Mungkin ini bisa
dibilang sebuah cerita, meski aku lebih suka menyebutnya sebagai kesalahan.
Seperti biasanya sebuah catatan kecil akan bermula dan pasti juga berakhir.
Namun jelasnya semua ini terkait dengan tiga dimensi yang lekat pada masa. Masa
lalu yang sering kita kenal dengan sejarah, masa depan yang disebut-sebut
misteri dan masa sekarang yang tak banyak kita sadari. Masa lalu dan masa depan
sering kali sulit kita elakkan, walau kadang menjadi ilusi dan bisa mengaburkan
pandangan kita yang tengah fokus.
***
“maaf
Aku masih ingin sendiri!”, jawab Liza menciutkan nyaliku.
“kenapa gitu, apa Aku
enggak pantas?”, tanyaku beruntun.
Liza meninggalkan aku
begitu saja. Ya. Seperti pengemis yang ingin selalu dihindari. Akupun tertunduk
malu dengan bayangan-bayangan wajah Liza saat beberapa menit lalu menolak
cintaku.
“Kelihatannya ABG satu
ini sedang galau”, seperti itulah terdengar suara burung gereja yang tengah
berkicau di atas atap sekolah kami.
Masalahnya Liza tidak
berkomentar tentang apa dan kenapa ia menolak. Ia hanya mengatakan masih ingin
sendiri. Semuanya terdengar bagai gemuruh di siang bolong, menyambar hatiku yang
tadinya berbunga-bunga. Gosong, segosong-segongnya.
Aku ingat saat pertama
kali mengenalnya, saat itu kami satu geng.
Di dalamnya ada aku, Reza dan Liza, memang meski akhirnya Reza dan Liza jadian
kemudian Mereka melupakanku. Sebelumnya Kami saling menjaga satu diantaranya,
berbagi cerita diatara ketiganya. Entah dengan cara apa dewi amor menancapkan
anak panahnya diantara kami sehingga saling menyukai, tidak sebagai teman
melainkan sebagai ketertarikan asmara.
Reza dan Liza akhirnya
terang-terangan berpacaran namun entah mengapa keduanya meninggalkan aku. Meski
Reza tahu kalau aku suka dengan Liza dan Liza juga mengerti. Aku tak membenci
mereka yang telah menjalin hubungan di belakangku. Aku bukan tipikal orang yang
suka merampas kebahagian orang lain, apa lagi keduanya temanku. Walau mereka
akhirnya tidak lagi menganggap aku sebagai teman, Aku juga biasa aja.
Masalahnya sekarang
cerita itu telah berlalu, tak ada gunanya berlama-lama dengan masa yang telah
lalu. Kenyataan menyuguhkan sebuah hal yang pahit untuk Liza dan aku. Reza
akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya tepat setahun lalu, saat itu ia
mengeluarkan buih yang cukup banyak dari mulutnya. Hasil pemeriksaan polisi
yang menangani kasus kematian temanku itu, menyatakan bahwa Reza over disis. Berita ini cukup membuat se-isi
sekolah gempar, karena saat Reza ditemukan tak bernyawa ia berada di dalam
gudang sekolah.
Seingatku reza anak yang
taat beribadat dan kuat imannya, diantara kami bertigapun ia yang paling pintar
dan memiliki nilai diatas rata-rata. Entah apa yang membuat anak ini over dosis. Aku selalu berfikir kalau
Reza memiliki masa depan yang lebih cemerlang dari pada aku, anak miskin yang
cukup nekat datang kesekolah tanpa menggunakan sepeda motor.
***
“Za!”
“Apa?,
jangan mulai lagilah!”, balas Liza penuh penolakan.
Aku
tersenyum memandangi wajahnya yang bermata sipit dan pipi tirus itu. Seketika
itupun ia menggeram kearahku yang sok
ramah menegurnya.
“sekarang
ini, aku lagi enggak pengen dekat sama cowok Mam!”, terdengar suaranya seperti
meronta akan ketakutan yang tak beralasan.
“Akupun
juga enggak pengen dekat sama cewek!”, balasku bermaksud meredam suara yang
terdengar memilukan itu.
Seketika
itupun wajahnya tak lagi memandang murung ke arahku, meski tetap saja aku tak
pernah ikhlas melihat ia pergi meinggalkanku sendirian. Ya. Lagi-lagi ia tak
mengacukanku dan aku tak tahu harus berbuat apa.
Akhirnya
aku menyerah untuk mengikutinya dan tidak lagi mencoba menyatakan perasaanku
terhadapnya, tampaknya ia memang tak main-main dengan komitmennya ingin sendiri
tanpa ada cowok yang dekat dengannya. Di masa lalu dia tampk bahagia dengan
Reza dan Aku tidak bahagia sama sekali, saat ini dia sangat menderita akan
kehilangan kekasihnya itu dan aku tetap saja seperti sedia kala saat Reza masih
bersamanya. Satu-satunya yang ku dapat hanyalah kesedihan, kehilanga Reza dan
harus merelakan Liza yang tak pernah mau menerima cintaku. Ataukah masa depan
bisa menjadi jawaban akan penantianku atau masa sekarang adalah satu-satunya
jawaban diaman aku harus belajar dan menerima kenyataan ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar