Rabu, 06 Januari 2016

Senja di Penghujung Tahun





Hari bertukar senja dan selalu berotasi, tidak menunggu apakah aku siap atau tidak untuk melewatinya. Sorot cahaya demikian hal nya bagai lampu, kadang redup meninggalkan sendu, kadang terang dengan kecerian yang ia bawa. Namun senja tetaplah senja,  saat dimana awan tampak orange dengan sayup-sayup cahaya yang hapir redup.

          Kini senja tak mampu menjangkauku, cukup terhalang oleh kaca jendela yang bening. Dan disinilah aku,  hanya bisa melihat kemerlapan senja yang mencoba menerobos kaca jendela. Posisi tergeletak dengan infus semakin membosankan, kadang malam tak lagi membuaiku dan kejenuhan seolah ingin mengisir dari tempatku berbaring.  Hanya perasaan atau ilusi yang betah berlama-lama dalam benakku untuk mengakhiri penantian bertemu senja kembali.
***

          “Tomy, aku sayang kamu!”, bisik Sheilla bersambut dengan kecupan hangat.

          Matahari yang akan turun untuk bersembunyi tampak malu-malu melihat dua orang remaja yang sedang berpeluk mesra. Aku dan Sheilla begitu menikmati detik-detik orange itu. Bahkan ombak yang tampak akan pasang seketika takut untuk menjilat kaki kami yang tengah berpijak di tepi pantai, senja yang sangat indah saat itu.

          Akhirnya malam mengusir kemesraan senja yang berlangsung hangat. Kamipun pergi ke gubuk, persisnya bagai pasangan lainnya yang sebentar lagi akan menikmati pesta kembang api. Pesta akhir tahun yang digelar untuk menyambut tahun baru. Dulunya kami menyebutnya malam kembang api, karena pada saat malam pergantian tahun kami para anak akan datang ke pantai untuk menyalakan kembang api bersama keluarga kami.

          Zaman tak tinggal diam, seiring meledaknya jumlah penduduk pantai malam kembang api akhirnya  disulap menjadi malam pendatang reziki. Awalnya pengunjung  hanya warga setempat yang tinggalnya tak jauh dari pantai. Namun akhirnya saat-saat malam pergantian tahun berikutnya pantai kami ramai akan pengunjung dari berbagai pelosok daerah. Momen inilah yang menggeser secara perlahan kebiasaan malam kembang api menjadi sebuah wisata asmara. Di dalamnya banyak para remaja yang datang untuk berpacaran dan bahkan ada yang datang untuk mencari pacar.    

          Pengunjungpun kadang sibuk mencari tempat untuk bernostalgia, sehingga gubuk-gubukpun semakin banyak di dirikan. Malam peringatan tahun baru akhirnya datang membawa rezeki.

          TREED” teriakan trompet pertanda malam berganti tahun dan kemudian biasanya kembang api akan menyala dari tangan para pengunjung pantai.

          “JEDAR…JEDAR” ledakan mercun yang ikut memeriahkan malam itu.

          Akupun kemudian menggenggam erat tangan Sheilla dan serentak kami mengangkatnya keatas sembari bersorak menyambut tahun baru. Begitu semaraknya pergantian tahun saat bersama Sheilla, seakan rasanya ingin mengulangnya kembali. Kehangatan bersambut kemeriahan ikut mengiringi kami seolah rasa yang berpadu di dalam lidah saat menenggak permen nano-nano.

          Saat yang tak kami inginkanpun datang. Saat dimana redupnya kembang api dan berhentinya teriakan mercun. Pertanda akan perpisahan dari hangatnya genggaman tangan dan hangatnya pelukan Sheilla. Kamipun pulang menuju rumah masing-masing yang letaknya tak jauh dari pantai . Satu-satunya hal yang terindah  dari perpisahan itu adalah kecupan perpisahan dari Sheilla yang bersarang di pipiku. Perpisahan yang tak kuharapkan terasa begitu indah.
***

“Pa, sudah makan?”, sapa Rani dengan lembut.

“Iya, sebentar lagi lah!”, balasku yang tersentak dari lamunan.

          Oh, baru aku sadari perpisahan malam itu adalah perpisahan untuk selamanya. Sheilla dan keluarganya pergi entah kemana, rumahnyapun berganti penghuni. Tahun yang baru ternyata merebut Sheilla dariku, tanpa isyarat ataupun kabar darinya. Sejak saat itu aku terus merindukan senja akhir tahun yang hangat itu sebelum pesta kembang api di malam pergantian tahun. Saat-saat itu tidak lagi pernah kembali begitu juga dengan Sheilla.

          Kini hanya ada aku yang tengah berbaring di atas ranjang dan Sheilla kecil dari  Rani istriku. Namun  malam ini tampaknya kami tidak bisa bersama-sama menyalakan kembang api. Karena papa Sheilla kecil tengah terbaring bersama khayalan yang membawanya kembali, dalam detik-detik pengharapan yang sebenarnya telah sirnah bersamaan dengan kecupan perpisahan dan lambaian tangan Sheilla dulu. Dan akhirnya tahu baru telah datang, selamat tinggal Sheilla.       

Minggu, 03 Januari 2016

Pulang




Biasanya aku hanya merasakan kehangatan mentari pagi yang datang bersama kesejukan udara danau toba, sekarang semuanya tinggal bersama sanak kelurgaku. Sudah dua tahun aku tidak menetap sejak saat keberangkatanku waktu itu, bahakan tak sehelai kainpun mampu kubawa pulang ke kapung halaman sebagai tanda kalau putra mereka sukses di perantauan. Aku hanya bilang pada mereka jika aku sudah wisuda, aku pasti kembali tinggal bersama mereka.    

***
          “Bang, beras kita sudah habis!”,  ucap bibir merah maron Shelly.
          Aku tak menggubrisnya dan pura-pura tak mendengarnya. Sellypun pergi seolah mengerti akan tindakanku yang acuh tak acuh padanya. 
          Awalnya kami hanya kenal begitu saja, namun terpaksa aku menikahinya. Menikahi wanita yang harus menanggung derita atas perlakuan biadap Rey, lelaki pengecut.
           
          Saat itu Selly datang padaku dengan linangan air mata. Harapannya telah pergi bersama Rey yang tak berani menanggung resiko atas hubungan mereka. Aku yang saat itu merasa kasihan pada Selly, tak menyangka kalau kedatangan Selly justru memintaku mengantika posisi Rey. Sontak saat itu Aku menolaknya mentah-mentah. 
          Aku takpernah berfikir menjalin hubungan dengan wanita manapun sebelum kuliahku selesai. Namun akhirnya komitmenku kandas setelah Ayah Selly datang dengan menawariku segepok uang dan berjanji akan menjamin biaya kuliahku serta akan menyediakan pekerjaan saat Aku usai kuliah. Selama ini Aku harus banting tulang karena kiriman dari kampung sering terlambat, namun kesempatan untuk mendapat jaminan hidup kini di depan mata. 
          Pernikahan kamipun terjadi. Aku tak pernah meberi tahukan kepada keluargaku dan bahkan teman-teman kuliahku sekalipun. Seperti perjanjian kami. Usai pernikahan Akupun pindah dari kos ke rumah yang sudah disediakan oleh Ayah Selly dan kemudian tinggalah saat ini Aku, Selly dan Rangga yang setiap saat memanggilku Ayah.
          Sudah tujuh tahun Aku tidak menetap di danau toba. Rasanya Aku ingin pulang dan tinggal bersama keluargaku di sana. Namun Aku masih belum siap untuk menjelaskan pada mereka, betapa rumitnyan kehidupanku saat ini. Dan Aku takberani mengatakan pada mereka kalau Aku telah mewariskan marga Kami pada seorang anak yang bukan dari darah dagingku sendiri. Saat Aku pulang, selalu kukatakana pada mereka kalau sekarang ini Aku tengah mengajar di suatu sekolah yang sangat membutuhkanku. 
Padahal hanya ada seorang anak dan seorang istri yang betul-betul membutuhkan diriku. Meski awalnya semua bermula dari rasa kasihan dan terpaksa. Entah keajaiban dari mana, mampu mengubah semuanya menjadi cinta. Saat ini dalam doaku, Aku hanya meminta pada Allah sebuah keberanian untuk memperkenalkan keluarga kecilku pada Ayah dan Ibu yang sudah kubohingi selama bertahun-tahun. Namun bila masanya keajaiban itu datang, hingga detik ini masih kutunggu.    

Red Or Blue





                Bagiku warna biru adalah warna yang paling indah diantara semua pilihan warna. Dan menurutku seharusnya gambar hati tidak berwarna merah, melainkan biru atau ping. Terkadang warna merah banyak menyimbolkan ketakutan dan bahaya atau semacamnya. Sebaliknya dengan warna biru, terlihat lebih tenang dan tidak pernah digunakan sebagai simbol ketegangan atau tanda bahaya.

***
          “pinggir, Bang!”, teriakku pada supir angkot.

          Tak berapalama, kendaraan yang kutumpangi berhenti dan akupun turun.

          “nih, bang!”
          “dek, kurang ini, ongkosnya!”
          “kurangnya berapa lagi, bang?”, tanyaku menatapnya dengan serius.
          “Rp. 500, lagi!”, jawabnya dengan lantang.
          “nahh, bang!”, balasku senada.

          Zaman mungkin terus maju bersama perkembangan-perkembangan manusianya. Namun bagaimana dengan nilai-nilai budi luhurnya. Hatiku merasa geli, saat ongkos angkot yang hanya kurang Rp. 500, saja. Tetap ditagih. Lebih lagi Aku sebagai penumpang, masih berstatus pelajar. Tidakkah ada semacam discont atau pengertian dari supir. Tapi supir tetaplah supir.

          Akupun tiba ke tempat yang kutuju, sasana latihan karate. Tempat perkelahian yang berseni dan dijadikan tontonan banyak lelaki pada umumnya. Hari ini Aku datang lebih awal, agar bisa berjumpa dengan Lia sebelum latihan dimulai.

          Aku melangkah masuk kedalam sasana dan seperti bisa, tradisi karateka saat masuk kedalam ruangan harus memberi hormat dengan cara menundukkan kepala.

          “ostt”, ucapku memberi hormat.
         
          “ostt”, balas Lia, yang sedari tadi berada di dalam sasana.

          Dia tersenyum kearah pria yang dia tunggu sejak tadi. Akupun selaku pria itu, mebalas senyumnya dengan lirikan menawan. Karena sasana masih sunyi dan hanya ada Aku dan Lia, dia menghampiriku tanpa ragu.

          “sayang, datangnya kok lama?”, tanya Lia, sambil memegang tanganku.

          “iyaa, tadi soalnya ada kerja kelompok!”, jawabku jujur padanya.
         
          Kamipun bercerita sambil duduk di matras empuk. Sudah hampir lima tahun Aku menggeluti profesi ini, bahkan Akupun sudah beberapa kali juara dalam pertandingan-pertandingan. Tapi enam bulan belakangan ini, Aku baru berhasil memenangkan hati Lia. Dia mengatakan kalau Aku adalah tipe pacar idamannya dan Dia juga sering bilang kalau saat Aku merengut, Aku terlihat keren.

          Namun anggapan Lia terhadapku tak semuanya benar dan hubungan kami tak begitu Aku harapkan. Bagiku Lia adalah seorang wanita yang baik dan polos. Dia datang padaku dan menyatakan perasaannya kemudian menanyakan padaku tentang perasaanku. Jujur sebagai seorang yang idealis, Aku tak tega menolaknya dan Aku lebih memilih berbohong serta mennerimanya sebagai pacarku.

          Akhirnyapun kami menjalani hubungan yang berstatus pacaran namun kami menutup rahasia ini dari teman-teman kami di sasana. Serta parahnya lagi, Beny abangnya Lia tidak pernah tahu tentang hubungan kami. Padahal Beny adalah temanku dan Dia juga latihan bersama kami di sasana ini.        

***
          “sayang, kok jarang balas sms Lia”, tanya Lia sambil menggenggam tanganku yang sedari tadi bersandar di meja kafe.
          “akhir-akhir ini Abang banyak tugas, dek!”, ucap bibir manisku yang sedang berbohong.
          “oia, adek lupa. Kalau sayang sekarang udah kelas 3”, sambungnya, sambil mengarahkan tatapan manisnya.

          Aku semakin merasa kasihan melihat harapan yang tergambar dari mata anak ini. kalau saja dia tahu, Aku selama ini menipunya dan berpura-pura menyukainya. Apa jadinya Dia. Dia berfikir Aku telah memenangkan perasaanya tapi sebaliknya Akulah yang merasakan kepedihan atas kebohonganku selama ini.

          “sayang, kok diam?”, tanya Lia kembali padaku.
          “hemnhh”, Aku hanya tersenyum lebar kearahnya.
          “oia, sayang. Hari ini sayang enggak lupakan?”
          “apanya?”, tanyaku pura-pura.
          “kitakan ulang tahun jadian yang ke-4 bulan!”, jawab Lia sambil mencium tanganku.
          “mati, aku!”  ucapku dalam hati.
          “maafin Aku, ya sayang. Yaaa, karena selam ini mungkin Akunya pengennya diperhatiin terus, banyak tingkah, enggak dewasa?”,
          “iya?”, jawabku dengan perasaan bersalah.

          Lia begitu antusias menyambut hari ini. padahal niatku mengajaknya bertemu, untuk memutuskannya dan menjelaskan tentang apa yang Aku rasakan terhadapnya. Tapi Lia lebih dulu membubuhi pertemuan ini dengan cintanya yang begitu tulus, sehingga Akupun tak tega mematahkannya.

          Akupun menarik tangannya yang sedari tadi menggenggam tanganku dan Aku perlahan melepaskan genggamannya. Sontak Lia terkejud dan mimik wajahnya berubah. Kembali Aku tersenyum kearahnya. Liapun membalas senyumku dengan bibirnya yang manyun dan Akupun meremas pipinya. Dia kembali tersenyum dan merasa terhibur. Tapi Aku merasa sangat miris akan kebohonganku.  

***

          Aku cuti dari latihan karateku dengan alasan banyak les dan ujian simulasi yang Aku hadapi dari sekolah. Singkatnya Aku ingin lebih fokus belajar karena UN yang tinggal sebentar lagi. Pelatih kamipun memaklumiku namun tidak bagi Lia. Dia terus mengirim pesan rindunya terhadapku.

          Kali ini Aku semakin merasa terpojok. UN bagiku bukan masalah, les tambahan dan ujian simulasi juga bukan masalah. Namun perasaan Lia yang kubohinglah, masalah terbesarku. Sehingga saat belajarpun Aku sering tidak fokus, yang terbayang dalam fikiranku hanyalah Lia. Aku takut Dia akan frustasi jika Aku putuskan, tapi kalau Dia membenciku atas semua ini, Aku lebih senang. Kerena Aku tak lagi harus berbohong.

***
          “Haloo, sayang!”, panggil Lia dari seberang sana.
          “iya, dek. Ada apa?”, jawabku kalem.
          “enggak ada sih, Cuma kangen aja sama Abang!”
          “maaf, ya Lia. Abang lagi sibuk!”
          “iya, Lia tahu. Bang!”
          “udah dulu, ya. Dek?”, pintaku padanya dengan pelan.
          “ahh, bentar lagila Bang!”, bantah Lia.

          Entah kenapa saat Aku mendengar bantahan itu, muncul sebuah ide gila untuk memancing pertengkaran.

          “Kok, Adek egois gituu?”, balasku dengan suara agak kuat.
          “loh kok, jadi marah?”, tanya Lia padaku.

          Akupun memanfaatkan situasi ini, untuk benar-benar buat Lia marah.

          “Jadi, mau Lia sekarang apa?”
          “Lia, enggak mau apa-apa bang!”
          “terus ini apa namanya?”, tanyaku semakin memojokkannya.
          “Abang kok, jadi pemarah gitu?”
           “ahh, udahlahh, malaspun Aku ngomong lagi?”, bentakku padanya.

          Akupun memutuskan pembicaraan. Kubiarkan Hpku diatas meja, sementara Aku menyandarkan kedua sikuku kemeja untuk menopang wajahku yang tertunduk. Aku merasa sangat berdosa, tapi mungkin kebohongan terakhir ini akan membuat Lia marah dan pergi meninggalkan Aku. Hanya saja apakah mungkin, kebohongan dapat menghapus kebohongan.

          Hpku berdering terus. Tampak pada layar HP ada panggilan masuk dari Lia. Aku membiarkannya, entah berapa kali dan berapa lama panggilan dari Lia tak kuhiraukan. Tapi, ini demi kebaikan Lia. 

          Akhirnya Hpku berhenti berdering, Akupun menjamahnya. Kulihat hpku, ternyata ada pesan masuk dari wanita yang sudah Aku aniyaya perasaanya.

          “maaf, bang. Lia udah buat Abang marah dan kecewa.
Padahalkan seharusnya Lia ngertiin keadaan Abang yang
Lagi sibuk.  Mungkin Abang lagi capek, jadi terbawa emosi.
Lia faham kok, Bang. Udah dulu ya, Bang.
Good naight”  

Aku tak menghiraukan isi pesan itu. rasanya Aku takpantas mendapatkan semua perlakuan baik dari Lia. Karena Aku hanyalah penipu ulung serta gombalan-gombalan manis yang beracun.

Tak puas hati, atas cekcok yang Aku timbulkan. Aku balik menelfon Lia.
“iya, bang!”, terdengar suara agak serak, mungkin habis nangis.
“Adek, lagi ngapain?”, sambungku dengan pertanyaan bodoh itu.
“ini, mau tidur. Bang?”
“Abang minta maaf ya, dek!”
“iya, bang!”
“udah, ngantuk?”
“belum, sih. Bang!. Ada apa, bang?”
“Abang pengen cerita!”
“yaudah cerita aja, bang?”

Aku mulai merasa was-was bercampur bingung. Namun Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa saat inilah waktunya Aku jujur, atas perasaanku terhadap Lia.

“Abang, mau kita putus. Dek!”, ungkapku pada Lia.
“kenapa, Bang?”, terdengar kembali suara yang semakin serak itu.
“selama ini Abang, enggak serius dengan Adek!”
“Tapi kenapa baru sekarang, Bang. Disaat Adek udah cinta sama Abang?”
“Abang minta maaf Lia. Karena kebodohan Abang, semuanya jadi seperti ini”
“bodoh, Abang bilang. Jadi maksud Abang, semua tindakan Abang selama ini kebodohan. Dan nerima Lia sebagai pacara Abang, juga kebodohan!”, sambar Lia perlahan dengan rengek tangisnya.

Aku terdiam dan terbodoh, jantungku terasa berdebar kencang. Bahkan nafasku terasa sesak.

“kenapa Abang diam, Bang?”, suara Lia dan tangisnya kembali memaksaku membuka mulut.  
“maafiin, Abang dek”
“kenapa, Bang. Disaat Lia ngerasa nyaman, Abang baru jujur tentang perasaan Abang. Kenapa Abang dulu terima Lia?”
“enggak segampang itu, Lia!”
“Abang, bilang Lia tadi egois. Padahal Abang lebih egois dan naif dari pada Lia!”, keluh Lia padaku.

Akupun terdiam dan mendengarkan tangis wanita malang itu. Tak ada lagi yang mampu Aku katakan padanya untuk menghentikan tanggisnya yang berlinang-linang air mata. Yang Aku ingat, pembicaraan kami terputus saat Lia mematikan Hpnya. Begitu sakit balasan yang Aku berikan atas ketulusan Lia padaku. Kebohonganku dianggapnya adalah hal yang terindah, dan sebaliknya Dia menganggap kejujuranku bagai pedang yang memutus hubungan kami.

Selepas kejadian itu, Aku dan Lia tak pernah berhubungan. Rasa bersalah terus bersamaku. Aku terus berusaha menghibur diriku dan melupakan goresan luka yang ku torehkan pada Lia dari ingatanku. Untuk menghancurkan rasa bersalah yang terus bersamaku. Aku berusaha menghibur diriku dan melupakan goresan luka yang ku torehkan pada Lia dari ingatanku.

***
Pagi yang indah ini, adalah hari yang baru. Tampak udara semilih pantai membelai, Aku melihat indahnya ombak menyapu dataran pantai. Begitu biru airnya dan terus begitu. Mungkin kisah yang semalam berawal dari warna merah hati dan berakhir dengan warna merah akibat patah hati. Tapi tidak dengan lembaran baru hari ini. Mungkin akan Aku awali dengan warna biru air laut yang sangat tenang dan nyaman.