Senin, 14 Desember 2015

Thank’s your love





          Pagi itu Aku terlambat masuk kelas. Kulihat wajah dosen yang memandang sinis kearahku, tengah duduk sambil memegang absensi.

          “Kenapa Anda terlambat?”, tanya beliau.
          “Tadi macet Bu?”, jawabku membohonginya, agar mendapat belaskasihan.
          “yasudah, silahkan masuk?”, balasnya dingin.
          “Terimakasih, Bu?”.

          Akupun duduk diposisi paling belakang dan memandangi dosenku yang sedang mengabsen. Bosan menunggu beliau selesai, Aku mengeluarkan HP dari saku celana dan bermaksud membuka Fitur-nya. Baru saja Aku menekan tombol pembuka kunci, tetertera dengan jelas simbol surat berwarna kuning.

          “ada, sms!”, ujarku dalam hati.

          “sayang kalau nanti kuliahnya udah selesai, datang kerumah sakit Imelda, ya. Alamatnya Jl. Bilal Ujung”, isi sms itu.
          “emangnya, siapa yang sakit”, balasku dengan singkat.
         
          Akupun gelisah sepanjang jam perkuliahan dan tak memperhatikan dosenku yang tengah menjelaskan. Aku hanya memegangi Hpku sembari menunggu balasan sms dari Shelly. Menit terus berganti dan diikuti oleh jam, hingga akhirnya perkuliahan selesai. Namun Selly tak membalas pesanku. Akupun pergi bergegas meninggalkan ruangan perkuliahan. Kuambil Hpku dan Aku menelfon Shelly. Namun tidak ada jawaban.

***
          Beberapa hari setelah Aku menerima pesan dari Shelly, Aku kembali mendapat pesan yang mengejudkan dari Anton adiknya Shelly.

          “assalamualaikum. Mas, Mbak Shelly sekarang kritis. Di rumah sakit Imelda, Jl. Bilal Ujung.”, isi sms Anton yang kuterima pagi itu.
          “ok, dek. Nanti pulang kuliah Mas kesana”

          Usai perkuliahan, sekitar jam setengah dua siang. Aku bergegas menuju rumah sakit yang dimaksudkan Anton. Namun setibanya di sana, Aku tak menjumpai Shelly. Bagian administrasi mengatakan bahwa pasien bernama Shelly sudah dijemput oleh keluarganya. Mendengarnyapun Aku sedikitt lega dan Akupun langsung menggiring motorku ke rumah Shelly.

          Di tengah perjalanan Aku dihalangi macet yang cukup membuatku jengkel. Akupun memutuskan berhenti sejenak dan singgah di mini market . Awalnya Aku cuma membeli minuman namun saat Aku hendak membayar kekasir, Aku melihat banyak boneka lucu dan hiasan bunga beserta farfumnya tersusun dengan rapi.

          “Mbak, boneka dan bungannya sekalian dong!”, pintaku pada kasir.
          “ok, Mas. Semuanya seratus dua belas ribu”, jelas kasir, sambil mengarahkan tagihan belanjaan padaku.

          Perjalananpun kulanjudkan, melewati gang-gang kecil untuk menghindari macet. Aku tak sabar bertemu dengan Shelly dan melihat reaksinya saat melihat boneka lucu ini, sudah hampir seminggu kami tak bertemu dan komunikasi kamipun terputus. Tapi hari ini rasa rindu itu akan terpenuhi.

          Keasikan berhayal sambil mengendarai motor, Aku lupa kalu gang yang kulewati salah. Akupun memutar balik dan tak lama kemudian Aku sampai di depan gang rumah Shelly. Seperti gang-gang kecil yang kulalui tadi, gang rumah Sehellypun hari ini cukup ramai dilewati pengendara motor. Mungkin mereka menghindari macet juga.

          Dari kejauhan Aku melihat rumah kekasihku penuh dengan kerumunan. Akupun agak segan mendekat, kali aja kerumunan itu teman-temah perwiritan Ayah Shelly. Akupun ciut dan berhenti agak jauh dari depan pintu rumah Shelly. Tapi selang beberapa menit, rasa ciut itu semakin menjadi-jadi. Pasalnya Aku mendapati salah seorang dari kerumunan tadi mengikat bendera merah didepan rumah Shelly.

          Akupun bergegas meninggalkan motorku, berlari menuju rumah Shelly. Saat tiba di depan pintu rumah Shelly, tampak jelas kerumunan orang mengelilingi jasad yang tengah terbaring kaku. Jasad itu sangat pucat dengan matanya masih terbuka sayu dan berkaca-kaca, seperti menunggu kehadiran seseorang.

          “Mas, mbak Shelly udah meninggal”, ucap Anton menarik tanganku dan merangkul tubuhku.

          Aku tak bisa berkata apa-apa, air mataku tumpah. Melihat kekasihku telah pergi tanpa pamit dan tidak meninggalkan pesan. kuberjalan mendekatinya dan mencoba meraih wajah pucat itu. Saat tanganku hampir menyentuhnya, dihalangi oleh Ibunya Shelly. Akupun menarik tanganku dan mengusap mataku. Aku tertunduk dengan kedua tangganku yang menutupi wajahku.

          “Maafkan Aku Shelly, maaf sayang.”,  ucapku dalam hati, sembari membayangkan senyumnya.

          Anton memukul pundakku, Akupun membuka tanganku yang menutupi wajah cengeng tadi. Kulihat lagi kearah Shelly, wajahnya kini ditutupi selembar kain perca tembus pandang. Terlihat matanya yang sayu tadi tertutup rapat, seperti orang tengah tertidur pulas.

          “Mas, ayok”, ajak Anton.

          Aku mengikuti ajakan Anton. Dia menggiringku keluar rumah dan menyuruhku duduk diteras rumah.

***
Sebelum Aku mendengar kabar dari Anton, Shelly sudah memintaku untuk datang ke rumah sakit. Namun Aku malah bertanya tentang “siapa yang sakit?”, bukan datang dan mencari tahu. Selama ini, memang hubungan kami renggang. Aku selalu tak menghiraukan Shelly dan tak menghubunginya bahkan sms darinya jarang Aku balas.

          Sekarang Shelly pergi membawa cintaku bersamanya. Tinggallah Aku bersama boneka dan setangkai bungan yang belum sempat ia terima sebagai permohonan maaf atas sikapku yang acuh tak acuh padanya. Kenagan saat bersama Shelly seakan membayangiku selama dua tahun ini. Namun hari ini, Aku harus bisa menerimanya. Menerima bahwa Shelly telah tiada, bahwa kenangan hanyalah cerita. Dan Aku harus ikhlas melepas kepergian tambatan hatiku yang kini telah tenang dipangkuaNya.

          Terimakasi Shelly, atas kesetianmu. Aku akan berhenti dari kehampaan ini dan akan membuka lembaran baru. serta Aku berjanji, tidak akan melakukan kesalahan yang bodoh itu.
“thangk’s your love”

(15 Desember 2015 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar