklama setelah itu Aku dituntun oleh
seseorang yang tak kukenal, untuk duduk dikursi roda. Diapun bergegas membawaku
keruangan oprasi, katanya. Sesampai diruangan oprasi, Akupun dibaringkan.
Aku merasa ada empat orang
berdiri mengelilingiku yang terbaring diatas ranjang rumah sakit. Masing-masing
dari mereka seperti terfokus pada mataku. Aku merasakan dua kali suntikan kearah kantung mataku.
Dan setelah itu, Aku tak ingat apa-apa lagi.
“jon!”, panggil Mama padaku.
“iya, ma”jawabku dengan
keadaan duduk dikursi roda.
Tak berapa lama kemudian, Aku
barusadar bahwa ada yang membalut mataku.
“Suster, tolong buka
perbannya!”, suara salah seorang yang ada diruangan itu.
“oke. Jony, coba sekarang buka
mata kamu pelan-pelan!”suara orang asing itu, lagi.
Perlahan lahan-lahan Aku
membuka mataku. Rasanya kegelapan mulai sirnah. Cahaya kilau mulai tampak
berhamburan didepan mataku. Setelah Aku sadari, ternyata Aku bisa melihat
kembali. Tampak dengan jelas di depanku dokter dan susuternya yang mengenakan
pakaian serba putih. Saat Aku menoleh ke belakang, Aku melihat Mama.
“sayang!” ucap Mama sambil
merangkulku.
Aku hampir melupakan wajah
Mama yang melahirkanku. Karena kegelepan yang menyelimuti pandanganku dua tahun
terakhir ini. Namun ranya masih ada yang kurang. Ya. Aku masih belum bisa
melihat wajah sahabatku Tea. kemudian Aku menanyakannya pada Mama, tapi Mama
malah menyodorkan Aku selembar kertas.
Akupun mencoba melihatnya
karena penasaran. Ternyata ada pesan yang tertulis.
Oe Tea Mo
Maaf
teman, karena salahku engkau menderita.
Pengendara mobil misterius yang menabrakmu adalah Aku. Sekarang lihatlah
dunia kembali, dengan cahaya yang selalu menuntunmu. Jangan tuangkan
kesedihanmu pada mataku, karena Aku tak mau menangis lagi.
Aku senang bisa bersamamu, dan kini kita telah menjadi satu.
Saat engkau bercermin dan melihat matamu yang sekarang, saat itulah kau melihat
kearahku. Arah dimana semua tujuan. Jony, namaku Tea dan arti dari namaku
cinta. Tapi Tea ini telah jatuh cinta pada Jony, terimalah cintaku. OE TEA MO.
Akupun tertunduk lesu usai
membaca surat dari Tea. Mamapun mencoba menghiburku. Namun Aku tak perduli.
Beberapa menit tak lama kemudian, Mama mendorong kursi roda yang membawaku.
Baru bebera meter kami keluar dari ruanga oprasi, dokter mencegat kami.
“maaf, Bu. Berhenti
sebentar!”, pinta lelaki berseragam serba putih itu.
“iya, ada apa lagi Dok?”
“saya lupa katakan, bahawa
oprasi pencangkokan kornea mata pada jony memang sudah selesai. Hanya saja,
matanya belum seutuhnya bisa digunakan.”
“maksudnya Dok?”, tanya Mama
sedikit takut.
“pasien jangan dulu keluar
rumah tanpa menggunakan kaca mata khusus, dan jangan Menonton TV, main Gaget,
atau Hp, yang radiasi cahayanya cukup tinggi.”
“ok, Dok. Terimakasi
sarannya”, balas Mamam dengan senyum.
Usai perbincangan itupun Mama membawaku
pulang, dengan mobil yang kami kendarai tadi. Disepanjang perjalananpun, Aku
terus berfikir. Akan keadaan orang yang mau mendonorkan kornea matanya
untukkku.
“Ma?”, panggilku.
“ada apa sayang”, jawab Mama,
sambil melihat kearahku.
“Tea, itu siapasih?”, tanyaku
sambil memandang Mama, dengan mataku yang berlinang.
“nanti ya, jon. Mama cerita,
kalau kita sudah sampai rumah”
Aku tak menyahuti jawaban
Mama, melainkan hanya mengangguk saja. Serasa bagai teka-teki. Hanya untuk
mengetahui tantang sahabatku sendiri.
Kamipun tiba dirumah. Serasa asing
bagi mata yang baru dicangkok ini, saat melihat rumah. Tempat dimana Aku
berteduh dan tertidur pulas setiap malamnya.
“jony.!”, panggil Papa yang sedari
tadi menunggu kepulangan kami.
“iya, Pa?”, jawabku sambil tersenyum
kearahnya.
“wah, bola matamu sekarang warnanya
biru ya!.”, sambung Papa sambil merangkulku.
Akupun terkejud. Dan tak sabar ingin
melihatnya. Usai Papa melepaskan cengkramannya, Aku mendekat ke arah Mama.
Untuk meminta cermin. Sudah pasti Mama punya cermin yang menempel pada kotak
bedaknya.
“Ma, boleh pinjam cermin!”, bisikku
padanya.
“sebentar, ya. Sayang!”, jawab Mama,
sambil membuka tasnya.
Sesaat kemudian tanpa ada isyarat
banyak, Aku langsung mengambil kotak bedak dari tangan Mama. Kulihat pada
cermin yang mungkin ukurannya 10x5 cm itu. Ternyata memang benar, kornea mata
yang didonorkan padaku warnanya biru.
Aku mulai membayangkan, wajah Tea yang
dihiasi bola mata biru ini. Namun seketika khayalan itu buyar. Akupun
mencobanya kembali, tapi hasilnya nihiil. Sangat sulit, sekali.
“Jony, ayo kita makan. Sayang!”
“Jony, enggak laper. Ma!”
“yaudah, nanti kalau laper. Jony
makan, ya.!”
“iya, Ma?”
Mamapun beranjak dari hadapanku.
Tiba-tiba Aku kembali teringat akan janji Mama. Tadi saat Aku tanya tentang
Tea. Mama
Berjanji akan memberitahukan padaku tentang
Tea. Akupun bergegas membuntuti Mama.
“Ma!”, panggilku, sambil memegang pundak
Mama.
“ada apa. Jon?”
“tadikan Mama janji, kalau kita udah
sampek rumah. Mama mau cerita tentang Tea!”
“oia, Mama lupa!”, jawab Mama dengan
senyum lebar.
Akupun menggiring Mama kesofa, dan
duduk bersamanya. Mama sedikit mengkerutkan keningnya itu. Tampaknya Mama
bingung, akan apa yang hendak Ia ucapkan.
“Ma?”, panggilku, tak sabar menunggu
penjelasan Mama.
Mama terdiam. Suasana semakin hening.
Akupun terus bertanya-tanya, akan hal apa yang sebenarnya. Kenapa lidah Mama
tampak kaku dan Iapun diam membisu.
“Jony!”
“iya, Mah?”
“sebenarnya, Mama udah janji dengan
Tea!”
“janji apa Ma?”
“janji, kalau Mama enggak akan cerita
tentang Tea ke jony”
“Kenapa gitu, Ma?”, tanyaku semakin
penasaran.
“yaudahla, karena anak Mama yang
minta. Mama akan cerita!”, jawab mama mulai dingin.
Akupun sedikit jantungan karena sedari
tadi, pembicaraan kami sepertinya sangat rahasia. Mama tampak berat untuk
mengungkapkan siapa Tea, temanku saat Aku merasakan gelapnya dunia.
“Tea, enggak ada?”
“maksud Mama!”
“Tea udah lama pergi, Jon!”
“terus maksud penabrak misterius
disurat yang Mama kasi tadi, apa?”
“surat itu ditulis Tea untuk kamu,
Jon!”
“jadi semua isi surat itu bener, ma?”
“Ia, jony!”
“terus, Tea sekarang ada dimana?”
“Tea, udah mininggal Jon!”, jawab Mama
mengheningkan suasana.
Sontak Aku merinding dan terdiam.
Mamapun melihatku dengan matanya yang digenagi tangis.
“Tea, anak yang cantik. Tapi ia
frustasi akibat kematian pacarnya. Malam itu Dia mengendarai mobilnya begitu
kencang dan Dia nabrak kamu, Jon?”, ucap Mama dengan nada yang mulai terisak.
Mamapun membasuh matanya yang berair
tadi, dengan kedua tangannya.
“tabrakan malam itu, membuat kalian koleps. Tapi seminggu kemudian Tea sadar
dan Dia mohon kepada Mama agar mau memaafkannya.”
“terus, Mama jawab apa?”
“iya, awalnya Mama sangat marah. Tapi
setelah orang tua Tea, juga ikut meminta maaf. Mau-enggak mau, Mama terima!”
“tapi, kenapa Tea meninggal Ma?, apa
karena Dia mendonorkan matanya ke Jony?”
“pendonoran mata Tea kekamu enggak
pernah ada yang setuju Jon. Memang awalnya Tea, ingin melakukan donor. Saat dia
tahu, kamu buta.”
“terus kenapa bisa begini, Ma?”
“ternyata, Tea tahu bahwa umurnya
enggak panjang Jon. Saat kecelakaan tabrakan itu kepala Tea terbentur keras,
akibatnya pembulu darah dikepala Tea pecah.”
“tapi, diakan masih hidup.
Ma?, dan dia jugak sempat nemani Jony, hampir dua tahun?”
“awalnya operasi yang dijalani
Tea memang buat dia sembuh tapi terakhir menurut keterangan dokter, Tea terkena
depresi sehingga otaknya dipaksa untuk berfikir keras?”
“Emang, apa yang buat Tea
depresi. Ma?”
“Kata orang tuan Tea, Tea
enggak bisa lupaiin kekasihnya yang sudah meninggal ditambah lagi rasa bersalahnya
pada kamu jon.”
“jadi, ide siapa sebenarnya
untuk donorin mata Tea ke Aku, Ma?”
“yaa, Tea sendiri!.”
“kok, gitu?”
“sebulan yang lalu Tea sekarat
dan dia pesan ke orang tuanya kalau umurnya enggak panjang Dia mau, matanya
didonorin untukmu”
“tapi kenapa, Ma?”
“katanya sebagai ganti rugi
dan permohonan maaf dia kekamu?”
Akupun tak sanggup lagi,
melanjudkan perbincangan dengan Mama. Hatiku serasa semakin sakit, mendengar
cerita Mama. Aku hanya bingung, kenapa kejadian ini terjadi padaku dan semuanya
terasa sangat cepat. Pikiranku dipenuhi
Tea, wanita yang ada disaat semua terasa tiada. Dan saat semua telah terasa
ada, Aku malah kehilangan Dia.
Andai saja kami masih bisa
bertemu, Aku takkan biarkan Dia sedih dengan rasa kehilangan orang yang paling Dia
sayangi. Setidaknnya Aku akan menggantikan posisi orang yang beruntung itu. Tea
telah membagi cahaya kehidupannya dan Dia pergi dengan kebutaan membawa rasa
kehilangannya. Tampaknyapun Aku harus ikhlas menerima semua ini, dan tidak
terlarut oleh bayangan Tea. Aku harus bisa Move
on agar emosi tidak menguasaiku yang pada akhirnya melampiaskannya pada
orang lain.
“Terimakasi Tea, OE TEA MO
TOO!”
(17 Oktober 2015)