Kamis, 18 Februari 2016

Dua Laki-laki Pilihan



         Saat itu angin berhembus sejuk membawa masa depanku yang tengah melambaikan tangannya, kian jauh ditelan birunya warna laut. Lambaian halusnya seperti tamparan angin sepoi-sepoi yang tak kunjung menghilang dari benak ini, sangat indah.
         
          Randa berjanji kelak saat dia kembali pastinya dia akan mempersuntingku sebagai istrinya. Ya, aku sangat tidak sabar menunggu hari dimana kekasihku datang sebagai cendikiawan muda yang telah memikul segepok ilmu dan pastinya telah mengenakan toga kebesarannya, seperti yang selalu ia idamkan. Kelak mungkin ia akan tampak lebih gagah, tidak lagi seperti saat dia masih anak kampung yang baru pisah dari putih abu-abu.

Dia tidak pernah bialng padaku kalau aku juga harus sama seperti dia. Satu hal yang kuingat, dia bilang aku harus menjaga janji kami sampai penantian itu tiba. Sungguh tanggung jawab yang sama beratnya dengan menjaga nyawa, lebih lagi kerenggangan keluarga kami yang sulit bersatu. Bisa dibilang seperti air dan minyak.

Namun hari ini tampaknya penantian bahagia itu harus usai. Sepertinya tidak lagi dengan hayalain yang saat ini nyata-nyata adalah gambaran semu. Gambaran semu yang menguatkanku dalam memegang amanahnya.

“Sayang maafkan aku karena tidak bisa lagi pulang ke kampung kita.
Aku sekarang sudah punya anak dan istri, kehidupanku juga sangat susah
disini. Carilah orang lain yang mau menjadikanmu istri, aku ikhlas.
Sekalai lagi maaf.”

Memo yang kali pertama aku terima dari Randa setelah empat tahun penantiaku. Tahun ini seharusnya aku besrtemu dengan tambatan hatiku yang berselempangkan toga serta dengan wejangan arifnya. Namun kenapa semuanya ia titipkan lewat selembar memo yang harus menghancurkan hatiku. Jujur, sakit hati pasti ada. Tapi aku tak mengerti kenapa harus sekarang dan kenapa harus dengan memo ia mengatakan ini padaku.

Empat tahun penantian, pagi dan malam aku selalu membayangakan pernikahan kami. Bahakan aku tak pernah mau tahu dengan laki-laki manapun yang coba mendekat, baik yang berniat mempersunting aku atau hanya sekedar dekat. Jodoh yang di tunjuk orang tuaku kerap aku tolak dengan segenap cara dan usah, setiap aku merindukannya selalu aku mendoakan dia agar cepat menyelesaikan kuliahnya dan kembali untuk menjemput aku dari penantian ini.


Memo yang dikirim Randa akhirnya menjadi sebuah perintah, perintah untuk tidak lagi menunggunya dan segera mengganti harapan itu dengan kekecewaan yang sebenarnya tak perlu. Aku pasrah dan menuruti perjodohan yang ditentukan orangtuaku, mungkin ini bukan jalan yang terbaik tapi Randa sendiri yang memintanya dan aku tak berdaya untuk menolak.

Aku menikah dan dibawa oleh suamiku pergi kekota, katanya untuk mengawali kehidupan yang baru lebih baik pergi ketempat yang baru dan memulai segalanya dari nol. Bersamanya saat ini aku hidup, hanya ada canda tawa yang selalu ia suguhkan dengan manisnya kasihnya. Sepertinya ia sangat memahami perasaanku yang pernah kecewa dan sempat putus asa namun ia memperlakukan aku dengan bijak dari yang kubayangkan.

*****

Sebentar lagi aku akan medengar tangisan seorang bayi. Ya, aku tengah mengandung anak pertamaku. Ia menjadi anugrah dan menumbuhkan cinta yang baru, awalnya aku tak sedikitpun mencintai suamiku serta masih saja mengingat-ingat Randa. Saat aku tahu di dalam perutku ada seorang bayi, cinta itupun tumbuh. Entah berapa tahun terlambatnya cinta itu datang yang jelas selama berumah tangga, inilah kali pertama ak merakannya.

Biasanya aku hanya melayani suamiku tidak karena cinta tapi karena hormat pada  ayah dan padanya yang telah mengangkatku dari kekecewaan. Tapi lama-kelamaan semuanya berubah. Dia laki-laki yang ulet, sabar, dan bijak. Hari ini ia membuktikan padaku bahwa sesungguhnya cinta yang ia berikan benarlah sejati.

“Ma!”, panggil suamiku sembari mengelus keningku.

“Iya!”, jawabku yang terkejut dari lamunanku dan sedikit terharu karena sebentar lagi ada seorang anak yang akan memanggilku dengan sebutan yang baru saja suamiku ucapkan padaku.

“Mama udah makan?”, tanya samiku, kembali mengajak berbicara.

“belum, Pa. Mama belum laper!”

Ia tersenyum kearahku dan mengelus perutku. Iapun duduk di sampingku yang sedari tadi hanya melamun. Akupun dirangkulnya dengan mesra. Tak pernah aku merasakan bahagia seperti siang ini, rasanya aku ingin balas merangkulnya demi mengakhiri kebodohan selama dua tahun ini dan membalas cintanya dengan sesunguh-sunguhnya sebagai seorang istri. Kamipun bernostalgia untuk yang pertama kalinya kurasakan dengan cinta. Sangat indah.

*****
          Dia akhirnya datang dan hadir di pangkuan kami, suamiku memberinya nama Krisan.

          “Krisna dan Sandra”, ucap suamiku tertawa bahgia.

          Bahkan hingga saat memberikan nama anak kami dia terus mencoba menyatukan kami. Dengan memadukan tiga huruf depan pada masing-masing nama kami dan mungkin Ayahku saja tak memiliki nama sebagus itu untuk cucunya.

          Tampaknya inilah ganti dari penantian yang panjang itu, dua orang laki-laki yang kumiliki dan keduanya mencintaiku. Krisna suamiku dan Krisan anakku. Selama ini aku mengeluh pada Allah atas apa yang aku anggap tidak pilihanku tapi Dia menunjukkan betapa indahnya sesungguhnya pilihanNya. Sungguh aku sangat bodoh yang dulunya mencoba bertahan dan tak peduli dengan takdirnya. Kini aku bahagia dan bersyukur dengan semua ini. 

          “Krisna suamiku dan Krisan anakku, aku mencintai kalian. Hidupku saat ini terasa sempurna karena kalian.”


Pesan penulis:
“Saat kita semakin tenggelam dalam cinta yang semu, sesungguhnya kita telah buta saat itu juga. Ingatlah cinta sejati adalah cinta yang nyata-nyata kauniaNya sedangkan cinta semu hanyalah hasrat dan muslihat nafsu”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar