Kadang
aku bertanya pada diriku sendiri, menyangkut “apa yang dia fikirkan tentangku!”.
Mengikuti tatapan misteriusnya dan menjawab prasangka akan dirinya. Hanya dia
dan selalu dia dalam benakku, benak yang kini bungkam dalam bayangan dejavu.
Seakan semalam semuanya telah terlewati dan saat ini berulang kembali, hal yang
begitu serupa tergambar begitu jelas. Sejelas saat senyum indah itu berubah
menjadi rengut yang segelisah mungkin.
****
Kami memulai semuanya di sini, tempat saat dia bertanya
akan kebodohan yang pernah menimpahku. Saat itu adalah kali pertama aku
memegang tangannya, setelah tatantangan itu diberikan. Ya, aku yang bodoh
inipun terhasut dengan ajakan Yudi. Menghampiri wanita yang sama sekali tidak
ada hubungannya dengan kami dan mengajak dia berkenalan.
“aku, Dona!”, balas wanita itu menjabat tanganku dan tersenyum.
“kok sendiran aja, temannya mana?”, tanyaku kembali
padanya.
Meski awalnya aku deg-degan tapi akhirnya rasa itupun
menghilang. Mungkin karena mengikuti saran Yudi, walau sedikit SKSD namun percakapan ini terasa
indah. Enggak tahu dari sudut mananya indah yang kurasakan, yang jelas ada
banyak hal yang sulit untuk dijelaskan.
Selepas perbincangan singkat itupun aku lega dan Yudipun
datang menghampiriku dengan senyum ledekannya. Entah karena ia salut padaku
atau mungkin ada hal lain.
“mantapkan?”, tanya Yudi tersenyum.
“apa yang mantap?”, tanyaku kembali.
Yudipun akhirny menjelaskan panjang lebar soal wanita tadi.
Tidak banyak yang aku ingat dari penjelasannya saat itu, tapi wanita tadi
adalah adik kelas kami yang masih semester dua. Yudi juga bilang kalau dia tipe
cewek yang cocok untuk anggota HMJ seperti aku. HMJ, bukan sebuah sigkatan
umum. Tapi MHJ adalah singkatan dari Himpunan Mahasiswa Jomblo katanya, sambil
meledek aku.
Entah itu motivasi atau ejekan, pastinya terdengar sedikit
menyakitkan. Menyakitkan, saat Yudi mengkaitkan kenyataan dan humor dalam
ungkapan HMJ. Itulah Yudi, soal wanita dia selalu nomor satu dan kalau soal
kuliah dia selalu jadi nomor terakhir. Berbading terbalik dengan aku tapi
kadang-kadang banyak hal gokil dan ide gila yang sama kami miliki.
Ide gila yang sama itupun akhirnya muncul di
tengah ledekan Yudi. Mungkin ini tergila dari yang pernah aku lewati. Intinya
dari kesepakatan itu, Yudi kembali memintaku untuk mendekati Dona dan kalau
bisa kami jadian. Bukan hal yang mudah bagiku, mungkin mustahil tapi inilah
kegilaan. Hanya muncul dan benar-benar terjadi saat bersama Yudi.
Jabatan tangan kesepakatanpun akhirnya menutup negosiasi
kami siang itu, keningku mulai semakin mengkerut memikirkan bagaimana untuk
dekat dengan Dona. Hal sebaliknya terjadi pada Yudi, keningnya tampak bersinar
kinclong dan seakan telah mengeluarkan gagasan brilian.
****
Seminggu berlalu setelah hari dimana aku berkenalan dengan
Dona, mungkin aku tidak bisa menyanggupi ide gila itu. Tapi sejak saat
menyepakati ide itu, aku selalu dihantui senyum Dona dan tatapan manjanya. Dona
begitu indah untuk dihidari meski begitu deg-degan untuk didekati. Dilema terus
menggelitiki perasaanku, seperti senyum Yudi yang semakin hari semakin lebar
padaku.
“Men..!”kejut Yudi, memukul pundakku.
Aku hanya diam dan melirik ke arahnya, mungkin ia akan
lebih leluasa menyidirku dengan kegilaan barunya. Iya mungkin hari aku kurang
beruntung.
“kok diam aja, men!”, sambungnya mengajak bicara.
“lagi suntuk aku ini!”, balasku masa bodoh.
“aih, jangan bilang misi kita gagal!”, Yudi langsung
menterjemahkan apa yang ingin aku ungkapkan.
“abisnya, mau gimana lagi?”, akupun sedikit pasrah.
“kejar terus kenapa!, jangan cemen kali, entar jomlo
bangkotan kau!”.
Motivasi dan hinaan terasa senada dalam logat Yudi. Ya,
memang kalau lagi ngomong dengannya seperti ngomong dengan orang mabuk. Pintar
tak terikuti, bodoh tak terajarai.
****
Namun orang lemah dan bodoh selalu di sayang Tuhan, mungkin
inilah buktinya. Bukti kalau aku yang lemah ini bisa melakukan hal di luar
kemampuku, aku yakin sekali ini karena Tuhan. Akhinya, aku dan Dona resmi
jadian. Sangat indah memang walau kadang sulit memahaminya. Tapi aku bahagia
dan kelihatanyya dia juga.
Aku sangat menyayanginya, sepertinya waktu seharian di
kampus bersamanya tidak cukup. 24 jam nonstop bahkan aku sanggup bersamanya.
Oh, akankah semuannya akan abadi atau akan segera berakhir. Terimakasi Dona
atas hari-hari yang indah, ya hari yang sangat indah. Love You.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar