Malam itu adalah malam yang paling indah, saat bersama
laki-laki idaman dan besandar di pelukan hangatnya. Oh, apakah karena mungkin
ini cinta pertamaku. Sangat tidak biasa dan aku tak ingin ini berakhir. Ya,
walau aku tidak suka dengan suasana ribut-ribut dan lampu yang kelap-kelip
mengikuti musik Dj, tapi aku bersamanya dan dia pacarku. pacar yang selama ini
aku idamkan dan selalu hadir dalam hayalanku. Lisman Admaja.
“Aku
lebih suka menjadi b*jingan dari pada laki-laki baik!”, ucapnya dengan sangat
percaya diri padaku.
“Kenapa, Lin?, tanyaku penasaran.
“karena saat menjadi b*jingan akan selalu ada wanita yang
cantik di sampingku!”. Jawabnya sabil melirik manis ke arahku.
“ahhh, gomball”, balasku tersenyum malu menghadapnya.
Begitu indah gombalannya yang bercampur dengan hangatnya
alk*hol di gelas kami. Ya, cukup untuk membuatku nyaman dengan hal-hal baru
seperti situasi klabing malam ini.
“sayang”, bisik Lin di telingaku, terdengar sangat maco
suaranya.
Aku tak menjawab dan ternyata bisikannya bermuara pada
ciuman hangat yang ia tempelkan pada
pipi kiriku, pipi kiri yang merah setelah kali pertama merasakan ciuman dari
seorang laki-laki. Semuanyapun semakin memanas dan aku seakan melayang,
melayang ke atas puncak indahnya asmara. Jujur aku katakan sulit untukku
membedakan cinta dan nafsu saat itu, semuanya berpadu dalam buaiyan manis Lin.
****
Hatiku serasa terbakar dan tanganku menggengam erat
segumpal amarah, amarah yang siap aku tumpahkan pada wajah b*jingan itu. Kau
berhutang padaku b*jingan, b*ajinga Lin dan pacarnya yang sok muslimah.
Keduanya telah merampas duniaku dan Riskha adalah penyebab semua ini. Penyebab
Lin menjauhi aku.
Awalnya kami cecok karena perangai buruk Lin yang kesekian
kalinya, mencumbui siapa saja yang ia sukai. Melihatnya aku sangat marah,
percekcokan itupun berakhir saat ia mendiami aku dan pergi bergandengan dengan
wanita yang bersamanya malam itu. Aku mencegahnya dan mencoba melerai
pertengkaran kami, Lin-pun menyuruh wanita itu pergi tanpanya dan ia mengajakku
duduk bersamanya.
“Lin, aku ini pacarmu”, ucapku padanya yang setengah mabuk.
“Heheheee”, ia tersnyum geli dan melanjutkan. “tapi kau
lupa, kalau aku b*ajingan”. Jawabnya ringan.
Mendengarnya aku seperti tersambar petir, petir diantara
kemerlap lampu klabing. Sungguh kata-kata yang membuatku luka. Akupun menangis
di hadapannya berharap ia membujukku dan berjanji untuk tidak mengulanginya
lagi.
“udah, jangan cengen ahhh”
Mendengar suara Lin, aku menghentikan tangisku. Namun Lin
lebih dulu mengusap air mataku dengan kedua tangannya. Seketika tangisan luka
itu berhenti dan aku sedikit merasa lega.
“jangan nangis lagi ya!”, ucap Lin kembali.
Aku masih tak berani bersuara dan hanya menganggukkan
kepalaku. Lin tersenyum begitu manis dan mengusap kepalaku. Aku sangat
merasakan kenyamanan karenanya. Iapun mulai agresif dan tak memperdulikan
orang-orang yang ada di klabing malam itu. Rangkulan mesranya kembali menjerat
tubuhku yang ia paksa berdiri melayani sahwatnya. Kamipun berdisko melupakan
apa yang telah terjadi.
Namun hari ini ia melupakan semuanya, semuanya tentang aku
dan malam-malam yang kami lewati dengan kehangatan asmara. Kini Lin tak lagi
datang ke klabing dan kamipun putus hubungan. Memang karena aku yang memintanya
sebab Lin mulai sibuk dengan kuliahnya. Tak kusangka iapun begitu cepat
mendapatkan kekasih baru. mengabaikan perasaan aku, aku yang mencintainya dan
menyerahkan diriku padanya.
Januari ini adalah awal luka itu menganga, tepat saat aku
mendengar kabar dari Jony tentang hububungan Lin dan Riskha. Selama ini aku tak
pernah merasakan luka atas ketidak setian Lin, kali ini luka itu di karenakan
Riskha. Riskha tetanggaku, kami sama-sama berasal dari kampung dan merantau ke
mari dengan tujuan untuk kuliah. Ayah selalu membanding-bandingkan aku
dengannya, karena memang dari SMA Riskha lebih unggul. Saat ini ia kuliah di
universitas negeri dan aku hanya di universitas swasta. Sungguh pengacau yang
harus di musnahkan. Dan kini dia datang untuk mengambil Lin pacarku. jika hanya karena prestasi ataupun status, aku
sama sekali tidak menggubrisnya. Kali ini semuanya aku pertaruhkan karena
menyangkut kebahagianku, aku berjanji ia akan merasakan luka yang tengah aku
rasakan.
Rencana itupun akhirnya muncul dan sukses aku jalankan,
Riskha di tarik pulang ke kampung dan akan segera menikah. Menikahi lelaki yang
di jodohkan oleh orang tuanya, orang tuanya yang merasa malu padanya. Ya,
karena ia berani berdua-duaan dengan Lin. Isupun akhirnya aku edarkan untuk
membuatnya tidak lagi bisa kuliah, Abi Riskhapun beranggapan ia telah
terkontaminasi dengan prilaku buruk teman-temannya. Pernikahanpun adalah
hukuman yang pantas untuknya dan sekaligus balasan dariku akan rasa sakit ini.
Saat aku datang menemui Riskha sehari sebelum pernikahannya
dengan Surya, ia tampak begitu lesu dan sedikit pucat. Kedatanaganku bukan
untuk melihatnya atau untuk menghiburnya, karena bagiku hiburan yang
menyenangkan adalah saat bertemu Riskha yang sedang berputus asa. Rencanaku
sangat menguntungkkan aku, meski belum semuanya berhasil.
Akupun meminta bantuan Jony untuk bertemu Lin, saat itu Lin
sangat galau dengan ke adaan Riskha yang tak kunjung masuk kuliah dan tak
memberi kabar. Jony mengatur pertemuan kami di tempat biasa, aku menyiasatinya
dan menyediakan minuman hangat yang akan membuat Lin lupa pada Riskha. Aku menyamar
sebagai Mira dan berura-pura sebagai tetangga sekaligus teman dekat Riskha satu
kampung. Awalnya berjalan dengan mulus, Lin datang dan duduk bersama kami. Ia
ternyata tidak mengenali aku, aku yang dulu selalu mendengarkan gombalaannya
dan berpelukan mesra dengannya di tempat ini.
Ternyata di balik rencanaku ini, ada sekenario besar yang
tak bisa ku elakkan. Keputusan Tuhan membuat Lin semakin gigih untuk menghindar
dari jebakkan ini. Ia hanya pergi dan berlalu tanpa menenggak minuman dan tetap
saja tidak menghiraukan aku. Aku kira januari ini adalah bulan yang baik untuk
kami merajut hubungan baru dan melupakan bulan-bulan sebelumnya, Tuhan berkata
lain dan Lin tetap teguh dan mantap dengan komitmennya. Lalu pergi meninggalkan
aku dan Jony.
Semuanya hancur berantakan. Riskha akan segera menikah
dengan orang yang tidak ia cintai, Lin tetap dengan komitmennya dan dilema akan
kerinduannya pada Riska. Sementara aku dihantui rasa bersalah akan luka ini,
luka yang aku timbulkan karena dendam.
"oh, januari itu luka”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar