Senin, 01 Agustus 2016

Predator Cinta part I



               

            Aku baru tahu, bahwa malam kian datang membawa sendu yang mendalam saat melamunkan sebuah kerinduan. Walau aku mencoba melarai kesedihan dan mengutuk semua air mataku yang menetes, hanya ada sebuah sayatan yang melukai hatiku. Hati seorang wanita yang tak berdaya dan rapuh serupa kertas yang remuk, tak dihiraukan dalam ketidak berdayaan.
            Salahkah bila aku memulai kehidupan remajaku, kehidupan sebagamana gadis pada umumnya. Jatuh cinta dan menaruh harapan pada kekasih. Atau apakah memang perlu ada rasa sakit dalam menjalin asmara, apakah asmara itu sebenarnya hanya kata-kata saat jatuh cinta.
^^^
            Siang yang melelakan, saat harus mengikuti les tambahan dan duduk kembali sembari memperhatikan guru. Taklama setelah menit-menit berlalu, Hpku bergetar menandakan ada pesan masuk.
            “ka, ntar kamu pulang jam berapa?, aku jemput ya?”, oh, ternyata SMS dari Putra.
            Jantungku berdebar tak sepeti basanya, pelan-pelan aku mengetik di Hpku dan tak butuh waktu lama untuk menjawab pertanyaan Putra sembari meng-iyakan tawarannya.
            “Oke, deh. Ntar aku jemput”, balasnya kembali dari seberang sana.
            Suasana hatikupun kembali hening. Walau guru sibuk menjelaskan di depan kelas, aku hanya fokus pada Putra yang tadi mengirimi aku pesan. Pesan yang mampu mengusir rasa bosan di siang hari ini.
            Taklama les tambahan usai, walau agak dag-dig-dug tapi aku masih menunggu kedatangan Putra. Mungkin sebentarlagi dia datang atau tidak sama sekali.
            Sembari menunggu aku melihat awan mengelabu, sepertinya titik hujan akan turun sebentar lagi. Menetes membuai kemarau yang cukup berkepanjangan, seperti perasaan gundah akan kemelut yag tak beralasan. Henhh.
            “TINNNN,TINNN”, suara klakson matic.
            Seketika  aku tersentak dari lamunanku. Terlihat putra tersenyum menanpakkan wajahnya dari atas metic miiknya. Akupun kembali membalas senyumnya, hanya dengan sedikit melirik ke arahnya.
            “yuk, kita pulang ka!”, ajaknya dengan ramah.
            Aku hanya menganggu, tanda setuju. Tak membuang banyak waktu akupun naik kemudian Putra menjalankan maticnya. Kamipun berboncengan menyusuru senja yang di selimuti mendung. Hatiku berbunga-bunga, ditambah lagi dengan suasana sejuk hembusan angin yang membuat rambutku melambai tak beraturan.
            “Ka, gimana lesnya tadi?”, tanya Putra sembari melirikku dari kaca sepion.
            “biasa aja kok. Yah, walau tadi agak nyebelin dikit”, jawabku perlahan.
            “terus sekarang, masih belum hilang sebelnya?”, di kembali bertanya, walau arah pertanyaan itu entah kemana.
            “ya, kayaknya udah hilang”, jawabku penuh suka.
            Putra tampak sedikit tertawa, mungkin jawabanku membuatnya geli atau mungkin tawanya hanya untuk menghiburku.
            “oia, ntar malam kita jalan yuk!”
            “kemana, put?”
            “yah, Riska maunya kemana?”
            “ye, yang ngakjak putra. Kok malah nanyak ke Riska!”, balasku sedikit ketus.
            Pembicaraanpun akhirnya melebar, walau awalnya aku sedikit ketus namun lama-lama putra mampu meleraiku dengan kata-katanya. Walau kami baru saling kenal tapi sepertinya aku merasa ada kedekatan yang tidak  kumengerti. Mungkin terbawa suasana senja yang semakin mendung atau apa lah.
^^^
            Malampun akhirnya kembali meyelimuti senja dengan gelap dan taburan bintang serta sinar bulannya. Kami berdua duduk di sebuah tempat nongkrong kaki lima, walau begeitu aku masih belum merasakan apa yang sebernanya ia mau dan kenapa harus malam ini yang putra pilih untuk keluar.
            Diapun melirikku dengan  senyum yang sama, senyum saat kami pertama kali saling kenal dan senyum sore tadi saat ia menjemputku pulang. Masih sama dan sepertinya mataku mulai terbiasa dengan senyuman itu.
            “ka, kenapa kok melamun aja?”
            “enggak kok!”
            Putrapun diam sejenak, agak lama tapi entah apa yang membuat dia merikku dengan tatapan yang cukup serius. Awalnya aku bingung dan sedikit bertanya heran. Namun sebelum aku bertanya padanya, ia mendahului aku dengan memengang tanganku dan bertanya.
            “ka, apa malam ini kamu nyesel ketemu aku?”
            “enggak kok!”, jawabku masih bingung.
            “aku sayang sama kamu ka dan aku mau kita jadian, menurut kamu gimana?”
            Dia kembali memposisikan aku pada tempat yang sulit, walau aku menyukainya dari pertama kali kami kenal tapi sepertinya bukan malam ini waktu yang pas untuk dia menyatakan perasaanya. Dia sendiri tahu kalau kami sama-sama kelas sembilan dan sebentar lagi UN. Bukannya memberi semangat malah ngajakin kencan.
“iya, ika juga sayang putra kok”, jawabku dengan rasa bingung yang bercampur bahagia.
            Tiada lagi kata yang paling indah aku rasa terkeculi menerima cintanya dengan mengatakan “Iya”. Malam itu adalah malam pertama kami jalan sebagai pacar, yah setidaknya dia lebih baik dari pada pacar-pacarku sebelumnya.
            Sebelumnya, belum pernah ada lelaki yang berani seperti putra. Langsung menyatakan cinta tanpa perantara, bisannya mereka hanya berani menyatakan cinta lewat SMS, BBM, atau facebook. Yah, mungkin Putra serius dengan ucapannya.
             Kamipun menjalani hubungan kami dengan baik, awalnya aku tak pernah berfikir untuk serius menaggapi perasaan Putra karena aku hanya mengangap ia sekedar main-main. Mungkin anggapan itu salah, tanpa ku sadari aku terseret dalam perasan yang sulit untuk ke jelaskan. Yah, dia begitu ulet dan penuh dengan ketulusan dalam menghiasi hari-hariku walaupun sebelumnya sangat membosankan.
****
            Rasanya aku tertidur pulas tadi malam namun saat aku bangun dan melirik ke arah jam dinding, ternyata masih sangat dini untuk bangun dan mandi. Ayam belum berkokok membangunkan mentari, kabut hitam masih menyelimuti bersandar dengan hawa yang berhembus dingin.
            “Dringsssssss”, Hpku berdering.
            Gila, masih jam tiga pagi dini hari ada SMS masuk. Apa yang sangat penting dari sebuah pesan sedini hari. Atau ada kabar yang sangat darurat sehingga dia tidak menghiraukan pagi. Menjawab rasa penasan itu, akupun meraih HPku dan melihatnya.
            “Sayang, dari balik layar ini aku menyapamu. Aku kabarkan pada pagi yang masih dingin bahwa aku menyayangimu. Riska, walau mentari belum terbit tapi hari telah berganti tanggal, aku hanya ingin mengatakan padamu. Happy anive one month.”
            Usai menbaca pesan dari putra aku tersentak, segitu ingatnya dia dengan tanggal dan bahkan ia menghitung sampai hari ini. Untuk hubungan yang masih satu bulan, mungkin memang ia puitis tapi yang  jelas aku cukup senang.
            Mengisi bulan kedua hubungan kami UN-pun seakan tidak kalah mewarnai, acap kali kami saling berbalas pesan saling memotivasi dan saling mengerti. Namun kini aku menyukai les tambahan sepulang sekolah, mungkin karena selalu ada putra dan maticnya yang setia menjemputku.
            Akankah ini berakhir dengan indah seperti meme comic yang sedang ngetren di SOSMED atau adakah hal buruk yang bisa membuat semua perasaan ini berubah. Apapun itu yang jelas masih jauh di depan.
^^^^
            Alhamdullilah UN selesai dengan baik, akupun lulus begitujuga dengan putra. Walau temen-temenku kebanyakan yang sibuk memperbincangkan rencana kuliah mereka, aku tetap berdiam diri mengkerutkan kening sembari berfikir. Apakah mungkin bagiku untuk kuliah dan kalaupun “iya” harus kuliah dimana.
            Sebaliknya terjadi pada Putra, dia lebih mantap dan kekeh dengan cita-citanya ingin jadi polisi. Aku menaruh rasa yang sangat besar pada cita-citanya, apalagi putra terlihat sangat bahagia dengan itu.
            Akupun sering ikut dengannya, baik itu menemaninya joging, berenang atau kegiatan latihannya yang lain. Semuanya terasa semakin indah, aku merasa sangat lekat dengannya dan merasa  telah menjadi bagian dari dalam hidupnya.
            Namun tiba-tiba saja kami bertengkar. Awalnya aku hanya mengirim pesan padanya, sesekali pesan itu tidak di balasnya atau mungkin tidak ia baca. Tapi akhirnya keseringan. Akupun mencoba sedikit menyindirnya.
            “sayang, mungkin aku terlalu egois. Tapi aku tidak suka sikap cuekmu”
            Sayang sekali, pesan itu lagi-lagi hanya bersarang di Hpnya, tidak ada balasan. Akupun memutuskan untuk menelfon.
            “assalamualaikum”, sapaku dengan nada jengkel
            “waa’alaikumsalam”, balasnya dengan nada yang lembut.
            Awalnya aku sedikit basa-basi dan belum sempat aku menanyakan dengan sikapnya yang cuek, Putra langsung membuat suasana menjadi tidak enak.
            “aku lagi capek, Ka!, jadi enggak usahala kita ngomongin soal sikap aku yang cuek!”
            “terus, apa aku ini enggak capek!”
            “maksudmu apasih?”
            “put, kamu kan tahu kalau kita pacaran!”
            “iya, terus apa?”
            “terus apa begini sikap seorang pacar degan ceweknya”
            “jadinya, emang ika perduli dengan kesibukan aku?”
            Pembicaraan kamipun semakin memanas, aku malas berlik pada posisi yang dipertanyakan. Awalnya aku ingin mengetahui apa yang membuat puta cuek. Sembaliknya terjadi Putra malah marah dan semakin buas tak tentu arah pembicaraanya.
            Akupun menyesali pembicaraan malam ini, sepertinya dia telah asing bagiku. Ia berubah seperti predator, selain kasar tampaknya ia tidak perduli. inikah rupanya yang asli, atau mungkin ia terlalu setres karena latihannya dan ambisinya.
Aku sangat sedih, ini adalah malam pertama aku menangisi hubunganku. Sedikit sekali kemungkinan bagiku untuk sadar akan kepiluan perasaanku, Putra walau dia tampak serius dengan hubungan ini pada awalnya tapi keseriusan ini berbalik dengan sikapnya yang cuek.
             
(b e r s a m b u n g)

From : Nura Rahmadani




            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar