Senin, 14 Desember 2015

Lantai Dua





          Pagi masih begitu pagi untuk memuali aktifitas akademis, tampak Mahasiswa lalu lalang mengejar waktu yang tak akan menunggu mereka untuk berdandan. Ada yang melangkah bersama dengan mentari bersinar, ada yang berdesakan di dalam angkutan umum, dan ada juga yang asyik dengan kendaraan bermotornya. Keseluruhan dari mereka sangat menikmati semuanya. Iya semuanya.

          Dalam kesehariannya sering terlihat hal-hal tolol yang kadang di luar rasional. Katanya itu pengorbanan. Hemmnh, sebuah roman yang cukup menarik dan menggelitik hati. Mungkin hal itu seperti pagi ini, tingkah yang di lakukan Dika. Setiap pagi khusunya saat hari perkuliahan, Dika selalu hadir paling awal dan Ia pasti berdiri di lantai dua fakultasnya saat mahasiswa lain belum hadir. Di sanalah Ia mengamati orang yang mungkin tidak mengenalnya dan bahkan tak pernah melihat ke arah Dika.

          Tampaknya Ia hanya menjadi pengagum misterius sepanjang perkuliahan. Ya. Semester terus berganti diikuti mahasiswa dan mahasiswi baru yang masuk lalu lalang, bahkan banyak juga mahasiswa senior yang telah beranjak dari lingkungan kampus. Begitu juga Dika, yang sudah semester lima dan masih sama saat semester satu dimulai, saat pertama mengagumi wanita yang selalu Ia intai setiap pagi. Entah kapan tibanya Ia beranjak dari lantai dua fakultas dan berhenti mengintai wanita yang bahkan tak mengenalnya.
***
         
          “ha.. hay”, tegur Dika dengan kikuk
         
          “emnhh”, balas wanita itu dengan senyum tanpa kata.

          Sesaat itu pula wanita itu berlalu meninggalkan Dika. Dengan segala kekikukannya yang tak berlasan dan pertanyaannya yang belum sempat Ia lontarkan pada wanita itu.

          Lima semester hanya dihabiskan untuk mengintainya, sekarang langsung bertatapan dan bisa menyapanya. Tapi masih saja wanita itu belum tahu maksud Dika, mungkin wanita itu memang tak mau tahu akan keahadiran Dika atau memang Dika yang terlalu. Ya, terlalu cupu.

          Kadang Dika berharap bisa kembali kemasa lalu dan ingin mengubah hal yang telah lewat, tak jarang juga kadang Ia berharap ingin terlahir sebagai orang yang tidak pemalu dan luwes. Tidak seperti sekarang ini, yang selalu memendam keinginan untuk memperkenalkan diri dan menajalin hubungan hangat denga wanita yang dulu pernah bersamanya. Bersamanya saat mereka sama-sama melewati masa opsek.

          “nama Aku Putri!”, balas wanita itu sembari menjabat tangan Dika
         
“iya”, balasnya dengan senyum.

          Saat perkenalanpun mereka lalui sebelum melakukan kegiatan yang di instruksikan kakak senior. Satu hal indah sudah dilewati di kampus hijau ini. Tinggal lagi mengikuti kegiatan lainnya. Namun keseluruhan kegiatan tak begitu menarik dan berkesan, yang lekat dalam ingatan dan sangat membuat Dika nyaman mengenangnya hanyalah Putri, teman yang membuatnya mabuk. Mabuk kepo yang akhirnya membuat Dika kehilangan nyali dan akal sehatnya.

          Sebuah kenyataan yang harus Ia telan mentah-mentah saat ini ialah, Putri sudah memiliki pasangan. Ia tampak sangat bahagia dengan pasangannya, selain pergi dan pulang ke kampus bersama-sama ternyata pacar putri adalah seniorer yang Dika kenal. Sangat Ia kenal, seniorer itu adalah Abang satu kampung Dika. Namun tingkah anehnya yang setiap pagi Ia lakoni tetap saja lekat menjadi sebuah kebiasaan sebelum masuk kedalam kelas. Mengintai pujaan hati yang saat ini bergandengan tangan dengan orang lain dan terlihat mesra.

          Lantai dua yang selalu menjadi markas rahasia Dika kadang-kadang iba melihat tingkah mahasiswa ini. Tindakan irasional ini kadang mencemaskan teman-teman Dika, tak jarang mereka mencoba menghibur Dika yang sepertinya patah arah tanpa tahu harus kemana. Jelasnya Ia memainkan peranan yang salah sebagai seorang yang waras.

“Apakah mungkin ini sebuah penyakit?”, pertanyaan Dika yang kadang mencoba menyadarkan dirinya dari alam bawah sadarnya.

“Biaralah putri bergandengan tangan dengan siapapun yang Ia sayangi. Akan tampak indah rasanya jika melihatnya dari kejauhan yang tak akan pernah Ia sadari. Saat pujaan hati tengah bersuka dan saat itulah mengaguminya sebagai pengagum rahasia.”, hibur dika kembali pada dirinya sendiri.

 11 Desember 2015

2 komentar: