Malam sudah menunjukkan
gelapnya tapi masih belum, belum membuatku bisa tidur. Bahkan meski tubuhku
sudah di hinggapi rasa lelah yang begitu berat. Aku masih berintraksi dengan
ponselku yang sedari tadi terus mencoba menyambungkan aku dengan orang di seberang
sana. Ini kesekian kalinya aku mencoba menghubungi Feby, adik kelasku yang
baru-baru ini jadi pacarku. sudah hampir
satu jam hasilnya tetap nihil, tidak ada jawaban.
Kesibukan yang dijanjikan
Dirman sekarang benar-benar menyedot waktuku, bahkan malam ini aku melewatinya
tanpa belajar dan membaca buku kesayanganku. Feby kenapa harus begini?. Tanda
tanya yang terus berkecamuk di dalam hatiku.
***
“Mas Feby capek, ngadepin Mas. Feby jugak ngak suka Mas terlalu
ikut campur urusan Feby. Kita udah enggak cocok, Feby minta putus Mas”.
Ya, pesan itulah yang
menyebabkan aku semakin memburunya. Dua belas hari bersamanya dan itu hanya
terasa dua hari. Belakangan ini aku memang sedikit awas. Terlebih lagi dengan
siapa saja yang dekat dengan Feby, entah itu laki-laki atau perempuan. Yang aku
inginkan, mereka menjauh dan memebrikan aku lebih banyak waktu untuk
berdua-duan dengan Feby. Tapi mimpi buruk menhampiriku, hampir setiap malam
sehingga aku tak bisa tidur.
Feby minta putus. Oh,
ironi dalam sebuah percintaan singkat. Rasanya saat pesan itu kuterima dan ku
baca, terbayang wajah Dirman dan tawanya seolah mengejekku. Namun aku berusaha tidak
cengeng dan mencoba sabar. Sabar meski tidak ada batasnya.
Terus aku memantau dia
dari kejauhan, saat Feby sendirian aku datang mendekatinya dan meminta waktunya
untuk bicara. Hingga akhirnya kesempatan itu datang.
“Dek, kenapa cepat kali
adek minta putus?. Apa Mas enggak punya kesempatan kedua?”, tanyaku langsung
padanya.
“Udahla, Mas. Kalau Mas
mau ngomong nanti malam aja lewat telpon. Feby lagi sibuk, lagian malu ngomong
masalah ini di muka umum. Sanalaa, ahh. Tuhh duliatiin sama Mas Rian”, usir
Feby sambil mendongak kan pandangannya ke arah Rian
Mungkin salahku tak bisa di maafkan, mungkin
dia sangat marah, atau karena aku terlalu berharap. Yang jelas dia mengusirku,
untuk kali pertama bagiku diusir oleh perempuan. Mungkin ini yang terakhir.
Aku tak sanggup memohon
pada Feby dan aku hanya pasarah, ini adalah ending ceritaku dan akupun pergi
meninggalkannya. Meninggalkannya dengan kesibukan yang dia katan, dengan berjalan
menuju ruangan kuliah. Aneh, hari ini aku masuk ruangan kuliah paling lama.
Dengan lesu aku mengetuk pintu dan masuk ke dalam kelas.
Dosenku tersenyum
kearahku, menghibur karena aku terlihat kurang sehat. Tapi senyumnya tidak
begitu banyak membantu, rasanya aku pengen pulang dan tidak ingin melanjutkan
kuliah hari ini. Cukup dengan perbincangan beberapa detik dan penolakan yang menyakitkan.
***
Seperti angin
menghembuskan debu, saat itu berita tentang hubunganku dan Febypun sampai ke
telingan Dirman. Aku cukup malu dan takut memulai pembicaraan dengannya,
rasanya percuma karena hanya ada nasehat dan sedikit harapan. Harapan yang di
peruntukuan untuk orang yang putus asa.
“Kenapa, Brow?”, sapa
Dirman sembari menpuk bahuku.
Seketika itu aku ciut
untuk menjawab ataupun membalas sapaannya dengan senyum. Mungkin dia akan menertawai aku. Menertawai
badut yang beberapa bulan lalu memberanikan diri untuk bertingkah konyol demi
membuatnya tersenyum dan tertawa geli.
“Masalh Feby, kan!”,
Dirman langsung blak-blakan.
“Iya, Man!”
“Aku udah dengar dari dia
langsung, aku rasa kau enggak perlu cemas karena dia cuma emosi. Paling
sebentar lagi jugak reda.”, sambung Dirman seperti seorang bapak yang
menasehati anaknya.
“Maksudnya?”
“masalahnya kan kelen baru
jadiaan dan dia belun sepenuhnya bisa nyesuaikan diri dengan duania kau, dia
juga punya dunia, dia juga penya kawan-kawan. Dan kau, datang-datang kau
terlalu kepo dan ngikutiin dia terus. Mana tahan anak orang kau gitui!”, sabung
dirman “Sabar brow, nanati pelan-pelan aku coba ngemong dengan Feby”
“sekarang jadinya
cemana?”, tanyaku kurang yakin.
“nyantai aja, tunggu
tanggal mainnya!”, balas Dirman semakin yakin dengan argumennya.
Aku tak mengerti dengan
apa yang direncanakan Dirman yang jelas Dia mencoba memperjuankan hubunganku
dengan Feby. Lelaki macam apa kaui ini, untuk mempertahankan hubungan saja aku
harus dibantu. Memang aku cupu, memang aku kuper tapi aku masih laki-laki. Berat
hati harus menggantugkan harapan pada Dirman meski dia bukan orang lain.
“Ok, makasi.”, jawabku
terakhir kali sebelum meninggalkan Dirman.
****
Masih dihantui mimpi buruk
yang membuatku tidak bisa tidur. Namun pagi ini aku harus beragkat ke kampus.
Meski dengan rasa ngantuk yang luar bisa akupun pergi mengendarai sepada
motorku menuju kampus. Walau ngantuk tai aku tetap waspada pada
persimpangan-persimpangan yang aku leawati, apa saja bisa terjadi karena jalan
tak selalu mulus dan terartur.
Akhirnya akupun sampai di
kapusku, kapus hijau tempat para calon pendidik di tempah dengan kemampuan yang
khusus. Seorang guru tiap tahunnya lahir dari kampus ini, mungkin jumlahnya
lebih dari ribuaan. Ya, mungkin!.
Belum sempat turun dari
sepeda motorku aku melihat Dirman melambaikan tangannya. Lamabaian yang
memanggiku, akupun secepatnya menhapirinya berharap kabar baik akan
dikatakannya.
“Ada apa Man?”, tanyaku
langsung.
“Kau tunggu disini, aku
nanti mau ngong sama Feby!”
“Ngapain aku disini Man,
nanti ngak mau dia!”, balasku meyakinkan Dirman.
Dirmanpun tak
menggubrisnya, akhirnya kamipun menunuggu Feby datang. Sambil menunggu Feby
datang Dirman meyakinkanku akan rencananya itu. Kamipun asyik memainkan peran
pagi itu, aku sebagai klain dan Dirman sebagai konsultan. Klain yang patah hati
karena putus dari pacarnya dan konsultan yang yakin dengan teori-teori jitunya.
Taklam berselang, Febypun muncul.
“ehh, Feby!”, ujar Dirman
menyapanya.
“Iya, Bang!”, balasnya.
“Man, aku luan ya!”,
pintaku padanya sambil pergi meninggalkan mereka.
Bukan karena aku takut
mengahadapi feby, tapi Febypun kelihat tidak peduli padaku. Serasa asing dan
belum kenal dengannya sehingga akupun memilih meninggalkan mereka menuju kelas.
Aku hanya duduk menunggu
Dirman datang, kali ini aku sangat berharap Dirman cepat datang. Seperti
mengharapkan kedatanga dosen yang akan memberikan ilmu padaku, namun tampaknya
menit berjalan begitu lama sehingga batang hidung Dirmanpun tak kunjung
terlihat.
Tiba-tiba
ponselku berdering, tanda SMS masuk. Akupun melihtanya, tak kusangka ternya
pesan dari Feby. Aku bingung dan takut untuk membacanya, apakah yang ia
kirimkan?. Akupun memutuskan untuk menunggu Dirman datang. Tapi dosen tiba-tiba
masuk kelas bersamaan dengan Dirman. Aku tak sempat menanyakan apa yang mereka
bicarakan, tapi yang jelas apapun itu aku yakin ada hubungannya dengan SMS yang
dikirimkan Feby.
Perkuliahanpun
dimulai sebagai mana bisasanya, aku tetap bertanya-tanya akan hal tadi tapi aku
juga tetap fokus pada kuliahku. Sepanjang perkuliahan aku lebih memilih diam
dan memperhatikan jalannya presentasi, entah itu bertanya, menjawab dan bahkan
menyanggah seklipun. Aku tak melakukannya, meski memiliki kesempatan untuk itu.
Perkuliahanpun
selesai, aku langsung menjegat Dirman bermaksud menanyakan perbincangannya
dengan Feby.
“Man
giman tadi?, Apa respon Feby?”, tanyaku beruntun.
“Aman,
kok. Dia bilang kau terlalu mengekang dia, dia ngak suka Brow!”
“Terus,
apalagi?”
“ya,
aku bilang sama dia. Masa gara-gara gitu aja langsung mita putus?,
setidaknyakan ada pertibangan atau kesempatan kedua!”.
Tampaknya
doktrin Dirman berhasil membujuk Feby, aku semakin yakin kalau rencana Dirman
berhasil seperti yang dia katakan.
“terus,
kok dia nge-SMS aku?”
“kalo
masalah itu, aku yang nyuruh. Tinggal lagi kau yang nyelesaian sisahnya?”
Terdengar
ambigu, tapi sepertinya isi SMS itu tidak mengecewakan. Akupun mengambil
ponselku melihatnya dan membaca SMS yang dikirimkan Feby tadi.
“Mas, Feby
enggak bisa jadi pacar Mas lagi. Jadi jangan mintak tolong sama siapapun untuk
memperbaki hubungan kita. Anggap aja Feby ini adiknya Mas”
Akupun
tak berani menunjukkan isi SMS dari Feby pada Dirman, tidak mungkin. Tidak
mungkin Dirman gagal meyakinkan feby bahwa betapa menyesalnya aku akan semua
ini. Namaun saat aku termenung sejenak karena membaca SMS dari Feby, Dirman
malah menepuk bahuku lantas bertanya. Apa isi SMS itu.
Aku
menatap wajah Dirman dengan rasa malu, semalu-malunya. Sehingga akupun
mengatakan apa isi SMS itu meski dengan sedikit memutus urat maluku. Namun
respon Dirman membuatku berhasil melupakan apa yang sudah terjadi, pelan-pelan
aku mencoba meniru perawakannya yang menganggap bahwa ini bukan masalah ataupun
akhir dari semunya.
Seperti
selesai berendam di air belerang, baunya tetap akan tercium dan terasa
menyengat. Butuh waktu yang cukup buat ngilanginya. Begitulah saat aku
kehilangan seseorang yang kucintai, perasaan cinta itu tidak hilang bersamanya
tapi tercium dan terasa sangat menyengat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar