Selasa, 02 Februari 2016

Januari Itu Luka (Part I)




Awan menanpakkan pergantian musim, memamerkan kegelapan yang mendung sebagai tanda akan menurunkan hujan. Hujan yang sudah beberapa bulan belakangan ini jarang sekali mengguyur. Mungkin ini akana jadi hujan pertama diawal januari. Ya. Mungkin, untuk januari yang luka.


           Aku masih ingat betapa merahnya pipi Riskha saat itu, saat aku menggenggam tangannya dan menyatakan cinta. Cinta seorang sahabat yang berubah menjadi cinta seorang kekasih. Dia tersenyum kembali melirik ke arahku, sedikit dengn tatapan malu-malunya yang kian membuatku berdebar penuh tanda tanya.

          “Apa ini, Li?”, tanya Riskha mencari tahu akan hadiah yang kuberikan.

          “Bom!”

          “Ihhhh, masa iya!”, balasnya kembali melanjutkan, “yaudah, aku buka sekarang, ya?”

          “Silahkan, neng!”, jawabku menggodanya.

          Iapun membuka bungkus kado yang tadinya sangat rapi menyembunyikan isi di dalamnya. Namun penasarannya seketika menjelma menjadi tawa, menyempurnakan senyum yang tadi tergambar pada wajahnya yang malu-malu. Sangat cantik terlihat wanita ini.

          “Li kok bisa gini?”, tanya Riskha penuh gembira.

          “Iya aku yang membuatnya sendiri!”, jawabku membalas tawanya yang indah.

          “Masi, iya. Li!”

          “kamu suka?”, tanyaku kembali.

          “Iya, aku suka sekali!”

          Riskha sangat senang bukan main, menerima hadiah yang ia anggap sangat istimewa. Seistimewa cintaku padanya. Akupun diam sejak, sembari menenangkan perasaan yang penasaran akan pertanyaan yang belum terjawab.

          “Ris!”, panggilku padanya kembali, “aku pengen kita jadian!”, sambungku menggenggam tangannya dan menatapnya dengan sangat serius.

          “emnhh”, ia tampak gugup.”Aku juga sama Li!”, sambungnya.

          Kini aku yang senang kegirangan, setelah sekian lama menunggu hari ini dan akhirnya datang, terasa begitu nyata. Menyatakan cinta dan diterima.

          Suungguh hari yang sangat menyenangkan, kamipun melewatinya dengan nostalgia asmara kami yang pertama, januari 2015 yang akan ditulis dengan tinta kemesrasan pasangan baru. Baru jadian, di bulan januari yang akan berakhir.  

           ****
         
          Pagi ini kami ditugaskan untuk melakukan observasi secara berkelompok, aku mendapat kelompok yang terdiri dari enam orang. Ternyata tugas yang diberikan dosenku sangat menarik, menarik perhatianku pada wanita yang super aktif di kelas kami.

          Hampir tiga semester berakhir namun ini kali pertama aku medapat satu kelopok dengannya, namanya cantik dan unik seperti perawakan yang ada padanya. Riskha Pramujdi, anak seorang pengusaha sukses yang penampilan cukup sederhana. Ini yang membuat dia beda dari temen-temen cewek lainnya, ia selalu tampil seperti mahasisiwi sederhana pada umumnya. Walau terlahir kaya raya dan setiap hari bisnis menjadi perbincangan hangat di rumahnya, ia tidak tertarik memilih jurusan ekonomi dan malah tertarik dengan jurusan keguruan.

          Entah karena takdir atau kebetulan kami di pertemukana dalam satu kelompok observasi. Sejak hari kami bekerjasama dalam tugas kali ini, aku baru sadar kalau dia benar-benar istimewa. Setiap haripun aku habiskan waktuku untuk mendengarkannya berbicara. Di depannya aku menyembunyikan lidahku,  memilih diam dan sering meminta pendapatnya.

          “Saya selalu mengosongkan gelas saya setiap kali saya berbicara dengan orang baru”, seperti pendapat Om Bob Sadino, Si pengusaha sukses, seperti itulah aku menghadapainya setiap hari.

          Perlahan tapi pasti, akupun berhasil masuk kedalam daftar persahabatannya. Ia semakin sering memotivasi aku dan pada akhirnya aku menemukan momen serta hadiah istimewa yang akan aku jadikan kejutan untuk mendapatkan cintanya. Ya, cinta Riskha.

Hari itu jatuh pada tanggal 12 januari 2015, tepatnya hari dimana usianya bertambah. Aku senganja mengajaknya makan dengan dalih merayakan ulang tahunnya, ajakan itupun berhasil. Kamipun sepakat untuk makan di tempat biasa, di Hans Café. Tempat nongkrong anak fakultas olah raga.

Mungkin cuma kami mahasiswa fakultas ilmu sosial yang mangkal di Hans, tapi kami selalu heppy karena jarang teman-teman satu fakultas yang nongkrong di sini. Kalau di kantin fakultas kami, takutnya ada teman yang memergogi kami dan mungkin saja akan beredar isu-isu miring tentang kami. Selain isu itu tidak enak di dengar, aku takut takut isu itu membuat Riskha minder dan hubungan kamipun renggang. Akhirnyapun Hans café menjadi pilihan ideal tempat kami nongkrong.  

****
Tak terasa duajam sudah berlalu, dua jam bersama pacar baru yang dulunya teman. Kamipun beranjak, kali ini aku akan mengantarnya hingga sampai kost.

“silahkan, naik Non!”

“Emnhh, ada-ada aja?”, gumam bibir indahnya.

Riskha dan akupun berboncengan mesra, ya setidaknya ia saat ini merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Namun ia tidak merangkulku seperti kebanyakan perempuan yang pernaha aku pacari. Ide nakalpun akhirnya timbul bersama bisikan setan. Akupun mendadak ngerem dengan sengaja.

“iihh!”, Riskha mencubitku.

“Hahaha”, bukannya terkejut atau marah, aku malah tertawa geli.

Sepertniya dia protectif meski tidak terlalu over,  wanita yang sangat langka untuk di temui. Selain luwes dalam bergaul dan cerdas ternyat dia sangat menjaga kehormatannya dengan sangat rapi, kali pertama aku menemukan wanita yang seperti ini. Akupun bertambah penasaran, penasaran seberapa mampun ia menahan bisikan setan yang selalu berada di kiri dan kanan kami.

Akhirnyapun kami sapai di kost Riskha, iapun turun dari metic milikku. Wajahnya tampak sedikit manyun, mungkin sedikit kecewa denganku. Akupun mencoba kembali membujuknya.

“Ris, maaf ya soal tadi!”

“emnhh”, dia tersenyum dan melanjudkan, “iya, jangan di ulangi lagi ,ya!”

“Iya, sayang!”, kali ini aku yang seperti setan menggodanya.

Iyapun tak membalasnya dengan kata-kata, melainkan menarik hidungku.

“oke-oke!”, isyaratku padanya mencoba melepeskan tangan Riskha yang masih menempel di hidungku.

“makanya, jangan genit kali. Entar hidungmu bakalan belang!”, gerutunya.

“yaudahla, aku pulang dulu ya?”

“iya, hati-hati ya!”, balasnya melambaikan tangan.

  Hari-haripun terus berbunga, berbunga kasih yang sangat indah. Aku tak menyangka ada rasa cinta yang indah tanpa harus bercinta. Ya, aku tak pernah membubuhkan ciuman hangat padanya dan Rskha sebaliknya, ia lebih cerewet dari biasanya. Katanya kita belum mukhrim jadi enggak usah pakek cium-ciuman atau sejenisnya. Kadang-kadang aku menghiraukannya dan menggenggam tangan indahnya, saat itu juga ia menjewerku atau menarik hidungku.

Aku mulai terbiasa dengan komitmen yang ia terapkan, biasanya saat pacaran dengan siapapun aku sering selingkuh dengan satu orang atau dua orang cewek lain bahkan lebih. Tapi kali ini hasrat itu hilang dan bahkan aku jarang meninggalkan sholat atas anjurannya dan berusaha untukn menjadi laki-laki baik seperti impiannya, seorang imam rumah tangga yang baik. Baik, walaupun itu masih lama lagi.

****
          Hunbungan kamipun hampir satu tahu dan tinggal menghitung hari, satu tahu bersamanya setidaknya banyak merubah pola pandangku terhadap cewek. Dulunya aku lebih suka menyakiti kaum mereka dan bersenang-senang dengan nafsu yang ku humbar, klabing, mesum dan PHP, dulunya nama tengahku. Nama tengah saat aku tidak di lingkungan kampus, di kampus aku masih dikenal sebagai anak baik dan kata sebagian mereka culun. Si culun yang mereka lihat adalah bajingan di dunia malam, itulah ledekan yang sering  di lontarkan Jony padaku, karena memang cuma dia teman satu kampusku yang tahu semua tentangku begitupun aku yamg tahu semua tentang dia. Kami memiliki kesamaan, sama-sama suka bersandiwara.   

          Semuanya hampir tak tersentuh lagi, sejak menjadi kekasih Riskha. Tapi kali ini aku terkena demam, deman rindu akan dirinya. Hampir seminggu dia tidak masuk kuliah di awal semester ini. Akupun mencoba menghubunginya tapi pacarku itu tak pernah menjawab dan tak ada kabar dari teman-teman satu kostnya. Aku tak meragukan kesetiannya, aku hanya khawatir pada rasa rindu ini yang akan merayuku untuk melangkah pada perselingkuhan atau kebiasaan lama.

          Haripun terus berganti dan besok adalah hari istimewa itu, tapi Riskah entah kemana. Akupun sering melamun dan kuliah sudah lagi tak penting bagiku, akhirnya Jony mengajakku ke klabing. Aku ingin menolknya tapi rasanya mustahil, karena Jony bilang di klabing ia akan menemui seseorang yang satu kampung dengan Riskha dan bahkan dia bertetangga dengan Riskha. Aku pasti bisa dapat informasi tentang Riskha darinya.

          Kamipun berangkat sesudah aku menyelesaikan sholat isyaku, aku berdoa agar aku tidak lagi terjebak di dalam alunan musik DJ klabing. Niatku tulus untuk mencari informasi dari orang yang akan di kenalkan Jony padaku.
         
          “Li. Kenalin ini Mira!”, tunjuk Jony pada wanita yang sedang duduk dihadapan kami.

          “Mira!”, ucapanya sambil menjabatkan tangannya.

          “Lisman!”, balasku tak menjabat tangannya.

          “Dia, orangnya. Jon?”, tanyaku langsung pada persoalan.

          Jony tersenyum dan melirik penuh dengan misteri kearah Mira.

          “Iya, tapi Mira kurang suka dengan laki-laki yang to the poin”, balas Jony semakin membuatku curiga.

          Mirapun tersenyum dan menyuguhkan minuman hangat, ya sehangat ciuman yang sedang dijanjikan bibirnya. Akupun menjaukan minuman haram itu, minuman itu hangat hanya pada saat setan lengket pada tenggorokan peminumnya. Itu v*dka yang akan membuatku tidak bisa sholat hingga 40 hari.

          “Maaf, aku tidak suka v*dka!”, tolakku blak-blakan.

          “Kalau rokok, gimana?”, iapun menyuguhkan mentol putih ketanganku.

          Jony hanya tersenyum melihat aku dan Mira yang sepertinya sedang bernegosiasi.

          “Aku cuma mau tahu sola Riskha!”, sentakku pada Mira, “jadi jangan lagi mengulur-ngulur waktu!”.

          “kau enggak seperti yang di bilang Jony. Pandai merayu dan manrik!”

          Akupun meninggalkan mereka, rasanya kedatanganku sia-sia. Tapi Jonypun menyusulku dan membujukku.

          “Li, jangan gitu. Mira memang suka becanda!”

          “apa mau dia, aku udah enggak mau lama-lama disini Jon!”, sentakku pada Jony dengan tegas, “kau tahukan, aku udah lupain semua ini!”

          “iya-iya, aku ngerti. Oke kali ini aku yang bujuk dia”

          Akupun kembali duduk dengan mereka, akhirnya mira membuka mulutnya dan menceritakan tentang apa dan kenapa Riskha tidak masuk kuliah. Bukannya membuatku lega tapi lagi-lagi Mira memancing amarahku dan menaikkan birahiku.

          “enggak, mungkin. Riskha enggak mungkin merit!”

          “kenapa?”, tanya mira padaku sambil mengelus tanganku.

          Aku menjaukan tangaku dan hanya diam kehabisan kosakata.
         
          “apa kau berani bertaruh?”, sambung Jony.

          “iya, kalau perkataan aku tidak terbukti. Kalian bebas mau ngapaina aku!”, dia terlihat sangat yakin.

          Aku melihat kesal kearah Jony, namun temanku ini terlihat sangat gembira. Entah apa yang ia gembirakan.

          “Aku enggak setuju, temakasi informasinya dan aku enggak percaya!”

          “Emnhh”, wanita itu tersenyum menggelengkan kepala, ”Li, Rikha anak baik dan selalu menjaga perasaan orang!”

          “Terus, apa mungkin dia nyakitiin perasaan aku?”, balasku dengan percaya diri.

          “Iya, kau benar. Dan dia jugak enggak akan nyakitin perasaan orang tuanya!”

          “Maksudmu?”, tanyaku atas penjelasan Mira yang bercabang.

          “Dia dijohkan dan semester ini Riskha ngambil cuti”

          “Tapi, kenapa dia enggak ngasi tahu aku?”

          “Mungkin, kau enggak begitu penting!”, balas Mira sambil beranjak dari tempat duduknya.

          “Tunggu!”, panggilku padanya.

           “Ada apa, Li?. Mau ngajak aku minum” 

          “Mungkin kau benar, aku enggak penting. Tapi apa untungnya kau nyapaikan ini semua sama aku, disini?”, tanyaku pada Mira, karena merasa kalau pertemuan ini sangat ganjil.

          “Terus, harus dimana?, WC!”, nada suara Mira semakin meninggi.

          Jony hanya melihat kami dengan wajah tak berdosanya. Aku semakin yakin ada hal lain yang mereka sembunyikan.

          “Jon, apa maksudnya ini?”, tanyaku dan melirik sinis kearahnya.

          “Emnhh, kau lupa. Li?”, tanya Jony kembali.

          “Lupa apa?”, aku semakin bingung.

          “Mira itu mantanmu, makanya aku ajak kau ketemu dia”

          Mendengar ocehan Jony sepertinya aku tersambar petir, pelan-pelan aku mencoba mengingatnya. Ternyata benar, Mira mirip dengan Afni hanya saja rambutnya yang gonjes dan make-up yang menor sedikit menyamarkannya.

          “Jadi ini rencanan kalin dan semuanya omongkosong tentang pernikahan Riskha?”, balasku mulai emosi.

          “Pernikahan Riskha memang benar, karena aku satu kampung dan kami tetanggan dekat” balas Afni.

          “Oke, aku rasa semuanya udah jelas. Makasih Jony dan makasi Afni, aku mau pulang!”

          “Tapi, Li. Duduklah lebih lama lagi, kita kan bisa bersenag-senang”, pinta Afni merayuku.

          “Maaf, aku sudah cuci tangan”, balasku pada mantanku itu dan menarik hidungnya. Perssi seperti yang dilakukan Riskha padaku.

          Akupun meninggalkan mereka tak perduli apa yang akan mereka lakukan, yang jelas malam ini terasa sangat dingin. Dingin yang merindukan kehangatan, kehangatan omelan Riskha.

          Aku tak lagi menunggu kedatamgannya atau telfon dari dia. Mungkin ini adalah karma yang menimpahku tanpa harus pamit dan memberikan alasan, sama seperti aku meninggalkan wanita-wanita itu. Setelah aku bercumbu dengan mereka dan aku mencari wanita lain dengan niat yang sama.

          Play boy, henmnhhh”

           

Selasa, 19 Januari 2016

Kenangan Yang Terlupakan





Kadang gelap dan kadang membuai dengan keheningan yang ia bawa. Mungkin sebuah nyanyiaan, nyanyian sendu yang terdengar begitu menyayat detik-detik akhir malam. Belakangan ini aku sangat khawatir dengan keadaannya, usianya mulai senja dan hampir membawa semua ingatannya. Saat aku duduk di dekatnya acap kali ia menanyaiku dengan petanyaan yang sama.

“Siapa kau?”.

          Dengan sedikit rasa kejenuhan bercampur sedih aku menjawab pertanyaannya,

“Ini Uun, Nek!”.

          Setelah aku menjawab pertanyaannya ia kemudian terdiam dan termenung, mungkin ia berfikir. Terlihat wajahnya yang sudah keriput semakin menyedihkan saat mata tua itu melirik ke arahku. Nenek apa yang harus aku katakan padamu, agar kau kembali mengingatku. Mengingat bayi mungil yang dulu engkau buai dalam pelukanmu, mengingat masa kanak-kanakku yang kadang nakal dan suka membuatmu khawatir.

          Saat hujan aku sering berlari menerjang hujan dan saat itu juga engkau mengejarku, memanggiku dan mengeringkan badanku dengan handuk hangat yang tadinya engkau kenakan untuk melindungi kepalamu dari tetesan hujan. Oh, aku saat itu sangat menyukai guyuran air hujan, tapi saat ini air mata Nenek yang sering kali terlihat mengguyur.

          Kini Nenek sudah berusia 97 tahun, nyaris satu abad ia lewati. Andai saja matanya bisa memperlihatkan apa yang telah ia lihat dari masa ke masa. Mungkin saja aku dapat melihat tubuh mungilku dan tikah nakalku, atau aku bisa melihat betapa tampannya wajah kakek saat masih menjadi pengantin yang bersanding duduk manis dengan nenek.

          Kakek adalah orang yang paling awal meninggalkan Nenek, diikuti dengan kepergian satu orang anak bungsu nenek dan dua orang putrinya yang baru-baru ini meninggal. Takdir tak selalu berleha-leha bagai buaian hangat yang Nenek berikan, akhirnya saat ini Nenek tinggal sendirian dirumahnya. Terpisah dari Anak-anaknya dan cucunya. Kenyataan yang kadang membuatku enggan melangkahkan kaki kerumah Nenek, bahwa aku memiliki kesibukan lain dan ditambah lagi rumah Nenek yang cukup jauh.

          Maaf Nek, aku tidak bisa terus berada di dekat Nenek. Andai saja ada sebagian dari mereka yang mau bergantian untuk menjaga Nenek. Setidaknya mereka bisa mendengar  rintihannya yang terdengar sendu.

*****

          “Miun mau makan Nek?”, pintaku lembut padanya.
         
          “Sebentar, ya. Nek!”, balas Nenek sembari menyalakan kompor.

          Saat itu kami belum mengenal kompor gas ataupun tabung gas, yang kami gunakan untuk memasak hanyalah kopor dan minyak tanah. Yang setiap hari jumlahnya sudah semakin langkah.

          Makanan khas yang di suguhkan Nenekpun berbeda dengan makanan yang Ibu buatkan untukku. Nenek sering membuatkan aku kepingan roti yang bentuknya seperti telur dadar, katanya martabak tapi rasanya tidak begitu mengecewakan. Hanya berbahan tepung roti yang di aduk dalam air dan sedikit tambahan gula, kemudian di goreng dengan sedikit minyak. Ya, kata Nenek rasanya akan lebih enak kalau minyaknya diganti dengan mentega.

          Biasanya saat malam, kue dadar nenek selalu menjadi santapan wajib sebelum aku tidur dipangkuannya. Kue itu semakin enak jika di santap saat hangat, rasanya ada semacam bumbu rahasia yang tidak aku ketahui. Itu terbukti saat sekarang ini, aku mencoba membuatnya sendiri dan tetap saja rasanya tak seenak buatan Nenek.

          Berkali-kali aku mencoba belajar dari nenek dan memahaminya, tapi usaha itu sepertinya sia-sia. Sekarang aku masih merindukan kue dadar buatan Nenek dan tidur kembali di pangkuannya, mendengar ceritanya dan di nina bobokkannya. 


Kenangan itu saat ini hanya ada dalam benaknya dan benakku, tak tahu entah Nenek masih mengingatnya. Setidaknya kenangan itu sangat indah meski aku kadang sedikit geli dan malu jika mengingatnya.

*****

“Nek, kita makan yuk”, ajakku pada Nenek.

“Emnhh”, Nenek mengangguk dengan bingung.

Aku harap kali ini ia tidak betanya, siapa aku?.

“Ayo, Nek!”, akupun menunutun langkah rentahnya menuju meja makan.

Tak lama iapun duduk di meja makan, ia terus memandangi aku yang tengah sibuk menyiapkan bubur nasi untuknya serta teh hangat yang tak terlalu pekat dan tidak terlalu manis. Yah, teh manis hangat yang tak terlalu pekat dan tak terlalu manis, dulunya aku juga sering meminumnya saat Nenek masih mengasuhku.

“Un”, tiba-tiba Nenek memanggilku.

“Iya, Nek!”, aku sedikit terkejut.

“Mau makan kue dadar kau!”, balas nenek kembali sedikit terbata dan gemetar.

“iya, Nek”, jawabku dengan rasa bahagia bercampur terkejut serta tak mengerti.

Nenekpun berdiri meski sedikit gemetaran, aku yang melihatnya langsung meninggalkan piring yang tadinya kupegang. Ku rangkul tubuhnya yang rentah itu dan aku memapahnya, perlahan menuju kompor. Meski aku tak yakin dengan apa yang baru aku dengar dan aku lihat, tapi rasa bahagiaku mengatakan Nenek akan segera membuatkanku kue dadarnya yang enak.

Tapi langkahnya tak sejauh yang ia mau, iapun menarik langkahku untuk duduk kembali. Akupun mendudukkan Nenek di kursi yang terdekat.

“Aduhhh”, keluhnya.

“kenapa Nek!”, tanyaku.

“Enggak sanggup Nenek Un!”, balasnya kembali.

“yaudah Uun aja yang masak!”

“hemnhh”, balas Nenek menggelengkan kepala.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk memasak kue dadar, kali ini aku berharap rasanya tidak seburuk seperti hari sebelumnya. Meski tidak seenak buatan Nenek setidaknya rasanya enak dan tidak terlalu manis.

“Ini, Nek!”,

Aku menyulangkannya dengan pelan-pelan, Nenekpun menyantapnya. Sejauh ini belum ada komentar ataupun keluhan, hatiku berdebar-debar tak beralasan. Rasa penasaran dan takut, takut kalau kue dadar buatanku tidak enak, mulai bergejolak dan menimbulkan rasa penasaran.

“enak, Nek?”, tanyaku padanya.

Tak ada jawaban, ia hanya menatapku dengan pandangan kebingungan. Sehingga aku hanya bisa diam dan menyulanginya kembali.

“Cucuku si Minun, sukak kali makan kue ini. Tapi dia udah jarang kemari”

Tidak, tidaklah mungkin. Akulah Miun Nek, cucu Nenek. Tapi kenapa Nenek malah menggumam kepadaku seolah aku orang lain, seolah Nenek tak mengenalkku. Maaf Nek, maaf kalau Miun jarang kerumah Nenek. Tapi jangan lupakan Miun, jangan Nek. Tangisku membatin, mendengar ucapan Nenek.