Hari
bertukar senja dan selalu berotasi, tidak menunggu apakah aku siap atau tidak
untuk melewatinya. Sorot cahaya demikian hal nya bagai lampu, kadang redup
meninggalkan sendu, kadang terang dengan kecerian yang ia bawa. Namun senja
tetaplah senja, saat dimana awan tampak
orange dengan sayup-sayup cahaya yang hapir redup.
Kini senja tak mampu menjangkauku, cukup terhalang oleh
kaca jendela yang bening. Dan disinilah aku, hanya bisa melihat kemerlapan senja yang mencoba
menerobos kaca jendela. Posisi tergeletak dengan infus semakin membosankan,
kadang malam tak lagi membuaiku dan kejenuhan seolah ingin mengisir dari
tempatku berbaring. Hanya perasaan atau
ilusi yang betah berlama-lama dalam benakku untuk mengakhiri penantian bertemu
senja kembali.
***
“Tomy, aku sayang kamu!”, bisik Sheilla bersambut dengan
kecupan hangat.
Matahari yang akan turun untuk bersembunyi tampak malu-malu
melihat dua orang remaja yang sedang berpeluk mesra. Aku dan Sheilla begitu
menikmati detik-detik orange itu. Bahkan ombak yang tampak akan pasang seketika
takut untuk menjilat kaki kami yang tengah berpijak di tepi pantai, senja yang
sangat indah saat itu.
Akhirnya malam mengusir kemesraan senja yang berlangsung
hangat. Kamipun pergi ke gubuk, persisnya bagai pasangan lainnya yang sebentar
lagi akan menikmati pesta kembang api. Pesta akhir tahun yang digelar untuk
menyambut tahun baru. Dulunya kami menyebutnya malam kembang api, karena pada
saat malam pergantian tahun kami para anak akan datang ke pantai untuk
menyalakan kembang api bersama keluarga kami.
Zaman tak tinggal diam, seiring meledaknya jumlah penduduk
pantai malam kembang api akhirnya
disulap menjadi malam pendatang reziki. Awalnya pengunjung hanya warga setempat yang tinggalnya tak jauh
dari pantai. Namun akhirnya saat-saat malam pergantian tahun berikutnya pantai
kami ramai akan pengunjung dari berbagai pelosok daerah. Momen inilah yang
menggeser secara perlahan kebiasaan malam kembang api menjadi sebuah wisata
asmara. Di dalamnya banyak para remaja yang datang untuk berpacaran dan bahkan
ada yang datang untuk mencari pacar.
Pengunjungpun kadang sibuk mencari tempat untuk
bernostalgia, sehingga gubuk-gubukpun semakin banyak di dirikan. Malam peringatan
tahun baru akhirnya datang membawa rezeki.
“TREED” teriakan
trompet pertanda malam berganti tahun dan kemudian biasanya kembang api akan
menyala dari tangan para pengunjung pantai.
“JEDAR…JEDAR” ledakan mercun yang
ikut memeriahkan malam itu.
Akupun kemudian menggenggam erat tangan Sheilla dan
serentak kami mengangkatnya keatas sembari bersorak menyambut tahun baru.
Begitu semaraknya pergantian tahun saat bersama Sheilla, seakan rasanya ingin
mengulangnya kembali. Kehangatan bersambut kemeriahan ikut mengiringi kami
seolah rasa yang berpadu di dalam lidah saat menenggak permen nano-nano.
Saat yang tak kami inginkanpun datang. Saat dimana redupnya
kembang api dan berhentinya teriakan mercun. Pertanda akan perpisahan dari
hangatnya genggaman tangan dan hangatnya pelukan Sheilla. Kamipun pulang menuju
rumah masing-masing yang letaknya tak jauh dari pantai . Satu-satunya hal yang
terindah dari perpisahan itu adalah
kecupan perpisahan dari Sheilla yang bersarang di pipiku. Perpisahan yang tak
kuharapkan terasa begitu indah.
***
“Pa, sudah makan?”,
sapa Rani dengan lembut.
“Iya, sebentar lagi
lah!”, balasku yang tersentak dari lamunan.
Oh, baru aku sadari perpisahan malam itu adalah perpisahan
untuk selamanya. Sheilla dan keluarganya pergi entah kemana, rumahnyapun
berganti penghuni. Tahun yang baru ternyata merebut Sheilla dariku, tanpa
isyarat ataupun kabar darinya. Sejak saat itu aku terus merindukan senja akhir
tahun yang hangat itu sebelum pesta kembang api di malam pergantian tahun. Saat-saat
itu tidak lagi pernah kembali begitu juga dengan Sheilla.
Kini hanya ada aku yang tengah berbaring di atas ranjang
dan Sheilla kecil dari Rani istriku. Namun
malam ini tampaknya kami tidak bisa
bersama-sama menyalakan kembang api. Karena papa Sheilla kecil tengah terbaring
bersama khayalan yang membawanya kembali, dalam detik-detik pengharapan yang
sebenarnya telah sirnah bersamaan dengan kecupan perpisahan dan lambaian tangan
Sheilla dulu. Dan akhirnya tahu baru telah datang, selamat tinggal Sheilla.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar