Jumat, 12 Februari 2016

Januari Itu Luka (Part IV)





          Malam itu adalah malam yang paling indah, saat bersama laki-laki idaman dan besandar di pelukan hangatnya. Oh, apakah karena mungkin ini cinta pertamaku. Sangat tidak biasa dan aku tak ingin ini berakhir. Ya, walau aku tidak suka dengan suasana ribut-ribut dan lampu yang kelap-kelip mengikuti musik Dj, tapi aku bersamanya dan dia pacarku. pacar yang selama ini aku idamkan dan selalu hadir dalam hayalanku. Lisman Admaja.

“Aku lebih suka menjadi b*jingan dari pada laki-laki baik!”, ucapnya dengan sangat percaya diri padaku.

          “Kenapa, Lin?, tanyaku penasaran.

          “karena saat menjadi b*jingan akan selalu ada wanita yang cantik di sampingku!”. Jawabnya sabil melirik manis ke arahku.

          “ahhh, gomball”, balasku tersenyum malu menghadapnya.

          Begitu indah gombalannya yang bercampur dengan hangatnya alk*hol di gelas kami. Ya, cukup untuk membuatku nyaman dengan hal-hal baru seperti situasi klabing malam ini.

          “sayang”, bisik Lin di telingaku, terdengar sangat maco suaranya.

          Aku tak menjawab dan ternyata bisikannya bermuara pada ciuman hangat yang ia tempelkan  pada pipi kiriku, pipi kiri yang merah setelah kali pertama merasakan ciuman dari seorang laki-laki. Semuanyapun semakin memanas dan aku seakan melayang, melayang ke atas puncak indahnya asmara. Jujur aku katakan sulit untukku membedakan cinta dan nafsu saat itu, semuanya berpadu dalam buaiyan manis Lin.

****

          Hatiku serasa terbakar dan tanganku menggengam erat segumpal amarah, amarah yang siap aku tumpahkan pada wajah b*jingan itu. Kau berhutang padaku b*jingan, b*ajinga Lin dan pacarnya yang sok muslimah. Keduanya telah merampas duniaku dan Riskha adalah penyebab semua ini. Penyebab Lin menjauhi aku.

          Awalnya kami cecok karena perangai buruk Lin yang kesekian kalinya, mencumbui siapa saja yang ia sukai. Melihatnya aku sangat marah, percekcokan itupun berakhir saat ia mendiami aku dan pergi bergandengan dengan wanita yang bersamanya malam itu. Aku mencegahnya dan mencoba melerai pertengkaran kami, Lin-pun menyuruh wanita itu pergi tanpanya dan ia mengajakku duduk bersamanya.

          “Lin, aku ini pacarmu”, ucapku padanya yang setengah mabuk.

          “Heheheee”, ia tersnyum geli dan melanjutkan. “tapi kau lupa, kalau aku b*ajingan”. Jawabnya ringan.

          Mendengarnya aku seperti tersambar petir, petir diantara kemerlap lampu klabing. Sungguh kata-kata yang membuatku luka. Akupun menangis di hadapannya berharap ia membujukku dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

          “udah, jangan cengen ahhh”

          Mendengar suara Lin, aku menghentikan tangisku. Namun Lin lebih dulu mengusap air mataku dengan kedua tangannya. Seketika tangisan luka itu berhenti dan aku sedikit merasa lega.

          “jangan nangis lagi ya!”, ucap Lin kembali.

          Aku masih tak berani bersuara dan hanya menganggukkan kepalaku. Lin tersenyum begitu manis dan mengusap kepalaku. Aku sangat merasakan kenyamanan karenanya. Iapun mulai agresif dan tak memperdulikan orang-orang yang ada di klabing malam itu. Rangkulan mesranya kembali menjerat tubuhku yang ia paksa berdiri melayani sahwatnya. Kamipun berdisko melupakan apa yang telah terjadi.   

          Namun hari ini ia melupakan semuanya, semuanya tentang aku dan malam-malam yang kami lewati dengan kehangatan asmara. Kini Lin tak lagi datang ke klabing dan kamipun putus hubungan. Memang karena aku yang memintanya sebab Lin mulai sibuk dengan kuliahnya. Tak kusangka iapun begitu cepat mendapatkan kekasih baru. mengabaikan perasaan aku, aku yang mencintainya dan menyerahkan diriku padanya.

          Januari ini adalah awal luka itu menganga, tepat saat aku mendengar kabar dari Jony tentang hububungan Lin dan Riskha. Selama ini aku tak pernah merasakan luka atas ketidak setian Lin, kali ini luka itu di karenakan Riskha. Riskha tetanggaku, kami sama-sama berasal dari kampung dan merantau ke mari dengan tujuan untuk kuliah. Ayah selalu membanding-bandingkan aku dengannya, karena memang dari SMA Riskha lebih unggul. Saat ini ia kuliah di universitas negeri dan aku hanya di universitas swasta. Sungguh pengacau yang harus di musnahkan. Dan kini dia datang untuk mengambil Lin pacarku.  jika hanya karena prestasi ataupun status, aku sama sekali tidak menggubrisnya. Kali ini semuanya aku pertaruhkan karena menyangkut kebahagianku, aku berjanji ia akan merasakan luka yang tengah aku rasakan.

          Rencana itupun akhirnya muncul dan sukses aku jalankan, Riskha di tarik pulang ke kampung dan akan segera menikah. Menikahi lelaki yang di jodohkan oleh orang tuanya, orang tuanya yang merasa malu padanya. Ya, karena ia berani berdua-duaan dengan Lin. Isupun akhirnya aku edarkan untuk membuatnya tidak lagi bisa kuliah, Abi Riskhapun beranggapan ia telah terkontaminasi dengan prilaku buruk teman-temannya. Pernikahanpun adalah hukuman yang pantas untuknya dan sekaligus balasan dariku akan rasa sakit ini.

          Saat aku datang menemui Riskha sehari sebelum pernikahannya dengan Surya, ia tampak begitu lesu dan sedikit pucat. Kedatanaganku bukan untuk melihatnya atau untuk menghiburnya, karena bagiku hiburan yang menyenangkan adalah saat bertemu Riskha yang sedang berputus asa. Rencanaku sangat menguntungkkan aku, meski belum semuanya berhasil.

          Akupun meminta bantuan Jony untuk bertemu Lin, saat itu Lin sangat galau dengan ke adaan Riskha yang tak kunjung masuk kuliah dan tak memberi kabar. Jony mengatur pertemuan kami di tempat biasa, aku menyiasatinya dan menyediakan minuman hangat yang akan membuat Lin lupa pada Riskha. Aku menyamar sebagai Mira dan berura-pura sebagai tetangga sekaligus teman dekat Riskha satu kampung. Awalnya berjalan dengan mulus, Lin datang dan duduk bersama kami. Ia ternyata tidak mengenali aku, aku yang dulu selalu mendengarkan gombalaannya dan berpelukan mesra dengannya di tempat ini.

          Ternyata di balik rencanaku ini, ada sekenario besar yang tak bisa ku elakkan. Keputusan Tuhan membuat Lin semakin gigih untuk menghindar dari jebakkan ini. Ia hanya pergi dan berlalu tanpa menenggak minuman dan tetap saja tidak menghiraukan aku. Aku kira januari ini adalah bulan yang baik untuk kami merajut hubungan baru dan melupakan bulan-bulan sebelumnya, Tuhan berkata lain dan Lin tetap teguh dan mantap dengan komitmennya. Lalu pergi meninggalkan aku dan Jony.

          Semuanya hancur berantakan. Riskha akan segera menikah dengan orang yang tidak ia cintai, Lin tetap dengan komitmennya dan dilema akan kerinduannya pada Riska. Sementara aku dihantui rasa bersalah akan luka ini, luka yang aku timbulkan karena dendam.

          "oh,  januari itu luka”    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar