Biasanya aku hanya merasakan kehangatan
mentari pagi yang datang bersama kesejukan udara danau toba, sekarang semuanya
tinggal bersama sanak kelurgaku. Sudah dua tahun aku tidak menetap sejak saat
keberangkatanku waktu itu, bahakan tak sehelai kainpun mampu kubawa pulang ke
kapung halaman sebagai tanda kalau putra mereka sukses di perantauan. Aku hanya
bilang pada mereka jika aku sudah wisuda, aku pasti kembali tinggal bersama
mereka.
***
“Bang, beras kita sudah habis!”, ucap bibir merah maron Shelly.
Aku tak menggubrisnya dan pura-pura tak
mendengarnya. Sellypun pergi seolah mengerti akan tindakanku yang acuh tak acuh
padanya.
Awalnya kami hanya kenal begitu saja,
namun terpaksa aku menikahinya. Menikahi wanita yang harus menanggung derita
atas perlakuan biadap Rey, lelaki pengecut.
Saat itu Selly datang padaku dengan linangan air mata. Harapannya telah pergi bersama Rey yang tak berani menanggung resiko atas hubungan mereka. Aku yang saat itu merasa kasihan pada Selly, tak menyangka kalau kedatangan Selly justru memintaku mengantika posisi Rey. Sontak saat itu Aku menolaknya mentah-mentah.
Aku takpernah berfikir menjalin hubungan
dengan wanita manapun sebelum kuliahku selesai. Namun akhirnya komitmenku
kandas setelah Ayah Selly datang dengan menawariku segepok uang dan berjanji
akan menjamin biaya kuliahku serta akan menyediakan pekerjaan saat Aku usai
kuliah. Selama ini Aku harus banting tulang karena kiriman dari kampung sering
terlambat, namun kesempatan untuk mendapat jaminan hidup kini di depan mata.
Pernikahan kamipun terjadi. Aku tak
pernah meberi tahukan kepada keluargaku dan bahkan teman-teman kuliahku sekalipun.
Seperti perjanjian kami. Usai pernikahan Akupun pindah dari kos ke rumah yang
sudah disediakan oleh Ayah Selly dan kemudian tinggalah saat ini Aku, Selly dan
Rangga yang setiap saat memanggilku Ayah.
Sudah tujuh tahun Aku tidak menetap di
danau toba. Rasanya Aku ingin pulang dan tinggal bersama keluargaku di sana.
Namun Aku masih belum siap untuk menjelaskan pada mereka, betapa rumitnyan
kehidupanku saat ini. Dan Aku takberani mengatakan pada mereka kalau Aku telah
mewariskan marga Kami pada seorang anak yang bukan dari darah dagingku sendiri.
Saat Aku pulang, selalu kukatakana pada mereka kalau sekarang ini Aku tengah
mengajar di suatu sekolah yang sangat membutuhkanku.
Padahal hanya ada seorang anak dan
seorang istri yang betul-betul membutuhkan diriku. Meski awalnya semua bermula
dari rasa kasihan dan terpaksa. Entah keajaiban dari mana, mampu mengubah
semuanya menjadi cinta. Saat ini dalam doaku, Aku hanya meminta pada Allah
sebuah keberanian untuk memperkenalkan keluarga kecilku pada Ayah dan Ibu yang
sudah kubohingi selama bertahun-tahun. Namun bila masanya keajaiban itu datang,
hingga detik ini masih kutunggu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar