Pagi
itu Aku terlambat masuk kelas. Kulihat wajah dosen yang memandang sinis
kearahku, tengah duduk sambil memegang absensi.
“Kenapa
Anda terlambat?”, tanya beliau.
“Tadi
macet Bu?”, jawabku membohonginya, agar mendapat belaskasihan.
“yasudah,
silahkan masuk?”, balasnya dingin.
“Terimakasih,
Bu?”.
Akupun
duduk diposisi paling belakang dan memandangi dosenku yang sedang mengabsen.
Bosan menunggu beliau selesai, Aku mengeluarkan HP dari saku celana dan
bermaksud membuka Fitur-nya. Baru
saja Aku menekan tombol pembuka kunci, tetertera dengan jelas simbol surat
berwarna kuning.
“ada, sms!”, ujarku dalam hati.
“sayang
kalau nanti kuliahnya udah selesai, datang kerumah sakit Imelda, ya. Alamatnya Jl.
Bilal Ujung”, isi sms itu.
“emangnya,
siapa yang sakit”, balasku dengan singkat.
Akupun
gelisah sepanjang jam perkuliahan dan tak memperhatikan dosenku yang tengah
menjelaskan. Aku hanya memegangi Hpku sembari menunggu balasan sms dari Shelly.
Menit terus berganti dan diikuti oleh jam, hingga akhirnya perkuliahan selesai.
Namun Selly tak membalas pesanku. Akupun pergi bergegas meninggalkan ruangan
perkuliahan. Kuambil Hpku dan Aku menelfon Shelly. Namun tidak ada jawaban.
***
Beberapa
hari setelah Aku menerima pesan dari Shelly, Aku kembali mendapat pesan yang
mengejudkan dari Anton adiknya Shelly.
“assalamualaikum.
Mas, Mbak Shelly sekarang kritis. Di rumah sakit Imelda, Jl. Bilal Ujung.”, isi
sms Anton yang kuterima pagi itu.
“ok,
dek. Nanti pulang kuliah Mas kesana”
Usai
perkuliahan, sekitar jam setengah dua siang. Aku bergegas menuju rumah sakit
yang dimaksudkan Anton. Namun setibanya di sana, Aku tak menjumpai Shelly.
Bagian administrasi mengatakan bahwa pasien bernama Shelly sudah dijemput oleh
keluarganya. Mendengarnyapun Aku sedikitt lega dan Akupun langsung menggiring
motorku ke rumah Shelly.
Di
tengah perjalanan Aku dihalangi macet yang cukup membuatku jengkel. Akupun
memutuskan berhenti sejenak dan singgah di
mini market . Awalnya Aku cuma membeli minuman namun saat Aku hendak
membayar kekasir, Aku melihat banyak boneka lucu dan hiasan bunga beserta
farfumnya tersusun dengan rapi.
“Mbak,
boneka dan bungannya sekalian dong!”, pintaku pada kasir.
“ok,
Mas. Semuanya seratus dua belas ribu”, jelas kasir, sambil mengarahkan tagihan
belanjaan padaku.
Perjalananpun
kulanjudkan, melewati gang-gang kecil untuk menghindari macet. Aku tak sabar
bertemu dengan Shelly dan melihat reaksinya saat melihat boneka lucu ini, sudah
hampir seminggu kami tak bertemu dan komunikasi kamipun terputus. Tapi hari ini
rasa rindu itu akan terpenuhi.
Keasikan
berhayal sambil mengendarai motor, Aku lupa kalu gang yang kulewati salah.
Akupun memutar balik dan tak lama kemudian Aku sampai di depan gang rumah
Shelly. Seperti gang-gang kecil yang kulalui tadi, gang rumah Sehellypun hari
ini cukup ramai dilewati pengendara motor. Mungkin mereka menghindari macet
juga.
Dari
kejauhan Aku melihat rumah kekasihku penuh dengan kerumunan. Akupun agak segan
mendekat, kali aja kerumunan itu teman-temah perwiritan Ayah Shelly. Akupun
ciut dan berhenti agak jauh dari depan pintu rumah Shelly. Tapi selang beberapa
menit, rasa ciut itu semakin menjadi-jadi. Pasalnya Aku mendapati salah seorang
dari kerumunan tadi mengikat bendera merah didepan rumah Shelly.
Akupun
bergegas meninggalkan motorku, berlari menuju rumah Shelly. Saat tiba di depan
pintu rumah Shelly, tampak jelas kerumunan orang mengelilingi jasad yang tengah
terbaring kaku. Jasad itu sangat pucat dengan matanya masih terbuka sayu dan
berkaca-kaca, seperti menunggu kehadiran seseorang.
“Mas,
mbak Shelly udah meninggal”, ucap Anton menarik tanganku dan merangkul tubuhku.
Aku
tak bisa berkata apa-apa, air mataku tumpah. Melihat kekasihku telah pergi
tanpa pamit dan tidak meninggalkan pesan. kuberjalan mendekatinya dan mencoba
meraih wajah pucat itu. Saat tanganku hampir menyentuhnya, dihalangi oleh
Ibunya Shelly. Akupun menarik tanganku dan mengusap mataku. Aku tertunduk
dengan kedua tangganku yang menutupi wajahku.
“Maafkan Aku Shelly, maaf sayang.”, ucapku dalam hati, sembari membayangkan
senyumnya.
Anton
memukul pundakku, Akupun membuka tanganku yang menutupi wajah cengeng tadi.
Kulihat lagi kearah Shelly, wajahnya kini ditutupi selembar kain perca tembus
pandang. Terlihat matanya yang sayu tadi tertutup rapat, seperti orang tengah
tertidur pulas.
“Mas,
ayok”, ajak Anton.
Aku
mengikuti ajakan Anton. Dia menggiringku keluar rumah dan menyuruhku duduk
diteras rumah.
***
Sebelum
Aku mendengar kabar dari Anton, Shelly sudah memintaku untuk datang ke rumah
sakit. Namun Aku malah bertanya tentang “siapa yang sakit?”, bukan datang dan
mencari tahu. Selama ini, memang hubungan kami renggang. Aku selalu tak menghiraukan
Shelly dan tak menghubunginya bahkan sms darinya jarang Aku balas.
Sekarang
Shelly pergi membawa cintaku bersamanya. Tinggallah Aku bersama boneka dan
setangkai bungan yang belum sempat ia terima sebagai permohonan maaf atas
sikapku yang acuh tak acuh padanya. Kenagan saat bersama Shelly seakan
membayangiku selama dua tahun ini. Namun hari ini, Aku harus bisa menerimanya.
Menerima bahwa Shelly telah tiada, bahwa kenangan hanyalah cerita. Dan Aku
harus ikhlas melepas kepergian tambatan hatiku yang kini telah tenang
dipangkuaNya.
Terimakasi
Shelly, atas kesetianmu. Aku akan berhenti dari kehampaan ini dan akan membuka
lembaran baru. serta Aku berjanji, tidak akan melakukan kesalahan yang bodoh
itu.
“thangk’s
your love”
(15 Desember 2015 )
(15 Desember 2015 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar