Bagiku warna biru adalah
warna yang paling indah diantara semua pilihan warna. Dan menurutku seharusnya
gambar hati tidak berwarna merah, melainkan biru atau ping. Terkadang warna
merah banyak menyimbolkan ketakutan dan bahaya atau semacamnya. Sebaliknya
dengan warna biru, terlihat lebih tenang dan tidak pernah digunakan sebagai
simbol ketegangan atau tanda bahaya.
***
“pinggir, Bang!”, teriakku pada supir
angkot.
Tak berapalama, kendaraan yang
kutumpangi berhenti dan akupun turun.
“nih, bang!”
“dek, kurang ini, ongkosnya!”
“kurangnya berapa lagi, bang?”,
tanyaku menatapnya dengan serius.
“Rp. 500, lagi!”, jawabnya dengan
lantang.
“nahh, bang!”, balasku senada.
Zaman mungkin terus maju bersama
perkembangan-perkembangan manusianya. Namun bagaimana dengan nilai-nilai budi
luhurnya. Hatiku merasa geli, saat ongkos angkot yang hanya kurang Rp. 500,
saja. Tetap ditagih. Lebih lagi Aku sebagai penumpang, masih berstatus pelajar.
Tidakkah ada semacam discont atau
pengertian dari supir. Tapi supir tetaplah supir.
Akupun tiba ke tempat yang kutuju,
sasana latihan karate. Tempat perkelahian yang berseni dan dijadikan tontonan
banyak lelaki pada umumnya. Hari ini Aku datang lebih awal, agar bisa berjumpa
dengan Lia sebelum latihan dimulai.
Aku melangkah masuk kedalam sasana dan
seperti bisa, tradisi karateka saat masuk kedalam ruangan harus memberi hormat
dengan cara menundukkan kepala.
“ostt”, ucapku memberi hormat.
“ostt”, balas Lia, yang sedari tadi
berada di dalam sasana.
Dia tersenyum kearah pria yang dia
tunggu sejak tadi. Akupun selaku pria itu, mebalas senyumnya dengan lirikan
menawan. Karena sasana masih sunyi dan hanya ada Aku dan Lia, dia menghampiriku
tanpa ragu.
“sayang, datangnya kok lama?”, tanya
Lia, sambil memegang tanganku.
“iyaa, tadi soalnya ada kerja
kelompok!”, jawabku jujur padanya.
Kamipun bercerita sambil duduk di
matras empuk. Sudah hampir lima tahun Aku menggeluti profesi ini, bahkan Akupun
sudah beberapa kali juara dalam pertandingan-pertandingan. Tapi enam bulan
belakangan ini, Aku baru berhasil memenangkan hati Lia. Dia mengatakan kalau Aku
adalah tipe pacar idamannya dan Dia juga sering bilang kalau saat Aku merengut,
Aku terlihat keren.
Namun anggapan Lia terhadapku tak
semuanya benar dan hubungan kami tak begitu Aku harapkan. Bagiku Lia adalah
seorang wanita yang baik dan polos. Dia datang padaku dan menyatakan
perasaannya kemudian menanyakan padaku tentang perasaanku. Jujur sebagai
seorang yang idealis, Aku tak tega menolaknya dan Aku lebih memilih berbohong
serta mennerimanya sebagai pacarku.
Akhirnyapun kami menjalani hubungan
yang berstatus pacaran namun kami menutup rahasia ini dari teman-teman kami di
sasana. Serta parahnya lagi, Beny abangnya Lia tidak pernah tahu tentang
hubungan kami. Padahal Beny adalah temanku dan Dia juga latihan bersama kami di
sasana ini.
***
“sayang, kok jarang balas sms Lia”,
tanya Lia sambil menggenggam tanganku yang sedari tadi bersandar di meja kafe.
“akhir-akhir ini Abang banyak tugas,
dek!”, ucap bibir manisku yang sedang berbohong.
“oia, adek lupa. Kalau sayang sekarang
udah kelas 3”, sambungnya, sambil mengarahkan tatapan manisnya.
Aku semakin merasa kasihan melihat
harapan yang tergambar dari mata anak ini. kalau saja dia tahu, Aku selama ini
menipunya dan berpura-pura menyukainya. Apa jadinya Dia. Dia berfikir Aku telah
memenangkan perasaanya tapi sebaliknya Akulah yang merasakan kepedihan atas kebohonganku
selama ini.
“sayang, kok diam?”, tanya Lia kembali
padaku.
“hemnhh”, Aku hanya tersenyum lebar
kearahnya.
“oia, sayang. Hari ini sayang enggak
lupakan?”
“apanya?”, tanyaku pura-pura.
“kitakan ulang tahun jadian yang ke-4
bulan!”, jawab Lia sambil mencium tanganku.
“mati,
aku!” ucapku dalam hati.
“maafin Aku, ya sayang. Yaaa, karena
selam ini mungkin Akunya pengennya diperhatiin terus, banyak tingkah, enggak
dewasa?”,
“iya?”, jawabku dengan perasaan
bersalah.
Lia begitu antusias menyambut hari
ini. padahal niatku mengajaknya bertemu, untuk memutuskannya dan menjelaskan
tentang apa yang Aku rasakan terhadapnya. Tapi Lia lebih dulu membubuhi
pertemuan ini dengan cintanya yang begitu tulus, sehingga Akupun tak tega mematahkannya.
Akupun menarik tangannya yang sedari
tadi menggenggam tanganku dan Aku perlahan melepaskan genggamannya. Sontak Lia
terkejud dan mimik wajahnya berubah. Kembali Aku tersenyum kearahnya. Liapun
membalas senyumku dengan bibirnya yang manyun dan Akupun meremas pipinya. Dia
kembali tersenyum dan merasa terhibur. Tapi Aku merasa sangat miris akan
kebohonganku.
***
Aku cuti dari latihan karateku dengan
alasan banyak les dan ujian simulasi yang Aku hadapi dari sekolah. Singkatnya Aku
ingin lebih fokus belajar karena UN yang tinggal sebentar lagi. Pelatih kamipun
memaklumiku namun tidak bagi Lia. Dia terus mengirim pesan rindunya terhadapku.
Kali ini Aku semakin merasa terpojok.
UN bagiku bukan masalah, les tambahan dan ujian simulasi juga bukan masalah.
Namun perasaan Lia yang kubohinglah, masalah terbesarku. Sehingga saat
belajarpun Aku sering tidak fokus, yang terbayang dalam fikiranku hanyalah Lia.
Aku takut Dia akan frustasi jika Aku putuskan, tapi kalau Dia membenciku atas
semua ini, Aku lebih senang. Kerena Aku tak lagi harus berbohong.
***
“Haloo, sayang!”, panggil Lia dari
seberang sana.
“iya, dek. Ada apa?”, jawabku kalem.
“enggak ada sih, Cuma kangen aja sama Abang!”
“maaf, ya Lia. Abang lagi sibuk!”
“iya, Lia tahu. Bang!”
“udah dulu, ya. Dek?”, pintaku padanya
dengan pelan.
“ahh, bentar lagila Bang!”, bantah
Lia.
Entah kenapa saat Aku mendengar
bantahan itu, muncul sebuah ide gila untuk memancing pertengkaran.
“Kok, Adek egois gituu?”, balasku
dengan suara agak kuat.
“loh kok, jadi marah?”, tanya Lia
padaku.
Akupun memanfaatkan situasi ini, untuk
benar-benar buat Lia marah.
“Jadi, mau Lia sekarang apa?”
“Lia, enggak mau apa-apa bang!”
“terus ini apa namanya?”, tanyaku
semakin memojokkannya.
“Abang kok, jadi pemarah gitu?”
“ahh, udahlahh, malaspun Aku ngomong lagi?”,
bentakku padanya.
Akupun memutuskan pembicaraan.
Kubiarkan Hpku diatas meja, sementara Aku menyandarkan kedua sikuku kemeja untuk
menopang wajahku yang tertunduk. Aku merasa sangat berdosa, tapi mungkin
kebohongan terakhir ini akan membuat Lia marah dan pergi meninggalkan Aku.
Hanya saja apakah mungkin, kebohongan dapat menghapus kebohongan.
Hpku berdering terus. Tampak pada
layar HP ada panggilan masuk dari Lia. Aku membiarkannya, entah berapa kali dan
berapa lama panggilan dari Lia tak kuhiraukan. Tapi, ini demi kebaikan
Lia.
