Senin, 09 Mei 2016

20 + 1 = Story


          Setiap orang memiliki pemikiran untuk hidup bebas, walau tak semuanya paham akan arti kebebasan sejati. Lebih banyak dari mereka yang menggap mereka adalah orang yang bebes. Ironi. Mungkin kebebasan hanyalah mitos atau hanya sebuah angan-angan kosong yang selalu menjadi bumbu-bumbu dalam kehidupan.

          Semua itu bagiku adalah omong kosong, sekosong pemikiran akan kebebasan itu. Aku hanya hidup dengan ikatan, aturan tradisi dan ajaran agama yang ku yakini benar, intinya aku tak tahu apa itu kebebasan. Mungkin akibat banyak hal yang mengikatku.

****

          “kita tidak bisa menikah, mas!"

          Seketika aku terdiam, sungguh kalimat yang sulit bagiku.

“Kenapa?”

“kita beda agama mas!, maaf aku selama ini tidak memberi tahumu.”

Akupun hanya terdiam kaku, hanya ku pandangi mata indah itu yang terus mengucurkan air mata. Ya. Sangat sedih melihat mata indahnya itu, ini mungkin jadi kali pertama mata itu menunjukan kesedihan pada mataku.

“aku harap mas, bisa mengerti. Maafin Shiva, mas!”, sambungnya sembari mengusap tangis yang tadi tak sengaja mengundang pilu.

Akupun memegang tangannya, mentapnya dengan memberikan keyakinan penuh.

“kamu memang benar, tapi haruskah kita mengakhiri semua ini?”, sekali lagi aku bertanya kepadanya.

“iya, mas. Aku mau kita harus menghentikan hubungan ini, anggap aja ini ujian kita sebagai hambaNya”. Jawabnya kembali tanpa ragu.

Pembicaraan kamipun akhirnya berujung pada perpisahan, sungguh sangat di sayangkan. Aku mencintainya dengan sepenuhnya dan kini dia pergi dengan alasan-Nya.

“Oh, apakah ini kehendak-Mu Allah!”, hatiku bertanya.

Aku hanya merasa kalau kami adalah budak yang terpisahkan oleh golongan, oleh ketidak adilan dan sengaja di pisahkan karena kitadak bebasan. Dalam hatiku aku menggugat Tuhan, aku meminta keadilanNya, aku hanya ingin hidup bahagia dengan Shiva.

“Tuha Maha Esa, kenapa ada banyak agama?”
“kenapa kami tidak di benarkan untuk menikah!”

Setiap hari aku mencari jawaban atas pertanyaanku, aku terus berusaha mencari jalan keluar ini semua. Hingga akupun bertemu seseorang yang bernama Daieng. Dia bukanlah seseorang pemuka agama, dia juga bukan ahli ataupun seorang guru besar. Hanya seorang petani yang berjalan pincang.

Awalnya aku hanya duduk sambil minum di pondoknya sambil memandang indahnya sawah yang terbentang menguning. Daiengpun datang kearahku, mungkin ia akan marah terlebih lagi raut wajah itu yang bercucuran keringat.

“punten, mas!”, tegurnya padaku.

Aku hanya tersenyum melihat kedatangannya, dia tersenyum dan wajahnya berubah berseri-seri. Sungguh aneh, tadi terlihat sanagt usang dan hanya tergambar rengutan yang sangar. Hanya saja setelah ia menyapaku, tergambar senyum yang begitu iklas pada wajahnya dan membuat wajahnya begitu berseri-seri.

“maaf, pak. Saya sudah lancang duduk disini!” ujarku dengan perasaan segan yang tiba-tiba muncul.

“oh, ndak pa-pa!. Silahkan, justru saya senang ada tamu yang datang melihat sawah saya”, balasnya kembali dengan penuh ketenangan.

Dengan penuh kekikukan akupun melanjutkan percakapan, kembali.

“saya hanya du-duk saja dan saya bukan tengkulak yang ingin membeli lahan atau hasil padi bapak”
“iya-iya, ndak  masalah toh mas”, jawabnya kembali.

Aku hanya membalasnya dengan senyum, sungguh keadaan yang sulit di jelaskan.

“maaf, kalau saya boleh tahu. Mas ini sebenarnya siapa?, dan ada keperluan apa datang ke sini?”

“saya Gian!, kedatangan saya kemari cuma sekedar melihat-lihat saja”

“oh, ya-ya!. Perkenal ken, saya Daieng”, ucapnya sambil menyodorkan tangannya.

Akupun menjabat tangannya, awalnya aku sangat terkesan dengan keramahannya. Kamipun bercerita sembari dia menyajikan teh dan memperlakukanku seperti tamu. Namun aku kembali terkejud dari penampilankusamnya. Ya. Entah dariman dia bisa tahu kegilisahan yang tengah aku alami.

“maaf, pak Daieng. Apakah bapak dukun?”, dengan rasa wak-was aku bertanya pada Daieng.

“bukan, aku cuma manusia biasa!”.

“lantas, kenapa bapak tahu kalau saya sedang gelisah!”

“nak Gian, darimana saya tahu kamu gelisah itu tidak penting. Yang terpenting saat ini, apa kegelisahanmu?. Siapa tahu, kita bisa mencari jalan keluarnya!”

Akupun menceritakan masalahku, atas keputusan Shiva yang tak mau menikah denganku. Tanpa ragu akupun menyampaikan  alasan yang Shiva berikan dan aku juga mengungkapkan kebingunganku, terhadap Tuhan dan agama yang jumlahnya banyak beserta ajarannya masing-masing.

“sepertinya saya bisa membantu masalah nak Gian!”, jawabnya dengan tenang kembali.

“lantas bagaimana?”, kemabali aku bertanya.

“saya akan menjab semua pertanyaan nak gian, tap tidak sekarang!”
“Jadi, kapan pak?”

“datanglah besok, saat senja seperti ini!”

Akupun menyetujui apa yang dia katakan, mungkin ia butuh waktu berfikir satu malaman untuk mencari dalil atas sebuah nasehat yang baik untukku. sungguh orang tua yang baik, meski aku dan pak Daieng baru kenal.

****

          Senja tampaknya hari ini akan ikut ambil bagian, mungkin ia sebagai saksi atas kebingunganku atau akan ikut tahu atas pertanyaanku. Meski aku sedikit ragu pada pak daieng.

          Akupun berjalan melintasi sawah yang di hiasi padi yang semakin menguning, hanya saja senja ini masih banyak petani yang beradi di sawah. Gubuk pak Daiengpun semakin tampak jelas di depan sana, walah sedikit perlahan tapi tak butuh waktu lama untuk sampai di gubuk pak Daieng.

          Entah kemana dia, tak kulihatpun dia sedang bertani. Tapi aku terus menunggunya, mungkin ada alasan lain mengapa ia tak kunjung tampak hingga saat ini. Haripun mulai gelap, aku memutuskan meninggalkan gubuk pak Daieng. Terimakasih pak Daieng, atas PHPnya.

          Namun saat baru beberap langkah aku menjauhi gubuk pak Daieng, tampak pak Daieng mendekat. Ia tersenyum ke araku.

          “maaf nak, saya sakit. Makanya saya terlambat!”

          “saya yang seharusnya meminta maaf pak, sudah merepotkan bapak”

          Kamipun bercerita sambil berjalan meninggalkan sawah yang semakin gelap di telan malam.

          Aku tak berani menagih janji pak Daieng. Perjalanan hari ini sepertinya tidak membuahkan apa-apa.

          “rumah saya, di sini nak!”, tunjuk pak Daieng pada sebuah rumah yang cukup megah walah masih semi permanen.

          “iya, pak. Saya pulang dulu ya?”
          Saat aku ingin pergi, pak Daieng menarik tanganku dan memberikan selembarsurat. Dia bilang kalu semua jawaban atas pertanyaanku dan masalahku ada pada suat itu. Sungguh aku tidak menyangka.

          “ingat, bacalah surat ini ketika nak Gian sampai di rumah. Renungkanlah isi dari surat ini.”

          “Terimakasi pak!”, ucapku padanya

          “iya, sama-sama. Nak Gian!”, balas pak Daieng mengakhiri pertemuan kami.
****

………..kebebasan dan Tuhan, bukanlah sebuah hal yang layak untuk di persamakan. Agama dan Tuhan bukanlah hal perbandingan.

Ketahuilah agama bukan sebuah ikatan yang mengekang pemeluknya, agama hanyalah tuntunan untuk seorang hamba menuju Tuhan. Tuhan Maha Esa, walau agama banyak tak semata-mata membagi ke-Esaan Tuhan. Kebenaran mutlak lekat pada jiwa yang mencintai Allah bukan mencintai ciptaannya karena nafsu.

       Carilah kebenaran tentang-Nya, tapi jangan percayai apa yang hanya kamu lihat. Sesungguhnya kebebesan bukanlah tentang keinginan, kemauan dan lantas memuaskan nafsu. Tapi nafsu adalah kurungan yang mengekang manusia pada kebebasan sesungguhnya.

       Manusia di ciptakan bukan untuk mencari kebebasan, tapi untuk menyembah kepada-Nya. Kata kebebasan adalah jebakan yang nyata dalam dunia yang fana ini. Bebas memakan apa saja, bebas menikahi siapa saja, dan bebas berbuat apa saja, sesungguhnya itu semua adalah muslihat.

          Sepucuk surat yang membuat aku menggil membacanya, entah darimana pak Daieng bisa menuliskannya. Uasi membacanya aku terbayang akan perbuatanku selama ini, perbuatanku saat bersama Shilva. Aku membelainya, menciumnya dan bercinta dengannya tanpa aku sadari itu adalah larangan agama.

          “ya Allah, aku sungguh tersesat dalam maksiat”

****
          Akupun memutuskan untuk kembali mencari pak Daieng, mengucapkan terimakasi. Tapi sangat di sayangkan, gubuk pak Daieng sulit untuk ke temui karena kondisi panen raya. Aku memutuskan untuk kerumahnya namun aku sangat terkejut, seribu terkejut. Rumah pak Daieng tak ada. Menurut keterangan dari warga setempat, Daieng adalah sesepuh kampung yang sudah lama menghilang entah kemana.

          Aku merinding mendengarnya, sungguh sangat terkejut rasanya di tambah lagi tubuhku ikut menggigil dan jantungku berdebar menandakan ketakutan hebat. Banyak dari mereka yang menganggapku berbohong namun mereka meyakikan aku kalu Daieng sudah lama di cari keberadaanya, anehnya kenapa aku yang dianggap berbohong. Sebagian dari mereka juga berpendapat kalau Daieng telah mati dan mungkin aku hanya bermimpi.

“Benarkah aku bermimpi?”