Senin, 14 Desember 2015

OE TEA MO





          Saat ini Aku hanya bisa mendengar dan berbicara, sebut saja Aku tuna netra. Bagiku satu-satunya cahaya adalah Tea. Wanita yang sudi bercerita panjang lebar dan menerangi kegelapan dalam dunia si buta ini. Berbeda dengan kisah si buta dari gua hantu, kisah si buta dari abad dua satu ini terkesan romantis.

          Pagi itu Tea datang seperti biasa untuk mengajakku bercerita.

“pagi, jony?”sapanya padaku sambil merangkul tanganku.
         
          Aku sangat senang mendengar suara indah itu. Suara yang membuat kegelapan dalam hidupku sirnah.

“loh, kamu kok diam jon?”, tanya Tea kembali.
“enggak apa-apa, Aku Cuma lagi kurang sehat!”, kilahku padanya.

Tea kemudian meletakkan tangannya ke arah keningku. Akupun mulai merasa deg-degan. Waktu seakan melambat ditambah lagi dengan tangan Tea yang bersandar. Ingin rasanya Aku melihat parasnya.

“oh, kamu enggak apa-apa kok!”, ucap Tea memecahkan suasana.

Kamipun bercerita seperti biasanya. Tea selalu bercerita diawal dan setelah itu dia selalu menanyakan perasaanku akan awan gelap yang menyelimuti pandanganku. Kadang juga Ia bertanya harapanku dan tak jarang Dia memotivasi Aku yang lemah ini.

Namun hari ini Aku bertanya kepadanya, apakah Aku yang sudah buta bisa melihat kembali seperti sedia kala. Namun Tea mengatakan, bahwa cahaya itu akan datang dan  menggantikan bola mataku yang sudah rusak. Namun Aku tak mengerti cahaya yang dimaksudkan Tea. Perbincangan kami, akhirnya usai. Tea beranjak pergi meninggalkan Aku. Dan setelah itu Tea tak pernah lagi datang.

***

Hari ini genap sudah enam bulan Aku tak mendengar suara indah Tea, dan berbincang dengannya. Aku heran dan cemas akan keadaannya. Namun Dia tak kunjung datang dan kabarnya tak kunjung terdengar.

Seperti dua tahun yang lalu, saat Aku pertama kali sadar dari masa kritis dan sudah tidak bisa melihat. Setiap harinya Aku hanya duduk di depan teras rumahku, Papa sibuk dengan bisnisnya dan hanya ada Mama yang kadang-kadang memberi semangat padaku.

“jony!”, suara Mama yang terdengar tak jauh.
“ia, Ma?”, jawabku sambil meraba-raba dan mencoba berdiri.
“pagi ini, kita kerumah sakit yuk!”
“siapa yang sakit Ma?”, tanyaku cemas.
“enggak ada yang sakit!”
“terus, ngapain Ma?”
“Dokter spesialis mata Kamu, semalam Nelpon. Katanya hari ini, mata Kamu harus dioprasi agar bisa melihat lagi!”
“yang bener Ma?”, tanyaku dengan penuh kegembiraan.
“Ia, sayang!”

Akupun tak berlama-lama lagi. Aku menggandeng tangan Mama dan mengikuti langkahnya yang menuntunku kedalam mobil. Cahaya yang pernah diceritakan Tea, kini sebentar lagi bersarang di kantung mataku.

“Ya Allah, jika Aku bisa melihat nanti. Berilah Aku kesempatan untuk melihat Tea dan mendengarkan kata-kata indahnya, walau hanya sebentar.”ucapku dalam hati.

Perjalanan terasa singkat. Mobil Mamapun akhirnya berhenti. Taklama setelah itu Aku dituntun oleh seseorang yang tak kukenal, untuk duduk dikursi roda. Diapun bergegas membawaku keruangan oprasi, katanya. Sesampai diruangan oprasi, Akupun dibaringkan.

Aku merasa ada empat orang berdiri mengelilingiku yang terbaring diatas ranjang rumah sakit. Masing-masing dari mereka seperti terfokus pada mataku. Aku merasakan dua kali suntikan kearah kantung mataku. Dan setelah itu, Aku tak ingat apa-apa lagi.

“jon!”, panggil Mama padaku.
“iya, ma”jawabku dengan keadaan duduk dikursi roda.

Tak berapa lama kemudian, Aku barusadar bahwa ada yang membalut mataku.

“Suster, tolong buka perbannya!”, suara salah seorang yang ada diruangan itu.

“oke. Jony, coba sekarang buka mata kamu pelan-pelan!”suara orang asing itu, lagi.

Perlahan lahan-lahan Aku membuka mataku. Rasanya kegelapan mulai sirnah. Cahaya kilau mulai tampak berhamburan didepan mataku. Setelah Aku sadari, ternyata Aku bisa melihat kembali. Tampak dengan jelas di depanku dokter dan susuternya yang mengenakan pakaian serba putih. Saat Aku menoleh ke belakang, Aku melihat Mama.

“sayang!” ucap Mama sambil merangkulku.

Aku hampir melupakan wajah Mama yang melahirkanku. Karena kegelepan yang menyelimuti pandanganku dua tahun terakhir ini. Namun ranya masih ada yang kurang. Ya. Aku masih belum bisa melihat wajah sahabatku Tea. kemudian Aku menanyakannya pada Mama, tapi Mama malah menyodorkan Aku selembar kertas.

Akupun mencoba melihatnya karena penasaran. Ternyata ada pesan yang tertulis.


Oe Tea Mo

Maaf teman, karena salahku engkau menderita.  Pengendara mobil misterius yang menabrakmu adalah Aku. Sekarang lihatlah dunia kembali, dengan cahaya yang selalu menuntunmu. Jangan tuangkan kesedihanmu pada mataku, karena Aku tak mau menangis lagi.

       Aku senang bisa bersamamu, dan kini kita telah menjadi satu. Saat engkau bercermin dan melihat matamu yang sekarang, saat itulah kau melihat kearahku. Arah dimana semua tujuan. Jony, namaku Tea dan arti dari namaku cinta. Tapi Tea ini telah jatuh cinta pada Jony, terimalah cintaku. OE TEA MO.

Akupun tertunduk lesu usai membaca surat dari Tea. Mamapun mencoba menghiburku. Namun Aku tak perduli. Beberapa menit tak lama kemudian, Mama mendorong kursi roda yang membawaku. Baru bebera meter kami keluar dari ruanga oprasi, dokter mencegat kami.

“maaf, Bu. Berhenti sebentar!”, pinta lelaki berseragam serba putih itu.
“iya, ada apa lagi Dok?”
“saya lupa katakan, bahawa oprasi pencangkokan kornea mata pada jony memang sudah selesai. Hanya saja, matanya belum seutuhnya bisa digunakan.”
“maksudnya Dok?”, tanya Mama sedikit takut.
“pasien jangan dulu keluar rumah tanpa menggunakan kaca mata khusus, dan jangan Menonton TV, main Gaget, atau Hp, yang radiasi cahayanya cukup tinggi.”
“ok, Dok. Terimakasi sarannya”, balas Mamam dengan senyum.

 Usai perbincangan itupun Mama membawaku pulang, dengan mobil yang kami kendarai tadi. Disepanjang perjalananpun, Aku terus berfikir. Akan keadaan orang yang mau mendonorkan kornea matanya untukkku.

“Ma?”, panggilku.
“ada apa sayang”, jawab Mama, sambil melihat kearahku.
“Tea, itu siapasih?”, tanyaku sambil memandang Mama, dengan mataku yang berlinang.
“nanti ya, jon. Mama cerita, kalau kita sudah sampai rumah”

Aku tak menyahuti jawaban Mama, melainkan hanya mengangguk saja. Serasa bagai teka-teki. Hanya untuk mengetahui tantang sahabatku sendiri.

          Kamipun tiba dirumah. Serasa asing bagi mata yang baru dicangkok ini, saat melihat rumah. Tempat dimana Aku berteduh dan tertidur pulas setiap malamnya.

          “jony.!”, panggil Papa yang sedari tadi menunggu kepulangan kami.
          “iya, Pa?”, jawabku sambil tersenyum kearahnya.
          “wah, bola matamu sekarang warnanya biru ya!.”, sambung Papa sambil merangkulku.

          Akupun terkejud. Dan tak sabar ingin melihatnya. Usai Papa melepaskan cengkramannya, Aku mendekat ke arah Mama. Untuk meminta cermin. Sudah pasti Mama punya cermin yang menempel pada kotak bedaknya.

          “Ma, boleh pinjam cermin!”, bisikku padanya.
          “sebentar, ya. Sayang!”, jawab Mama, sambil membuka tasnya.

          Sesaat kemudian tanpa ada isyarat banyak, Aku langsung mengambil kotak bedak dari tangan Mama. Kulihat pada cermin yang mungkin ukurannya 10x5 cm itu. Ternyata memang benar, kornea mata yang didonorkan padaku warnanya biru.

          Aku mulai membayangkan, wajah Tea yang dihiasi bola mata biru ini. Namun seketika khayalan itu buyar. Akupun mencobanya kembali, tapi hasilnya nihiil. Sangat sulit, sekali.
         
          “Jony, ayo kita makan. Sayang!”
          “Jony, enggak laper. Ma!”
          “yaudah, nanti kalau laper. Jony makan, ya.!”
          “iya, Ma?”

          Mamapun beranjak dari hadapanku. Tiba-tiba Aku kembali teringat akan janji Mama. Tadi saat Aku tanya tentang Tea. Mama
 Berjanji akan memberitahukan padaku tentang Tea. Akupun bergegas membuntuti Mama.

          “Ma!”, panggilku, sambil memegang pundak Mama.
          “ada apa. Jon?”
          “tadikan Mama janji, kalau kita udah sampek rumah. Mama mau cerita tentang Tea!”
          “oia, Mama lupa!”, jawab Mama dengan senyum lebar.

          Akupun menggiring Mama kesofa, dan duduk bersamanya. Mama sedikit mengkerutkan keningnya itu. Tampaknya Mama bingung, akan apa yang hendak Ia ucapkan.

          “Ma?”, panggilku, tak sabar menunggu penjelasan Mama.

          Mama terdiam. Suasana semakin hening. Akupun terus bertanya-tanya, akan hal apa yang sebenarnya. Kenapa lidah Mama tampak kaku dan Iapun diam membisu.

          “Jony!”
          “iya, Mah?”
          “sebenarnya, Mama udah janji dengan Tea!”
          “janji apa Ma?”
          “janji, kalau Mama enggak akan cerita tentang Tea ke jony”
          “Kenapa gitu, Ma?”, tanyaku semakin penasaran.
          “yaudahla, karena anak Mama yang minta. Mama akan cerita!”, jawab mama mulai dingin.

          Akupun sedikit jantungan karena sedari tadi, pembicaraan kami sepertinya sangat rahasia. Mama tampak berat untuk mengungkapkan siapa Tea, temanku saat Aku merasakan gelapnya dunia.

          “Tea, enggak ada?”
          “maksud Mama!”
          “Tea udah lama pergi, Jon!”
          “terus maksud penabrak misterius disurat yang Mama kasi tadi, apa?”
          “surat itu ditulis Tea untuk kamu, Jon!”
          “jadi semua isi surat itu bener, ma?”
          “Ia, jony!”
          “terus, Tea sekarang ada dimana?”
          “Tea, udah mininggal Jon!”, jawab Mama mengheningkan suasana.

          Sontak Aku merinding dan terdiam. Mamapun melihatku dengan matanya yang digenagi tangis.

          “Tea, anak yang cantik. Tapi ia frustasi akibat kematian pacarnya. Malam itu Dia mengendarai mobilnya begitu kencang dan Dia nabrak kamu, Jon?”, ucap Mama dengan nada yang mulai terisak.

          Mamapun membasuh matanya yang berair tadi, dengan kedua tangannya.
          “tabrakan malam itu, membuat kalian koleps. Tapi seminggu kemudian Tea sadar dan Dia mohon kepada Mama agar mau memaafkannya.”
          “terus, Mama jawab apa?”
          “iya, awalnya Mama sangat marah. Tapi setelah orang tua Tea, juga ikut meminta maaf. Mau-enggak mau, Mama terima!”
          “tapi, kenapa Tea meninggal Ma?, apa karena Dia mendonorkan matanya ke Jony?”
          “pendonoran mata Tea kekamu enggak pernah ada yang setuju Jon. Memang awalnya Tea, ingin melakukan donor. Saat dia tahu, kamu buta.”
          “terus kenapa bisa begini, Ma?”
          “ternyata, Tea tahu bahwa umurnya enggak panjang Jon. Saat kecelakaan tabrakan itu kepala Tea terbentur keras, akibatnya pembulu darah dikepala Tea pecah.”
“tapi, diakan masih hidup. Ma?, dan dia jugak sempat nemani Jony, hampir dua tahun?”
“awalnya operasi yang dijalani Tea memang buat dia sembuh tapi terakhir menurut keterangan dokter, Tea terkena depresi sehingga otaknya dipaksa untuk berfikir keras?”
“Emang, apa yang buat Tea depresi. Ma?”
“Kata orang tuan Tea, Tea enggak bisa lupaiin kekasihnya yang sudah meninggal ditambah lagi rasa bersalahnya pada kamu jon.”
“jadi, ide siapa sebenarnya untuk donorin mata Tea ke Aku, Ma?”
“yaa, Tea sendiri!.”
“kok, gitu?”
“sebulan yang lalu Tea sekarat dan dia pesan ke orang tuanya kalau umurnya enggak panjang Dia mau, matanya didonorin untukmu”
“tapi kenapa, Ma?”
“katanya sebagai ganti rugi dan permohonan maaf dia kekamu?”

Akupun tak sanggup lagi, melanjudkan perbincangan dengan Mama. Hatiku serasa semakin sakit, mendengar cerita Mama. Aku hanya bingung, kenapa kejadian ini terjadi padaku dan semuanya terasa sangat cepat. Pikiranku  dipenuhi Tea, wanita yang ada disaat semua terasa tiada. Dan saat semua telah terasa ada, Aku malah kehilangan Dia.

Andai saja kami masih bisa bertemu, Aku takkan biarkan Dia sedih dengan rasa kehilangan orang yang paling Dia sayangi. Setidaknnya Aku akan menggantikan posisi orang yang beruntung itu. Tea telah membagi cahaya kehidupannya dan Dia pergi dengan kebutaan membawa rasa kehilangannya. Tampaknyapun Aku harus ikhlas menerima semua ini, dan tidak terlarut oleh bayangan Tea. Aku harus bisa Move on agar emosi tidak menguasaiku yang pada akhirnya melampiaskannya pada orang lain.

“Terimakasi Tea, OE TEA MO TOO!”  

            (17 Oktober 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar