Senin, 08 Februari 2016

Januari Itu Luka (Part II)






          Detik-detik terus berjalan mengikuti jarum menit yang menunggu kapan akan bergeser. Begeser untuk membujuk waktu segera berganti hari, hari dimana akan menjadi hari yang melelahkan.

          Aku sangat lelah memikirkan semua beban yang kini menunpuk di pundakku, pundak seorang gadis muda yang tengah mengubur angan-angannya bersama lamunan hampanya. Ya, lamaunan ini terasa hampa.

          “Ris, udah malam nak. Kok ngelamun aja!”

          “iya, Mak”, balasku mengindahkan teguran Mamak, yang belakangan ini sering khawatir akan kesehatanku.

          Memang aku tak terlalu lemah untuk menghadapi semua ini namun di satu sisi aku juga seorang wanita dan aku juga seorang manusia. Abi sangat sulit untuk di tentang, sehingga keputusannyapun menyeretku dalam kemulut ini. kemulut yang membuatku malas untuk makan, malas untuk bicara dan malas untuk beraktivitas.

          Hanya sebongkah kotak rubik yang menemaniku melewati hitungan hari yang tidak aku nantikan, hari dimana aku akan bersanding dengan leki-laki yang tidak aku kenal. Entah, dia tua atau muda, kaya atau miskin, dan tampan atau buruk. Abi bilang dia adalah calon menantu yang baik, buat Abi dia calon menantu yang baik tapi tidak buatku. Dia atau Abi sama saja bagiku, sama-sama tak memperdulikan aku.

*****
          “Selamat ulang tahun ya, Riskha”, ucap Lisman sembari menyerahkan kado.

          “iya, makasi ya!”, jawabku menyambut tanggannya yang memegang kado itu.

          Saat itu adalah saat-saat bahagia, terutama saat kado itu aku buka. Hadiah yang kali pertama saat usiaku genap 20 tahun aku terima adalah rubik istimewa yang pada bagian-bagian kotannya ada gambar wajahku dan wajah Lisman. Sungguh hadiah yang sangat unik dari seorang sahabat.

          Namun seorang kekasih baru detik itu juga muncul dan memberikan kado, kado ungkapan perasaan dan sebuah kejujuran yang sangat membuatku berdebar. Dengan rasa yang sangat terkejut aku menerima dua kado itu dan merasakan indahnya memasuki usia 20 tahunku.

          Saat itu januari 2015, aku dan dia melewatinya penuh dengan kemesraan. Kisah cinta pertamaku dan mungkin akan jadi yang terakhir. Bersamanya aku melatih diriku sebagai seorang muslimah sejati dan sebagai seorang guru yang tekun. Bayangkan saja, Lisman sering sekali mencoba menciumku dan takjarang dia kebabalasan memegang tanganku. Entah itu karena dia sengaja atau tidak tapi bagiku tiada hari tanpa menghidar darinya, awal-awalnya dia sangat genit dan nakal. Namun ia berhasil menunjukkan perubahan yang positif dan berusaha memperbaiki tingkahnya.

          Tapi satu tahun itu akan segera berakhir, berakhir saat besok pagi ayam akan berkokok. Ini pertama kalinya aku tidak menjadi muslimah sejati dan tidak menjadi guru yang baik untuk Lisman. Seminggu belakangan ini Lisman selalu menelfonku, tapi aku tak mengangkatnya dan bahkan sms darinya acap kali aku hiraukan. Dia selalu yakin padaku dan kini keyakinannya akan segera berubah saat aku jujur atau dia mengetahui tentang pernikahan ini.           

          Alasan mengapa aku menutup rahasia ini darinya dan menjauhinya, tak lain agar ia cepat melupakan aku. Melupakan Riskha kekasihnya. Setidaknnya ia mengaggapku tidak setia dan menurutku itu lebih baik. Lebih baik dari pada ia harus memikirkan aku yang akan segera menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak aku sayangi.

           Aku hanya ingin dia tidak merasakan sakit yang sedang aku rasakan, aku juga tidak ragu dengan mentalnya yang siap untuk menerima kenyataan ini. Tapi aku tidak sanggup melihat Lisman yang akan terus memikirkan aku dan frustasi karena keputusan Abi menjodohkanku, setidaknya perasaannya akan mudah goyang dan rapuh.

          Aku sangat mencintai dia, mencintai wataknya dan ketekunannya untuk berubah serta melawan kebiasaan buruknya. Kebiasaan buruk yang menganggap wanita hanyalah penghibur birahi, yang menganggap klabing dan zina adalah hobi belaka. Dia memang bukan lelaki yang baik tapi dia selalu memberikanku yang terbaik dan menyulap cintanya menjadi sebuah motivasi, motivasi untukku agar lebih gigih mengajarinya menjadi lelaki yang baik.

          Lisman Admaja, kini aku benar-benar merindukanmu sayang.

#Masih_ada_part_3....Tunggu_aja!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar