Awan menanpakkan
pergantian musim, memamerkan kegelapan yang mendung sebagai tanda akan
menurunkan hujan. Hujan yang sudah beberapa bulan belakangan ini jarang sekali
mengguyur. Mungkin ini akana jadi hujan pertama diawal januari. Ya. Mungkin,
untuk januari yang luka.
Aku masih ingat betapa merahnya pipi Riskha
saat itu, saat aku menggenggam tangannya dan menyatakan cinta. Cinta seorang
sahabat yang berubah menjadi cinta seorang kekasih. Dia tersenyum kembali
melirik ke arahku, sedikit dengn tatapan malu-malunya yang kian membuatku
berdebar penuh tanda tanya.
“Apa
ini, Li?”, tanya Riskha mencari tahu akan hadiah yang kuberikan.
“Bom!”
“Ihhhh,
masa iya!”, balasnya kembali melanjutkan, “yaudah, aku buka sekarang, ya?”
“Silahkan,
neng!”, jawabku menggodanya.
Iapun
membuka bungkus kado yang tadinya sangat rapi menyembunyikan isi di dalamnya.
Namun penasarannya seketika menjelma menjadi tawa, menyempurnakan senyum yang
tadi tergambar pada wajahnya yang malu-malu. Sangat cantik terlihat wanita ini.
“Li
kok bisa gini?”, tanya Riskha penuh gembira.
“Iya
aku yang membuatnya sendiri!”, jawabku membalas tawanya yang indah.
“Masi,
iya. Li!”
“kamu
suka?”, tanyaku kembali.
“Iya,
aku suka sekali!”
Riskha
sangat senang bukan main, menerima hadiah yang ia anggap sangat istimewa.
Seistimewa cintaku padanya. Akupun diam sejak, sembari menenangkan perasaan
yang penasaran akan pertanyaan yang belum terjawab.
“Ris!”,
panggilku padanya kembali, “aku pengen kita jadian!”, sambungku menggenggam
tangannya dan menatapnya dengan sangat serius.
“emnhh”,
ia tampak gugup.”Aku juga sama Li!”, sambungnya.
Kini
aku yang senang kegirangan, setelah sekian lama menunggu hari ini dan akhirnya
datang, terasa begitu nyata. Menyatakan cinta dan diterima.
Suungguh
hari yang sangat menyenangkan, kamipun melewatinya dengan nostalgia asmara kami
yang pertama, januari 2015 yang akan ditulis dengan tinta kemesrasan pasangan
baru. Baru jadian, di bulan januari yang akan berakhir.
****
Pagi
ini kami ditugaskan untuk melakukan observasi secara berkelompok, aku mendapat
kelompok yang terdiri dari enam orang. Ternyata tugas yang diberikan dosenku
sangat menarik, menarik perhatianku pada wanita yang super aktif di kelas kami.
Hampir
tiga semester berakhir namun ini kali pertama aku medapat satu kelopok
dengannya, namanya cantik dan unik seperti perawakan yang ada padanya. Riskha
Pramujdi, anak seorang pengusaha sukses yang penampilan cukup sederhana. Ini
yang membuat dia beda dari temen-temen cewek lainnya, ia selalu tampil seperti
mahasisiwi sederhana pada umumnya. Walau terlahir kaya raya dan setiap hari
bisnis menjadi perbincangan hangat di rumahnya, ia tidak tertarik memilih
jurusan ekonomi dan malah tertarik dengan jurusan keguruan.
Entah
karena takdir atau kebetulan kami di pertemukana dalam satu kelompok observasi.
Sejak hari kami bekerjasama dalam tugas kali ini, aku baru sadar kalau dia
benar-benar istimewa. Setiap haripun aku habiskan waktuku untuk mendengarkannya
berbicara. Di depannya aku menyembunyikan lidahku, memilih diam dan sering meminta pendapatnya.
“Saya selalu mengosongkan gelas saya setiap
kali saya berbicara dengan orang baru”, seperti pendapat Om Bob Sadino, Si
pengusaha sukses, seperti itulah aku menghadapainya setiap hari.