Akhirnya Hpku berhenti berdering, Akupun
menjamahnya. Kulihat hpku, ternyata ada pesan masuk dari wanita yang sudah Aku
aniyaya perasaanya.
“maaf,
bang. Lia udah buat Abang marah dan kecewa.
Padahalkan
seharusnya Lia ngertiin keadaan Abang yang
Lagi sibuk. Mungkin Abang lagi capek, jadi terbawa emosi.
Lia faham
kok, Bang. Udah dulu ya, Bang.
Good naight”
Aku tak menghiraukan isi pesan itu. rasanya Aku
takpantas mendapatkan semua perlakuan baik dari Lia. Karena Aku hanyalah penipu
ulung serta gombalan-gombalan manis yang beracun.
Tak puas hati, atas cekcok yang Aku timbulkan. Aku
balik menelfon Lia.
“iya, bang!”, terdengar suara agak serak, mungkin
habis nangis.
“Adek, lagi ngapain?”, sambungku dengan pertanyaan
bodoh itu.
“ini, mau tidur. Bang?”
“Abang minta maaf ya, dek!”
“iya, bang!”
“udah, ngantuk?”
“belum, sih. Bang!. Ada apa, bang?”
“Abang pengen cerita!”
“yaudah cerita aja, bang?”
Aku mulai merasa was-was bercampur bingung. Namun Aku
mencoba meyakinkan diriku bahwa saat inilah waktunya Aku jujur, atas perasaanku
terhadap Lia.
“Abang, mau kita putus. Dek!”, ungkapku pada Lia.
“kenapa, Bang?”, terdengar kembali suara yang
semakin serak itu.
“selama ini Abang, enggak serius dengan Adek!”
“Tapi kenapa baru sekarang, Bang. Disaat Adek udah
cinta sama Abang?”
“Abang minta maaf Lia. Karena kebodohan Abang,
semuanya jadi seperti ini”
“bodoh, Abang bilang. Jadi maksud Abang, semua
tindakan Abang selama ini kebodohan. Dan nerima Lia sebagai pacara Abang, juga
kebodohan!”, sambar Lia perlahan dengan rengek tangisnya.
Aku terdiam dan terbodoh, jantungku terasa
berdebar kencang. Bahkan nafasku terasa sesak.
“kenapa Abang diam, Bang?”, suara Lia dan tangisnya
kembali memaksaku membuka mulut.
“maafiin, Abang dek”
“kenapa, Bang. Disaat Lia ngerasa nyaman, Abang
baru jujur tentang perasaan Abang. Kenapa Abang dulu terima Lia?”
“enggak segampang itu, Lia!”
“Abang, bilang Lia tadi egois. Padahal Abang lebih
egois dan naif dari pada Lia!”, keluh Lia padaku.
Akupun terdiam dan mendengarkan tangis wanita
malang itu. Tak ada lagi yang mampu Aku katakan padanya untuk menghentikan
tanggisnya yang berlinang-linang air mata. Yang Aku ingat, pembicaraan kami
terputus saat Lia mematikan Hpnya. Begitu sakit balasan yang Aku berikan atas
ketulusan Lia padaku. Kebohonganku dianggapnya adalah hal yang terindah, dan
sebaliknya Dia menganggap kejujuranku bagai pedang yang memutus hubungan kami.
Selepas kejadian itu, Aku dan Lia tak pernah
berhubungan. Rasa bersalah terus bersamaku. Aku terus berusaha menghibur diriku
dan melupakan goresan luka yang ku torehkan pada Lia dari ingatanku. Untuk
menghancurkan rasa bersalah yang terus bersamaku. Aku berusaha menghibur diriku
dan melupakan goresan luka yang ku torehkan pada Lia dari ingatanku.
***
Pagi yang indah ini, adalah hari yang baru. Tampak
udara semilih pantai membelai, Aku melihat indahnya ombak menyapu dataran
pantai. Begitu biru airnya dan terus begitu. Mungkin kisah yang semalam berawal
dari warna merah hati dan berakhir dengan warna merah akibat patah hati. Tapi
tidak dengan lembaran baru hari ini. Mungkin akan Aku awali dengan warna biru
air laut yang sangat tenang dan nyaman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar