Rabu, 23 Maret 2016

Aku Bukan Pilihan Part II

Siang ini cukup panas dengan sensasi gerahnya, mengingat mata kuliah yang masih harus dilanjutkan. Hanya ada jendela sebagai pembuai gerah yang mencairkan keringat. Untuk sekelas kampus berakreditasi A, cukup mencengankan memang saat harus kepanasan karena AC tidak berfungsi sebagaimana biasanya.

          Inilah siang yang ku impikan selama bertahun-tahun saat masih SMA dulu, bayangan yang selalu hadir adalah kenyamanan dan ketenagan bila berada di ruangan ber-AC. Ntah itu mimpi yang salah atau terlalu berlebihan, pastinya tak sedingin dan tak senyaman hayalanku.

****
          Kata orang aku biasa saja namun sebagian kecil dari mereka yang pernah menjadi pacarku selalu bilang kalau aku itu istimewa, mungkin sebuah pujian atau gombalan. Bagiku saat ini hanyalah perasaan yang dibuai angan-angan, lambat laur pergi bersama waktu.

          Aku siang ini sedikit jenuh menunggu dan hanya mendengarkan teman-teman menggerutu, walau di samping itu aku sedang berbalas pesan dengan orang yangbaru saja sangat dekat denganku. Mahadi. Begitu unik nama itu, seunik tingkahnya dan cara dia berfikir.

          Pertemuan itu entah disengaja atau tidak namun bermuara pada pandangan yang membuatku sungguh kepayang, untuk laki-laki yang cukup memberikan kesan. Awalnya aku prihatin melihat kesehariannya, ia selalu menyendiri di tengah ramainnya temannya. Banyak yang bilang dia itu kuper padahal dia punya banyak orang yang menyukainya dan membutuhkannya. Tapi tidak dengan dia, dia lebih sering menyendiri dan melamun. Wajah itu selalu merengut ragu dan ekspresi yang sangat sulit di tebak.

          Perlahan tapi pasti, akhirnya banyak dugaanku dan rumor yang beredar tentangnnya terjawab. Mahadi ternyata memang anak yang suka menarik diri, banyak orang yang tak mengerti tentang dia meski banyak orang yang membutuhkannya. Dia dan mahasiswa lainnya tampaknya tak sama, dia hanya terlihat murung dan tak menyadari kalau dia adalah orang yang berharga bagi oranglain. Padahal Yudi teman dekatnya yang juga abang kelasku, sangat populer dan terkenal dengan geng-nya. “Apakah Mahadi tidak termaksud dalam geng yang sedang Yudi geluti?”.
****

          “Bang, Dona boleh nanyak enggak?”, bisikku pdanya yang duduk di sapingku.

          “Jangan tentang tugas ya”, btahnya dengan suara halus.

          “ihh, enggak ya!”, balasku mencubit pipinya.

          Iapun tersenyum kearahku, menatapku dan sedikit memaikan alis matanya. Sungguh ekspresi wajah Mahadi yang tak pernah ku lihat selama ini.

          “Ok, sayang mau nanya apa?”, sabungnya bertanya.

          Aku sedikit gugup merespon pandangannya yang tak biasa menurutku.

          “Abang, kok sering kali menyendiri?”, tanyaku tersenyum kembali memandangnya.

          “Menyendiri gimana?”

          “ya, Dona perhatiin. Abng tuh, kayakanya kesepian, enggak ada kawan dan duduknya sediri!”, tanyaku runtun.

          “entahla, dek. Mungkin udah dari sononya kali.”, balas Mahadi.

          Akupun tak mau lagi menyinggung masalah kenapa Mahadi suka menyendiri. Iya hanya menjawab dengan tenag dan sungguh singkat, maknanya cukup jelas terlihat di bola matanya. Sungguh sulit menebaknya dan memahaminya.

          Kamipun selesai makan siang. Dia memegang tanganku dan seakan tak peduli dengan siapa dan sedang dimana kami. Mahadi terus mengiriku sampai kami sampai dan berbocengan naik sepeda motornya. Rengganis katanya, temannya yang paling setia dan setiap hari bersamanya namun masalahnnya Rengganis bukanlah wanita atau manusia pada umumnya. Rengganis adalah sebutan untuk sepeda motor miliknya, Mahadi bilang kalau ia suka menamai barang-barang kesayangannya dengan nama yang menurut dia memiliki makna atau unik.

Misalnya Rengganis adalah naman seorang ratu legendaris dari novel yang pernah ia baca, kemudian Kasasi adalah nama untuk laptop miliknya dan teman Mahadi yang terakhir adalah Tomy. Tomy Wijaya Fahlefa, subutannya untuk smart-foon  miliknya yang katanya ia beli dengan uang hasil kerjanya selam libur kuliah.

Dia hadir dengan segala ke-unikan yang dia miliki, aku menggapnya anak indigo. Mahadi mampu mengerjakan apa yang dianggap orangsulit, memiliki multi talenta dan IPK yang di atas rata-rata. Hanya saja dia baru bisa membuat satu ke ajaiban. Keajaiban yang membuatkubisa melupakan mantan-mantanku, keajaiban yang membuat hariku berwarna dan keajaiban yang membuatku bahagia melewati hariku.

Adakah keajaiban yang bisa aku berikan untuknya, agar Mahadi bisa mengungari lamunannya yang membuatnya terasing dan menyendiri. Menyadarkan Mahadi akan sikapnya yang sulit di tebak dan keajaiban yang bisa membuat Mahadi membagi senyum indahnya pada oranglain, meski aku sedikit cemburu.

Aku menyayangimu dengan segenap kemampuanku, aku tak memiliki kekuatan ajaib atau apapun yang istimewa. Meski kita saling memiliki satu sama lain, ingatlah dunia ini tidak berada dalam alam lamunanmu bang. Aku tak ingin kau menjadi diri orang lain, cukup dengan senyummu dan keramahanmu untuk duduk di samping teman-temanmu dan di sampingku. “Bagaimana aku bisa memilikimu kalau kau lebih banyak berada di alammu sendiri” , dan “bagaiman aku bisa memperkenalkanmu pada teman-temanku kalau kau hanya asyik dengan Rengganis, Kasasi dan Tomy”. liriklah sedikit ke arah pergaulan dan cukupkanlah keraguanmu sampai di sini.


           

Rabu, 16 Maret 2016

Aku Bukan Pilihan Part I




       Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, menyangkut “apa yang dia fikirkan tentangku!”. Mengikuti tatapan misteriusnya dan menjawab prasangka akan dirinya. Hanya dia dan selalu dia dalam benakku, benak yang kini bungkam dalam bayangan dejavu. Seakan semalam semuanya telah terlewati dan saat ini berulang kembali, hal yang begitu serupa tergambar begitu jelas. Sejelas saat senyum indah itu berubah menjadi rengut yang segelisah mungkin.

****

          Kami memulai semuanya di sini, tempat saat dia bertanya akan kebodohan yang pernah menimpahku. Saat itu adalah kali pertama aku memegang tangannya, setelah tatantangan itu diberikan. Ya, aku yang bodoh inipun terhasut dengan ajakan Yudi. Menghampiri wanita yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kami dan mengajak dia berkenalan.   

          “aku, Dona!”, balas wanita itu menjabat tanganku dan tersenyum.
         
          “kok sendiran aja, temannya mana?”, tanyaku kembali padanya.

          Meski awalnya aku deg-degan tapi akhirnya rasa itupun menghilang. Mungkin karena mengikuti saran Yudi, walau  sedikit SKSD namun percakapan ini terasa indah. Enggak tahu dari sudut mananya indah yang kurasakan, yang jelas ada banyak hal yang sulit untuk dijelaskan.

          Selepas perbincangan singkat itupun aku lega dan Yudipun datang menghampiriku dengan senyum ledekannya. Entah karena ia salut padaku atau mungkin ada hal lain.

          “mantapkan?”, tanya Yudi tersenyum.

          “apa yang mantap?”, tanyaku kembali.

          Yudipun akhirny menjelaskan panjang lebar soal wanita tadi. Tidak banyak yang aku ingat dari penjelasannya saat itu, tapi wanita tadi adalah adik kelas kami yang masih semester dua. Yudi juga bilang kalau dia tipe cewek yang cocok untuk anggota HMJ seperti aku. HMJ, bukan sebuah sigkatan umum. Tapi MHJ adalah singkatan dari Himpunan Mahasiswa Jomblo katanya, sambil meledek aku.

          Entah itu motivasi atau ejekan, pastinya terdengar sedikit menyakitkan. Menyakitkan, saat Yudi mengkaitkan kenyataan dan humor dalam ungkapan HMJ. Itulah Yudi, soal wanita dia selalu nomor satu dan kalau soal kuliah dia selalu jadi nomor terakhir. Berbading terbalik dengan aku tapi kadang-kadang banyak hal gokil dan ide gila yang sama kami miliki.     

            Ide gila yang sama itupun akhirnya muncul di tengah ledekan Yudi. Mungkin ini tergila dari yang pernah aku lewati. Intinya dari kesepakatan itu, Yudi kembali memintaku untuk mendekati Dona dan kalau bisa kami jadian. Bukan hal yang mudah bagiku, mungkin mustahil tapi inilah kegilaan. Hanya muncul dan benar-benar terjadi saat bersama Yudi.

          Jabatan tangan kesepakatanpun akhirnya menutup negosiasi kami siang itu, keningku mulai semakin mengkerut memikirkan bagaimana untuk dekat dengan Dona. Hal sebaliknya terjadi pada Yudi, keningnya tampak bersinar kinclong dan seakan telah mengeluarkan gagasan brilian.

****

          Seminggu berlalu setelah hari dimana aku berkenalan dengan Dona, mungkin aku tidak bisa menyanggupi ide gila itu. Tapi sejak saat menyepakati ide itu, aku selalu dihantui senyum Dona dan tatapan manjanya. Dona begitu indah untuk dihidari meski begitu deg-degan untuk didekati. Dilema terus menggelitiki perasaanku, seperti senyum Yudi yang semakin hari semakin lebar padaku.

          “Men..!”kejut Yudi, memukul pundakku.

          Aku hanya diam dan melirik ke arahnya, mungkin ia akan lebih leluasa menyidirku dengan kegilaan barunya. Iya mungkin hari aku kurang beruntung.

          “kok diam aja, men!”, sambungnya mengajak bicara.

          “lagi suntuk aku ini!”, balasku masa bodoh.

          “aih, jangan bilang misi kita gagal!”, Yudi langsung menterjemahkan apa yang ingin aku ungkapkan.

          “abisnya, mau gimana lagi?”, akupun sedikit pasrah.

          “kejar terus kenapa!, jangan cemen kali, entar jomlo bangkotan kau!”.

          Motivasi dan hinaan terasa senada dalam logat Yudi. Ya, memang kalau lagi ngomong dengannya seperti ngomong dengan orang mabuk. Pintar tak terikuti, bodoh tak terajarai.
****

          Namun orang lemah dan bodoh selalu di sayang Tuhan, mungkin inilah buktinya. Bukti kalau aku yang lemah ini bisa melakukan hal di luar kemampuku, aku yakin sekali ini karena Tuhan. Akhinya, aku dan Dona resmi jadian. Sangat indah memang walau kadang sulit memahaminya. Tapi aku bahagia dan kelihatanyya dia juga.
         
          Aku sangat menyayanginya, sepertinya waktu seharian di kampus bersamanya tidak cukup. 24 jam nonstop bahkan aku sanggup bersamanya. Oh, akankah semuannya akan abadi atau akan segera berakhir. Terimakasi Dona atas hari-hari yang indah, ya hari yang sangat indah. Love You.

Kamis, 18 Februari 2016

Dua Laki-laki Pilihan



         Saat itu angin berhembus sejuk membawa masa depanku yang tengah melambaikan tangannya, kian jauh ditelan birunya warna laut. Lambaian halusnya seperti tamparan angin sepoi-sepoi yang tak kunjung menghilang dari benak ini, sangat indah.
         
          Randa berjanji kelak saat dia kembali pastinya dia akan mempersuntingku sebagai istrinya. Ya, aku sangat tidak sabar menunggu hari dimana kekasihku datang sebagai cendikiawan muda yang telah memikul segepok ilmu dan pastinya telah mengenakan toga kebesarannya, seperti yang selalu ia idamkan. Kelak mungkin ia akan tampak lebih gagah, tidak lagi seperti saat dia masih anak kampung yang baru pisah dari putih abu-abu.

Dia tidak pernah bialng padaku kalau aku juga harus sama seperti dia. Satu hal yang kuingat, dia bilang aku harus menjaga janji kami sampai penantian itu tiba. Sungguh tanggung jawab yang sama beratnya dengan menjaga nyawa, lebih lagi kerenggangan keluarga kami yang sulit bersatu. Bisa dibilang seperti air dan minyak.

Namun hari ini tampaknya penantian bahagia itu harus usai. Sepertinya tidak lagi dengan hayalain yang saat ini nyata-nyata adalah gambaran semu. Gambaran semu yang menguatkanku dalam memegang amanahnya.

“Sayang maafkan aku karena tidak bisa lagi pulang ke kampung kita.
Aku sekarang sudah punya anak dan istri, kehidupanku juga sangat susah
disini. Carilah orang lain yang mau menjadikanmu istri, aku ikhlas.
Sekalai lagi maaf.”

Memo yang kali pertama aku terima dari Randa setelah empat tahun penantiaku. Tahun ini seharusnya aku besrtemu dengan tambatan hatiku yang berselempangkan toga serta dengan wejangan arifnya. Namun kenapa semuanya ia titipkan lewat selembar memo yang harus menghancurkan hatiku. Jujur, sakit hati pasti ada. Tapi aku tak mengerti kenapa harus sekarang dan kenapa harus dengan memo ia mengatakan ini padaku.

Empat tahun penantian, pagi dan malam aku selalu membayangakan pernikahan kami. Bahakan aku tak pernah mau tahu dengan laki-laki manapun yang coba mendekat, baik yang berniat mempersunting aku atau hanya sekedar dekat. Jodoh yang di tunjuk orang tuaku kerap aku tolak dengan segenap cara dan usah, setiap aku merindukannya selalu aku mendoakan dia agar cepat menyelesaikan kuliahnya dan kembali untuk menjemput aku dari penantian ini.


Memo yang dikirim Randa akhirnya menjadi sebuah perintah, perintah untuk tidak lagi menunggunya dan segera mengganti harapan itu dengan kekecewaan yang sebenarnya tak perlu. Aku pasrah dan menuruti perjodohan yang ditentukan orangtuaku, mungkin ini bukan jalan yang terbaik tapi Randa sendiri yang memintanya dan aku tak berdaya untuk menolak.

Aku menikah dan dibawa oleh suamiku pergi kekota, katanya untuk mengawali kehidupan yang baru lebih baik pergi ketempat yang baru dan memulai segalanya dari nol. Bersamanya saat ini aku hidup, hanya ada canda tawa yang selalu ia suguhkan dengan manisnya kasihnya. Sepertinya ia sangat memahami perasaanku yang pernah kecewa dan sempat putus asa namun ia memperlakukan aku dengan bijak dari yang kubayangkan.

*****

Sebentar lagi aku akan medengar tangisan seorang bayi. Ya, aku tengah mengandung anak pertamaku. Ia menjadi anugrah dan menumbuhkan cinta yang baru, awalnya aku tak sedikitpun mencintai suamiku serta masih saja mengingat-ingat Randa. Saat aku tahu di dalam perutku ada seorang bayi, cinta itupun tumbuh. Entah berapa tahun terlambatnya cinta itu datang yang jelas selama berumah tangga, inilah kali pertama ak merakannya.

Biasanya aku hanya melayani suamiku tidak karena cinta tapi karena hormat pada  ayah dan padanya yang telah mengangkatku dari kekecewaan. Tapi lama-kelamaan semuanya berubah. Dia laki-laki yang ulet, sabar, dan bijak. Hari ini ia membuktikan padaku bahwa sesungguhnya cinta yang ia berikan benarlah sejati.

“Ma!”, panggil suamiku sembari mengelus keningku.

“Iya!”, jawabku yang terkejut dari lamunanku dan sedikit terharu karena sebentar lagi ada seorang anak yang akan memanggilku dengan sebutan yang baru saja suamiku ucapkan padaku.

“Mama udah makan?”, tanya samiku, kembali mengajak berbicara.

“belum, Pa. Mama belum laper!”

Ia tersenyum kearahku dan mengelus perutku. Iapun duduk di sampingku yang sedari tadi hanya melamun. Akupun dirangkulnya dengan mesra. Tak pernah aku merasakan bahagia seperti siang ini, rasanya aku ingin balas merangkulnya demi mengakhiri kebodohan selama dua tahun ini dan membalas cintanya dengan sesunguh-sunguhnya sebagai seorang istri. Kamipun bernostalgia untuk yang pertama kalinya kurasakan dengan cinta. Sangat indah.

*****
          Dia akhirnya datang dan hadir di pangkuan kami, suamiku memberinya nama Krisan.

          “Krisna dan Sandra”, ucap suamiku tertawa bahgia.

          Bahkan hingga saat memberikan nama anak kami dia terus mencoba menyatukan kami. Dengan memadukan tiga huruf depan pada masing-masing nama kami dan mungkin Ayahku saja tak memiliki nama sebagus itu untuk cucunya.

          Tampaknya inilah ganti dari penantian yang panjang itu, dua orang laki-laki yang kumiliki dan keduanya mencintaiku. Krisna suamiku dan Krisan anakku. Selama ini aku mengeluh pada Allah atas apa yang aku anggap tidak pilihanku tapi Dia menunjukkan betapa indahnya sesungguhnya pilihanNya. Sungguh aku sangat bodoh yang dulunya mencoba bertahan dan tak peduli dengan takdirnya. Kini aku bahagia dan bersyukur dengan semua ini. 

          “Krisna suamiku dan Krisan anakku, aku mencintai kalian. Hidupku saat ini terasa sempurna karena kalian.”


Pesan penulis:
“Saat kita semakin tenggelam dalam cinta yang semu, sesungguhnya kita telah buta saat itu juga. Ingatlah cinta sejati adalah cinta yang nyata-nyata kauniaNya sedangkan cinta semu hanyalah hasrat dan muslihat nafsu”

Jumat, 12 Februari 2016

Januari Itu Luka (Part IV)





          Malam itu adalah malam yang paling indah, saat bersama laki-laki idaman dan besandar di pelukan hangatnya. Oh, apakah karena mungkin ini cinta pertamaku. Sangat tidak biasa dan aku tak ingin ini berakhir. Ya, walau aku tidak suka dengan suasana ribut-ribut dan lampu yang kelap-kelip mengikuti musik Dj, tapi aku bersamanya dan dia pacarku. pacar yang selama ini aku idamkan dan selalu hadir dalam hayalanku. Lisman Admaja.

“Aku lebih suka menjadi b*jingan dari pada laki-laki baik!”, ucapnya dengan sangat percaya diri padaku.

          “Kenapa, Lin?, tanyaku penasaran.

          “karena saat menjadi b*jingan akan selalu ada wanita yang cantik di sampingku!”. Jawabnya sabil melirik manis ke arahku.

          “ahhh, gomball”, balasku tersenyum malu menghadapnya.

          Begitu indah gombalannya yang bercampur dengan hangatnya alk*hol di gelas kami. Ya, cukup untuk membuatku nyaman dengan hal-hal baru seperti situasi klabing malam ini.

          “sayang”, bisik Lin di telingaku, terdengar sangat maco suaranya.

          Aku tak menjawab dan ternyata bisikannya bermuara pada ciuman hangat yang ia tempelkan  pada pipi kiriku, pipi kiri yang merah setelah kali pertama merasakan ciuman dari seorang laki-laki. Semuanyapun semakin memanas dan aku seakan melayang, melayang ke atas puncak indahnya asmara. Jujur aku katakan sulit untukku membedakan cinta dan nafsu saat itu, semuanya berpadu dalam buaiyan manis Lin.

****

          Hatiku serasa terbakar dan tanganku menggengam erat segumpal amarah, amarah yang siap aku tumpahkan pada wajah b*jingan itu. Kau berhutang padaku b*jingan, b*ajinga Lin dan pacarnya yang sok muslimah. Keduanya telah merampas duniaku dan Riskha adalah penyebab semua ini. Penyebab Lin menjauhi aku.

          Awalnya kami cecok karena perangai buruk Lin yang kesekian kalinya, mencumbui siapa saja yang ia sukai. Melihatnya aku sangat marah, percekcokan itupun berakhir saat ia mendiami aku dan pergi bergandengan dengan wanita yang bersamanya malam itu. Aku mencegahnya dan mencoba melerai pertengkaran kami, Lin-pun menyuruh wanita itu pergi tanpanya dan ia mengajakku duduk bersamanya.

          “Lin, aku ini pacarmu”, ucapku padanya yang setengah mabuk.

          “Heheheee”, ia tersnyum geli dan melanjutkan. “tapi kau lupa, kalau aku b*ajingan”. Jawabnya ringan.

          Mendengarnya aku seperti tersambar petir, petir diantara kemerlap lampu klabing. Sungguh kata-kata yang membuatku luka. Akupun menangis di hadapannya berharap ia membujukku dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

          “udah, jangan cengen ahhh”

          Mendengar suara Lin, aku menghentikan tangisku. Namun Lin lebih dulu mengusap air mataku dengan kedua tangannya. Seketika tangisan luka itu berhenti dan aku sedikit merasa lega.

          “jangan nangis lagi ya!”, ucap Lin kembali.

          Aku masih tak berani bersuara dan hanya menganggukkan kepalaku. Lin tersenyum begitu manis dan mengusap kepalaku. Aku sangat merasakan kenyamanan karenanya. Iapun mulai agresif dan tak memperdulikan orang-orang yang ada di klabing malam itu. Rangkulan mesranya kembali menjerat tubuhku yang ia paksa berdiri melayani sahwatnya. Kamipun berdisko melupakan apa yang telah terjadi.   

          Namun hari ini ia melupakan semuanya, semuanya tentang aku dan malam-malam yang kami lewati dengan kehangatan asmara. Kini Lin tak lagi datang ke klabing dan kamipun putus hubungan. Memang karena aku yang memintanya sebab Lin mulai sibuk dengan kuliahnya. Tak kusangka iapun begitu cepat mendapatkan kekasih baru. mengabaikan perasaan aku, aku yang mencintainya dan menyerahkan diriku padanya.

          Januari ini adalah awal luka itu menganga, tepat saat aku mendengar kabar dari Jony tentang hububungan Lin dan Riskha. Selama ini aku tak pernah merasakan luka atas ketidak setian Lin, kali ini luka itu di karenakan Riskha. Riskha tetanggaku, kami sama-sama berasal dari kampung dan merantau ke mari dengan tujuan untuk kuliah. Ayah selalu membanding-bandingkan aku dengannya, karena memang dari SMA Riskha lebih unggul. Saat ini ia kuliah di universitas negeri dan aku hanya di universitas swasta. Sungguh pengacau yang harus di musnahkan. Dan kini dia datang untuk mengambil Lin pacarku.  jika hanya karena prestasi ataupun status, aku sama sekali tidak menggubrisnya. Kali ini semuanya aku pertaruhkan karena menyangkut kebahagianku, aku berjanji ia akan merasakan luka yang tengah aku rasakan.

          Rencana itupun akhirnya muncul dan sukses aku jalankan, Riskha di tarik pulang ke kampung dan akan segera menikah. Menikahi lelaki yang di jodohkan oleh orang tuanya, orang tuanya yang merasa malu padanya. Ya, karena ia berani berdua-duaan dengan Lin. Isupun akhirnya aku edarkan untuk membuatnya tidak lagi bisa kuliah, Abi Riskhapun beranggapan ia telah terkontaminasi dengan prilaku buruk teman-temannya. Pernikahanpun adalah hukuman yang pantas untuknya dan sekaligus balasan dariku akan rasa sakit ini.

          Saat aku datang menemui Riskha sehari sebelum pernikahannya dengan Surya, ia tampak begitu lesu dan sedikit pucat. Kedatanaganku bukan untuk melihatnya atau untuk menghiburnya, karena bagiku hiburan yang menyenangkan adalah saat bertemu Riskha yang sedang berputus asa. Rencanaku sangat menguntungkkan aku, meski belum semuanya berhasil.

          Akupun meminta bantuan Jony untuk bertemu Lin, saat itu Lin sangat galau dengan ke adaan Riskha yang tak kunjung masuk kuliah dan tak memberi kabar. Jony mengatur pertemuan kami di tempat biasa, aku menyiasatinya dan menyediakan minuman hangat yang akan membuat Lin lupa pada Riskha. Aku menyamar sebagai Mira dan berura-pura sebagai tetangga sekaligus teman dekat Riskha satu kampung. Awalnya berjalan dengan mulus, Lin datang dan duduk bersama kami. Ia ternyata tidak mengenali aku, aku yang dulu selalu mendengarkan gombalaannya dan berpelukan mesra dengannya di tempat ini.

          Ternyata di balik rencanaku ini, ada sekenario besar yang tak bisa ku elakkan. Keputusan Tuhan membuat Lin semakin gigih untuk menghindar dari jebakkan ini. Ia hanya pergi dan berlalu tanpa menenggak minuman dan tetap saja tidak menghiraukan aku. Aku kira januari ini adalah bulan yang baik untuk kami merajut hubungan baru dan melupakan bulan-bulan sebelumnya, Tuhan berkata lain dan Lin tetap teguh dan mantap dengan komitmennya. Lalu pergi meninggalkan aku dan Jony.

          Semuanya hancur berantakan. Riskha akan segera menikah dengan orang yang tidak ia cintai, Lin tetap dengan komitmennya dan dilema akan kerinduannya pada Riska. Sementara aku dihantui rasa bersalah akan luka ini, luka yang aku timbulkan karena dendam.

          "oh,  januari itu luka”