Perlahan
tapi pasti, akupun berhasil masuk kedalam daftar persahabatannya. Ia semakin
sering memotivasi aku dan pada akhirnya aku menemukan momen serta hadiah
istimewa yang akan aku jadikan kejutan untuk mendapatkan cintanya. Ya, cinta Riskha.
Hari itu jatuh pada
tanggal 12 januari 2015, tepatnya hari dimana usianya bertambah. Aku senganja
mengajaknya makan dengan dalih merayakan ulang tahunnya, ajakan itupun
berhasil. Kamipun sepakat untuk makan di tempat biasa, di Hans Café. Tempat
nongkrong anak fakultas olah raga.
Mungkin cuma kami
mahasiswa fakultas ilmu sosial yang mangkal di Hans, tapi kami selalu heppy karena jarang teman-teman satu
fakultas yang nongkrong di sini. Kalau di kantin fakultas kami, takutnya ada
teman yang memergogi kami dan mungkin saja akan beredar isu-isu miring tentang
kami. Selain isu itu tidak enak di dengar, aku takut takut isu itu membuat Riskha
minder dan hubungan kamipun renggang. Akhirnyapun Hans café menjadi pilihan
ideal tempat kami nongkrong.
****
Tak terasa duajam sudah
berlalu, dua jam bersama pacar baru yang dulunya teman. Kamipun beranjak, kali
ini aku akan mengantarnya hingga sampai kost.
“silahkan, naik Non!”
“Emnhh, ada-ada aja?”,
gumam bibir indahnya.
Riskha dan akupun
berboncengan mesra, ya setidaknya ia saat ini merasakan apa yang aku rasakan
selama ini. Namun ia tidak merangkulku seperti kebanyakan perempuan yang
pernaha aku pacari. Ide nakalpun akhirnya timbul bersama bisikan setan. Akupun
mendadak ngerem dengan sengaja.
“iihh!”, Riskha
mencubitku.
“Hahaha”, bukannya
terkejut atau marah, aku malah tertawa geli.
Sepertniya dia protectif meski tidak terlalu over, wanita yang sangat langka untuk di temui.
Selain luwes dalam bergaul dan cerdas ternyat dia sangat menjaga kehormatannya
dengan sangat rapi, kali pertama aku menemukan wanita yang seperti ini. Akupun
bertambah penasaran, penasaran seberapa mampun ia menahan bisikan setan yang
selalu berada di kiri dan kanan kami.
Akhirnyapun kami sapai di
kost Riskha, iapun turun dari metic milikku. Wajahnya tampak sedikit manyun,
mungkin sedikit kecewa denganku. Akupun mencoba kembali membujuknya.
“Ris, maaf ya soal tadi!”
“emnhh”, dia tersenyum dan
melanjudkan, “iya, jangan di ulangi lagi ,ya!”
“Iya, sayang!”, kali ini
aku yang seperti setan menggodanya.
Iyapun tak membalasnya
dengan kata-kata, melainkan menarik hidungku.
“oke-oke!”, isyaratku
padanya mencoba melepeskan tangan Riskha yang masih menempel di hidungku.
“makanya, jangan genit
kali. Entar hidungmu bakalan belang!”, gerutunya.
“yaudahla, aku pulang dulu
ya?”
“iya, hati-hati ya!”,
balasnya melambaikan tangan.
Hari-haripun
terus berbunga, berbunga kasih yang sangat indah. Aku tak menyangka ada rasa
cinta yang indah tanpa harus bercinta. Ya, aku tak pernah membubuhkan ciuman
hangat padanya dan Rskha sebaliknya, ia lebih cerewet dari biasanya. Katanya
kita belum mukhrim jadi enggak usah pakek cium-ciuman atau sejenisnya. Kadang-kadang
aku menghiraukannya dan menggenggam tangan indahnya, saat itu juga ia
menjewerku atau menarik hidungku.
Aku mulai terbiasa dengan
komitmen yang ia terapkan, biasanya saat pacaran dengan siapapun aku sering
selingkuh dengan satu orang atau dua orang cewek lain bahkan lebih. Tapi kali
ini hasrat itu hilang dan bahkan aku jarang meninggalkan sholat atas anjurannya
dan berusaha untukn menjadi laki-laki baik seperti impiannya, seorang imam
rumah tangga yang baik. Baik, walaupun itu masih lama lagi.
****
Hunbungan
kamipun hampir satu tahu dan tinggal menghitung hari, satu tahu bersamanya
setidaknya banyak merubah pola pandangku terhadap cewek. Dulunya aku lebih suka
menyakiti kaum mereka dan bersenang-senang dengan nafsu yang ku humbar,
klabing, mesum dan PHP, dulunya nama tengahku. Nama tengah saat aku tidak di
lingkungan kampus, di kampus aku masih dikenal sebagai anak baik dan kata
sebagian mereka culun. Si culun yang mereka lihat adalah bajingan di dunia
malam, itulah ledekan yang sering di lontarkan
Jony padaku, karena memang cuma dia teman satu kampusku yang tahu semua
tentangku begitupun aku yamg tahu semua tentang dia. Kami memiliki kesamaan, sama-sama
suka bersandiwara.
Semuanya
hampir tak tersentuh lagi, sejak menjadi kekasih Riskha. Tapi kali ini aku
terkena demam, deman rindu akan dirinya. Hampir seminggu dia tidak masuk kuliah
di awal semester ini. Akupun mencoba menghubunginya tapi pacarku itu tak pernah
menjawab dan tak ada kabar dari teman-teman satu kostnya. Aku tak meragukan kesetiannya,
aku hanya khawatir pada rasa rindu ini yang akan merayuku untuk melangkah pada
perselingkuhan atau kebiasaan lama.
Haripun
terus berganti dan besok adalah hari istimewa itu, tapi Riskah entah kemana.
Akupun sering melamun dan kuliah sudah lagi tak penting bagiku, akhirnya Jony
mengajakku ke klabing. Aku ingin menolknya tapi rasanya mustahil, karena Jony
bilang di klabing ia akan menemui seseorang yang satu kampung dengan Riskha dan
bahkan dia bertetangga dengan Riskha. Aku pasti bisa dapat informasi tentang
Riskha darinya.
Kamipun
berangkat sesudah aku menyelesaikan sholat isyaku, aku berdoa agar aku tidak
lagi terjebak di dalam alunan musik DJ klabing. Niatku tulus untuk mencari
informasi dari orang yang akan di kenalkan Jony padaku.
“Li.
Kenalin ini Mira!”, tunjuk Jony pada wanita yang sedang duduk dihadapan kami.
“Mira!”,
ucapanya sambil menjabatkan tangannya.
“Lisman!”,
balasku tak menjabat tangannya.
“Dia,
orangnya. Jon?”, tanyaku langsung pada persoalan.
Jony
tersenyum dan melirik penuh dengan misteri kearah Mira.
“Iya,
tapi Mira kurang suka dengan laki-laki yang to
the poin”, balas Jony semakin membuatku curiga.
Mirapun
tersenyum dan menyuguhkan minuman hangat, ya sehangat ciuman yang sedang
dijanjikan bibirnya. Akupun menjaukan minuman haram itu, minuman itu hangat
hanya pada saat setan lengket pada tenggorokan peminumnya. Itu v*dka yang akan
membuatku tidak bisa sholat hingga 40 hari.
“Maaf,
aku tidak suka v*dka!”, tolakku blak-blakan.
“Kalau
rokok, gimana?”, iapun menyuguhkan mentol putih ketanganku.
Jony
hanya tersenyum melihat aku dan Mira yang sepertinya sedang bernegosiasi.
“Aku
cuma mau tahu sola Riskha!”, sentakku pada Mira, “jadi jangan lagi
mengulur-ngulur waktu!”.
“kau
enggak seperti yang di bilang Jony. Pandai merayu dan manrik!”
Akupun
meninggalkan mereka, rasanya kedatanganku sia-sia. Tapi Jonypun menyusulku dan
membujukku.
“Li,
jangan gitu. Mira memang suka becanda!”
“apa
mau dia, aku udah enggak mau lama-lama disini Jon!”, sentakku pada Jony dengan
tegas, “kau tahukan, aku udah lupain semua ini!”
“iya-iya,
aku ngerti. Oke kali ini aku yang bujuk dia”
Akupun
kembali duduk dengan mereka, akhirnya mira membuka mulutnya dan menceritakan
tentang apa dan kenapa Riskha tidak masuk kuliah. Bukannya membuatku lega tapi
lagi-lagi Mira memancing amarahku dan menaikkan birahiku.
“enggak,
mungkin. Riskha enggak mungkin merit!”
“kenapa?”,
tanya mira padaku sambil mengelus tanganku.
Aku
menjaukan tangaku dan hanya diam kehabisan kosakata.
“apa
kau berani bertaruh?”, sambung Jony.
“iya,
kalau perkataan aku tidak terbukti. Kalian bebas mau ngapaina aku!”, dia
terlihat sangat yakin.
Aku
melihat kesal kearah Jony, namun temanku ini terlihat sangat gembira. Entah apa
yang ia gembirakan.
“Aku
enggak setuju, temakasi informasinya dan aku enggak percaya!”
“Emnhh”,
wanita itu tersenyum menggelengkan kepala, ”Li, Rikha anak baik dan selalu
menjaga perasaan orang!”
“Terus,
apa mungkin dia nyakitiin perasaan aku?”, balasku dengan percaya diri.
“Iya,
kau benar. Dan dia jugak enggak akan nyakitin perasaan orang tuanya!”
“Maksudmu?”,
tanyaku atas penjelasan Mira yang bercabang.
“Dia
dijohkan dan semester ini Riskha ngambil cuti”
“Tapi,
kenapa dia enggak ngasi tahu aku?”
“Mungkin,
kau enggak begitu penting!”, balas Mira sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Tunggu!”,
panggilku padanya.
“Ada apa, Li?. Mau ngajak aku minum”
“Mungkin
kau benar, aku enggak penting. Tapi apa untungnya kau nyapaikan ini semua sama
aku, disini?”, tanyaku pada Mira, karena merasa kalau pertemuan ini sangat
ganjil.
“Terus,
harus dimana?, WC!”, nada suara Mira semakin meninggi.
Jony
hanya melihat kami dengan wajah tak berdosanya. Aku semakin yakin ada hal lain
yang mereka sembunyikan.
“Jon,
apa maksudnya ini?”, tanyaku dan melirik sinis kearahnya.
“Emnhh,
kau lupa. Li?”, tanya Jony kembali.
“Lupa
apa?”, aku semakin bingung.
“Mira
itu mantanmu, makanya aku ajak kau ketemu dia”
Mendengar
ocehan Jony sepertinya aku tersambar petir, pelan-pelan aku mencoba
mengingatnya. Ternyata benar, Mira mirip dengan Afni hanya saja rambutnya yang
gonjes dan make-up yang menor sedikit
menyamarkannya.
“Jadi
ini rencanan kalin dan semuanya omongkosong tentang pernikahan Riskha?”,
balasku mulai emosi.
“Pernikahan
Riskha memang benar, karena aku satu kampung dan kami tetanggan dekat” balas
Afni.
“Oke,
aku rasa semuanya udah jelas. Makasih Jony dan makasi Afni, aku mau pulang!”
“Tapi,
Li. Duduklah lebih lama lagi, kita kan bisa bersenag-senang”, pinta Afni
merayuku.
“Maaf,
aku sudah cuci tangan”, balasku pada mantanku itu dan menarik hidungnya. Perssi
seperti yang dilakukan Riskha padaku.
Akupun
meninggalkan mereka tak perduli apa yang akan mereka lakukan, yang jelas malam
ini terasa sangat dingin. Dingin yang merindukan kehangatan, kehangatan omelan Riskha.
Aku
tak lagi menunggu kedatamgannya atau telfon dari dia. Mungkin ini adalah karma
yang menimpahku tanpa harus pamit dan memberikan alasan, sama seperti aku
meninggalkan wanita-wanita itu. Setelah aku bercumbu dengan mereka dan aku
mencari wanita lain dengan niat yang sama.
“Play boy, henmnhhh”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar