Senin, 21 Desember 2015

Tiga Dimensi






Mungkin ini bisa dibilang sebuah cerita, meski aku lebih suka menyebutnya sebagai kesalahan. Seperti biasanya sebuah catatan kecil akan bermula dan pasti juga berakhir. Namun jelasnya semua ini terkait dengan tiga dimensi yang lekat pada masa. Masa lalu yang sering kita kenal dengan sejarah, masa depan yang disebut-sebut misteri dan masa sekarang yang tak banyak kita sadari. Masa lalu dan masa depan sering kali sulit kita elakkan, walau kadang menjadi ilusi dan bisa mengaburkan pandangan kita yang tengah fokus.

***

          “maaf Aku masih ingin sendiri!”, jawab Liza menciutkan nyaliku.
         
“kenapa gitu, apa Aku enggak pantas?”, tanyaku beruntun.

Liza meninggalkan aku begitu saja. Ya. Seperti pengemis yang ingin selalu dihindari. Akupun tertunduk malu dengan bayangan-bayangan wajah Liza saat beberapa menit lalu menolak cintaku.

“Kelihatannya ABG satu ini sedang galau”, seperti itulah terdengar suara burung gereja yang tengah berkicau di atas atap sekolah kami.
         
Masalahnya Liza tidak berkomentar tentang apa dan kenapa ia menolak. Ia hanya mengatakan masih ingin sendiri. Semuanya terdengar bagai gemuruh di siang bolong, menyambar hatiku yang tadinya berbunga-bunga. Gosong, segosong-segongnya.

Aku ingat saat pertama kali mengenalnya, saat itu kami satu geng. Di dalamnya ada aku, Reza dan Liza, memang meski akhirnya Reza dan Liza jadian kemudian Mereka melupakanku. Sebelumnya Kami saling menjaga satu diantaranya, berbagi cerita diatara ketiganya. Entah dengan cara apa dewi amor menancapkan anak panahnya diantara kami sehingga saling menyukai, tidak sebagai teman melainkan sebagai ketertarikan asmara.

Reza dan Liza akhirnya terang-terangan berpacaran namun entah mengapa keduanya meninggalkan aku. Meski Reza tahu kalau aku suka dengan Liza dan Liza juga mengerti. Aku tak membenci mereka yang telah menjalin hubungan di belakangku. Aku bukan tipikal orang yang suka merampas kebahagian orang lain, apa lagi keduanya temanku. Walau mereka akhirnya tidak lagi menganggap aku sebagai teman, Aku juga biasa aja.

Masalahnya sekarang cerita itu telah berlalu, tak ada gunanya berlama-lama dengan masa yang telah lalu. Kenyataan menyuguhkan sebuah hal yang pahit untuk Liza dan aku. Reza akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya tepat setahun lalu, saat itu ia mengeluarkan buih yang cukup banyak dari mulutnya. Hasil pemeriksaan polisi yang menangani kasus kematian temanku itu, menyatakan bahwa Reza over disis. Berita ini cukup membuat se-isi sekolah gempar, karena saat Reza ditemukan tak bernyawa ia berada di dalam gudang sekolah.

Seingatku reza anak yang taat beribadat dan kuat imannya, diantara kami bertigapun ia yang paling pintar dan memiliki nilai diatas rata-rata. Entah apa yang membuat anak ini over dosis. Aku selalu berfikir kalau Reza memiliki masa depan yang lebih cemerlang dari pada aku, anak miskin yang cukup nekat datang kesekolah tanpa menggunakan sepeda motor.  
   
***
          “Za!”

          “Apa?, jangan mulai lagilah!”, balas Liza penuh penolakan.
         
          Aku tersenyum memandangi wajahnya yang bermata sipit dan pipi tirus itu. Seketika itupun ia menggeram kearahku yang sok ramah menegurnya.

          “sekarang ini, aku lagi enggak pengen dekat sama cowok Mam!”, terdengar suaranya seperti meronta akan ketakutan yang tak beralasan.

          “Akupun juga enggak pengen dekat sama cewek!”, balasku bermaksud meredam suara yang terdengar memilukan itu.

          Seketika itupun wajahnya tak lagi memandang murung ke arahku, meski tetap saja aku tak pernah ikhlas melihat ia pergi meinggalkanku sendirian. Ya. Lagi-lagi ia tak mengacukanku dan aku tak tahu harus berbuat apa.

          Akhirnya aku menyerah untuk mengikutinya dan tidak lagi mencoba menyatakan perasaanku terhadapnya, tampaknya ia memang tak main-main dengan komitmennya ingin sendiri tanpa ada cowok yang dekat dengannya. Di masa lalu dia tampk bahagia dengan Reza dan Aku tidak bahagia sama sekali, saat ini dia sangat menderita akan kehilangan kekasihnya itu dan aku tetap saja seperti sedia kala saat Reza masih bersamanya. Satu-satunya yang ku dapat hanyalah kesedihan, kehilanga Reza dan harus merelakan Liza yang tak pernah mau menerima cintaku. Ataukah masa depan bisa menjadi jawaban akan penantianku atau masa sekarang adalah satu-satunya jawaban diaman aku harus belajar dan menerima kenyataan ini.  

Senin, 14 Desember 2015

Lantai Dua





          Pagi masih begitu pagi untuk memuali aktifitas akademis, tampak Mahasiswa lalu lalang mengejar waktu yang tak akan menunggu mereka untuk berdandan. Ada yang melangkah bersama dengan mentari bersinar, ada yang berdesakan di dalam angkutan umum, dan ada juga yang asyik dengan kendaraan bermotornya. Keseluruhan dari mereka sangat menikmati semuanya. Iya semuanya.

          Dalam kesehariannya sering terlihat hal-hal tolol yang kadang di luar rasional. Katanya itu pengorbanan. Hemmnh, sebuah roman yang cukup menarik dan menggelitik hati. Mungkin hal itu seperti pagi ini, tingkah yang di lakukan Dika. Setiap pagi khusunya saat hari perkuliahan, Dika selalu hadir paling awal dan Ia pasti berdiri di lantai dua fakultasnya saat mahasiswa lain belum hadir. Di sanalah Ia mengamati orang yang mungkin tidak mengenalnya dan bahkan tak pernah melihat ke arah Dika.

          Tampaknya Ia hanya menjadi pengagum misterius sepanjang perkuliahan. Ya. Semester terus berganti diikuti mahasiswa dan mahasiswi baru yang masuk lalu lalang, bahkan banyak juga mahasiswa senior yang telah beranjak dari lingkungan kampus. Begitu juga Dika, yang sudah semester lima dan masih sama saat semester satu dimulai, saat pertama mengagumi wanita yang selalu Ia intai setiap pagi. Entah kapan tibanya Ia beranjak dari lantai dua fakultas dan berhenti mengintai wanita yang bahkan tak mengenalnya.
***
         
          “ha.. hay”, tegur Dika dengan kikuk
         
          “emnhh”, balas wanita itu dengan senyum tanpa kata.

          Sesaat itu pula wanita itu berlalu meninggalkan Dika. Dengan segala kekikukannya yang tak berlasan dan pertanyaannya yang belum sempat Ia lontarkan pada wanita itu.

          Lima semester hanya dihabiskan untuk mengintainya, sekarang langsung bertatapan dan bisa menyapanya. Tapi masih saja wanita itu belum tahu maksud Dika, mungkin wanita itu memang tak mau tahu akan keahadiran Dika atau memang Dika yang terlalu. Ya, terlalu cupu.

          Kadang Dika berharap bisa kembali kemasa lalu dan ingin mengubah hal yang telah lewat, tak jarang juga kadang Ia berharap ingin terlahir sebagai orang yang tidak pemalu dan luwes. Tidak seperti sekarang ini, yang selalu memendam keinginan untuk memperkenalkan diri dan menajalin hubungan hangat denga wanita yang dulu pernah bersamanya. Bersamanya saat mereka sama-sama melewati masa opsek.

          “nama Aku Putri!”, balas wanita itu sembari menjabat tangan Dika
         
“iya”, balasnya dengan senyum.

          Saat perkenalanpun mereka lalui sebelum melakukan kegiatan yang di instruksikan kakak senior. Satu hal indah sudah dilewati di kampus hijau ini. Tinggal lagi mengikuti kegiatan lainnya. Namun keseluruhan kegiatan tak begitu menarik dan berkesan, yang lekat dalam ingatan dan sangat membuat Dika nyaman mengenangnya hanyalah Putri, teman yang membuatnya mabuk. Mabuk kepo yang akhirnya membuat Dika kehilangan nyali dan akal sehatnya.

          Sebuah kenyataan yang harus Ia telan mentah-mentah saat ini ialah, Putri sudah memiliki pasangan. Ia tampak sangat bahagia dengan pasangannya, selain pergi dan pulang ke kampus bersama-sama ternyata pacar putri adalah seniorer yang Dika kenal. Sangat Ia kenal, seniorer itu adalah Abang satu kampung Dika. Namun tingkah anehnya yang setiap pagi Ia lakoni tetap saja lekat menjadi sebuah kebiasaan sebelum masuk kedalam kelas. Mengintai pujaan hati yang saat ini bergandengan tangan dengan orang lain dan terlihat mesra.

          Lantai dua yang selalu menjadi markas rahasia Dika kadang-kadang iba melihat tingkah mahasiswa ini. Tindakan irasional ini kadang mencemaskan teman-teman Dika, tak jarang mereka mencoba menghibur Dika yang sepertinya patah arah tanpa tahu harus kemana. Jelasnya Ia memainkan peranan yang salah sebagai seorang yang waras.

“Apakah mungkin ini sebuah penyakit?”, pertanyaan Dika yang kadang mencoba menyadarkan dirinya dari alam bawah sadarnya.

“Biaralah putri bergandengan tangan dengan siapapun yang Ia sayangi. Akan tampak indah rasanya jika melihatnya dari kejauhan yang tak akan pernah Ia sadari. Saat pujaan hati tengah bersuka dan saat itulah mengaguminya sebagai pengagum rahasia.”, hibur dika kembali pada dirinya sendiri.

 11 Desember 2015

OE TEA MO





          Saat ini Aku hanya bisa mendengar dan berbicara, sebut saja Aku tuna netra. Bagiku satu-satunya cahaya adalah Tea. Wanita yang sudi bercerita panjang lebar dan menerangi kegelapan dalam dunia si buta ini. Berbeda dengan kisah si buta dari gua hantu, kisah si buta dari abad dua satu ini terkesan romantis.

          Pagi itu Tea datang seperti biasa untuk mengajakku bercerita.

“pagi, jony?”sapanya padaku sambil merangkul tanganku.
         
          Aku sangat senang mendengar suara indah itu. Suara yang membuat kegelapan dalam hidupku sirnah.

“loh, kamu kok diam jon?”, tanya Tea kembali.
“enggak apa-apa, Aku Cuma lagi kurang sehat!”, kilahku padanya.

Tea kemudian meletakkan tangannya ke arah keningku. Akupun mulai merasa deg-degan. Waktu seakan melambat ditambah lagi dengan tangan Tea yang bersandar. Ingin rasanya Aku melihat parasnya.

“oh, kamu enggak apa-apa kok!”, ucap Tea memecahkan suasana.

Kamipun bercerita seperti biasanya. Tea selalu bercerita diawal dan setelah itu dia selalu menanyakan perasaanku akan awan gelap yang menyelimuti pandanganku. Kadang juga Ia bertanya harapanku dan tak jarang Dia memotivasi Aku yang lemah ini.

Namun hari ini Aku bertanya kepadanya, apakah Aku yang sudah buta bisa melihat kembali seperti sedia kala. Namun Tea mengatakan, bahwa cahaya itu akan datang dan  menggantikan bola mataku yang sudah rusak. Namun Aku tak mengerti cahaya yang dimaksudkan Tea. Perbincangan kami, akhirnya usai. Tea beranjak pergi meninggalkan Aku. Dan setelah itu Tea tak pernah lagi datang.

***

Hari ini genap sudah enam bulan Aku tak mendengar suara indah Tea, dan berbincang dengannya. Aku heran dan cemas akan keadaannya. Namun Dia tak kunjung datang dan kabarnya tak kunjung terdengar.

Seperti dua tahun yang lalu, saat Aku pertama kali sadar dari masa kritis dan sudah tidak bisa melihat. Setiap harinya Aku hanya duduk di depan teras rumahku, Papa sibuk dengan bisnisnya dan hanya ada Mama yang kadang-kadang memberi semangat padaku.

“jony!”, suara Mama yang terdengar tak jauh.
“ia, Ma?”, jawabku sambil meraba-raba dan mencoba berdiri.
“pagi ini, kita kerumah sakit yuk!”
“siapa yang sakit Ma?”, tanyaku cemas.
“enggak ada yang sakit!”
“terus, ngapain Ma?”
“Dokter spesialis mata Kamu, semalam Nelpon. Katanya hari ini, mata Kamu harus dioprasi agar bisa melihat lagi!”
“yang bener Ma?”, tanyaku dengan penuh kegembiraan.
“Ia, sayang!”

Akupun tak berlama-lama lagi. Aku menggandeng tangan Mama dan mengikuti langkahnya yang menuntunku kedalam mobil. Cahaya yang pernah diceritakan Tea, kini sebentar lagi bersarang di kantung mataku.

“Ya Allah, jika Aku bisa melihat nanti. Berilah Aku kesempatan untuk melihat Tea dan mendengarkan kata-kata indahnya, walau hanya sebentar.”ucapku dalam hati.

Perjalanan terasa singkat. Mobil Mamapun akhirnya berhenti. Taklama setelah itu Aku dituntun oleh seseorang yang tak kukenal, untuk duduk dikursi roda. Diapun bergegas membawaku keruangan oprasi, katanya. Sesampai diruangan oprasi, Akupun dibaringkan.

Aku merasa ada empat orang berdiri mengelilingiku yang terbaring diatas ranjang rumah sakit. Masing-masing dari mereka seperti terfokus pada mataku. Aku merasakan dua kali suntikan kearah kantung mataku. Dan setelah itu, Aku tak ingat apa-apa lagi.

“jon!”, panggil Mama padaku.
“iya, ma”jawabku dengan keadaan duduk dikursi roda.

Tak berapa lama kemudian, Aku barusadar bahwa ada yang membalut mataku.

“Suster, tolong buka perbannya!”, suara salah seorang yang ada diruangan itu.

“oke. Jony, coba sekarang buka mata kamu pelan-pelan!”suara orang asing itu, lagi.

Perlahan lahan-lahan Aku membuka mataku. Rasanya kegelapan mulai sirnah. Cahaya kilau mulai tampak berhamburan didepan mataku. Setelah Aku sadari, ternyata Aku bisa melihat kembali. Tampak dengan jelas di depanku dokter dan susuternya yang mengenakan pakaian serba putih. Saat Aku menoleh ke belakang, Aku melihat Mama.

“sayang!” ucap Mama sambil merangkulku.

Aku hampir melupakan wajah Mama yang melahirkanku. Karena kegelepan yang menyelimuti pandanganku dua tahun terakhir ini. Namun ranya masih ada yang kurang. Ya. Aku masih belum bisa melihat wajah sahabatku Tea. kemudian Aku menanyakannya pada Mama, tapi Mama malah menyodorkan Aku selembar kertas.

Akupun mencoba melihatnya karena penasaran. Ternyata ada pesan yang tertulis.


Oe Tea Mo

Maaf teman, karena salahku engkau menderita.  Pengendara mobil misterius yang menabrakmu adalah Aku. Sekarang lihatlah dunia kembali, dengan cahaya yang selalu menuntunmu. Jangan tuangkan kesedihanmu pada mataku, karena Aku tak mau menangis lagi.

       Aku senang bisa bersamamu, dan kini kita telah menjadi satu. Saat engkau bercermin dan melihat matamu yang sekarang, saat itulah kau melihat kearahku. Arah dimana semua tujuan. Jony, namaku Tea dan arti dari namaku cinta. Tapi Tea ini telah jatuh cinta pada Jony, terimalah cintaku. OE TEA MO.

Akupun tertunduk lesu usai membaca surat dari Tea. Mamapun mencoba menghiburku. Namun Aku tak perduli. Beberapa menit tak lama kemudian, Mama mendorong kursi roda yang membawaku. Baru bebera meter kami keluar dari ruanga oprasi, dokter mencegat kami.

“maaf, Bu. Berhenti sebentar!”, pinta lelaki berseragam serba putih itu.
“iya, ada apa lagi Dok?”
“saya lupa katakan, bahawa oprasi pencangkokan kornea mata pada jony memang sudah selesai. Hanya saja, matanya belum seutuhnya bisa digunakan.”
“maksudnya Dok?”, tanya Mama sedikit takut.
“pasien jangan dulu keluar rumah tanpa menggunakan kaca mata khusus, dan jangan Menonton TV, main Gaget, atau Hp, yang radiasi cahayanya cukup tinggi.”
“ok, Dok. Terimakasi sarannya”, balas Mamam dengan senyum.

 Usai perbincangan itupun Mama membawaku pulang, dengan mobil yang kami kendarai tadi. Disepanjang perjalananpun, Aku terus berfikir. Akan keadaan orang yang mau mendonorkan kornea matanya untukkku.

“Ma?”, panggilku.
“ada apa sayang”, jawab Mama, sambil melihat kearahku.
“Tea, itu siapasih?”, tanyaku sambil memandang Mama, dengan mataku yang berlinang.
“nanti ya, jon. Mama cerita, kalau kita sudah sampai rumah”

Aku tak menyahuti jawaban Mama, melainkan hanya mengangguk saja. Serasa bagai teka-teki. Hanya untuk mengetahui tantang sahabatku sendiri.

          Kamipun tiba dirumah. Serasa asing bagi mata yang baru dicangkok ini, saat melihat rumah. Tempat dimana Aku berteduh dan tertidur pulas setiap malamnya.

          “jony.!”, panggil Papa yang sedari tadi menunggu kepulangan kami.
          “iya, Pa?”, jawabku sambil tersenyum kearahnya.
          “wah, bola matamu sekarang warnanya biru ya!.”, sambung Papa sambil merangkulku.

          Akupun terkejud. Dan tak sabar ingin melihatnya. Usai Papa melepaskan cengkramannya, Aku mendekat ke arah Mama. Untuk meminta cermin. Sudah pasti Mama punya cermin yang menempel pada kotak bedaknya.

          “Ma, boleh pinjam cermin!”, bisikku padanya.
          “sebentar, ya. Sayang!”, jawab Mama, sambil membuka tasnya.

          Sesaat kemudian tanpa ada isyarat banyak, Aku langsung mengambil kotak bedak dari tangan Mama. Kulihat pada cermin yang mungkin ukurannya 10x5 cm itu. Ternyata memang benar, kornea mata yang didonorkan padaku warnanya biru.

          Aku mulai membayangkan, wajah Tea yang dihiasi bola mata biru ini. Namun seketika khayalan itu buyar. Akupun mencobanya kembali, tapi hasilnya nihiil. Sangat sulit, sekali.
         
          “Jony, ayo kita makan. Sayang!”
          “Jony, enggak laper. Ma!”
          “yaudah, nanti kalau laper. Jony makan, ya.!”
          “iya, Ma?”

          Mamapun beranjak dari hadapanku. Tiba-tiba Aku kembali teringat akan janji Mama. Tadi saat Aku tanya tentang Tea. Mama
 Berjanji akan memberitahukan padaku tentang Tea. Akupun bergegas membuntuti Mama.

          “Ma!”, panggilku, sambil memegang pundak Mama.
          “ada apa. Jon?”
          “tadikan Mama janji, kalau kita udah sampek rumah. Mama mau cerita tentang Tea!”
          “oia, Mama lupa!”, jawab Mama dengan senyum lebar.

          Akupun menggiring Mama kesofa, dan duduk bersamanya. Mama sedikit mengkerutkan keningnya itu. Tampaknya Mama bingung, akan apa yang hendak Ia ucapkan.

          “Ma?”, panggilku, tak sabar menunggu penjelasan Mama.

          Mama terdiam. Suasana semakin hening. Akupun terus bertanya-tanya, akan hal apa yang sebenarnya. Kenapa lidah Mama tampak kaku dan Iapun diam membisu.

          “Jony!”
          “iya, Mah?”
          “sebenarnya, Mama udah janji dengan Tea!”
          “janji apa Ma?”
          “janji, kalau Mama enggak akan cerita tentang Tea ke jony”
          “Kenapa gitu, Ma?”, tanyaku semakin penasaran.
          “yaudahla, karena anak Mama yang minta. Mama akan cerita!”, jawab mama mulai dingin.

          Akupun sedikit jantungan karena sedari tadi, pembicaraan kami sepertinya sangat rahasia. Mama tampak berat untuk mengungkapkan siapa Tea, temanku saat Aku merasakan gelapnya dunia.

          “Tea, enggak ada?”
          “maksud Mama!”
          “Tea udah lama pergi, Jon!”
          “terus maksud penabrak misterius disurat yang Mama kasi tadi, apa?”
          “surat itu ditulis Tea untuk kamu, Jon!”
          “jadi semua isi surat itu bener, ma?”
          “Ia, jony!”
          “terus, Tea sekarang ada dimana?”
          “Tea, udah mininggal Jon!”, jawab Mama mengheningkan suasana.

          Sontak Aku merinding dan terdiam. Mamapun melihatku dengan matanya yang digenagi tangis.

          “Tea, anak yang cantik. Tapi ia frustasi akibat kematian pacarnya. Malam itu Dia mengendarai mobilnya begitu kencang dan Dia nabrak kamu, Jon?”, ucap Mama dengan nada yang mulai terisak.

          Mamapun membasuh matanya yang berair tadi, dengan kedua tangannya.
          “tabrakan malam itu, membuat kalian koleps. Tapi seminggu kemudian Tea sadar dan Dia mohon kepada Mama agar mau memaafkannya.”
          “terus, Mama jawab apa?”
          “iya, awalnya Mama sangat marah. Tapi setelah orang tua Tea, juga ikut meminta maaf. Mau-enggak mau, Mama terima!”
          “tapi, kenapa Tea meninggal Ma?, apa karena Dia mendonorkan matanya ke Jony?”
          “pendonoran mata Tea kekamu enggak pernah ada yang setuju Jon. Memang awalnya Tea, ingin melakukan donor. Saat dia tahu, kamu buta.”
          “terus kenapa bisa begini, Ma?”
          “ternyata, Tea tahu bahwa umurnya enggak panjang Jon. Saat kecelakaan tabrakan itu kepala Tea terbentur keras, akibatnya pembulu darah dikepala Tea pecah.”
“tapi, diakan masih hidup. Ma?, dan dia jugak sempat nemani Jony, hampir dua tahun?”
“awalnya operasi yang dijalani Tea memang buat dia sembuh tapi terakhir menurut keterangan dokter, Tea terkena depresi sehingga otaknya dipaksa untuk berfikir keras?”
“Emang, apa yang buat Tea depresi. Ma?”
“Kata orang tuan Tea, Tea enggak bisa lupaiin kekasihnya yang sudah meninggal ditambah lagi rasa bersalahnya pada kamu jon.”
“jadi, ide siapa sebenarnya untuk donorin mata Tea ke Aku, Ma?”
“yaa, Tea sendiri!.”
“kok, gitu?”
“sebulan yang lalu Tea sekarat dan dia pesan ke orang tuanya kalau umurnya enggak panjang Dia mau, matanya didonorin untukmu”
“tapi kenapa, Ma?”
“katanya sebagai ganti rugi dan permohonan maaf dia kekamu?”

Akupun tak sanggup lagi, melanjudkan perbincangan dengan Mama. Hatiku serasa semakin sakit, mendengar cerita Mama. Aku hanya bingung, kenapa kejadian ini terjadi padaku dan semuanya terasa sangat cepat. Pikiranku  dipenuhi Tea, wanita yang ada disaat semua terasa tiada. Dan saat semua telah terasa ada, Aku malah kehilangan Dia.

Andai saja kami masih bisa bertemu, Aku takkan biarkan Dia sedih dengan rasa kehilangan orang yang paling Dia sayangi. Setidaknnya Aku akan menggantikan posisi orang yang beruntung itu. Tea telah membagi cahaya kehidupannya dan Dia pergi dengan kebutaan membawa rasa kehilangannya. Tampaknyapun Aku harus ikhlas menerima semua ini, dan tidak terlarut oleh bayangan Tea. Aku harus bisa Move on agar emosi tidak menguasaiku yang pada akhirnya melampiaskannya pada orang lain.

“Terimakasi Tea, OE TEA MO TOO!”  

            (17 Oktober 2015)