Senin, 18 Juli 2016

Lambaian Terakhir



Ia sadar jikalau aku mencintainya, semuanya terasa tak lagi hampa karena kelak kepulanganku sudah ia nantikan. Ini akan menjadi pagi yang sangat indah untukku, yah karena mungkin pagi ini lambaian tangan kekasihku akan membuatku merindukan hari ini.

Aku sangat beruntung, dalam waktu yang berdekatan aku mendengar kabar yang sangat menggembirakan. Kabar itu pertamannya adalah kabar kelulusanku yang di terima di salah satu universitas negeri cina, selang berapa  hari kemudian Vina membalas cintaku dan mengajakku langsung bertemu orang tuannya sebagai tanda ke seriusan kami.

Awalnya aku hanya mengenal gadis polos ini saat kami masih sama-sama kuliah. Selain manis dan pendiam dia sangat membenci  aku, dulunya aku sangat usil padanya. Entah bagaimana keusilan itu merubah hubungan kami menjadi istimewa.

Sayangnya aku harus menyelasaikan studiku dahulu baru layak untuk mempersuntingnya. Vina dan keluarganya mendukung penuh niatku, ayah Vina mengaku sangat bangga dengan keputusan yang kuambil. Sebagai balasannya Vina berjanji akan setia untuk menunggu kepulnganku.

Tapi sebentarlagi aku sudah harus berangkat karena pesawat yang akan mengakutku tak sabar untuk mengudara bebes. Yah, Vina tampaknya telat atau memang sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengantarku. Mungkin tidak ada lambaian tangannya yang membuatku merindukan hari ini.
****
Rasanya kepalaku sangat pusing, entah apa yang baru saja menimpahku. Walau seperti orang linglung tapi tak ada orang satupun yang menghamppiriku dan bertanya padaku, akan siapa dan mau apa diriku. Mungkin kebudayaan negeri ini sedikit bergeser dan mulai tidak saling peduli dengan yang lainnya.
          
Namun aku melihat kekasihku dari kejauhan, sangat terburu-buru langkahnya. Aku menghampirinya sembari mencoba sedikit berteriak ke arahnya.
“VINA....!”
           
Mustahil, Vina tak menghiraukan aku dan tak menoleh sedikitpun ke arhku. Ia semakin menjauh dan pergi begitu saja. Akupun mengejarnya dan meneriakinya dengan suaraku yang lebih deras dari tadi. Tapi sepertinya pacarku mulai tuli atau mungkin karena suasana keramaian bandara membuatnya tak mendengar suaraku.
           
Aku semakin dekat dengan Vina dan mencoba menepuk pundaknya. Mustahil, sekali lagi aku di kejutkan dengan kejadian yang sangat aneh. Aku tidak bisa menyentuh Vina saat aku memcoba kembali menepuk pundak Vina, tanganku menembus badannya.
^^^^
          
Ini mungkin akan menjadi catatan paling kelam dalam hidupku, atau aku harus mengakhiri semuanya. Aku tak pernah menginginkan cinta itu datang atau pergi dengan air mata, walau aku sendiri tak berdaya. Sungguh seorang wanita yang lemah.
          
Tiga belas hari yang lalu aku terlamabat datang ke bandara untuk menemani Wira sebelum ke berangkatannya ke luar negeri . Aku sangat menyesali keterlambatan itu, hari itu seharusnya bisa menjadi detik-detik teridah dalam kisah cintaku. Namun aku tidak sempat untuk bertemu denganya terakhir kalinya. Terakhir kalinya aku hanya mendengar kabar duka tentang kematiannya.
          
Pesawat yang di tumpangi pacarku jatuh dan ia meninggal dunia. Sungguh hukumam yang sangat berat atas keterlambatanku. Aku hanya bisa membayangkan betapa marahnya Wira kepadaku, sampai-sapai ia tega meninggalkan aku. Hanya raut wajah yang terlihat pucat berbaring tak berdaya saat aku temui.
           
Jauh sebelum ke berangkatannya ia terlihat sangat gembira, ia sangat bersemangat untuk menyelesaikan studinya. Aku juga sangat menaruh harapan besar kepada calon imamku kelak yang akan bersahaja dengan ilmu dan gelarnya. Tapi kini dia hanya berbaring  menutup mata dengan meninggalkan kesedihan bersama dengan rasa bersalahku. Setidaknya ia menepati janjinya, untuk terus belajar hingga akhir hayat.
^^^^
          
 Malam semakin dingin dan semakin menyayat jiwaku yang telah hancur sehancur-hancurnya. Ini adalah malam malam pertama pasca tragedi yang menimpahku. Rasanya sangat tidak enak, aku hanya bisa melihat mereka melewatiku yang berdidiri mematung melihat tingkah mereka.
           
Aku melihat kekasihku meneteskan air matanya, pipi kemerah-merahan itu terlalu indah untuk tetesan air matanya. Aku sangat menyayangkan hal ini, tapi aku kini bagaikan sekepul asap yang mengambang di udara. Bagiku arah bukanlah barang yang akan di tuju, aku hanya terombang-ambing dalam kehampaan.
          
 Rasanya aku telah berteriak memanggili mereka yang tengah menangisi sebatang badan yang menyerupai aku, tapi merekapun tak menoleh atau mendengar. Aku tak mampu meraih mereka namun aku juga tak bisa pergi menjauh dari mereka.
           
Kini malam telah larut membuai mereka, aku hanya bisa memandangi wajah lelah mereka satu persatu dari balik jendela rumah kami. Tampak ibu yang sangat lelah berbaring di samping si bungsu dan aku melihat Vina ada juga di situ ikut berbaring.
           
Dari balik jendela, aku menangisi kepergianku yang tak pernah ku pilih jalannya. Semakin lama rasanya angin semakin menarik tubuhku yang mulai bertebaran seperti butir-butir debu, perlahan untuk terakhir kalinya aku masih ingin melihat mereka membalas lambaian tanganku, terebih lagi Vina yang seharusya melambaikan tangannya saat ke berangkatanku pagi tadi.
           
Mungkin aku harus menerima semua ini, walau aku tak mengerti entah apa yang terjadi padaku. Aku hanya merasa mereka telah salah karena menagisi sebatang badan yang mereka sangaka itu aku, pada hal nyata-nyatanya aku masih merasa hidup dan sedang memeperhatikan mereka. Namun aku baru saja tersadar, bahwa maut telah mendahului kehidupan duniaku. Kini aku juga masih tak mengerti kenapa aku hancur menjadi butiran-butiran kecil yang mungkin sebentar lagi akan hilang entah kemana di bawa angin.
           
“Selamat tinggal semuannya, inilah akhir dari perjalananku. Maafkan aku jika harus pulang dengan lumuran darah dan sebatang badan yang pucat dan kaku tak berdaya di hadapan kalian. Untuk kekasihku Vina, aku mencintaimu tapi kini kita telah jauh berbeda, jangan pernah siksa dirimu dengan cintaku.”  

Senin, 09 Mei 2016

20 + 1 = Story


          Setiap orang memiliki pemikiran untuk hidup bebas, walau tak semuanya paham akan arti kebebasan sejati. Lebih banyak dari mereka yang menggap mereka adalah orang yang bebes. Ironi. Mungkin kebebasan hanyalah mitos atau hanya sebuah angan-angan kosong yang selalu menjadi bumbu-bumbu dalam kehidupan.

          Semua itu bagiku adalah omong kosong, sekosong pemikiran akan kebebasan itu. Aku hanya hidup dengan ikatan, aturan tradisi dan ajaran agama yang ku yakini benar, intinya aku tak tahu apa itu kebebasan. Mungkin akibat banyak hal yang mengikatku.

****

          “kita tidak bisa menikah, mas!"

          Seketika aku terdiam, sungguh kalimat yang sulit bagiku.

“Kenapa?”

“kita beda agama mas!, maaf aku selama ini tidak memberi tahumu.”

Akupun hanya terdiam kaku, hanya ku pandangi mata indah itu yang terus mengucurkan air mata. Ya. Sangat sedih melihat mata indahnya itu, ini mungkin jadi kali pertama mata itu menunjukan kesedihan pada mataku.

“aku harap mas, bisa mengerti. Maafin Shiva, mas!”, sambungnya sembari mengusap tangis yang tadi tak sengaja mengundang pilu.

Akupun memegang tangannya, mentapnya dengan memberikan keyakinan penuh.

“kamu memang benar, tapi haruskah kita mengakhiri semua ini?”, sekali lagi aku bertanya kepadanya.

“iya, mas. Aku mau kita harus menghentikan hubungan ini, anggap aja ini ujian kita sebagai hambaNya”. Jawabnya kembali tanpa ragu.

Pembicaraan kamipun akhirnya berujung pada perpisahan, sungguh sangat di sayangkan. Aku mencintainya dengan sepenuhnya dan kini dia pergi dengan alasan-Nya.

“Oh, apakah ini kehendak-Mu Allah!”, hatiku bertanya.

Aku hanya merasa kalau kami adalah budak yang terpisahkan oleh golongan, oleh ketidak adilan dan sengaja di pisahkan karena kitadak bebasan. Dalam hatiku aku menggugat Tuhan, aku meminta keadilanNya, aku hanya ingin hidup bahagia dengan Shiva.

“Tuha Maha Esa, kenapa ada banyak agama?”
“kenapa kami tidak di benarkan untuk menikah!”

Setiap hari aku mencari jawaban atas pertanyaanku, aku terus berusaha mencari jalan keluar ini semua. Hingga akupun bertemu seseorang yang bernama Daieng. Dia bukanlah seseorang pemuka agama, dia juga bukan ahli ataupun seorang guru besar. Hanya seorang petani yang berjalan pincang.

Awalnya aku hanya duduk sambil minum di pondoknya sambil memandang indahnya sawah yang terbentang menguning. Daiengpun datang kearahku, mungkin ia akan marah terlebih lagi raut wajah itu yang bercucuran keringat.

“punten, mas!”, tegurnya padaku.

Aku hanya tersenyum melihat kedatangannya, dia tersenyum dan wajahnya berubah berseri-seri. Sungguh aneh, tadi terlihat sanagt usang dan hanya tergambar rengutan yang sangar. Hanya saja setelah ia menyapaku, tergambar senyum yang begitu iklas pada wajahnya dan membuat wajahnya begitu berseri-seri.

“maaf, pak. Saya sudah lancang duduk disini!” ujarku dengan perasaan segan yang tiba-tiba muncul.

“oh, ndak pa-pa!. Silahkan, justru saya senang ada tamu yang datang melihat sawah saya”, balasnya kembali dengan penuh ketenangan.

Dengan penuh kekikukan akupun melanjutkan percakapan, kembali.

“saya hanya du-duk saja dan saya bukan tengkulak yang ingin membeli lahan atau hasil padi bapak”
“iya-iya, ndak  masalah toh mas”, jawabnya kembali.

Aku hanya membalasnya dengan senyum, sungguh keadaan yang sulit di jelaskan.

“maaf, kalau saya boleh tahu. Mas ini sebenarnya siapa?, dan ada keperluan apa datang ke sini?”

“saya Gian!, kedatangan saya kemari cuma sekedar melihat-lihat saja”

“oh, ya-ya!. Perkenal ken, saya Daieng”, ucapnya sambil menyodorkan tangannya.

Akupun menjabat tangannya, awalnya aku sangat terkesan dengan keramahannya. Kamipun bercerita sembari dia menyajikan teh dan memperlakukanku seperti tamu. Namun aku kembali terkejud dari penampilankusamnya. Ya. Entah dariman dia bisa tahu kegilisahan yang tengah aku alami.

“maaf, pak Daieng. Apakah bapak dukun?”, dengan rasa wak-was aku bertanya pada Daieng.

“bukan, aku cuma manusia biasa!”.

“lantas, kenapa bapak tahu kalau saya sedang gelisah!”

“nak Gian, darimana saya tahu kamu gelisah itu tidak penting. Yang terpenting saat ini, apa kegelisahanmu?. Siapa tahu, kita bisa mencari jalan keluarnya!”

Akupun menceritakan masalahku, atas keputusan Shiva yang tak mau menikah denganku. Tanpa ragu akupun menyampaikan  alasan yang Shiva berikan dan aku juga mengungkapkan kebingunganku, terhadap Tuhan dan agama yang jumlahnya banyak beserta ajarannya masing-masing.

“sepertinya saya bisa membantu masalah nak Gian!”, jawabnya dengan tenang kembali.

“lantas bagaimana?”, kemabali aku bertanya.

“saya akan menjab semua pertanyaan nak gian, tap tidak sekarang!”
“Jadi, kapan pak?”

“datanglah besok, saat senja seperti ini!”

Akupun menyetujui apa yang dia katakan, mungkin ia butuh waktu berfikir satu malaman untuk mencari dalil atas sebuah nasehat yang baik untukku. sungguh orang tua yang baik, meski aku dan pak Daieng baru kenal.

****

          Senja tampaknya hari ini akan ikut ambil bagian, mungkin ia sebagai saksi atas kebingunganku atau akan ikut tahu atas pertanyaanku. Meski aku sedikit ragu pada pak daieng.

          Akupun berjalan melintasi sawah yang di hiasi padi yang semakin menguning, hanya saja senja ini masih banyak petani yang beradi di sawah. Gubuk pak Daiengpun semakin tampak jelas di depan sana, walah sedikit perlahan tapi tak butuh waktu lama untuk sampai di gubuk pak Daieng.

          Entah kemana dia, tak kulihatpun dia sedang bertani. Tapi aku terus menunggunya, mungkin ada alasan lain mengapa ia tak kunjung tampak hingga saat ini. Haripun mulai gelap, aku memutuskan meninggalkan gubuk pak Daieng. Terimakasih pak Daieng, atas PHPnya.

          Namun saat baru beberap langkah aku menjauhi gubuk pak Daieng, tampak pak Daieng mendekat. Ia tersenyum ke araku.

          “maaf nak, saya sakit. Makanya saya terlambat!”

          “saya yang seharusnya meminta maaf pak, sudah merepotkan bapak”

          Kamipun bercerita sambil berjalan meninggalkan sawah yang semakin gelap di telan malam.

          Aku tak berani menagih janji pak Daieng. Perjalanan hari ini sepertinya tidak membuahkan apa-apa.

          “rumah saya, di sini nak!”, tunjuk pak Daieng pada sebuah rumah yang cukup megah walah masih semi permanen.

          “iya, pak. Saya pulang dulu ya?”
          Saat aku ingin pergi, pak Daieng menarik tanganku dan memberikan selembarsurat. Dia bilang kalu semua jawaban atas pertanyaanku dan masalahku ada pada suat itu. Sungguh aku tidak menyangka.

          “ingat, bacalah surat ini ketika nak Gian sampai di rumah. Renungkanlah isi dari surat ini.”

          “Terimakasi pak!”, ucapku padanya

          “iya, sama-sama. Nak Gian!”, balas pak Daieng mengakhiri pertemuan kami.
****

………..kebebasan dan Tuhan, bukanlah sebuah hal yang layak untuk di persamakan. Agama dan Tuhan bukanlah hal perbandingan.

Ketahuilah agama bukan sebuah ikatan yang mengekang pemeluknya, agama hanyalah tuntunan untuk seorang hamba menuju Tuhan. Tuhan Maha Esa, walau agama banyak tak semata-mata membagi ke-Esaan Tuhan. Kebenaran mutlak lekat pada jiwa yang mencintai Allah bukan mencintai ciptaannya karena nafsu.

       Carilah kebenaran tentang-Nya, tapi jangan percayai apa yang hanya kamu lihat. Sesungguhnya kebebesan bukanlah tentang keinginan, kemauan dan lantas memuaskan nafsu. Tapi nafsu adalah kurungan yang mengekang manusia pada kebebasan sesungguhnya.

       Manusia di ciptakan bukan untuk mencari kebebasan, tapi untuk menyembah kepada-Nya. Kata kebebasan adalah jebakan yang nyata dalam dunia yang fana ini. Bebas memakan apa saja, bebas menikahi siapa saja, dan bebas berbuat apa saja, sesungguhnya itu semua adalah muslihat.

          Sepucuk surat yang membuat aku menggil membacanya, entah darimana pak Daieng bisa menuliskannya. Uasi membacanya aku terbayang akan perbuatanku selama ini, perbuatanku saat bersama Shilva. Aku membelainya, menciumnya dan bercinta dengannya tanpa aku sadari itu adalah larangan agama.

          “ya Allah, aku sungguh tersesat dalam maksiat”

****
          Akupun memutuskan untuk kembali mencari pak Daieng, mengucapkan terimakasi. Tapi sangat di sayangkan, gubuk pak Daieng sulit untuk ke temui karena kondisi panen raya. Aku memutuskan untuk kerumahnya namun aku sangat terkejut, seribu terkejut. Rumah pak Daieng tak ada. Menurut keterangan dari warga setempat, Daieng adalah sesepuh kampung yang sudah lama menghilang entah kemana.

          Aku merinding mendengarnya, sungguh sangat terkejut rasanya di tambah lagi tubuhku ikut menggigil dan jantungku berdebar menandakan ketakutan hebat. Banyak dari mereka yang menganggapku berbohong namun mereka meyakikan aku kalu Daieng sudah lama di cari keberadaanya, anehnya kenapa aku yang dianggap berbohong. Sebagian dari mereka juga berpendapat kalau Daieng telah mati dan mungkin aku hanya bermimpi.

“Benarkah aku bermimpi?”



Senin, 04 April 2016

Lantai 2 part II


 
          Waktu kini tak lagi akan berulang, hanya ada hari-hari yang melelahkan. Mungkin untuk dia yang menunggu ketidak pastian, akan sebuah pengharapan yang tengah ia tunggu dan berlalu bersama orang lain. Ia hanya bisa melihat dan mengagumi dengan segenap ke-kikukkannya.

          Ini mungkin semester akhir Dika untuk berkuliah, semua telah ia leweti dengan komitmennya. Termaksud komitmen untuk wisuda di tahun ke empat. Yah, sidang meja hijau hari ini tengah menunggu. Bisa jadi ini akan memberikan tekannan pada Dika, atau hanya sedikit kecemburuan pada teman-temannya yang hari ini di dampingi oleh masing-masing pacarnya.

          Setidaknya sidang meja hijau hanya di peruntukkan bagi calon sarjana dan pasti tidak harus menghadirkan pacar sebagai pendamping. Walau bagi mereka dukungan emosional akan berpengaruh dengan ferforma mereka saat menjawab pertanyaan para dosen.

          “Hemnhhh”, Dika sedikit lemas meratapi kesunyian disampingnya.

          Dika hanya berdiam diri sembari menunggu beberapa menit lagi untuk masuk keruangan sidang, sementara teman-temannya terus gelisah. Hanya saja kegelisahan mereka selalu di lerai dengan motivasi dari pendampingnya.

          Akhirnya Dikapun melangkah masuk ke dalam ruangan sidang, hanya Dika dan para penguji yang merupakan dosen Dika. Semuanya terlihat senyum dan hanya menampakkan suasana hati yang senang. Tidak setegang pemikiran teman-teman Dika lainnya yang ingin sidang.

          Persidangan dimulai dengan sangat santai. Dika terus berusaha menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang semakin mengkrucut pada kesimpulan skripsi miliknya. Perlahan tapi pasti semuanya berjalan begitu mulus, walau membuat Dika banjir keringat. Setidaknya persidangan usai dengan hasil yang memuaskan.  Iapun ke luar melangkah ringan, seperti seekor burung mengepakkan sayapnya mengudara bebas.

          “Hay, Dik!” tegur bang Jaya.

          “hay”, balas Dika dengan sangat antusias.
          “selamat, ya!”, sambung lelaki itu sembari menyodorkan tangannya.

          “Iya, makasi Bang!”, balas Dika menjabat tanganya.

          Merekapun duduk di kursi dekat tangga. Dika dan jaya bercerita layaknya saudara yang saling merindukan. Mungkin karena Dika sudah satu setengah tahun tidak bertemu Jaya yang telah duluan wisuda, keduanya tetaplah akrab bagai seniordan junior.

          Saat asyik bercerita tiba-tiba percakapan mereka harus terhenti, bukan karena ada sebuah insiden atau kecelakaan. Percakapan keudannya terhenti saat Putri datang dan mengalihkan pandangan Dika yang sejak tadi hanya bertatap muka dengan jaya.

          “Bang, ayo kita pulang”, ajak Putri pada jaya.

          “iya, bentar”, bantah Jaya dan melanjutkan ”Oia, dek. Kenalin ini Dika temen Abang”. Ujarnya sembari mendongakkan pandangan ke arah putri.

          Dika dan Putripun berjabat tangan, ini jabatan tangan kesekian kalinya. Walau sedikit aneh tapi tetap saja Dika menahan rasa cemasnya yang datang tidak tepat waktu itu.

          “Oia, Dik. Putri ini tunangan Abang”, tanpa ragu Jaya mengatakannya.

          “Hemnh”, Dika tersenyum.

            Tapi saat jaya usai menyampaikan berita bahagianya, iapun mohon diri untuk pulang bersama tunangannya itu.

          Dika mehan kecewa dan terus memandangjauh ke arah lambaian tangan Jaya yang membawa Putri pergi bersamanya. Perlahan hilang di tengah hijaunya suasana kampus yang mulai senja.

*****

          Hari ini adalah hari yang sangat di nanti oleh semua mahasisiwa, mereka mengenakan toga sebagai perlambang ke arifan ilmu yang telah mereka ampu. Tampak semuanya saling bersalam-salamman mengucapkan selamat. Atas wisda di hari yang indah ini banyak pula yang menitihkan air mata bahagia dan ada yang berfoto seolah-olah hari ini takkan pernah terulang  kembali.

          Namun Dika hanya bisa mengurut dada dan dengan berat hati menatap dari kejauhan indahnya gedung tempat ia berkuliah, ada banyak ruangan dan fasilitas yang sering ia gunakan. Lantas tampaknya pengunjung setia lantai dua fakultas ini, harus rela melepas intaiannya setiap pagi. Putri Sri Rahayu, kini hanya sebuah nama yang akan tertulis bersanding dengan nama seniornya. Yah. Mendengar keduanya telah bertunangan, pastilah sangat tidak mungkin bagi Dika untuk mendekati putri.

          Adai waktu bisa berulang, andai saat itu Dika memiliki sedikit keberanian dan kesempatan. Mungkin saja hari ini akan menambah kebahagiannya atau setidaknya rasa yang ia miliki telah ia ungkapkan pada Putri, tidak pada lanatai dua. Hanya ada senyuman dan kedipan mata yang terpasang pada pada wajah Dika, mengingat semuanya harus ia tinggalkan dan harus Dika relakan.

          Mungkin hanya ada dua pilihan saat dilanda asmara, mengungkapkannya atau menyimpannya. Bila mengungkapkannya, saat itu hanya ada kebahagiaan jika diterima dan hanya ada kepastian bila di tolak. Namuan bila menyimpannya, hanya ada senyuman dan kedipan mata yang memaksa untuk melupakanya serta menyeretkan kaki untuk beranjak pergi.”        

Rabu, 23 Maret 2016

Aku Bukan Pilihan Part II

Siang ini cukup panas dengan sensasi gerahnya, mengingat mata kuliah yang masih harus dilanjutkan. Hanya ada jendela sebagai pembuai gerah yang mencairkan keringat. Untuk sekelas kampus berakreditasi A, cukup mencengankan memang saat harus kepanasan karena AC tidak berfungsi sebagaimana biasanya.

          Inilah siang yang ku impikan selama bertahun-tahun saat masih SMA dulu, bayangan yang selalu hadir adalah kenyamanan dan ketenagan bila berada di ruangan ber-AC. Ntah itu mimpi yang salah atau terlalu berlebihan, pastinya tak sedingin dan tak senyaman hayalanku.

****
          Kata orang aku biasa saja namun sebagian kecil dari mereka yang pernah menjadi pacarku selalu bilang kalau aku itu istimewa, mungkin sebuah pujian atau gombalan. Bagiku saat ini hanyalah perasaan yang dibuai angan-angan, lambat laur pergi bersama waktu.

          Aku siang ini sedikit jenuh menunggu dan hanya mendengarkan teman-teman menggerutu, walau di samping itu aku sedang berbalas pesan dengan orang yangbaru saja sangat dekat denganku. Mahadi. Begitu unik nama itu, seunik tingkahnya dan cara dia berfikir.

          Pertemuan itu entah disengaja atau tidak namun bermuara pada pandangan yang membuatku sungguh kepayang, untuk laki-laki yang cukup memberikan kesan. Awalnya aku prihatin melihat kesehariannya, ia selalu menyendiri di tengah ramainnya temannya. Banyak yang bilang dia itu kuper padahal dia punya banyak orang yang menyukainya dan membutuhkannya. Tapi tidak dengan dia, dia lebih sering menyendiri dan melamun. Wajah itu selalu merengut ragu dan ekspresi yang sangat sulit di tebak.

          Perlahan tapi pasti, akhirnya banyak dugaanku dan rumor yang beredar tentangnnya terjawab. Mahadi ternyata memang anak yang suka menarik diri, banyak orang yang tak mengerti tentang dia meski banyak orang yang membutuhkannya. Dia dan mahasiswa lainnya tampaknya tak sama, dia hanya terlihat murung dan tak menyadari kalau dia adalah orang yang berharga bagi oranglain. Padahal Yudi teman dekatnya yang juga abang kelasku, sangat populer dan terkenal dengan geng-nya. “Apakah Mahadi tidak termaksud dalam geng yang sedang Yudi geluti?”.
****

          “Bang, Dona boleh nanyak enggak?”, bisikku pdanya yang duduk di sapingku.

          “Jangan tentang tugas ya”, btahnya dengan suara halus.

          “ihh, enggak ya!”, balasku mencubit pipinya.

          Iapun tersenyum kearahku, menatapku dan sedikit memaikan alis matanya. Sungguh ekspresi wajah Mahadi yang tak pernah ku lihat selama ini.

          “Ok, sayang mau nanya apa?”, sabungnya bertanya.

          Aku sedikit gugup merespon pandangannya yang tak biasa menurutku.

          “Abang, kok sering kali menyendiri?”, tanyaku tersenyum kembali memandangnya.

          “Menyendiri gimana?”

          “ya, Dona perhatiin. Abng tuh, kayakanya kesepian, enggak ada kawan dan duduknya sediri!”, tanyaku runtun.

          “entahla, dek. Mungkin udah dari sononya kali.”, balas Mahadi.

          Akupun tak mau lagi menyinggung masalah kenapa Mahadi suka menyendiri. Iya hanya menjawab dengan tenag dan sungguh singkat, maknanya cukup jelas terlihat di bola matanya. Sungguh sulit menebaknya dan memahaminya.

          Kamipun selesai makan siang. Dia memegang tanganku dan seakan tak peduli dengan siapa dan sedang dimana kami. Mahadi terus mengiriku sampai kami sampai dan berbocengan naik sepeda motornya. Rengganis katanya, temannya yang paling setia dan setiap hari bersamanya namun masalahnnya Rengganis bukanlah wanita atau manusia pada umumnya. Rengganis adalah sebutan untuk sepeda motor miliknya, Mahadi bilang kalau ia suka menamai barang-barang kesayangannya dengan nama yang menurut dia memiliki makna atau unik.

Misalnya Rengganis adalah naman seorang ratu legendaris dari novel yang pernah ia baca, kemudian Kasasi adalah nama untuk laptop miliknya dan teman Mahadi yang terakhir adalah Tomy. Tomy Wijaya Fahlefa, subutannya untuk smart-foon  miliknya yang katanya ia beli dengan uang hasil kerjanya selam libur kuliah.

Dia hadir dengan segala ke-unikan yang dia miliki, aku menggapnya anak indigo. Mahadi mampu mengerjakan apa yang dianggap orangsulit, memiliki multi talenta dan IPK yang di atas rata-rata. Hanya saja dia baru bisa membuat satu ke ajaiban. Keajaiban yang membuatkubisa melupakan mantan-mantanku, keajaiban yang membuat hariku berwarna dan keajaiban yang membuatku bahagia melewati hariku.

Adakah keajaiban yang bisa aku berikan untuknya, agar Mahadi bisa mengungari lamunannya yang membuatnya terasing dan menyendiri. Menyadarkan Mahadi akan sikapnya yang sulit di tebak dan keajaiban yang bisa membuat Mahadi membagi senyum indahnya pada oranglain, meski aku sedikit cemburu.

Aku menyayangimu dengan segenap kemampuanku, aku tak memiliki kekuatan ajaib atau apapun yang istimewa. Meski kita saling memiliki satu sama lain, ingatlah dunia ini tidak berada dalam alam lamunanmu bang. Aku tak ingin kau menjadi diri orang lain, cukup dengan senyummu dan keramahanmu untuk duduk di samping teman-temanmu dan di sampingku. “Bagaimana aku bisa memilikimu kalau kau lebih banyak berada di alammu sendiri” , dan “bagaiman aku bisa memperkenalkanmu pada teman-temanku kalau kau hanya asyik dengan Rengganis, Kasasi dan Tomy”. liriklah sedikit ke arah pergaulan dan cukupkanlah keraguanmu sampai di sini.