Rabu, 13 Januari 2016

Aneh Jadi Cewek









Kerumunan orang kadang membuatku tak nyaman, bising dan banyak suara-suara sumbang yang tak ingin aku dengar. Aku lebih suka suasana sunyi dan tenang, meski mustahil rasanya untuk mendapatkan suasana seperti itu di kota yang cukup besar seperti Medan. Kota yang terkenal dengan kehidupan masyarakatnya yang keras.

          Siang itu adalah siang yang paling buruk dalam hidupku, aku harus berjalan kaki dari sekolah karena uangku hilang entah kemana. Saat itu aku masih mengenakan seragam putih abu-abu, tampak sedikit culun kata mereka karena pakaianku selalu rapi dengan baju di masukkan dan dasi abu-abu yang terus menempel rapi.

          Panas yang terik semakin menjadi-jadi, mulanya hanya membuatku gerah namun akhirnya pandanganku juga berhasil dibuat kunang-kunang. Aku tak mengerti betapa lemahnya fisik yang kumiliki, mungkin karena aku selalu bermalas-malasan dan malas berolah raga. Di sekelilingku banyak terlihat orang-orang yang sangat gigih, ada yang sedang mendayung becak, ada yang sedang berteriak, dan ada juga yang sedang berjalan kaki sama seperti aku.

          “Huhhhh”, aku menghela nafas sedikit lelah.

          Aku duduk di bawah pohon pinang yang tinggi sekitar 2 meter lebih, tersusun rapi di sepanjang jalanan. Rasanya pengen minum tapi uang kandas, bahkan air ludahpun rasanya sudah kering.

          “TINN..TINN..”, suara klakson.

          Akupun terkejud mendengarnya, spontan aku berdiri dari tempatku berteduh dan mendongak kan pandangan kearaah suara klakson. Ternyata Sandra yang mengejutkanku. Iapun turun dari matic putihnya, mungkin menghampiriku dan minta maaf atau apalah.

          “Bay, kok duduk di sini?”, tanya Sandra memulai percakapan.
         
“Capek, aku. Abis jalan tadi!”, balasku memelas.
         
“Ahh, kaunya. Ada angkot malah jalan kaki?”, sindir Sandra.
         
“Uang aku hilang, tadi. Terpaksalaa, jalan kaki!”
          “Aduhh, kan bisa bisa pinjam!”, sentak Sandra padaku.

          Akupun diam terbodoh, benar yang baru saja dia katakan. Kenapa enggak terifikir tadi, mungkin aja sekarang ini aku sudah sampai dirumah. Terkadang panas matahari di siang bolong bisa mencairkan otakku yang beku ini.

          “Yaudahla, ayo kita pulang sama!”, ajak Sandra.
         
Akupun mengangguk dan langsung naik ke matic milik Sandra. Ternyata sekali lagi aku membuat kebodohan, sehingga Sandra kembali menegurku.

“Biasanya cowok yang bonceng cewek, kau kok malah mau di bonceng Bay!”

“Udah jalan aja, lagiankan rumah aku yang lebih dekat. Ntar kalau udah nyampek akukan bisa langsung lompat”, sangkalku kali ini yang tak mahu kelihattan bodoh di depan Sandra.

“Terseahlah, tapi jangan macem-macem!”, balas Sandra nngotot.

“Iyalahhh!”

Sandrapun menyalakan maticnya, akhirnya kami berangkat. Rasa letih sekarang hilang sudah, suasana panas sedikit demi sedikit hilang di hembus angin sepoi-sepoi.

Cewek yang satu ini aku udah kenal lama tapi perawakan tomboynya kadang bisa buat cowok yang baru kenal dengannya setres. Dia suka tertawa keras-keras, kadang suka nyanyi-nyanyi barat enggak jelas, dan kadang dia suka ngupil di depan umum. Sikap gokil Sandra yang buat dia begitu di takuti cowok, terbukti sampai detik ini enggak ada cowok yang mau jadi pacarnya.

“Eh, eh, ehhhh”

Menadak Sandra ngerem, akupun menubruknya. Dia tertawa geli, membuatku mengkerutkan kening dan bertanya akan hal gila apalagi yang akan dia lakukannya. Ternyata firasatku benar, beberapa saat setelah itu Sandra ngebut dan dia behasil. Berhasil membuatku cemas secemas-cemasnya.

“San, San, San, San!”, aku menepuk bahunya.
         
Sandrapun menghentikan maticnya, Ia menoneleh kearahku dan ini kali pertama aku melihat sisi cantik darinya. Namun pandangan itu pudar seketika.

“Apa, Bay.!”, Sandra sedikit meninggikan suaranya.

“pelan-pelan, la!. Harga beras mahal.!, ntar kalau nabrak”

“Anak cowok kok, takut..!”, balasnya semakin judes.

Tampak manis dan cantik, mungkin lebih cantik kalau Sandra lagi marah.

“Yaudah aku aja yang bawa!”, pintaku padanya.

Kamipun bertukar posisi. Aku sedikit gemetaran mengendarai matic milik Sandra, sementara Sandra tampak dari kaca spion begitu menawan. Rambutnya tergerai di hembus angin, mungkin angi-angin nakal mulai menggodaku. Namun tiba-tiba ada lubang di aspal, aku mendadak ngerem. Kali ini Sandra menubrukku dari belakang, terasa sedikit aneh karena memang mentok dadanya menempel di bahuku.

“HOI”, teriak Sandra dari belakang.

Akupun turun, takut kalau Sandra mengamuk. Dan pelan-pelan aku mencoba menjelaskan padanya kalau sebenarnya di depan ada lubang. Namaun kecantikannya semakin memuncak ditambah dengan omelan pedas dari mulutnya, kata-kata mutiarapun berhamburan dan penghuni kebun binatang juga ikut keluar dari bibir judes itu.

“Maaf, aku enggak sengaja!”

“Enggak sengaja tapi enak kau, kan!”, bentaknya semakin marah

“Oke, aku turun disini aja!”, balasku mencoba memutus percakapan kami.

“Yaudah!”, sambung Sandra menggebu-gebu.

Iapun pergi begitu saja tanpa aku sempat mengucapkan terimakasi. Tapi Sandra tetaplah Sandra. Perawakannya sulit untuk di pahami dan emosinyi juga sulit untuk di tebak.  

          ***
         
          Sandra nampaknya sudah melupakan kejadian semalam siang, diapun mau berbicara dan seperti biasanya duduk di dekatku, asyik bernyanyi lagu barat. Aneh kenapa aku teringat kejadian semalam siang, Sandra yang kukenal rasanya bukan Sandra yang dulu. Ia tampak semakin cantik dan omelan-omelannya semalam sore semakin menggelitiki otakku. Saat ini dia disampingku seperti hari-hari sebelumnya, tapi ini berbeda. Berbeda dari yang biasanya.

          Akupun beranjak dari meja kami dan meninggalkannya. Karena masih pagi dan guru belum datang, aku berdiri di depan pintu kelas sambil metap kearah cewek gokil itu. Oh, Sandra baru aku sadari kau ternya memang benar-benar cantik. Tak sadar karena sibuk memperhatikan Sandra, tiba-tiba Bu Bakara datang dan mepuk bahuku dari belakang.

          “Aduh Ibuk!” sapaku terkejut.

          Akupun kembali kemejaku dan Sandra tengah duduk manis dengan senyumnya yang mengejekku. Senyum itu sekarang membius,
konsentrasiku.  Aduh Sandra, kenapa jadi begini. Kenapa kau malah membuatku mabuk kepayang.

Akupun hanya melamun di sepanjang pelajaran Bu Bakara. Mungkin Bu Bakara tak tahu, atau mengkin ia teralalu bersemangat mengajar hari ini. Sampai-sampai tak memperhatikan siswa kesayangannya yang selalu menjawab pertanyaan-pertanyaannya ketiaka dia memberikan soal.      

          Akupun tersadar dari lamunan itu, kulihat Sandra sedang menulis. Menulis. Ya, akupun kemudian menulis. Tapi tidak menulis apa yang ditulis sandra dan tidak menulis apa yang di tulis teman-temanku yang lain. Aku menulis surat, surat untuk cewek yang ada di sebelahku. Kemudian tanpa sepengetahuannya aku menyelipkan surat itu kedalam tasnya. Pekerjaan yang cukup mencemaskan karena memang enggak mudah.

          Pelajaranpun usai, Bu Bakara meninggalkan kelas. Jam istirahatpun akhirnya tiba tapi aku sengaja tak beranjak keluar karena Sandra masih duduk sambil mengotak-ngatik Black Berry miliknya.  
           
          ***

          Hari ini aku sengaja pulang jalan kaki, berharap di jegat Sandra dan bisa berbocengan lagi bersamanya.

          “TIIIN”, suara klakson matic sandra.

          Ternyata harapanku terwujud, sekarang apa yang harus aku katakan dengannya. Atau aku pura-pura menolak ajakannya pulang.

          “BAY, tunggu bentar!”, nada bicara Sandra seperti membentak.

          “Apa, San.”

          Sandara menghampiriku dan menarik kerah bajuku, sontak aku terkejut dan cemas.

          “Maksud, kau apa?”, tanya Sandra semakin memojokkanku.

          “Ada apa, San?”, tanyaku cemas.
         
“Ngak usah pura-pura begok laaa!”

          “Udah, San. Malu di liatih orang”

          Sandrapun melepaskan kerah bajuku. Raut wajahnya berubah, kali ini matanya meneteskan air mata. Ya, air mata yang jatuh membanjiri pipinya. Melihat hal langkah ini, aku terpelongok. Sumpah selama kenal Sandra aku enggak pernah liahat dia menangis. Apa yang sudah aku perbuat padanya?, atau ada isi dari surat itu yang melukai hatinya?.
         
          “San, maaf kalau aku salah!”, ucapku padanya sambil menyodorkan tanganku, ingin menjabat tanggannya sebagai permohonan maaf.

          “kenapa, kau suakak sama aku Bay?”, tangisnya menolak jabatan tanganku.

          Kamipun jadi tontonan orang-orang yang lalu lalang siang itu.

          “oke, aku jelasin nanti. Sekaranng ayo kita pergi dari sini. Malu dilihat orang?”, ajakku melerai tangisnya.

          Iapun mengizinkanku mengendarai matic kesayangannya, kamipun berboncengan. Taklama kami tiba di sebuah tempat nongkrong. Disitulah kami singgah dan duduk sebentar.

          Sandra mengusap tangisnya. Akupun pelan-pelan memulai pembicaraan.

          “San, aku jujur memang suka sama kau!”
         
          “Kenapa?”, tanyannya kembali sedikit tenang.

          “Yahh, dari kejadian kemaren. Pas kau marah-marahin aku!”, jawabku meyakinkan Sandra.

          Sandra kembali diam, suasana hening sehening-heningnya.

          “Memang, aku enggak ngerti kenapa aku bisa suka. Tapi kau sekarang terlihat berbeda setelah marah-marah kemarin San”

          “Bay, sumpah ya. Aku juga udah lama suka sama kau, tapi aku malu Bay”, Sandra kembali menangis.

          “Malu, kenapa?”

          “Pikir ajalah Bay, kau itu anak baik dan aku di kelas sering selengekan dan banyak yang bilang aku gila.”

          “Tapi aku kan enggak pernah bialang kau gila”

          “Serius Bay, di hari pertama Bu Bakara nyuruh aku satu bangku dengan kau. Hari itu juga aku sukak sama kau, tapi aku fikir kalau kau tahu nanti kau bakalan berubah Bay!”

          “tapi sekarang, enggakkan!”

          “iya Bay, tapi berapa banyak hinaan lagi yang ahrus aku dengar!”, kali ini air mata yang sedari tadi ia tahan, tumpah kembali.

          Akupun menghapusnya dengan sangat hati-hati. Kemudian aku menggenggam erat tangannya yang putih halus itu.

          “Yang aku tahu, kau itu anaknya periang dan sekarang aku mau kita jadin. Kau kan bisa cerita tentang apa masalahmu?”

          “Bay!”, panggilnya sedikit terbata.

          Akupun menarik tangannya dan menciumnya.

          “jangan lagi pikirkan apa kata orang, sekarang ada aku dan aku sayang sama kau!”, kembali aku melerainya.

          Iapun menghapus tangisnya dan kembali tersenyum padaku. Kali ini kecantikannya tampak sangat sempurna, mungkin inilah kecantikannya yang sebenarnya. Akupun semakin kepayang, tak mengerti kenapa jantungku terus berdenyut kencang.

          Sejak hari itu kami jadian dan seperti hari biasanya kami menjalani hubungan kami sebagai Bayu dan Sandra yang dulu. Tapi sepulang sekolah kami sering berdua-duaan. Setiap hari Sandra mengantarku, aku selalu memboncengnya dan kami saling melengkapi satu sama lain. Sandra tidak lagi melakukan hal-hal gilanya baik itu tertawa keras-keras, nyanyi-nyanyi barat ngak jelas  atau ngupil di depan umum.

          Rasa cinta ini semakin besar pada Sandra, mungkin dia juga demikian. Ya, setidaknya dia tampak bahagia dan dia bisa berubah menjadi cewek yang semakin sempurna di mataku.

“Sandra aku sangat beruntung bisa menjadi pacarmu.

             


           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar