Senin, 01 Agustus 2016

Predator Cinta part I



               

            Aku baru tahu, bahwa malam kian datang membawa sendu yang mendalam saat melamunkan sebuah kerinduan. Walau aku mencoba melarai kesedihan dan mengutuk semua air mataku yang menetes, hanya ada sebuah sayatan yang melukai hatiku. Hati seorang wanita yang tak berdaya dan rapuh serupa kertas yang remuk, tak dihiraukan dalam ketidak berdayaan.
            Salahkah bila aku memulai kehidupan remajaku, kehidupan sebagamana gadis pada umumnya. Jatuh cinta dan menaruh harapan pada kekasih. Atau apakah memang perlu ada rasa sakit dalam menjalin asmara, apakah asmara itu sebenarnya hanya kata-kata saat jatuh cinta.
^^^
            Siang yang melelakan, saat harus mengikuti les tambahan dan duduk kembali sembari memperhatikan guru. Taklama setelah menit-menit berlalu, Hpku bergetar menandakan ada pesan masuk.
            “ka, ntar kamu pulang jam berapa?, aku jemput ya?”, oh, ternyata SMS dari Putra.
            Jantungku berdebar tak sepeti basanya, pelan-pelan aku mengetik di Hpku dan tak butuh waktu lama untuk menjawab pertanyaan Putra sembari meng-iyakan tawarannya.
            “Oke, deh. Ntar aku jemput”, balasnya kembali dari seberang sana.
            Suasana hatikupun kembali hening. Walau guru sibuk menjelaskan di depan kelas, aku hanya fokus pada Putra yang tadi mengirimi aku pesan. Pesan yang mampu mengusir rasa bosan di siang hari ini.
            Taklama les tambahan usai, walau agak dag-dig-dug tapi aku masih menunggu kedatangan Putra. Mungkin sebentarlagi dia datang atau tidak sama sekali.
            Sembari menunggu aku melihat awan mengelabu, sepertinya titik hujan akan turun sebentar lagi. Menetes membuai kemarau yang cukup berkepanjangan, seperti perasaan gundah akan kemelut yag tak beralasan. Henhh.
            “TINNNN,TINNN”, suara klakson matic.
            Seketika  aku tersentak dari lamunanku. Terlihat putra tersenyum menanpakkan wajahnya dari atas metic miiknya. Akupun kembali membalas senyumnya, hanya dengan sedikit melirik ke arahnya.
            “yuk, kita pulang ka!”, ajaknya dengan ramah.
            Aku hanya menganggu, tanda setuju. Tak membuang banyak waktu akupun naik kemudian Putra menjalankan maticnya. Kamipun berboncengan menyusuru senja yang di selimuti mendung. Hatiku berbunga-bunga, ditambah lagi dengan suasana sejuk hembusan angin yang membuat rambutku melambai tak beraturan.
            “Ka, gimana lesnya tadi?”, tanya Putra sembari melirikku dari kaca sepion.
            “biasa aja kok. Yah, walau tadi agak nyebelin dikit”, jawabku perlahan.
            “terus sekarang, masih belum hilang sebelnya?”, di kembali bertanya, walau arah pertanyaan itu entah kemana.
            “ya, kayaknya udah hilang”, jawabku penuh suka.
            Putra tampak sedikit tertawa, mungkin jawabanku membuatnya geli atau mungkin tawanya hanya untuk menghiburku.
            “oia, ntar malam kita jalan yuk!”
            “kemana, put?”
            “yah, Riska maunya kemana?”
            “ye, yang ngakjak putra. Kok malah nanyak ke Riska!”, balasku sedikit ketus.
            Pembicaraanpun akhirnya melebar, walau awalnya aku sedikit ketus namun lama-lama putra mampu meleraiku dengan kata-katanya. Walau kami baru saling kenal tapi sepertinya aku merasa ada kedekatan yang tidak  kumengerti. Mungkin terbawa suasana senja yang semakin mendung atau apa lah.
^^^
            Malampun akhirnya kembali meyelimuti senja dengan gelap dan taburan bintang serta sinar bulannya. Kami berdua duduk di sebuah tempat nongkrong kaki lima, walau begeitu aku masih belum merasakan apa yang sebernanya ia mau dan kenapa harus malam ini yang putra pilih untuk keluar.
            Diapun melirikku dengan  senyum yang sama, senyum saat kami pertama kali saling kenal dan senyum sore tadi saat ia menjemputku pulang. Masih sama dan sepertinya mataku mulai terbiasa dengan senyuman itu.
            “ka, kenapa kok melamun aja?”
            “enggak kok!”
            Putrapun diam sejenak, agak lama tapi entah apa yang membuat dia merikku dengan tatapan yang cukup serius. Awalnya aku bingung dan sedikit bertanya heran. Namun sebelum aku bertanya padanya, ia mendahului aku dengan memengang tanganku dan bertanya.
            “ka, apa malam ini kamu nyesel ketemu aku?”
            “enggak kok!”, jawabku masih bingung.
            “aku sayang sama kamu ka dan aku mau kita jadian, menurut kamu gimana?”
            Dia kembali memposisikan aku pada tempat yang sulit, walau aku menyukainya dari pertama kali kami kenal tapi sepertinya bukan malam ini waktu yang pas untuk dia menyatakan perasaanya. Dia sendiri tahu kalau kami sama-sama kelas sembilan dan sebentar lagi UN. Bukannya memberi semangat malah ngajakin kencan.
“iya, ika juga sayang putra kok”, jawabku dengan rasa bingung yang bercampur bahagia.
            Tiada lagi kata yang paling indah aku rasa terkeculi menerima cintanya dengan mengatakan “Iya”. Malam itu adalah malam pertama kami jalan sebagai pacar, yah setidaknya dia lebih baik dari pada pacar-pacarku sebelumnya.
            Sebelumnya, belum pernah ada lelaki yang berani seperti putra. Langsung menyatakan cinta tanpa perantara, bisannya mereka hanya berani menyatakan cinta lewat SMS, BBM, atau facebook. Yah, mungkin Putra serius dengan ucapannya.
             Kamipun menjalani hubungan kami dengan baik, awalnya aku tak pernah berfikir untuk serius menaggapi perasaan Putra karena aku hanya mengangap ia sekedar main-main. Mungkin anggapan itu salah, tanpa ku sadari aku terseret dalam perasan yang sulit untuk ke jelaskan. Yah, dia begitu ulet dan penuh dengan ketulusan dalam menghiasi hari-hariku walaupun sebelumnya sangat membosankan.
****
            Rasanya aku tertidur pulas tadi malam namun saat aku bangun dan melirik ke arah jam dinding, ternyata masih sangat dini untuk bangun dan mandi. Ayam belum berkokok membangunkan mentari, kabut hitam masih menyelimuti bersandar dengan hawa yang berhembus dingin.
            “Dringsssssss”, Hpku berdering.
            Gila, masih jam tiga pagi dini hari ada SMS masuk. Apa yang sangat penting dari sebuah pesan sedini hari. Atau ada kabar yang sangat darurat sehingga dia tidak menghiraukan pagi. Menjawab rasa penasan itu, akupun meraih HPku dan melihatnya.
            “Sayang, dari balik layar ini aku menyapamu. Aku kabarkan pada pagi yang masih dingin bahwa aku menyayangimu. Riska, walau mentari belum terbit tapi hari telah berganti tanggal, aku hanya ingin mengatakan padamu. Happy anive one month.”
            Usai menbaca pesan dari putra aku tersentak, segitu ingatnya dia dengan tanggal dan bahkan ia menghitung sampai hari ini. Untuk hubungan yang masih satu bulan, mungkin memang ia puitis tapi yang  jelas aku cukup senang.
            Mengisi bulan kedua hubungan kami UN-pun seakan tidak kalah mewarnai, acap kali kami saling berbalas pesan saling memotivasi dan saling mengerti. Namun kini aku menyukai les tambahan sepulang sekolah, mungkin karena selalu ada putra dan maticnya yang setia menjemputku.
            Akankah ini berakhir dengan indah seperti meme comic yang sedang ngetren di SOSMED atau adakah hal buruk yang bisa membuat semua perasaan ini berubah. Apapun itu yang jelas masih jauh di depan.
^^^^
            Alhamdullilah UN selesai dengan baik, akupun lulus begitujuga dengan putra. Walau temen-temenku kebanyakan yang sibuk memperbincangkan rencana kuliah mereka, aku tetap berdiam diri mengkerutkan kening sembari berfikir. Apakah mungkin bagiku untuk kuliah dan kalaupun “iya” harus kuliah dimana.
            Sebaliknya terjadi pada Putra, dia lebih mantap dan kekeh dengan cita-citanya ingin jadi polisi. Aku menaruh rasa yang sangat besar pada cita-citanya, apalagi putra terlihat sangat bahagia dengan itu.
            Akupun sering ikut dengannya, baik itu menemaninya joging, berenang atau kegiatan latihannya yang lain. Semuanya terasa semakin indah, aku merasa sangat lekat dengannya dan merasa  telah menjadi bagian dari dalam hidupnya.
            Namun tiba-tiba saja kami bertengkar. Awalnya aku hanya mengirim pesan padanya, sesekali pesan itu tidak di balasnya atau mungkin tidak ia baca. Tapi akhirnya keseringan. Akupun mencoba sedikit menyindirnya.
            “sayang, mungkin aku terlalu egois. Tapi aku tidak suka sikap cuekmu”
            Sayang sekali, pesan itu lagi-lagi hanya bersarang di Hpnya, tidak ada balasan. Akupun memutuskan untuk menelfon.
            “assalamualaikum”, sapaku dengan nada jengkel
            “waa’alaikumsalam”, balasnya dengan nada yang lembut.
            Awalnya aku sedikit basa-basi dan belum sempat aku menanyakan dengan sikapnya yang cuek, Putra langsung membuat suasana menjadi tidak enak.
            “aku lagi capek, Ka!, jadi enggak usahala kita ngomongin soal sikap aku yang cuek!”
            “terus, apa aku ini enggak capek!”
            “maksudmu apasih?”
            “put, kamu kan tahu kalau kita pacaran!”
            “iya, terus apa?”
            “terus apa begini sikap seorang pacar degan ceweknya”
            “jadinya, emang ika perduli dengan kesibukan aku?”
            Pembicaraan kamipun semakin memanas, aku malas berlik pada posisi yang dipertanyakan. Awalnya aku ingin mengetahui apa yang membuat puta cuek. Sembaliknya terjadi Putra malah marah dan semakin buas tak tentu arah pembicaraanya.
            Akupun menyesali pembicaraan malam ini, sepertinya dia telah asing bagiku. Ia berubah seperti predator, selain kasar tampaknya ia tidak perduli. inikah rupanya yang asli, atau mungkin ia terlalu setres karena latihannya dan ambisinya.
Aku sangat sedih, ini adalah malam pertama aku menangisi hubunganku. Sedikit sekali kemungkinan bagiku untuk sadar akan kepiluan perasaanku, Putra walau dia tampak serius dengan hubungan ini pada awalnya tapi keseriusan ini berbalik dengan sikapnya yang cuek.
             
(b e r s a m b u n g)

From : Nura Rahmadani




            

Senin, 18 Juli 2016

Lambaian Terakhir



Ia sadar jikalau aku mencintainya, semuanya terasa tak lagi hampa karena kelak kepulanganku sudah ia nantikan. Ini akan menjadi pagi yang sangat indah untukku, yah karena mungkin pagi ini lambaian tangan kekasihku akan membuatku merindukan hari ini.

Aku sangat beruntung, dalam waktu yang berdekatan aku mendengar kabar yang sangat menggembirakan. Kabar itu pertamannya adalah kabar kelulusanku yang di terima di salah satu universitas negeri cina, selang berapa  hari kemudian Vina membalas cintaku dan mengajakku langsung bertemu orang tuannya sebagai tanda ke seriusan kami.

Awalnya aku hanya mengenal gadis polos ini saat kami masih sama-sama kuliah. Selain manis dan pendiam dia sangat membenci  aku, dulunya aku sangat usil padanya. Entah bagaimana keusilan itu merubah hubungan kami menjadi istimewa.

Sayangnya aku harus menyelasaikan studiku dahulu baru layak untuk mempersuntingnya. Vina dan keluarganya mendukung penuh niatku, ayah Vina mengaku sangat bangga dengan keputusan yang kuambil. Sebagai balasannya Vina berjanji akan setia untuk menunggu kepulnganku.

Tapi sebentarlagi aku sudah harus berangkat karena pesawat yang akan mengakutku tak sabar untuk mengudara bebes. Yah, Vina tampaknya telat atau memang sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengantarku. Mungkin tidak ada lambaian tangannya yang membuatku merindukan hari ini.
****
Rasanya kepalaku sangat pusing, entah apa yang baru saja menimpahku. Walau seperti orang linglung tapi tak ada orang satupun yang menghamppiriku dan bertanya padaku, akan siapa dan mau apa diriku. Mungkin kebudayaan negeri ini sedikit bergeser dan mulai tidak saling peduli dengan yang lainnya.
          
Namun aku melihat kekasihku dari kejauhan, sangat terburu-buru langkahnya. Aku menghampirinya sembari mencoba sedikit berteriak ke arahnya.
“VINA....!”
           
Mustahil, Vina tak menghiraukan aku dan tak menoleh sedikitpun ke arhku. Ia semakin menjauh dan pergi begitu saja. Akupun mengejarnya dan meneriakinya dengan suaraku yang lebih deras dari tadi. Tapi sepertinya pacarku mulai tuli atau mungkin karena suasana keramaian bandara membuatnya tak mendengar suaraku.
           
Aku semakin dekat dengan Vina dan mencoba menepuk pundaknya. Mustahil, sekali lagi aku di kejutkan dengan kejadian yang sangat aneh. Aku tidak bisa menyentuh Vina saat aku memcoba kembali menepuk pundak Vina, tanganku menembus badannya.
^^^^
          
Ini mungkin akan menjadi catatan paling kelam dalam hidupku, atau aku harus mengakhiri semuanya. Aku tak pernah menginginkan cinta itu datang atau pergi dengan air mata, walau aku sendiri tak berdaya. Sungguh seorang wanita yang lemah.
          
Tiga belas hari yang lalu aku terlamabat datang ke bandara untuk menemani Wira sebelum ke berangkatannya ke luar negeri . Aku sangat menyesali keterlambatan itu, hari itu seharusnya bisa menjadi detik-detik teridah dalam kisah cintaku. Namun aku tidak sempat untuk bertemu denganya terakhir kalinya. Terakhir kalinya aku hanya mendengar kabar duka tentang kematiannya.
          
Pesawat yang di tumpangi pacarku jatuh dan ia meninggal dunia. Sungguh hukumam yang sangat berat atas keterlambatanku. Aku hanya bisa membayangkan betapa marahnya Wira kepadaku, sampai-sapai ia tega meninggalkan aku. Hanya raut wajah yang terlihat pucat berbaring tak berdaya saat aku temui.
           
Jauh sebelum ke berangkatannya ia terlihat sangat gembira, ia sangat bersemangat untuk menyelesaikan studinya. Aku juga sangat menaruh harapan besar kepada calon imamku kelak yang akan bersahaja dengan ilmu dan gelarnya. Tapi kini dia hanya berbaring  menutup mata dengan meninggalkan kesedihan bersama dengan rasa bersalahku. Setidaknya ia menepati janjinya, untuk terus belajar hingga akhir hayat.
^^^^
          
 Malam semakin dingin dan semakin menyayat jiwaku yang telah hancur sehancur-hancurnya. Ini adalah malam malam pertama pasca tragedi yang menimpahku. Rasanya sangat tidak enak, aku hanya bisa melihat mereka melewatiku yang berdidiri mematung melihat tingkah mereka.
           
Aku melihat kekasihku meneteskan air matanya, pipi kemerah-merahan itu terlalu indah untuk tetesan air matanya. Aku sangat menyayangkan hal ini, tapi aku kini bagaikan sekepul asap yang mengambang di udara. Bagiku arah bukanlah barang yang akan di tuju, aku hanya terombang-ambing dalam kehampaan.
          
 Rasanya aku telah berteriak memanggili mereka yang tengah menangisi sebatang badan yang menyerupai aku, tapi merekapun tak menoleh atau mendengar. Aku tak mampu meraih mereka namun aku juga tak bisa pergi menjauh dari mereka.
           
Kini malam telah larut membuai mereka, aku hanya bisa memandangi wajah lelah mereka satu persatu dari balik jendela rumah kami. Tampak ibu yang sangat lelah berbaring di samping si bungsu dan aku melihat Vina ada juga di situ ikut berbaring.
           
Dari balik jendela, aku menangisi kepergianku yang tak pernah ku pilih jalannya. Semakin lama rasanya angin semakin menarik tubuhku yang mulai bertebaran seperti butir-butir debu, perlahan untuk terakhir kalinya aku masih ingin melihat mereka membalas lambaian tanganku, terebih lagi Vina yang seharusya melambaikan tangannya saat ke berangkatanku pagi tadi.
           
Mungkin aku harus menerima semua ini, walau aku tak mengerti entah apa yang terjadi padaku. Aku hanya merasa mereka telah salah karena menagisi sebatang badan yang mereka sangaka itu aku, pada hal nyata-nyatanya aku masih merasa hidup dan sedang memeperhatikan mereka. Namun aku baru saja tersadar, bahwa maut telah mendahului kehidupan duniaku. Kini aku juga masih tak mengerti kenapa aku hancur menjadi butiran-butiran kecil yang mungkin sebentar lagi akan hilang entah kemana di bawa angin.
           
“Selamat tinggal semuannya, inilah akhir dari perjalananku. Maafkan aku jika harus pulang dengan lumuran darah dan sebatang badan yang pucat dan kaku tak berdaya di hadapan kalian. Untuk kekasihku Vina, aku mencintaimu tapi kini kita telah jauh berbeda, jangan pernah siksa dirimu dengan cintaku.”  

Senin, 09 Mei 2016

20 + 1 = Story


          Setiap orang memiliki pemikiran untuk hidup bebas, walau tak semuanya paham akan arti kebebasan sejati. Lebih banyak dari mereka yang menggap mereka adalah orang yang bebes. Ironi. Mungkin kebebasan hanyalah mitos atau hanya sebuah angan-angan kosong yang selalu menjadi bumbu-bumbu dalam kehidupan.

          Semua itu bagiku adalah omong kosong, sekosong pemikiran akan kebebasan itu. Aku hanya hidup dengan ikatan, aturan tradisi dan ajaran agama yang ku yakini benar, intinya aku tak tahu apa itu kebebasan. Mungkin akibat banyak hal yang mengikatku.

****

          “kita tidak bisa menikah, mas!"

          Seketika aku terdiam, sungguh kalimat yang sulit bagiku.

“Kenapa?”

“kita beda agama mas!, maaf aku selama ini tidak memberi tahumu.”

Akupun hanya terdiam kaku, hanya ku pandangi mata indah itu yang terus mengucurkan air mata. Ya. Sangat sedih melihat mata indahnya itu, ini mungkin jadi kali pertama mata itu menunjukan kesedihan pada mataku.

“aku harap mas, bisa mengerti. Maafin Shiva, mas!”, sambungnya sembari mengusap tangis yang tadi tak sengaja mengundang pilu.

Akupun memegang tangannya, mentapnya dengan memberikan keyakinan penuh.

“kamu memang benar, tapi haruskah kita mengakhiri semua ini?”, sekali lagi aku bertanya kepadanya.

“iya, mas. Aku mau kita harus menghentikan hubungan ini, anggap aja ini ujian kita sebagai hambaNya”. Jawabnya kembali tanpa ragu.

Pembicaraan kamipun akhirnya berujung pada perpisahan, sungguh sangat di sayangkan. Aku mencintainya dengan sepenuhnya dan kini dia pergi dengan alasan-Nya.

“Oh, apakah ini kehendak-Mu Allah!”, hatiku bertanya.

Aku hanya merasa kalau kami adalah budak yang terpisahkan oleh golongan, oleh ketidak adilan dan sengaja di pisahkan karena kitadak bebasan. Dalam hatiku aku menggugat Tuhan, aku meminta keadilanNya, aku hanya ingin hidup bahagia dengan Shiva.

“Tuha Maha Esa, kenapa ada banyak agama?”
“kenapa kami tidak di benarkan untuk menikah!”

Setiap hari aku mencari jawaban atas pertanyaanku, aku terus berusaha mencari jalan keluar ini semua. Hingga akupun bertemu seseorang yang bernama Daieng. Dia bukanlah seseorang pemuka agama, dia juga bukan ahli ataupun seorang guru besar. Hanya seorang petani yang berjalan pincang.

Awalnya aku hanya duduk sambil minum di pondoknya sambil memandang indahnya sawah yang terbentang menguning. Daiengpun datang kearahku, mungkin ia akan marah terlebih lagi raut wajah itu yang bercucuran keringat.

“punten, mas!”, tegurnya padaku.

Aku hanya tersenyum melihat kedatangannya, dia tersenyum dan wajahnya berubah berseri-seri. Sungguh aneh, tadi terlihat sanagt usang dan hanya tergambar rengutan yang sangar. Hanya saja setelah ia menyapaku, tergambar senyum yang begitu iklas pada wajahnya dan membuat wajahnya begitu berseri-seri.

“maaf, pak. Saya sudah lancang duduk disini!” ujarku dengan perasaan segan yang tiba-tiba muncul.

“oh, ndak pa-pa!. Silahkan, justru saya senang ada tamu yang datang melihat sawah saya”, balasnya kembali dengan penuh ketenangan.

Dengan penuh kekikukan akupun melanjutkan percakapan, kembali.

“saya hanya du-duk saja dan saya bukan tengkulak yang ingin membeli lahan atau hasil padi bapak”
“iya-iya, ndak  masalah toh mas”, jawabnya kembali.

Aku hanya membalasnya dengan senyum, sungguh keadaan yang sulit di jelaskan.

“maaf, kalau saya boleh tahu. Mas ini sebenarnya siapa?, dan ada keperluan apa datang ke sini?”

“saya Gian!, kedatangan saya kemari cuma sekedar melihat-lihat saja”

“oh, ya-ya!. Perkenal ken, saya Daieng”, ucapnya sambil menyodorkan tangannya.

Akupun menjabat tangannya, awalnya aku sangat terkesan dengan keramahannya. Kamipun bercerita sembari dia menyajikan teh dan memperlakukanku seperti tamu. Namun aku kembali terkejud dari penampilankusamnya. Ya. Entah dariman dia bisa tahu kegilisahan yang tengah aku alami.

“maaf, pak Daieng. Apakah bapak dukun?”, dengan rasa wak-was aku bertanya pada Daieng.

“bukan, aku cuma manusia biasa!”.

“lantas, kenapa bapak tahu kalau saya sedang gelisah!”

“nak Gian, darimana saya tahu kamu gelisah itu tidak penting. Yang terpenting saat ini, apa kegelisahanmu?. Siapa tahu, kita bisa mencari jalan keluarnya!”

Akupun menceritakan masalahku, atas keputusan Shiva yang tak mau menikah denganku. Tanpa ragu akupun menyampaikan  alasan yang Shiva berikan dan aku juga mengungkapkan kebingunganku, terhadap Tuhan dan agama yang jumlahnya banyak beserta ajarannya masing-masing.

“sepertinya saya bisa membantu masalah nak Gian!”, jawabnya dengan tenang kembali.

“lantas bagaimana?”, kemabali aku bertanya.

“saya akan menjab semua pertanyaan nak gian, tap tidak sekarang!”
“Jadi, kapan pak?”

“datanglah besok, saat senja seperti ini!”

Akupun menyetujui apa yang dia katakan, mungkin ia butuh waktu berfikir satu malaman untuk mencari dalil atas sebuah nasehat yang baik untukku. sungguh orang tua yang baik, meski aku dan pak Daieng baru kenal.

****

          Senja tampaknya hari ini akan ikut ambil bagian, mungkin ia sebagai saksi atas kebingunganku atau akan ikut tahu atas pertanyaanku. Meski aku sedikit ragu pada pak daieng.

          Akupun berjalan melintasi sawah yang di hiasi padi yang semakin menguning, hanya saja senja ini masih banyak petani yang beradi di sawah. Gubuk pak Daiengpun semakin tampak jelas di depan sana, walah sedikit perlahan tapi tak butuh waktu lama untuk sampai di gubuk pak Daieng.

          Entah kemana dia, tak kulihatpun dia sedang bertani. Tapi aku terus menunggunya, mungkin ada alasan lain mengapa ia tak kunjung tampak hingga saat ini. Haripun mulai gelap, aku memutuskan meninggalkan gubuk pak Daieng. Terimakasih pak Daieng, atas PHPnya.

          Namun saat baru beberap langkah aku menjauhi gubuk pak Daieng, tampak pak Daieng mendekat. Ia tersenyum ke araku.

          “maaf nak, saya sakit. Makanya saya terlambat!”

          “saya yang seharusnya meminta maaf pak, sudah merepotkan bapak”

          Kamipun bercerita sambil berjalan meninggalkan sawah yang semakin gelap di telan malam.

          Aku tak berani menagih janji pak Daieng. Perjalanan hari ini sepertinya tidak membuahkan apa-apa.

          “rumah saya, di sini nak!”, tunjuk pak Daieng pada sebuah rumah yang cukup megah walah masih semi permanen.

          “iya, pak. Saya pulang dulu ya?”
          Saat aku ingin pergi, pak Daieng menarik tanganku dan memberikan selembarsurat. Dia bilang kalu semua jawaban atas pertanyaanku dan masalahku ada pada suat itu. Sungguh aku tidak menyangka.

          “ingat, bacalah surat ini ketika nak Gian sampai di rumah. Renungkanlah isi dari surat ini.”

          “Terimakasi pak!”, ucapku padanya

          “iya, sama-sama. Nak Gian!”, balas pak Daieng mengakhiri pertemuan kami.
****

………..kebebasan dan Tuhan, bukanlah sebuah hal yang layak untuk di persamakan. Agama dan Tuhan bukanlah hal perbandingan.

Ketahuilah agama bukan sebuah ikatan yang mengekang pemeluknya, agama hanyalah tuntunan untuk seorang hamba menuju Tuhan. Tuhan Maha Esa, walau agama banyak tak semata-mata membagi ke-Esaan Tuhan. Kebenaran mutlak lekat pada jiwa yang mencintai Allah bukan mencintai ciptaannya karena nafsu.

       Carilah kebenaran tentang-Nya, tapi jangan percayai apa yang hanya kamu lihat. Sesungguhnya kebebesan bukanlah tentang keinginan, kemauan dan lantas memuaskan nafsu. Tapi nafsu adalah kurungan yang mengekang manusia pada kebebasan sesungguhnya.

       Manusia di ciptakan bukan untuk mencari kebebasan, tapi untuk menyembah kepada-Nya. Kata kebebasan adalah jebakan yang nyata dalam dunia yang fana ini. Bebas memakan apa saja, bebas menikahi siapa saja, dan bebas berbuat apa saja, sesungguhnya itu semua adalah muslihat.

          Sepucuk surat yang membuat aku menggil membacanya, entah darimana pak Daieng bisa menuliskannya. Uasi membacanya aku terbayang akan perbuatanku selama ini, perbuatanku saat bersama Shilva. Aku membelainya, menciumnya dan bercinta dengannya tanpa aku sadari itu adalah larangan agama.

          “ya Allah, aku sungguh tersesat dalam maksiat”

****
          Akupun memutuskan untuk kembali mencari pak Daieng, mengucapkan terimakasi. Tapi sangat di sayangkan, gubuk pak Daieng sulit untuk ke temui karena kondisi panen raya. Aku memutuskan untuk kerumahnya namun aku sangat terkejut, seribu terkejut. Rumah pak Daieng tak ada. Menurut keterangan dari warga setempat, Daieng adalah sesepuh kampung yang sudah lama menghilang entah kemana.

          Aku merinding mendengarnya, sungguh sangat terkejut rasanya di tambah lagi tubuhku ikut menggigil dan jantungku berdebar menandakan ketakutan hebat. Banyak dari mereka yang menganggapku berbohong namun mereka meyakikan aku kalu Daieng sudah lama di cari keberadaanya, anehnya kenapa aku yang dianggap berbohong. Sebagian dari mereka juga berpendapat kalau Daieng telah mati dan mungkin aku hanya bermimpi.

“Benarkah aku bermimpi?”



Senin, 04 April 2016

Lantai 2 part II


 
          Waktu kini tak lagi akan berulang, hanya ada hari-hari yang melelahkan. Mungkin untuk dia yang menunggu ketidak pastian, akan sebuah pengharapan yang tengah ia tunggu dan berlalu bersama orang lain. Ia hanya bisa melihat dan mengagumi dengan segenap ke-kikukkannya.

          Ini mungkin semester akhir Dika untuk berkuliah, semua telah ia leweti dengan komitmennya. Termaksud komitmen untuk wisuda di tahun ke empat. Yah, sidang meja hijau hari ini tengah menunggu. Bisa jadi ini akan memberikan tekannan pada Dika, atau hanya sedikit kecemburuan pada teman-temannya yang hari ini di dampingi oleh masing-masing pacarnya.

          Setidaknya sidang meja hijau hanya di peruntukkan bagi calon sarjana dan pasti tidak harus menghadirkan pacar sebagai pendamping. Walau bagi mereka dukungan emosional akan berpengaruh dengan ferforma mereka saat menjawab pertanyaan para dosen.

          “Hemnhhh”, Dika sedikit lemas meratapi kesunyian disampingnya.

          Dika hanya berdiam diri sembari menunggu beberapa menit lagi untuk masuk keruangan sidang, sementara teman-temannya terus gelisah. Hanya saja kegelisahan mereka selalu di lerai dengan motivasi dari pendampingnya.

          Akhirnya Dikapun melangkah masuk ke dalam ruangan sidang, hanya Dika dan para penguji yang merupakan dosen Dika. Semuanya terlihat senyum dan hanya menampakkan suasana hati yang senang. Tidak setegang pemikiran teman-teman Dika lainnya yang ingin sidang.

          Persidangan dimulai dengan sangat santai. Dika terus berusaha menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang semakin mengkrucut pada kesimpulan skripsi miliknya. Perlahan tapi pasti semuanya berjalan begitu mulus, walau membuat Dika banjir keringat. Setidaknya persidangan usai dengan hasil yang memuaskan.  Iapun ke luar melangkah ringan, seperti seekor burung mengepakkan sayapnya mengudara bebas.

          “Hay, Dik!” tegur bang Jaya.

          “hay”, balas Dika dengan sangat antusias.
          “selamat, ya!”, sambung lelaki itu sembari menyodorkan tangannya.

          “Iya, makasi Bang!”, balas Dika menjabat tanganya.

          Merekapun duduk di kursi dekat tangga. Dika dan jaya bercerita layaknya saudara yang saling merindukan. Mungkin karena Dika sudah satu setengah tahun tidak bertemu Jaya yang telah duluan wisuda, keduanya tetaplah akrab bagai seniordan junior.

          Saat asyik bercerita tiba-tiba percakapan mereka harus terhenti, bukan karena ada sebuah insiden atau kecelakaan. Percakapan keudannya terhenti saat Putri datang dan mengalihkan pandangan Dika yang sejak tadi hanya bertatap muka dengan jaya.

          “Bang, ayo kita pulang”, ajak Putri pada jaya.

          “iya, bentar”, bantah Jaya dan melanjutkan ”Oia, dek. Kenalin ini Dika temen Abang”. Ujarnya sembari mendongakkan pandangan ke arah putri.

          Dika dan Putripun berjabat tangan, ini jabatan tangan kesekian kalinya. Walau sedikit aneh tapi tetap saja Dika menahan rasa cemasnya yang datang tidak tepat waktu itu.

          “Oia, Dik. Putri ini tunangan Abang”, tanpa ragu Jaya mengatakannya.

          “Hemnh”, Dika tersenyum.

            Tapi saat jaya usai menyampaikan berita bahagianya, iapun mohon diri untuk pulang bersama tunangannya itu.

          Dika mehan kecewa dan terus memandangjauh ke arah lambaian tangan Jaya yang membawa Putri pergi bersamanya. Perlahan hilang di tengah hijaunya suasana kampus yang mulai senja.

*****

          Hari ini adalah hari yang sangat di nanti oleh semua mahasisiwa, mereka mengenakan toga sebagai perlambang ke arifan ilmu yang telah mereka ampu. Tampak semuanya saling bersalam-salamman mengucapkan selamat. Atas wisda di hari yang indah ini banyak pula yang menitihkan air mata bahagia dan ada yang berfoto seolah-olah hari ini takkan pernah terulang  kembali.

          Namun Dika hanya bisa mengurut dada dan dengan berat hati menatap dari kejauhan indahnya gedung tempat ia berkuliah, ada banyak ruangan dan fasilitas yang sering ia gunakan. Lantas tampaknya pengunjung setia lantai dua fakultas ini, harus rela melepas intaiannya setiap pagi. Putri Sri Rahayu, kini hanya sebuah nama yang akan tertulis bersanding dengan nama seniornya. Yah. Mendengar keduanya telah bertunangan, pastilah sangat tidak mungkin bagi Dika untuk mendekati putri.

          Adai waktu bisa berulang, andai saat itu Dika memiliki sedikit keberanian dan kesempatan. Mungkin saja hari ini akan menambah kebahagiannya atau setidaknya rasa yang ia miliki telah ia ungkapkan pada Putri, tidak pada lanatai dua. Hanya ada senyuman dan kedipan mata yang terpasang pada pada wajah Dika, mengingat semuanya harus ia tinggalkan dan harus Dika relakan.

          Mungkin hanya ada dua pilihan saat dilanda asmara, mengungkapkannya atau menyimpannya. Bila mengungkapkannya, saat itu hanya ada kebahagiaan jika diterima dan hanya ada kepastian bila di tolak. Namuan bila menyimpannya, hanya ada senyuman dan kedipan mata yang memaksa untuk melupakanya serta menyeretkan kaki untuk beranjak pergi.”