Kerumunan
orang kadang membuatku tak nyaman, bising dan banyak suara-suara sumbang yang
tak ingin aku dengar. Aku lebih suka suasana sunyi dan tenang, meski mustahil
rasanya untuk mendapatkan suasana seperti itu di kota yang cukup besar seperti Medan.
Kota yang terkenal dengan kehidupan masyarakatnya yang keras.
Siang itu adalah siang yang paling buruk dalam hidupku, aku
harus berjalan kaki dari sekolah karena uangku hilang entah kemana. Saat itu
aku masih mengenakan seragam putih abu-abu, tampak sedikit culun kata mereka
karena pakaianku selalu rapi dengan baju di masukkan dan dasi abu-abu yang
terus menempel rapi.
Panas yang terik semakin menjadi-jadi, mulanya hanya
membuatku gerah namun akhirnya pandanganku juga berhasil dibuat kunang-kunang.
Aku tak mengerti betapa lemahnya fisik yang kumiliki, mungkin karena aku selalu
bermalas-malasan dan malas berolah raga. Di sekelilingku banyak terlihat
orang-orang yang sangat gigih, ada yang sedang mendayung becak, ada yang sedang
berteriak, dan ada juga yang sedang berjalan kaki sama seperti aku.
“Huhhhh”, aku menghela nafas sedikit lelah.
Aku duduk di bawah pohon pinang yang tinggi sekitar 2 meter
lebih, tersusun rapi di sepanjang jalanan. Rasanya pengen minum tapi uang
kandas, bahkan air ludahpun rasanya sudah kering.
“TINN..TINN..”, suara klakson.
Akupun terkejud mendengarnya, spontan aku berdiri dari
tempatku berteduh dan mendongak kan pandangan kearaah suara klakson. Ternyata
Sandra yang mengejutkanku. Iapun turun dari matic putihnya, mungkin menghampiriku
dan minta maaf atau apalah.
“Bay, kok duduk di sini?”, tanya Sandra memulai percakapan.
“Capek,
aku. Abis jalan tadi!”, balasku memelas.
“Ahh,
kaunya. Ada angkot malah jalan kaki?”, sindir Sandra.
“Uang
aku hilang, tadi. Terpaksalaa, jalan kaki!”
“Aduhh, kan bisa bisa pinjam!”, sentak Sandra padaku.
Akupun diam terbodoh, benar yang baru saja dia katakan.
Kenapa enggak terifikir tadi, mungkin aja sekarang ini aku sudah sampai
dirumah. Terkadang panas matahari di siang bolong bisa mencairkan otakku yang
beku ini.
“Yaudahla, ayo kita pulang sama!”, ajak Sandra.
Akupun
mengangguk dan langsung naik ke matic milik Sandra. Ternyata sekali lagi aku
membuat kebodohan, sehingga Sandra kembali menegurku.
“Biasanya
cowok yang bonceng cewek, kau kok malah mau di bonceng Bay!”
“Udah
jalan aja, lagiankan rumah aku yang lebih dekat. Ntar kalau udah nyampek akukan
bisa langsung lompat”, sangkalku kali ini yang tak mahu kelihattan bodoh di
depan Sandra.
“Terseahlah,
tapi jangan macem-macem!”, balas Sandra nngotot.
“Iyalahhh!”
Sandrapun
menyalakan maticnya, akhirnya kami berangkat. Rasa letih sekarang hilang sudah,
suasana panas sedikit demi sedikit hilang di hembus angin sepoi-sepoi.
Cewek
yang satu ini aku udah kenal lama tapi perawakan tomboynya kadang bisa buat
cowok yang baru kenal dengannya setres. Dia suka tertawa keras-keras, kadang
suka nyanyi-nyanyi barat enggak jelas, dan kadang dia suka ngupil di depan
umum. Sikap gokil Sandra yang buat dia begitu di takuti cowok, terbukti sampai
detik ini enggak ada cowok yang mau jadi pacarnya.
“Eh,
eh, ehhhh”
Menadak
Sandra ngerem, akupun menubruknya. Dia tertawa geli, membuatku mengkerutkan
kening dan bertanya akan hal gila apalagi yang akan dia lakukannya. Ternyata
firasatku benar, beberapa saat setelah itu Sandra ngebut dan dia behasil.
Berhasil membuatku cemas secemas-cemasnya.
“San,
San, San, San!”, aku menepuk bahunya.
Sandrapun
menghentikan maticnya, Ia menoneleh kearahku dan ini kali pertama aku melihat
sisi cantik darinya. Namun pandangan itu pudar seketika.
“Apa,
Bay.!”, Sandra sedikit meninggikan suaranya.
“pelan-pelan,
la!. Harga beras mahal.!, ntar kalau nabrak”
“Anak
cowok kok, takut..!”, balasnya semakin judes.
Tampak
manis dan cantik, mungkin lebih cantik kalau Sandra lagi marah.
“Yaudah
aku aja yang bawa!”, pintaku padanya.
Kamipun
bertukar posisi. Aku sedikit gemetaran mengendarai matic milik Sandra, sementara
Sandra tampak dari kaca spion begitu menawan. Rambutnya tergerai di hembus
angin, mungkin angi-angin nakal mulai menggodaku. Namun tiba-tiba ada lubang di
aspal, aku mendadak ngerem. Kali ini Sandra menubrukku dari belakang, terasa
sedikit aneh karena memang mentok dadanya menempel di bahuku.
“HOI”,
teriak Sandra dari belakang.
Akupun
turun, takut kalau Sandra mengamuk. Dan pelan-pelan aku mencoba menjelaskan padanya
kalau sebenarnya di depan ada lubang. Namaun kecantikannya semakin memuncak
ditambah dengan omelan pedas dari mulutnya, kata-kata mutiarapun berhamburan
dan penghuni kebun binatang juga ikut keluar dari bibir judes itu.
“Maaf,
aku enggak sengaja!”
“Enggak
sengaja tapi enak kau, kan!”, bentaknya semakin marah
“Oke,
aku turun disini aja!”, balasku mencoba memutus percakapan kami.
“Yaudah!”,
sambung Sandra menggebu-gebu.
Iapun
pergi begitu saja tanpa aku sempat mengucapkan terimakasi. Tapi Sandra tetaplah
Sandra. Perawakannya sulit untuk di pahami dan emosinyi juga sulit untuk di
tebak.
***
Sandra nampaknya sudah melupakan kejadian semalam siang,
diapun mau berbicara dan seperti biasanya duduk di dekatku, asyik bernyanyi
lagu barat. Aneh kenapa aku teringat kejadian semalam siang, Sandra yang
kukenal rasanya bukan Sandra yang dulu. Ia tampak semakin cantik dan
omelan-omelannya semalam sore semakin menggelitiki otakku. Saat ini dia
disampingku seperti hari-hari sebelumnya, tapi ini berbeda. Berbeda dari yang
biasanya.
Akupun beranjak dari meja kami dan meninggalkannya. Karena masih
pagi dan guru belum datang, aku berdiri di depan pintu kelas sambil metap
kearah cewek gokil itu. Oh, Sandra baru aku sadari kau ternya memang
benar-benar cantik. Tak sadar karena sibuk memperhatikan Sandra, tiba-tiba Bu
Bakara datang dan mepuk bahuku dari belakang.
“Aduh Ibuk!” sapaku terkejut.
Akupun kembali kemejaku dan Sandra tengah duduk manis
dengan senyumnya yang mengejekku. Senyum itu sekarang membius,
konsentrasiku. Aduh Sandra, kenapa jadi begini. Kenapa kau
malah membuatku mabuk kepayang.
Akupun
hanya melamun di sepanjang pelajaran Bu Bakara. Mungkin Bu Bakara tak tahu,
atau mengkin ia teralalu bersemangat mengajar hari ini. Sampai-sampai tak
memperhatikan siswa kesayangannya yang selalu menjawab pertanyaan-pertanyaannya
ketiaka dia memberikan soal.
Akupun
tersadar dari lamunan itu, kulihat Sandra sedang menulis. Menulis. Ya, akupun
kemudian menulis. Tapi tidak menulis apa yang ditulis sandra dan tidak menulis
apa yang di tulis teman-temanku yang lain. Aku menulis surat, surat untuk cewek
yang ada di sebelahku. Kemudian tanpa sepengetahuannya aku menyelipkan surat
itu kedalam tasnya. Pekerjaan yang cukup mencemaskan karena memang enggak
mudah.
Pelajaranpun usai, Bu Bakara meninggalkan kelas. Jam
istirahatpun akhirnya tiba tapi aku sengaja tak beranjak keluar karena Sandra
masih duduk sambil mengotak-ngatik Black
Berry miliknya.
***
Hari ini aku sengaja pulang jalan kaki, berharap di jegat
Sandra dan bisa berbocengan lagi bersamanya.
“TIIIN”, suara klakson matic sandra.
Ternyata harapanku terwujud, sekarang apa yang harus aku
katakan dengannya. Atau aku pura-pura menolak ajakannya pulang.
“BAY, tunggu bentar!”, nada bicara Sandra seperti
membentak.
“Apa, San.”
Sandara menghampiriku dan menarik kerah bajuku, sontak aku
terkejut dan cemas.
“Maksud, kau apa?”, tanya Sandra semakin memojokkanku.
“Ada apa, San?”, tanyaku cemas.
“Ngak
usah pura-pura begok laaa!”
“Udah, San. Malu di liatih orang”
Sandrapun melepaskan kerah bajuku. Raut wajahnya berubah,
kali ini matanya meneteskan air mata. Ya, air mata yang jatuh membanjiri
pipinya. Melihat hal langkah ini, aku terpelongok. Sumpah selama kenal Sandra
aku enggak pernah liahat dia menangis. Apa yang sudah aku perbuat padanya?,
atau ada isi dari surat itu yang melukai hatinya?.
“San, maaf kalau aku salah!”, ucapku padanya sambil menyodorkan
tanganku, ingin menjabat tanggannya sebagai permohonan maaf.
“kenapa, kau suakak sama aku Bay?”, tangisnya menolak
jabatan tanganku.
Kamipun jadi tontonan orang-orang yang lalu lalang siang
itu.
“oke, aku jelasin nanti. Sekaranng ayo kita pergi dari
sini. Malu dilihat orang?”, ajakku melerai tangisnya.
Iapun mengizinkanku mengendarai matic kesayangannya,
kamipun berboncengan. Taklama kami tiba di sebuah tempat nongkrong. Disitulah
kami singgah dan duduk sebentar.
Sandra mengusap tangisnya. Akupun pelan-pelan memulai
pembicaraan.
“San, aku jujur memang suka sama kau!”
“Kenapa?”, tanyannya kembali sedikit tenang.
“Yahh, dari kejadian kemaren. Pas kau marah-marahin aku!”,
jawabku meyakinkan Sandra.
Sandra kembali diam, suasana hening sehening-heningnya.
“Memang, aku enggak ngerti kenapa aku bisa suka. Tapi kau
sekarang terlihat berbeda setelah marah-marah kemarin San”
“Bay, sumpah ya. Aku juga udah lama suka sama kau, tapi aku
malu Bay”, Sandra kembali menangis.
“Malu, kenapa?”
“Pikir ajalah Bay, kau itu anak baik dan aku di kelas
sering selengekan dan banyak yang bilang aku gila.”
“Tapi aku kan enggak pernah bialang kau gila”
“Serius Bay, di hari pertama Bu Bakara nyuruh aku satu
bangku dengan kau. Hari itu juga aku sukak sama kau, tapi aku fikir kalau kau
tahu nanti kau bakalan berubah Bay!”
“tapi sekarang, enggakkan!”
“iya Bay, tapi berapa banyak hinaan lagi yang ahrus aku
dengar!”, kali ini air mata yang sedari tadi ia tahan, tumpah kembali.
Akupun menghapusnya dengan sangat hati-hati. Kemudian aku
menggenggam erat tangannya yang putih halus itu.
“Yang aku tahu, kau itu anaknya periang dan sekarang aku
mau kita jadin. Kau kan bisa cerita tentang apa masalahmu?”
“Bay!”, panggilnya sedikit terbata.
Akupun menarik tangannya dan menciumnya.
“jangan lagi pikirkan apa kata orang, sekarang ada aku dan
aku sayang sama kau!”, kembali aku melerainya.
Iapun menghapus tangisnya dan kembali tersenyum padaku. Kali
ini kecantikannya tampak sangat sempurna, mungkin inilah kecantikannya yang
sebenarnya. Akupun semakin kepayang, tak mengerti kenapa jantungku terus
berdenyut kencang.
Sejak hari itu kami jadian dan seperti hari biasanya kami
menjalani hubungan kami sebagai Bayu dan Sandra yang dulu. Tapi sepulang
sekolah kami sering berdua-duaan. Setiap hari Sandra mengantarku, aku selalu
memboncengnya dan kami saling melengkapi satu sama lain. Sandra tidak lagi
melakukan hal-hal gilanya baik itu tertawa keras-keras, nyanyi-nyanyi barat
ngak jelas atau ngupil di depan umum.
Rasa cinta ini semakin besar pada Sandra, mungkin dia juga
demikian. Ya, setidaknya dia tampak bahagia dan dia bisa berubah menjadi cewek
yang semakin sempurna di mataku.
“Sandra aku sangat
beruntung bisa menjadi pacarmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar