Minggu, 03 Januari 2016

Pulang




Biasanya aku hanya merasakan kehangatan mentari pagi yang datang bersama kesejukan udara danau toba, sekarang semuanya tinggal bersama sanak kelurgaku. Sudah dua tahun aku tidak menetap sejak saat keberangkatanku waktu itu, bahakan tak sehelai kainpun mampu kubawa pulang ke kapung halaman sebagai tanda kalau putra mereka sukses di perantauan. Aku hanya bilang pada mereka jika aku sudah wisuda, aku pasti kembali tinggal bersama mereka.    

***
          “Bang, beras kita sudah habis!”,  ucap bibir merah maron Shelly.
          Aku tak menggubrisnya dan pura-pura tak mendengarnya. Sellypun pergi seolah mengerti akan tindakanku yang acuh tak acuh padanya. 
          Awalnya kami hanya kenal begitu saja, namun terpaksa aku menikahinya. Menikahi wanita yang harus menanggung derita atas perlakuan biadap Rey, lelaki pengecut.
           
          Saat itu Selly datang padaku dengan linangan air mata. Harapannya telah pergi bersama Rey yang tak berani menanggung resiko atas hubungan mereka. Aku yang saat itu merasa kasihan pada Selly, tak menyangka kalau kedatangan Selly justru memintaku mengantika posisi Rey. Sontak saat itu Aku menolaknya mentah-mentah. 
          Aku takpernah berfikir menjalin hubungan dengan wanita manapun sebelum kuliahku selesai. Namun akhirnya komitmenku kandas setelah Ayah Selly datang dengan menawariku segepok uang dan berjanji akan menjamin biaya kuliahku serta akan menyediakan pekerjaan saat Aku usai kuliah. Selama ini Aku harus banting tulang karena kiriman dari kampung sering terlambat, namun kesempatan untuk mendapat jaminan hidup kini di depan mata. 
          Pernikahan kamipun terjadi. Aku tak pernah meberi tahukan kepada keluargaku dan bahkan teman-teman kuliahku sekalipun. Seperti perjanjian kami. Usai pernikahan Akupun pindah dari kos ke rumah yang sudah disediakan oleh Ayah Selly dan kemudian tinggalah saat ini Aku, Selly dan Rangga yang setiap saat memanggilku Ayah.
          Sudah tujuh tahun Aku tidak menetap di danau toba. Rasanya Aku ingin pulang dan tinggal bersama keluargaku di sana. Namun Aku masih belum siap untuk menjelaskan pada mereka, betapa rumitnyan kehidupanku saat ini. Dan Aku takberani mengatakan pada mereka kalau Aku telah mewariskan marga Kami pada seorang anak yang bukan dari darah dagingku sendiri. Saat Aku pulang, selalu kukatakana pada mereka kalau sekarang ini Aku tengah mengajar di suatu sekolah yang sangat membutuhkanku. 
Padahal hanya ada seorang anak dan seorang istri yang betul-betul membutuhkan diriku. Meski awalnya semua bermula dari rasa kasihan dan terpaksa. Entah keajaiban dari mana, mampu mengubah semuanya menjadi cinta. Saat ini dalam doaku, Aku hanya meminta pada Allah sebuah keberanian untuk memperkenalkan keluarga kecilku pada Ayah dan Ibu yang sudah kubohingi selama bertahun-tahun. Namun bila masanya keajaiban itu datang, hingga detik ini masih kutunggu.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar