Rabu, 16 Maret 2016

Aku Bukan Pilihan Part I




       Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, menyangkut “apa yang dia fikirkan tentangku!”. Mengikuti tatapan misteriusnya dan menjawab prasangka akan dirinya. Hanya dia dan selalu dia dalam benakku, benak yang kini bungkam dalam bayangan dejavu. Seakan semalam semuanya telah terlewati dan saat ini berulang kembali, hal yang begitu serupa tergambar begitu jelas. Sejelas saat senyum indah itu berubah menjadi rengut yang segelisah mungkin.

****

          Kami memulai semuanya di sini, tempat saat dia bertanya akan kebodohan yang pernah menimpahku. Saat itu adalah kali pertama aku memegang tangannya, setelah tatantangan itu diberikan. Ya, aku yang bodoh inipun terhasut dengan ajakan Yudi. Menghampiri wanita yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kami dan mengajak dia berkenalan.   

          “aku, Dona!”, balas wanita itu menjabat tanganku dan tersenyum.
         
          “kok sendiran aja, temannya mana?”, tanyaku kembali padanya.

          Meski awalnya aku deg-degan tapi akhirnya rasa itupun menghilang. Mungkin karena mengikuti saran Yudi, walau  sedikit SKSD namun percakapan ini terasa indah. Enggak tahu dari sudut mananya indah yang kurasakan, yang jelas ada banyak hal yang sulit untuk dijelaskan.

          Selepas perbincangan singkat itupun aku lega dan Yudipun datang menghampiriku dengan senyum ledekannya. Entah karena ia salut padaku atau mungkin ada hal lain.

          “mantapkan?”, tanya Yudi tersenyum.

          “apa yang mantap?”, tanyaku kembali.

          Yudipun akhirny menjelaskan panjang lebar soal wanita tadi. Tidak banyak yang aku ingat dari penjelasannya saat itu, tapi wanita tadi adalah adik kelas kami yang masih semester dua. Yudi juga bilang kalau dia tipe cewek yang cocok untuk anggota HMJ seperti aku. HMJ, bukan sebuah sigkatan umum. Tapi MHJ adalah singkatan dari Himpunan Mahasiswa Jomblo katanya, sambil meledek aku.

          Entah itu motivasi atau ejekan, pastinya terdengar sedikit menyakitkan. Menyakitkan, saat Yudi mengkaitkan kenyataan dan humor dalam ungkapan HMJ. Itulah Yudi, soal wanita dia selalu nomor satu dan kalau soal kuliah dia selalu jadi nomor terakhir. Berbading terbalik dengan aku tapi kadang-kadang banyak hal gokil dan ide gila yang sama kami miliki.     

            Ide gila yang sama itupun akhirnya muncul di tengah ledekan Yudi. Mungkin ini tergila dari yang pernah aku lewati. Intinya dari kesepakatan itu, Yudi kembali memintaku untuk mendekati Dona dan kalau bisa kami jadian. Bukan hal yang mudah bagiku, mungkin mustahil tapi inilah kegilaan. Hanya muncul dan benar-benar terjadi saat bersama Yudi.

          Jabatan tangan kesepakatanpun akhirnya menutup negosiasi kami siang itu, keningku mulai semakin mengkerut memikirkan bagaimana untuk dekat dengan Dona. Hal sebaliknya terjadi pada Yudi, keningnya tampak bersinar kinclong dan seakan telah mengeluarkan gagasan brilian.

****

          Seminggu berlalu setelah hari dimana aku berkenalan dengan Dona, mungkin aku tidak bisa menyanggupi ide gila itu. Tapi sejak saat menyepakati ide itu, aku selalu dihantui senyum Dona dan tatapan manjanya. Dona begitu indah untuk dihidari meski begitu deg-degan untuk didekati. Dilema terus menggelitiki perasaanku, seperti senyum Yudi yang semakin hari semakin lebar padaku.

          “Men..!”kejut Yudi, memukul pundakku.

          Aku hanya diam dan melirik ke arahnya, mungkin ia akan lebih leluasa menyidirku dengan kegilaan barunya. Iya mungkin hari aku kurang beruntung.

          “kok diam aja, men!”, sambungnya mengajak bicara.

          “lagi suntuk aku ini!”, balasku masa bodoh.

          “aih, jangan bilang misi kita gagal!”, Yudi langsung menterjemahkan apa yang ingin aku ungkapkan.

          “abisnya, mau gimana lagi?”, akupun sedikit pasrah.

          “kejar terus kenapa!, jangan cemen kali, entar jomlo bangkotan kau!”.

          Motivasi dan hinaan terasa senada dalam logat Yudi. Ya, memang kalau lagi ngomong dengannya seperti ngomong dengan orang mabuk. Pintar tak terikuti, bodoh tak terajarai.
****

          Namun orang lemah dan bodoh selalu di sayang Tuhan, mungkin inilah buktinya. Bukti kalau aku yang lemah ini bisa melakukan hal di luar kemampuku, aku yakin sekali ini karena Tuhan. Akhinya, aku dan Dona resmi jadian. Sangat indah memang walau kadang sulit memahaminya. Tapi aku bahagia dan kelihatanyya dia juga.
         
          Aku sangat menyayanginya, sepertinya waktu seharian di kampus bersamanya tidak cukup. 24 jam nonstop bahkan aku sanggup bersamanya. Oh, akankah semuannya akan abadi atau akan segera berakhir. Terimakasi Dona atas hari-hari yang indah, ya hari yang sangat indah. Love You.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar