Setiap orang memiliki pemikiran untuk
hidup bebas, walau tak semuanya paham akan arti kebebasan sejati. Lebih banyak
dari mereka yang menggap mereka adalah orang yang bebes. Ironi. Mungkin
kebebasan hanyalah mitos atau hanya sebuah angan-angan kosong yang selalu
menjadi bumbu-bumbu dalam kehidupan.
Semua itu bagiku adalah omong kosong,
sekosong pemikiran akan kebebasan itu. Aku hanya hidup dengan ikatan, aturan
tradisi dan ajaran agama yang ku yakini benar, intinya aku tak tahu apa itu
kebebasan. Mungkin akibat banyak hal yang mengikatku.
****
“kita tidak bisa menikah, mas!"
Seketika aku terdiam, sungguh kalimat
yang sulit bagiku.
“Kenapa?”
“kita
beda agama mas!, maaf aku selama ini tidak memberi tahumu.”
Akupun
hanya terdiam kaku, hanya ku pandangi mata indah itu yang terus mengucurkan air
mata. Ya. Sangat sedih melihat mata indahnya itu, ini mungkin jadi kali pertama
mata itu menunjukan kesedihan pada mataku.
“aku
harap mas, bisa mengerti. Maafin Shiva, mas!”, sambungnya sembari mengusap
tangis yang tadi tak sengaja mengundang pilu.
Akupun
memegang tangannya, mentapnya dengan memberikan keyakinan penuh.
“kamu
memang benar, tapi haruskah kita mengakhiri semua ini?”, sekali lagi aku
bertanya kepadanya.
“iya,
mas. Aku mau kita harus menghentikan hubungan ini, anggap aja ini ujian kita
sebagai hambaNya”. Jawabnya kembali tanpa ragu.
Pembicaraan
kamipun akhirnya berujung pada perpisahan, sungguh sangat di sayangkan. Aku
mencintainya dengan sepenuhnya dan kini dia pergi dengan alasan-Nya.
“Oh, apakah ini
kehendak-Mu Allah!”, hatiku bertanya.
Aku
hanya merasa kalau kami adalah budak yang terpisahkan oleh golongan, oleh
ketidak adilan dan sengaja di pisahkan karena kitadak bebasan. Dalam hatiku aku
menggugat Tuhan, aku meminta keadilanNya, aku hanya ingin hidup bahagia dengan
Shiva.
“Tuha Maha Esa, kenapa
ada banyak agama?”
“kenapa kami tidak di
benarkan untuk menikah!”
Setiap
hari aku mencari jawaban atas pertanyaanku, aku terus berusaha mencari jalan
keluar ini semua. Hingga akupun bertemu seseorang yang bernama Daieng. Dia
bukanlah seseorang pemuka agama, dia juga bukan ahli ataupun seorang guru
besar. Hanya seorang petani yang berjalan pincang.
Awalnya
aku hanya duduk sambil minum di pondoknya sambil memandang indahnya sawah yang
terbentang menguning. Daiengpun datang kearahku, mungkin ia akan marah terlebih
lagi raut wajah itu yang bercucuran keringat.
“punten,
mas!”, tegurnya padaku.
Aku
hanya tersenyum melihat kedatangannya, dia tersenyum dan wajahnya berubah
berseri-seri. Sungguh aneh, tadi terlihat sanagt usang dan hanya tergambar rengutan
yang sangar. Hanya saja setelah ia menyapaku, tergambar senyum yang begitu
iklas pada wajahnya dan membuat wajahnya begitu berseri-seri.
“maaf,
pak. Saya sudah lancang duduk disini!” ujarku dengan perasaan segan yang
tiba-tiba muncul.
“oh,
ndak pa-pa!. Silahkan, justru saya
senang ada tamu yang datang melihat sawah saya”, balasnya kembali dengan penuh
ketenangan.
Dengan
penuh kekikukan akupun melanjutkan percakapan, kembali.
“saya
hanya du-duk saja dan saya bukan tengkulak yang ingin membeli lahan atau hasil
padi bapak”
“iya-iya,
ndak masalah toh
mas”, jawabnya kembali.
Aku
hanya membalasnya dengan senyum, sungguh keadaan yang sulit di jelaskan.
“maaf,
kalau saya boleh tahu. Mas ini sebenarnya siapa?, dan ada keperluan apa datang
ke sini?”
“saya
Gian!, kedatangan saya kemari cuma sekedar melihat-lihat saja”
“oh,
ya-ya!. Perkenal ken, saya Daieng”,
ucapnya sambil menyodorkan tangannya.
Akupun
menjabat tangannya, awalnya aku sangat terkesan dengan keramahannya. Kamipun
bercerita sembari dia menyajikan teh dan memperlakukanku seperti tamu. Namun
aku kembali terkejud dari penampilankusamnya. Ya. Entah dariman dia bisa tahu
kegilisahan yang tengah aku alami.
“maaf,
pak Daieng. Apakah bapak dukun?”, dengan rasa wak-was aku bertanya pada Daieng.
“bukan,
aku cuma manusia biasa!”.
“lantas,
kenapa bapak tahu kalau saya sedang gelisah!”
“nak
Gian, darimana saya tahu kamu gelisah itu tidak penting. Yang terpenting saat
ini, apa kegelisahanmu?. Siapa tahu, kita bisa mencari jalan keluarnya!”
Akupun
menceritakan masalahku, atas keputusan Shiva yang tak mau menikah denganku.
Tanpa ragu akupun menyampaikan alasan
yang Shiva berikan dan aku juga mengungkapkan kebingunganku, terhadap Tuhan dan
agama yang jumlahnya banyak beserta ajarannya masing-masing.
“sepertinya
saya bisa membantu masalah nak Gian!”, jawabnya dengan tenang kembali.
“lantas
bagaimana?”, kemabali aku bertanya.
“saya
akan menjab semua pertanyaan nak gian, tap tidak sekarang!”
“Jadi,
kapan pak?”
“datanglah
besok, saat senja seperti ini!”
Akupun
menyetujui apa yang dia katakan, mungkin ia butuh waktu berfikir satu malaman
untuk mencari dalil atas sebuah nasehat yang baik untukku. sungguh orang tua
yang baik, meski aku dan pak Daieng baru kenal.
****
Senja tampaknya hari ini akan ikut ambil
bagian, mungkin ia sebagai saksi atas kebingunganku atau akan ikut tahu atas
pertanyaanku. Meski aku sedikit ragu pada pak daieng.
Akupun berjalan melintasi sawah yang
di hiasi padi yang semakin menguning, hanya saja senja ini masih banyak petani
yang beradi di sawah. Gubuk pak Daiengpun semakin tampak jelas di depan sana,
walah sedikit perlahan tapi tak butuh waktu lama untuk sampai di gubuk pak
Daieng.
Entah kemana dia, tak kulihatpun dia
sedang bertani. Tapi aku terus menunggunya, mungkin ada alasan lain mengapa ia
tak kunjung tampak hingga saat ini. Haripun mulai gelap, aku memutuskan
meninggalkan gubuk pak Daieng. Terimakasih
pak Daieng, atas PHPnya.
Namun saat baru beberap langkah aku
menjauhi gubuk pak Daieng, tampak pak Daieng mendekat. Ia tersenyum ke araku.
“maaf nak, saya sakit. Makanya saya
terlambat!”
“saya yang seharusnya meminta maaf pak,
sudah merepotkan bapak”
Kamipun bercerita sambil berjalan
meninggalkan sawah yang semakin gelap di telan malam.
Aku tak berani menagih janji pak
Daieng. Perjalanan hari ini sepertinya tidak membuahkan apa-apa.
“rumah saya, di sini nak!”, tunjuk pak
Daieng pada sebuah rumah yang cukup megah walah masih semi permanen.
“iya, pak. Saya pulang dulu ya?”
Saat aku ingin pergi, pak Daieng
menarik tanganku dan memberikan selembarsurat. Dia bilang kalu semua jawaban
atas pertanyaanku dan masalahku ada pada suat itu. Sungguh aku tidak menyangka.
“ingat, bacalah surat ini ketika nak
Gian sampai di rumah. Renungkanlah isi dari surat ini.”
“Terimakasi pak!”, ucapku padanya
“iya, sama-sama. Nak Gian!”, balas pak
Daieng mengakhiri pertemuan kami.
****
………..kebebasan
dan Tuhan, bukanlah sebuah hal yang layak untuk di persamakan. Agama dan Tuhan
bukanlah hal perbandingan.
Ketahuilah
agama bukan sebuah ikatan yang mengekang pemeluknya, agama hanyalah tuntunan
untuk seorang hamba menuju Tuhan. Tuhan Maha Esa, walau agama banyak tak
semata-mata membagi ke-Esaan Tuhan. Kebenaran mutlak lekat pada jiwa yang
mencintai Allah bukan mencintai ciptaannya karena nafsu.
Carilah kebenaran tentang-Nya, tapi
jangan percayai apa yang hanya kamu lihat. Sesungguhnya kebebesan bukanlah
tentang keinginan, kemauan dan lantas memuaskan nafsu. Tapi nafsu adalah
kurungan yang mengekang manusia pada kebebasan sesungguhnya.
Manusia di ciptakan bukan untuk mencari
kebebasan, tapi untuk menyembah kepada-Nya. Kata kebebasan adalah jebakan yang
nyata dalam dunia yang fana ini. Bebas memakan apa saja, bebas menikahi siapa
saja, dan bebas berbuat apa saja, sesungguhnya itu semua adalah muslihat.
Sepucuk surat yang membuat aku menggil
membacanya, entah darimana pak Daieng bisa menuliskannya. Uasi membacanya aku
terbayang akan perbuatanku selama ini, perbuatanku saat bersama Shilva. Aku
membelainya, menciumnya dan bercinta dengannya tanpa aku sadari itu adalah
larangan agama.
“ya
Allah, aku sungguh tersesat dalam maksiat”
****
Akupun memutuskan untuk kembali
mencari pak Daieng, mengucapkan terimakasi. Tapi sangat di sayangkan, gubuk pak
Daieng sulit untuk ke temui karena kondisi panen raya. Aku memutuskan untuk
kerumahnya namun aku sangat terkejut, seribu terkejut. Rumah pak Daieng tak
ada. Menurut keterangan dari warga setempat, Daieng adalah sesepuh kampung yang
sudah lama menghilang entah kemana.
Aku merinding mendengarnya, sungguh
sangat terkejut rasanya di tambah lagi tubuhku ikut menggigil dan jantungku
berdebar menandakan ketakutan hebat. Banyak dari mereka yang menganggapku
berbohong namun mereka meyakikan aku kalu Daieng sudah lama di cari
keberadaanya, anehnya kenapa aku yang dianggap berbohong. Sebagian dari mereka
juga berpendapat kalau Daieng telah mati dan mungkin aku hanya bermimpi.
“Benarkah
aku bermimpi?”
