Senin, 18 Juli 2016

Lambaian Terakhir



Ia sadar jikalau aku mencintainya, semuanya terasa tak lagi hampa karena kelak kepulanganku sudah ia nantikan. Ini akan menjadi pagi yang sangat indah untukku, yah karena mungkin pagi ini lambaian tangan kekasihku akan membuatku merindukan hari ini.

Aku sangat beruntung, dalam waktu yang berdekatan aku mendengar kabar yang sangat menggembirakan. Kabar itu pertamannya adalah kabar kelulusanku yang di terima di salah satu universitas negeri cina, selang berapa  hari kemudian Vina membalas cintaku dan mengajakku langsung bertemu orang tuannya sebagai tanda ke seriusan kami.

Awalnya aku hanya mengenal gadis polos ini saat kami masih sama-sama kuliah. Selain manis dan pendiam dia sangat membenci  aku, dulunya aku sangat usil padanya. Entah bagaimana keusilan itu merubah hubungan kami menjadi istimewa.

Sayangnya aku harus menyelasaikan studiku dahulu baru layak untuk mempersuntingnya. Vina dan keluarganya mendukung penuh niatku, ayah Vina mengaku sangat bangga dengan keputusan yang kuambil. Sebagai balasannya Vina berjanji akan setia untuk menunggu kepulnganku.

Tapi sebentarlagi aku sudah harus berangkat karena pesawat yang akan mengakutku tak sabar untuk mengudara bebes. Yah, Vina tampaknya telat atau memang sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengantarku. Mungkin tidak ada lambaian tangannya yang membuatku merindukan hari ini.
****
Rasanya kepalaku sangat pusing, entah apa yang baru saja menimpahku. Walau seperti orang linglung tapi tak ada orang satupun yang menghamppiriku dan bertanya padaku, akan siapa dan mau apa diriku. Mungkin kebudayaan negeri ini sedikit bergeser dan mulai tidak saling peduli dengan yang lainnya.
          
Namun aku melihat kekasihku dari kejauhan, sangat terburu-buru langkahnya. Aku menghampirinya sembari mencoba sedikit berteriak ke arahnya.
“VINA....!”
           
Mustahil, Vina tak menghiraukan aku dan tak menoleh sedikitpun ke arhku. Ia semakin menjauh dan pergi begitu saja. Akupun mengejarnya dan meneriakinya dengan suaraku yang lebih deras dari tadi. Tapi sepertinya pacarku mulai tuli atau mungkin karena suasana keramaian bandara membuatnya tak mendengar suaraku.
           
Aku semakin dekat dengan Vina dan mencoba menepuk pundaknya. Mustahil, sekali lagi aku di kejutkan dengan kejadian yang sangat aneh. Aku tidak bisa menyentuh Vina saat aku memcoba kembali menepuk pundak Vina, tanganku menembus badannya.
^^^^
          
Ini mungkin akan menjadi catatan paling kelam dalam hidupku, atau aku harus mengakhiri semuanya. Aku tak pernah menginginkan cinta itu datang atau pergi dengan air mata, walau aku sendiri tak berdaya. Sungguh seorang wanita yang lemah.
          
Tiga belas hari yang lalu aku terlamabat datang ke bandara untuk menemani Wira sebelum ke berangkatannya ke luar negeri . Aku sangat menyesali keterlambatan itu, hari itu seharusnya bisa menjadi detik-detik teridah dalam kisah cintaku. Namun aku tidak sempat untuk bertemu denganya terakhir kalinya. Terakhir kalinya aku hanya mendengar kabar duka tentang kematiannya.
          
Pesawat yang di tumpangi pacarku jatuh dan ia meninggal dunia. Sungguh hukumam yang sangat berat atas keterlambatanku. Aku hanya bisa membayangkan betapa marahnya Wira kepadaku, sampai-sapai ia tega meninggalkan aku. Hanya raut wajah yang terlihat pucat berbaring tak berdaya saat aku temui.
           
Jauh sebelum ke berangkatannya ia terlihat sangat gembira, ia sangat bersemangat untuk menyelesaikan studinya. Aku juga sangat menaruh harapan besar kepada calon imamku kelak yang akan bersahaja dengan ilmu dan gelarnya. Tapi kini dia hanya berbaring  menutup mata dengan meninggalkan kesedihan bersama dengan rasa bersalahku. Setidaknya ia menepati janjinya, untuk terus belajar hingga akhir hayat.
^^^^
          
 Malam semakin dingin dan semakin menyayat jiwaku yang telah hancur sehancur-hancurnya. Ini adalah malam malam pertama pasca tragedi yang menimpahku. Rasanya sangat tidak enak, aku hanya bisa melihat mereka melewatiku yang berdidiri mematung melihat tingkah mereka.
           
Aku melihat kekasihku meneteskan air matanya, pipi kemerah-merahan itu terlalu indah untuk tetesan air matanya. Aku sangat menyayangkan hal ini, tapi aku kini bagaikan sekepul asap yang mengambang di udara. Bagiku arah bukanlah barang yang akan di tuju, aku hanya terombang-ambing dalam kehampaan.
          
 Rasanya aku telah berteriak memanggili mereka yang tengah menangisi sebatang badan yang menyerupai aku, tapi merekapun tak menoleh atau mendengar. Aku tak mampu meraih mereka namun aku juga tak bisa pergi menjauh dari mereka.
           
Kini malam telah larut membuai mereka, aku hanya bisa memandangi wajah lelah mereka satu persatu dari balik jendela rumah kami. Tampak ibu yang sangat lelah berbaring di samping si bungsu dan aku melihat Vina ada juga di situ ikut berbaring.
           
Dari balik jendela, aku menangisi kepergianku yang tak pernah ku pilih jalannya. Semakin lama rasanya angin semakin menarik tubuhku yang mulai bertebaran seperti butir-butir debu, perlahan untuk terakhir kalinya aku masih ingin melihat mereka membalas lambaian tanganku, terebih lagi Vina yang seharusya melambaikan tangannya saat ke berangkatanku pagi tadi.
           
Mungkin aku harus menerima semua ini, walau aku tak mengerti entah apa yang terjadi padaku. Aku hanya merasa mereka telah salah karena menagisi sebatang badan yang mereka sangaka itu aku, pada hal nyata-nyatanya aku masih merasa hidup dan sedang memeperhatikan mereka. Namun aku baru saja tersadar, bahwa maut telah mendahului kehidupan duniaku. Kini aku juga masih tak mengerti kenapa aku hancur menjadi butiran-butiran kecil yang mungkin sebentar lagi akan hilang entah kemana di bawa angin.
           
“Selamat tinggal semuannya, inilah akhir dari perjalananku. Maafkan aku jika harus pulang dengan lumuran darah dan sebatang badan yang pucat dan kaku tak berdaya di hadapan kalian. Untuk kekasihku Vina, aku mencintaimu tapi kini kita telah jauh berbeda, jangan pernah siksa dirimu dengan cintaku.”