Mimpi yang indah adalah saat mimpi itu menjadi nyata,
selaras antara harapan dan kenyataan yang akan memberikan lengkungan senyum.
Senyum kebahagiaan. Tapi hidup ini tak seindah hayalan dan tak semudah logika,
akan ada banyak tanjakan dan tikungan yang menyediakan lubang atau kerikil.
Membuat terjatuh dan menjatuhkan.
Ini adalah minggu kedua kami masuk kuliah, seperti minggu
sebelumnya Lin masih terlihat murung. Entah kapan akan berakhir murungnya,
jelasnya hapir sejuta tawaran aku suguhkan untuknya. Berharap untuk murungnya
hilang, bagai mengharapkan awan hujun mengguyur tanah yang sudah tandus
bertahun-tahun. Sampai hanya ada hujan air mata.
****
“Aku mencintainya Jon!”, ucap bibir pucat Riskha.
Saat itu aku dan
Afni datang kerumah Riskha. Harapanku sama seperti harapan sahabatku
Lin, ingin membunjuk Riskha agar mau berkomunikasi dan mejelaskan semuanya pada
Lin. Lin saat ini sangat rapuh dan rentan akan hal-hal sepele, ia pun sangat
tempramen. Bahkan melihatnya sajapun teman-teman sedikit takut, takut kalau Lin
akan tersinggung dan marah. Sosok misterius dan aneh selalu tergambar dari
langkah gontainya yang asing untuk di kenali.
Wajah murung dan lamunannya acap kali membuatku ngeri, aku
hampir putus komunikasi dengannya. Walau aku sediripun tahu kalau dia tidak
selemah itu. Namun aku tak tahu sekuat apakah hatinya yang saat ini sedang
bergejolak, antara menunggu kepastian dari Riskha atau berhenti memikirkannya.
Tapi sepertinya pertemuanku dan Riskha tidak sama sekali
mampu mengubah Lisman atau mengajak Riskha kembali untuk kuliah. Benar kalau
Riskha telah mengambil cuti, benar kalau Riskha bakalan merit, tapi kebenaran
yang paling mencengangkan adalah kesetian Riskha pada laki-laki itu. Laki-laki
yang telah membuainya dan telah membesarkannya.
Abi, panggilan yang acap kali Riskha sebut-sebut pada laki-laki itu. Keputusannya
untuk menjodohkan Riskha pada lelaki bernama Surya adalah ibadah yang harus
Riskha jalani, sebagai seorang anak yang berbakti pada orang tuannya.
Sangat
disayangkan, cinta keduanya berbataskan sebuah kewajiban seorang anak dan
memberikan luka pada keduanya yang dulunya saling menjaga serta saling percaya.
Kisah mereka sungguh membuatku harus mengurut dada dan sedikit terharu, satu
bajingan yang mendapat hidayah dan seorang muslimah yang tengah di uji
kesabarannya. Betapa dilematisnya mereka, antara penghianatan dan pengorbanan.
Akupun memutuskan mengikuti jejak Lin, meninggalkan apa
yang dulu kami senangi dan sedikit menahan nahsu yang sealalu menyala setiap
kali melihat wanita. Meski aku tidak sebaik Lin tapi tampaknya cobaanku sedikit
ringan darinya. Afnipun kini mengikutiku dan kami menjalin hubungan asmara yang
rumit, sungguh rumit karena Afni sendiri selalu menggodaku dengan masalaluku.
Selain aku mencintainya sebagai seseorang kekasih, di satu
sisi aku iba padanya. Alasanku mempertahankannya tak lain agar ia bisa move-on dari rasa kesepian yang sangat
ambigu, kesepian ditengah kemerlam dunia malam dan kesepian diantara
bisikan-bisikan setan. Afni memiliki keanggunan bidadari dan kelembutan seorang
ibu namun saat Lin memutuskannya Afni semakin urak-urakan. Ia memotong
rambutnya dan pakaiannya hingga ia tampak lebih menggairahkan birahi, birahi
siapa saja yang menatapnya.
Perubahannya yang drastis tidak membuat Lin ingin kembali
padanya, melaikan membuatku ingin memilikinya. Kamipun saling dekat antara satu
sama lain, menenggak asmara yang sangat glamor di tengah gemerlapnya lampu
disko. Ya, aku menikmatinya tidak seperti saat Lin bersamanya. Hingga pada
akhirnya kamipun harus terseret kedalam masalah asmara yang tengah menyandung
Lin dan riskha.
Awalnya Afni merasa senang karena mungkin saja Lin akan
kembali bergabung dengan kami, menghabiskan waktu malamnya dan berdisko seperti
dulu. Begitupun denganku yang juga ikut gembira akan kehadiran teman lama di
samingku kembali. Aku tidak kawatir jika Afni akan kembali ke pelukan Lin, aku
juga tidak perduli kalau Afni tidak lagi dekat denganku. Lin adalah teman yang
suka berbagi padaku, bukan masalah besar baginya jika hanya berbagi pacar untuk
semalam atau bahkan sampai beberapa malam.
Perkiraan itu meleset, rencana yang awalnya aku dan Afni
susun dengan rapi akhirnya berakhir berantakan. Ya, ternyata cinta yang ia
bangun bersama Riskha adalah hidayah yang merubah jalan hidupnya. Sahabatku
tetap bertekat pada janji dan komitmennya, komitmennya untuk menjadi lelaki
yang di dambakan oleh Riskha. Akhirnya pintu hatikupun terketuk untuk
bertaubat, bertaubat karena apa yang selam ini aku jalani adalah hal yang salah
dan sia-sia.
Kesia-siaan itupun
terus datang menggoda dengan ciuman hangat yang selalu Afni suguhkan setiap
saat. Saat kami bertemu dan saat itu juga penolakan yang selalu aku lakukan
terhadap ciumannya, meski terkadang bisikan setan sangat kuat sehingga akupun
lupa. Namun aku yakin, bagian dari cobaan terberat itu adalah menundukkan
birahi Afni dan menyadarkannya agar ia meninggalkan kesia-siaan yang dulu kami
gemari.
“Hemnhh, inikah
cobaan itu?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar