Ia sadar jikalau aku mencintainya, semuanya terasa tak lagi
hampa karena kelak kepulanganku sudah ia nantikan. Ini akan menjadi pagi yang
sangat indah untukku, yah karena
mungkin pagi ini lambaian tangan kekasihku akan membuatku merindukan hari ini.
Aku sangat beruntung, dalam waktu yang berdekatan aku mendengar kabar yang sangat menggembirakan. Kabar itu pertamannya adalah kabar kelulusanku yang di terima di salah satu universitas negeri cina, selang berapa hari kemudian Vina membalas cintaku dan mengajakku langsung bertemu orang tuannya sebagai tanda ke seriusan kami.
Awalnya aku hanya mengenal gadis polos ini saat kami masih sama-sama kuliah. Selain manis dan pendiam dia sangat membenci aku, dulunya aku sangat usil padanya. Entah bagaimana keusilan itu merubah hubungan kami menjadi istimewa.
Sayangnya aku harus menyelasaikan studiku dahulu baru layak untuk mempersuntingnya. Vina dan keluarganya mendukung penuh niatku, ayah Vina mengaku sangat bangga dengan keputusan yang kuambil. Sebagai balasannya Vina berjanji akan setia untuk menunggu kepulnganku.
Tapi sebentarlagi aku sudah harus berangkat karena pesawat yang akan mengakutku tak sabar untuk mengudara bebes. Yah, Vina tampaknya telat atau memang sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengantarku. Mungkin tidak ada lambaian tangannya yang membuatku merindukan hari ini.
****
Rasanya kepalaku sangat pusing, entah
apa yang baru saja menimpahku. Walau seperti orang linglung tapi tak ada orang
satupun yang menghamppiriku dan bertanya padaku, akan siapa dan mau apa diriku.
Mungkin kebudayaan negeri ini sedikit bergeser dan mulai tidak saling peduli
dengan yang lainnya.
Namun aku melihat kekasihku dari
kejauhan, sangat terburu-buru langkahnya. Aku menghampirinya sembari mencoba
sedikit berteriak ke arahnya.
“VINA....!”
Mustahil, Vina tak menghiraukan aku
dan tak menoleh sedikitpun ke arhku. Ia semakin menjauh dan pergi begitu saja.
Akupun mengejarnya dan meneriakinya dengan suaraku yang lebih deras dari tadi.
Tapi sepertinya pacarku mulai tuli atau mungkin karena suasana keramaian
bandara membuatnya tak mendengar suaraku.
Aku semakin dekat dengan Vina dan
mencoba menepuk pundaknya. Mustahil, sekali lagi aku di kejutkan dengan
kejadian yang sangat aneh. Aku tidak bisa menyentuh Vina saat aku memcoba
kembali menepuk pundak Vina, tanganku menembus badannya.
^^^^
Ini mungkin akan menjadi catatan
paling kelam dalam hidupku, atau aku harus mengakhiri semuanya. Aku tak pernah
menginginkan cinta itu datang atau pergi dengan air mata, walau aku sendiri tak
berdaya. Sungguh seorang wanita yang lemah.
Tiga belas hari yang lalu aku
terlamabat datang ke bandara untuk menemani Wira sebelum ke berangkatannya ke luar
negeri . Aku sangat menyesali keterlambatan itu, hari itu seharusnya bisa
menjadi detik-detik teridah dalam kisah cintaku. Namun aku tidak sempat untuk
bertemu denganya terakhir kalinya. Terakhir kalinya aku hanya mendengar kabar
duka tentang kematiannya.
Pesawat yang di tumpangi pacarku jatuh
dan ia meninggal dunia. Sungguh hukumam yang sangat berat atas keterlambatanku.
Aku hanya bisa membayangkan betapa marahnya Wira kepadaku, sampai-sapai ia tega
meninggalkan aku. Hanya raut wajah yang terlihat pucat berbaring tak berdaya
saat aku temui.
Jauh sebelum ke berangkatannya ia
terlihat sangat gembira, ia sangat bersemangat untuk menyelesaikan studinya.
Aku juga sangat menaruh harapan besar kepada calon imamku kelak yang akan
bersahaja dengan ilmu dan gelarnya. Tapi kini dia hanya berbaring menutup mata dengan meninggalkan kesedihan
bersama dengan rasa bersalahku. Setidaknya ia menepati janjinya, untuk terus
belajar hingga akhir hayat.
^^^^
Malam semakin dingin dan semakin
menyayat jiwaku yang telah hancur sehancur-hancurnya. Ini adalah malam malam
pertama pasca tragedi yang menimpahku. Rasanya sangat tidak enak, aku hanya
bisa melihat mereka melewatiku yang berdidiri mematung melihat tingkah mereka.
Aku melihat kekasihku meneteskan air
matanya, pipi kemerah-merahan itu terlalu indah untuk tetesan air matanya. Aku
sangat menyayangkan hal ini, tapi aku kini bagaikan sekepul asap yang
mengambang di udara. Bagiku arah bukanlah barang yang akan di tuju, aku hanya
terombang-ambing dalam kehampaan.
Rasanya aku telah berteriak memanggili
mereka yang tengah menangisi sebatang badan yang menyerupai aku, tapi merekapun
tak menoleh atau mendengar. Aku tak mampu meraih mereka namun aku juga tak bisa
pergi menjauh dari mereka.
Kini malam telah larut membuai mereka,
aku hanya bisa memandangi wajah lelah mereka satu persatu dari balik jendela
rumah kami. Tampak ibu yang sangat lelah berbaring di samping si bungsu dan aku
melihat Vina ada juga di situ ikut berbaring.
Dari balik jendela, aku menangisi
kepergianku yang tak pernah ku pilih jalannya. Semakin lama rasanya angin
semakin menarik tubuhku yang mulai bertebaran seperti butir-butir debu,
perlahan untuk terakhir kalinya aku masih ingin melihat mereka membalas
lambaian tanganku, terebih lagi Vina yang seharusya melambaikan tangannya saat
ke berangkatanku pagi tadi.
Mungkin aku harus menerima semua ini,
walau aku tak mengerti entah apa yang terjadi padaku. Aku hanya merasa mereka
telah salah karena menagisi sebatang badan yang mereka sangaka itu aku, pada
hal nyata-nyatanya aku masih merasa hidup dan sedang memeperhatikan mereka.
Namun aku baru saja tersadar, bahwa maut telah mendahului kehidupan duniaku.
Kini aku juga masih tak mengerti kenapa aku hancur menjadi butiran-butiran
kecil yang mungkin sebentar lagi akan hilang entah kemana di bawa angin.
“Selamat
tinggal semuannya, inilah akhir dari perjalananku. Maafkan aku jika harus pulang
dengan lumuran darah dan sebatang badan yang pucat dan kaku tak berdaya di
hadapan kalian. Untuk kekasihku Vina, aku mencintaimu tapi kini kita telah jauh
berbeda, jangan pernah siksa dirimu dengan cintaku.”
