Selasa, 19 Januari 2016

Kenangan Yang Terlupakan





Kadang gelap dan kadang membuai dengan keheningan yang ia bawa. Mungkin sebuah nyanyiaan, nyanyian sendu yang terdengar begitu menyayat detik-detik akhir malam. Belakangan ini aku sangat khawatir dengan keadaannya, usianya mulai senja dan hampir membawa semua ingatannya. Saat aku duduk di dekatnya acap kali ia menanyaiku dengan petanyaan yang sama.

“Siapa kau?”.

          Dengan sedikit rasa kejenuhan bercampur sedih aku menjawab pertanyaannya,

“Ini Uun, Nek!”.

          Setelah aku menjawab pertanyaannya ia kemudian terdiam dan termenung, mungkin ia berfikir. Terlihat wajahnya yang sudah keriput semakin menyedihkan saat mata tua itu melirik ke arahku. Nenek apa yang harus aku katakan padamu, agar kau kembali mengingatku. Mengingat bayi mungil yang dulu engkau buai dalam pelukanmu, mengingat masa kanak-kanakku yang kadang nakal dan suka membuatmu khawatir.

          Saat hujan aku sering berlari menerjang hujan dan saat itu juga engkau mengejarku, memanggiku dan mengeringkan badanku dengan handuk hangat yang tadinya engkau kenakan untuk melindungi kepalamu dari tetesan hujan. Oh, aku saat itu sangat menyukai guyuran air hujan, tapi saat ini air mata Nenek yang sering kali terlihat mengguyur.

          Kini Nenek sudah berusia 97 tahun, nyaris satu abad ia lewati. Andai saja matanya bisa memperlihatkan apa yang telah ia lihat dari masa ke masa. Mungkin saja aku dapat melihat tubuh mungilku dan tikah nakalku, atau aku bisa melihat betapa tampannya wajah kakek saat masih menjadi pengantin yang bersanding duduk manis dengan nenek.

          Kakek adalah orang yang paling awal meninggalkan Nenek, diikuti dengan kepergian satu orang anak bungsu nenek dan dua orang putrinya yang baru-baru ini meninggal. Takdir tak selalu berleha-leha bagai buaian hangat yang Nenek berikan, akhirnya saat ini Nenek tinggal sendirian dirumahnya. Terpisah dari Anak-anaknya dan cucunya. Kenyataan yang kadang membuatku enggan melangkahkan kaki kerumah Nenek, bahwa aku memiliki kesibukan lain dan ditambah lagi rumah Nenek yang cukup jauh.

          Maaf Nek, aku tidak bisa terus berada di dekat Nenek. Andai saja ada sebagian dari mereka yang mau bergantian untuk menjaga Nenek. Setidaknya mereka bisa mendengar  rintihannya yang terdengar sendu.

*****

          “Miun mau makan Nek?”, pintaku lembut padanya.
         
          “Sebentar, ya. Nek!”, balas Nenek sembari menyalakan kompor.

          Saat itu kami belum mengenal kompor gas ataupun tabung gas, yang kami gunakan untuk memasak hanyalah kopor dan minyak tanah. Yang setiap hari jumlahnya sudah semakin langkah.

          Makanan khas yang di suguhkan Nenekpun berbeda dengan makanan yang Ibu buatkan untukku. Nenek sering membuatkan aku kepingan roti yang bentuknya seperti telur dadar, katanya martabak tapi rasanya tidak begitu mengecewakan. Hanya berbahan tepung roti yang di aduk dalam air dan sedikit tambahan gula, kemudian di goreng dengan sedikit minyak. Ya, kata Nenek rasanya akan lebih enak kalau minyaknya diganti dengan mentega.

          Biasanya saat malam, kue dadar nenek selalu menjadi santapan wajib sebelum aku tidur dipangkuannya. Kue itu semakin enak jika di santap saat hangat, rasanya ada semacam bumbu rahasia yang tidak aku ketahui. Itu terbukti saat sekarang ini, aku mencoba membuatnya sendiri dan tetap saja rasanya tak seenak buatan Nenek.

          Berkali-kali aku mencoba belajar dari nenek dan memahaminya, tapi usaha itu sepertinya sia-sia. Sekarang aku masih merindukan kue dadar buatan Nenek dan tidur kembali di pangkuannya, mendengar ceritanya dan di nina bobokkannya. 


Kenangan itu saat ini hanya ada dalam benaknya dan benakku, tak tahu entah Nenek masih mengingatnya. Setidaknya kenangan itu sangat indah meski aku kadang sedikit geli dan malu jika mengingatnya.

*****

“Nek, kita makan yuk”, ajakku pada Nenek.

“Emnhh”, Nenek mengangguk dengan bingung.

Aku harap kali ini ia tidak betanya, siapa aku?.

“Ayo, Nek!”, akupun menunutun langkah rentahnya menuju meja makan.

Tak lama iapun duduk di meja makan, ia terus memandangi aku yang tengah sibuk menyiapkan bubur nasi untuknya serta teh hangat yang tak terlalu pekat dan tidak terlalu manis. Yah, teh manis hangat yang tak terlalu pekat dan tak terlalu manis, dulunya aku juga sering meminumnya saat Nenek masih mengasuhku.

“Un”, tiba-tiba Nenek memanggilku.

“Iya, Nek!”, aku sedikit terkejut.

“Mau makan kue dadar kau!”, balas nenek kembali sedikit terbata dan gemetar.

“iya, Nek”, jawabku dengan rasa bahagia bercampur terkejut serta tak mengerti.

Nenekpun berdiri meski sedikit gemetaran, aku yang melihatnya langsung meninggalkan piring yang tadinya kupegang. Ku rangkul tubuhnya yang rentah itu dan aku memapahnya, perlahan menuju kompor. Meski aku tak yakin dengan apa yang baru aku dengar dan aku lihat, tapi rasa bahagiaku mengatakan Nenek akan segera membuatkanku kue dadarnya yang enak.

Tapi langkahnya tak sejauh yang ia mau, iapun menarik langkahku untuk duduk kembali. Akupun mendudukkan Nenek di kursi yang terdekat.

“Aduhhh”, keluhnya.

“kenapa Nek!”, tanyaku.

“Enggak sanggup Nenek Un!”, balasnya kembali.

“yaudah Uun aja yang masak!”

“hemnhh”, balas Nenek menggelengkan kepala.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk memasak kue dadar, kali ini aku berharap rasanya tidak seburuk seperti hari sebelumnya. Meski tidak seenak buatan Nenek setidaknya rasanya enak dan tidak terlalu manis.

“Ini, Nek!”,

Aku menyulangkannya dengan pelan-pelan, Nenekpun menyantapnya. Sejauh ini belum ada komentar ataupun keluhan, hatiku berdebar-debar tak beralasan. Rasa penasaran dan takut, takut kalau kue dadar buatanku tidak enak, mulai bergejolak dan menimbulkan rasa penasaran.

“enak, Nek?”, tanyaku padanya.

Tak ada jawaban, ia hanya menatapku dengan pandangan kebingungan. Sehingga aku hanya bisa diam dan menyulanginya kembali.

“Cucuku si Minun, sukak kali makan kue ini. Tapi dia udah jarang kemari”

Tidak, tidaklah mungkin. Akulah Miun Nek, cucu Nenek. Tapi kenapa Nenek malah menggumam kepadaku seolah aku orang lain, seolah Nenek tak mengenalkku. Maaf Nek, maaf kalau Miun jarang kerumah Nenek. Tapi jangan lupakan Miun, jangan Nek. Tangisku membatin, mendengar ucapan Nenek.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar