Kamis, 14 Januari 2016

Cinta Bau Belerang Part II

Malam sudah menunjukkan gelapnya tapi masih belum, belum membuatku bisa tidur. Bahkan meski tubuhku sudah di hinggapi rasa lelah yang begitu berat. Aku masih berintraksi dengan ponselku yang sedari tadi terus mencoba menyambungkan aku dengan orang di seberang sana. Ini kesekian kalinya aku mencoba menghubungi Feby, adik kelasku yang baru-baru  ini jadi pacarku. sudah hampir satu jam hasilnya tetap nihil, tidak ada jawaban.

Kesibukan yang dijanjikan Dirman sekarang benar-benar menyedot waktuku, bahkan malam ini aku melewatinya tanpa belajar dan membaca buku kesayanganku. Feby kenapa harus begini?. Tanda tanya yang terus berkecamuk di dalam hatiku.

***


“Mas Feby capek, ngadepin Mas. Feby jugak ngak suka Mas terlalu ikut campur urusan Feby. Kita udah enggak cocok, Feby minta putus Mas”.

Ya, pesan itulah yang menyebabkan aku semakin memburunya. Dua belas hari bersamanya dan itu hanya terasa dua hari. Belakangan ini aku memang sedikit awas. Terlebih lagi dengan siapa saja yang dekat dengan Feby, entah itu laki-laki atau perempuan. Yang aku inginkan, mereka menjauh dan memebrikan aku lebih banyak waktu untuk berdua-duan dengan Feby. Tapi mimpi buruk menhampiriku, hampir setiap malam sehingga aku tak bisa tidur.

Feby minta putus. Oh, ironi dalam sebuah percintaan singkat. Rasanya saat pesan itu kuterima dan ku baca, terbayang wajah Dirman dan tawanya  seolah mengejekku. Namun aku berusaha tidak cengeng dan mencoba sabar. Sabar meski tidak ada batasnya.

Terus aku memantau dia dari kejauhan, saat Feby sendirian aku datang mendekatinya dan meminta waktunya untuk bicara. Hingga akhirnya kesempatan itu datang.

“Dek, kenapa cepat kali adek minta putus?. Apa Mas enggak punya kesempatan kedua?”, tanyaku langsung padanya.

“Udahla, Mas. Kalau Mas mau ngomong nanti malam aja lewat telpon. Feby lagi sibuk, lagian malu ngomong masalah ini di muka umum. Sanalaa, ahh. Tuhh duliatiin sama Mas Rian”, usir Feby sambil mendongak kan pandangannya ke arah Rian

 Mungkin salahku tak bisa di maafkan, mungkin dia sangat marah, atau karena aku terlalu berharap. Yang jelas dia mengusirku, untuk kali pertama bagiku diusir oleh perempuan. Mungkin ini yang terakhir.

Aku tak sanggup memohon pada Feby dan aku hanya pasarah, ini adalah ending ceritaku dan akupun pergi meninggalkannya. Meninggalkannya dengan kesibukan yang dia katan, dengan berjalan menuju ruangan kuliah. Aneh, hari ini aku masuk ruangan kuliah paling lama. Dengan lesu aku mengetuk pintu dan masuk ke dalam kelas.

Dosenku tersenyum kearahku, menghibur karena aku terlihat kurang sehat. Tapi senyumnya tidak begitu banyak membantu, rasanya aku pengen pulang dan tidak ingin melanjutkan kuliah hari ini. Cukup dengan perbincangan beberapa detik  dan penolakan yang menyakitkan.
***

Seperti angin menghembuskan debu, saat itu berita tentang hubunganku dan Febypun sampai ke telingan Dirman. Aku cukup malu dan takut memulai pembicaraan dengannya, rasanya percuma karena hanya ada nasehat dan sedikit harapan. Harapan yang di peruntukuan untuk orang yang putus asa.

“Kenapa, Brow?”, sapa Dirman sembari menpuk bahuku.

Seketika itu aku ciut untuk menjawab ataupun membalas sapaannya dengan senyum.  Mungkin dia akan menertawai aku. Menertawai badut yang beberapa bulan lalu memberanikan diri untuk bertingkah konyol demi membuatnya tersenyum dan tertawa geli.

“Masalh Feby, kan!”, Dirman langsung blak-blakan.

“Iya, Man!”

“Aku udah dengar dari dia langsung, aku rasa kau enggak perlu cemas karena dia cuma emosi. Paling sebentar lagi jugak reda.”, sambung Dirman seperti seorang bapak yang menasehati anaknya.

“Maksudnya?”

“masalahnya kan kelen baru jadiaan dan dia belun sepenuhnya bisa nyesuaikan diri dengan duania kau, dia juga punya dunia, dia juga penya kawan-kawan. Dan kau, datang-datang kau terlalu kepo dan ngikutiin dia terus. Mana tahan anak orang kau gitui!”, sabung dirman “Sabar brow, nanati pelan-pelan aku coba ngemong dengan Feby”

“sekarang jadinya cemana?”, tanyaku kurang yakin.

“nyantai aja, tunggu tanggal mainnya!”, balas Dirman semakin yakin dengan argumennya.

Aku tak mengerti dengan apa yang direncanakan Dirman yang jelas Dia mencoba memperjuankan hubunganku dengan Feby. Lelaki macam apa kaui ini, untuk mempertahankan hubungan saja aku harus dibantu. Memang aku cupu, memang aku kuper tapi aku masih laki-laki. Berat hati harus menggantugkan harapan pada Dirman meski dia bukan orang lain.

“Ok, makasi.”, jawabku terakhir kali sebelum meninggalkan Dirman. 

****
Masih dihantui mimpi buruk yang membuatku tidak bisa tidur. Namun pagi ini aku harus beragkat ke kampus. Meski dengan rasa ngantuk yang luar bisa akupun pergi mengendarai sepada motorku menuju kampus. Walau ngantuk tai aku tetap waspada pada persimpangan-persimpangan yang aku leawati, apa saja bisa terjadi karena jalan tak selalu mulus dan terartur.

Akhirnya akupun sampai di kapusku, kapus hijau tempat para calon pendidik di tempah dengan kemampuan yang khusus. Seorang guru tiap tahunnya lahir dari kampus ini, mungkin jumlahnya lebih dari ribuaan. Ya, mungkin!.

Belum sempat turun dari sepeda motorku aku melihat Dirman melambaikan tangannya. Lamabaian yang memanggiku, akupun secepatnya menhapirinya berharap kabar baik akan dikatakannya.

“Ada apa Man?”, tanyaku langsung.

“Kau tunggu disini, aku nanti mau ngong sama Feby!”

“Ngapain aku disini Man, nanti ngak mau dia!”, balasku meyakinkan Dirman.

Dirmanpun tak menggubrisnya, akhirnya kamipun menunuggu Feby datang. Sambil menunggu Feby datang Dirman meyakinkanku akan rencananya itu. Kamipun asyik memainkan peran pagi itu, aku sebagai klain dan Dirman sebagai konsultan. Klain yang patah hati karena putus dari pacarnya dan konsultan yang yakin dengan teori-teori jitunya. Taklam berselang, Febypun muncul.

“ehh, Feby!”, ujar Dirman menyapanya.

“Iya, Bang!”, balasnya.

“Man, aku luan ya!”, pintaku padanya sambil pergi meninggalkan mereka.

Bukan karena aku takut mengahadapi feby, tapi Febypun kelihat tidak peduli padaku. Serasa asing dan belum kenal dengannya sehingga akupun memilih meninggalkan mereka menuju kelas.

Aku hanya duduk menunggu Dirman datang, kali ini aku sangat berharap Dirman cepat datang. Seperti mengharapkan kedatanga dosen yang akan memberikan ilmu padaku, namun tampaknya menit berjalan begitu lama sehingga batang hidung Dirmanpun tak kunjung terlihat.

          Tiba-tiba ponselku berdering, tanda SMS masuk. Akupun melihtanya, tak kusangka ternya pesan dari Feby. Aku bingung dan takut untuk membacanya, apakah yang ia kirimkan?. Akupun memutuskan untuk menunggu Dirman datang. Tapi dosen tiba-tiba masuk kelas bersamaan dengan Dirman. Aku tak sempat menanyakan apa yang mereka bicarakan, tapi yang jelas apapun itu aku yakin ada hubungannya dengan SMS yang dikirimkan Feby.

          Perkuliahanpun dimulai sebagai mana bisasanya, aku tetap bertanya-tanya akan hal tadi tapi aku juga tetap fokus pada kuliahku. Sepanjang perkuliahan aku lebih memilih diam dan memperhatikan jalannya presentasi, entah itu bertanya, menjawab dan bahkan menyanggah seklipun. Aku tak melakukannya, meski memiliki kesempatan untuk itu.

          Perkuliahanpun selesai, aku langsung menjegat Dirman bermaksud menanyakan perbincangannya dengan Feby.

          “Man giman tadi?, Apa respon Feby?”, tanyaku beruntun.

          “Aman, kok. Dia bilang kau terlalu mengekang dia, dia ngak suka Brow!”

          “Terus, apalagi?”

          “ya, aku bilang sama dia. Masa gara-gara gitu aja langsung mita putus?, setidaknyakan ada pertibangan atau kesempatan kedua!”.

          Tampaknya doktrin Dirman berhasil membujuk Feby, aku semakin yakin kalau rencana Dirman berhasil seperti yang dia katakan.

          “terus, kok dia nge-SMS aku?”

          “kalo masalah itu, aku yang nyuruh. Tinggal lagi kau yang nyelesaian sisahnya?”

          Terdengar ambigu, tapi sepertinya isi SMS itu tidak mengecewakan. Akupun mengambil ponselku melihatnya dan membaca SMS yang dikirimkan Feby tadi.
“Mas, Feby enggak bisa jadi pacar Mas lagi. Jadi jangan mintak tolong sama siapapun untuk memperbaki hubungan kita. Anggap aja Feby ini adiknya Mas”

          Akupun tak berani menunjukkan isi SMS dari Feby pada Dirman, tidak mungkin. Tidak mungkin Dirman gagal meyakinkan feby bahwa betapa menyesalnya aku akan semua ini. Namaun saat aku termenung sejenak karena membaca SMS dari Feby, Dirman malah menepuk bahuku lantas bertanya. Apa isi SMS itu.

          Aku menatap wajah Dirman dengan rasa malu, semalu-malunya. Sehingga akupun mengatakan apa isi SMS itu meski dengan sedikit memutus urat maluku. Namun respon Dirman membuatku berhasil melupakan apa yang sudah terjadi, pelan-pelan aku mencoba meniru perawakannya yang menganggap bahwa ini bukan masalah ataupun akhir dari semunya.

          Seperti selesai berendam di air belerang, baunya tetap akan tercium dan terasa menyengat. Butuh waktu yang cukup buat ngilanginya. Begitulah saat aku kehilangan seseorang yang kucintai, perasaan cinta itu tidak hilang bersamanya tapi tercium dan terasa sangat menyengat.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar