Jumat, 12 Februari 2016

Januari itu luka Part (III)





          Mimpi yang indah adalah saat mimpi itu menjadi nyata, selaras antara harapan dan kenyataan yang akan memberikan lengkungan senyum. Senyum kebahagiaan. Tapi hidup ini tak seindah hayalan dan tak semudah logika, akan ada banyak tanjakan dan tikungan yang menyediakan lubang atau kerikil. Membuat terjatuh dan menjatuhkan.

          Ini adalah minggu kedua kami masuk kuliah, seperti minggu sebelumnya Lin masih terlihat murung. Entah kapan akan berakhir murungnya, jelasnya hapir sejuta tawaran aku suguhkan untuknya. Berharap untuk murungnya hilang, bagai mengharapkan awan hujun mengguyur tanah yang sudah tandus bertahun-tahun. Sampai hanya ada hujan air mata.

          ****

          “Aku mencintainya Jon!”, ucap bibir pucat Riskha.

          Saat itu aku dan  Afni datang kerumah Riskha. Harapanku sama seperti harapan sahabatku Lin, ingin membunjuk Riskha agar mau berkomunikasi dan mejelaskan semuanya pada Lin. Lin saat ini sangat rapuh dan rentan akan hal-hal sepele, ia pun sangat tempramen. Bahkan melihatnya sajapun teman-teman sedikit takut, takut kalau Lin akan tersinggung dan marah. Sosok misterius dan aneh selalu tergambar dari langkah gontainya yang asing untuk di kenali.

          Wajah murung dan lamunannya acap kali membuatku ngeri, aku hampir putus komunikasi dengannya. Walau aku sediripun tahu kalau dia tidak selemah itu. Namun aku tak tahu sekuat apakah hatinya yang saat ini sedang bergejolak, antara menunggu kepastian dari Riskha atau berhenti memikirkannya.

          Tapi sepertinya pertemuanku dan Riskha tidak sama sekali mampu mengubah Lisman atau mengajak Riskha kembali untuk kuliah. Benar kalau Riskha telah mengambil cuti, benar kalau Riskha bakalan merit, tapi kebenaran yang paling mencengangkan adalah kesetian Riskha pada laki-laki itu. Laki-laki yang telah membuainya dan telah membesarkannya.  Abi, panggilan yang acap kali Riskha sebut-sebut pada laki-laki itu. Keputusannya untuk menjodohkan Riskha pada lelaki bernama Surya adalah ibadah yang harus Riskha jalani, sebagai seorang anak yang berbakti pada orang tuannya.
Sangat disayangkan, cinta keduanya berbataskan sebuah kewajiban seorang anak dan memberikan luka pada keduanya yang dulunya saling menjaga serta saling percaya. Kisah mereka sungguh membuatku harus mengurut dada dan sedikit terharu, satu bajingan yang mendapat hidayah dan seorang muslimah yang tengah di uji kesabarannya. Betapa dilematisnya mereka, antara penghianatan dan pengorbanan.  

          Akupun memutuskan mengikuti jejak Lin, meninggalkan apa yang dulu kami senangi dan sedikit menahan nahsu yang sealalu menyala setiap kali melihat wanita. Meski aku tidak sebaik Lin tapi tampaknya cobaanku sedikit ringan darinya. Afnipun kini mengikutiku dan kami menjalin hubungan asmara yang rumit, sungguh rumit karena Afni sendiri selalu menggodaku dengan masalaluku.

          Selain aku mencintainya sebagai seseorang kekasih, di satu sisi aku iba padanya. Alasanku mempertahankannya tak lain agar ia bisa move-on dari rasa kesepian yang sangat ambigu, kesepian ditengah kemerlam dunia malam dan kesepian diantara bisikan-bisikan setan. Afni memiliki keanggunan bidadari dan kelembutan seorang ibu namun saat Lin memutuskannya Afni semakin urak-urakan. Ia memotong rambutnya dan pakaiannya hingga ia tampak lebih menggairahkan birahi, birahi siapa saja yang menatapnya.

          Perubahannya yang drastis tidak membuat Lin ingin kembali padanya, melaikan membuatku ingin memilikinya. Kamipun saling dekat antara satu sama lain, menenggak asmara yang sangat glamor di tengah gemerlapnya lampu disko. Ya, aku menikmatinya tidak seperti saat Lin bersamanya. Hingga pada akhirnya kamipun harus terseret kedalam masalah asmara yang tengah menyandung Lin dan riskha.

          Awalnya Afni merasa senang karena mungkin saja Lin akan kembali bergabung dengan kami, menghabiskan waktu malamnya dan berdisko seperti dulu. Begitupun denganku yang juga ikut gembira akan kehadiran teman lama di samingku kembali. Aku tidak kawatir jika Afni akan kembali ke pelukan Lin, aku juga tidak perduli kalau Afni tidak lagi dekat denganku. Lin adalah teman yang suka berbagi padaku, bukan masalah besar baginya jika hanya berbagi pacar untuk semalam atau bahkan sampai beberapa malam.

          Perkiraan itu meleset, rencana yang awalnya aku dan Afni susun dengan rapi akhirnya berakhir berantakan. Ya, ternyata cinta yang ia bangun bersama Riskha adalah hidayah yang merubah jalan hidupnya. Sahabatku tetap bertekat pada janji dan komitmennya, komitmennya untuk menjadi lelaki yang di dambakan oleh Riskha. Akhirnya pintu hatikupun terketuk untuk bertaubat, bertaubat karena apa yang selam ini aku jalani adalah hal yang salah dan sia-sia.    
           
           Kesia-siaan itupun terus datang menggoda dengan ciuman hangat yang selalu Afni suguhkan setiap saat. Saat kami bertemu dan saat itu juga penolakan yang selalu aku lakukan terhadap ciumannya, meski terkadang bisikan setan sangat kuat sehingga akupun lupa. Namun aku yakin, bagian dari cobaan terberat itu adalah menundukkan birahi Afni dan menyadarkannya agar ia meninggalkan kesia-siaan yang dulu kami gemari.

          “Hemnhh, inikah cobaan itu?” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar