Minggu, 10 Januari 2016

Cinta Bau Belerang



    

Seperti biasanya, mentari tetap bersinar dan menyinari hari yang datang dengan semangatnya. Mungkin tidak ada kata jenuh bagi semua ini, atau kata jenuh tidak untuk sebuah tindakan tapi hanya untuk perbuatan.

Dua bulan berselang saat aku menemukan ada sebuah kehangatan yang tidak bersumber dari mentari dan ada semangat yang datang tidak seperti pagi hari. Mulanya saat pertaruhan konyol yang aku sepakati. Saat itu Dirman menantangku untuk mengucapkan salam pada adik kelas. Awalnya memang aku canggun tapi karena Dirman ngotot, akupun bertindak nekat.

“hay, Feby!”
“iya, mas?”, balas wanita itu membuat aku terbata.

Akupun meninggalkan Feby dengan rasa konyol yang entah dari mana datangnya. Mungkin ini yang diinginkan Derman.

Selang beberapa saat, Derman menatapku geli. Geli segelinya, mungkin dia berfikir aku sedang menghiburnya. Terbukti taruhan konyol ini ternyata hanya jebakan Derman yang mencoba menyindirku karena sibuk dengan tugas dan buku-buku.

“saatnya, ngelirik kearah dia. Don!” sindir Derman kembali.
“apa, untungnya?”, tanyaku dingin.
“setidaknya kesibukanmu nambah satu lagi!”

Aku hanya menatapnya dengan raut wajah seburam mungkin. Kalau saja aku punya perawakan seperti Derman mungkin buku yang tengah kupegang saat ini, tak pernah ada dan tak pernah ku baca. Bisa jadi aku akan sependapat dengannya.

          ***

          Taruhan kami ternyata membuatku terjebak, terjebak dalam tatapan mata Feby yang sangat indah. Rasanya aku sangat merindukan sosok wanita itu, pipinya yang tidak terlalu cabi sangat manis disambut dengan senyum dari bibir yang masih polos tanpa lipstik. Sungguh sebuah paras yang masih terlihat ayu.

          Tiap kali aku melihat Feby, aku merasa kejadian saat kali pertama menatapnya dan menyapanya berulang kembali. Mungkin sebuah memorian biasa atau memang ini yang dikatakan mabuk kepayang. Hari-hari serasa semakin membebani, seperti hal nya tugas-tugas dari para dosen.

          Satu kali aku kehabisan akal untuk menghindari Feby. Akhirnya aku nekat untuk mendekatinya, sedikit dengan keberanian yang mungkin akan mengubah diriku. Saat itu Feby tengah menunggu angkutan umum dan tampak sedang gelisah.

          “hay”
          “Iya, mas!”, balas wanita itu dengan cekatan.
          “Pulang bareng yuk”
          “Boleh, tapi enggak apa-apa kan Mas?”, tanya Feby sedikit sungkan.     
          “enggak kok!”

           Kamipun berboncengan, ini pertama kalinya aku merasa melayang. Perasaan bahagia dan cemas yang tak berlasan bercampur aduk sehingga selama di perjalanan aku tak barang sedikitpun berbicara dengannya.

          Ternyata semuanya tersa sangat singkat, kamipun tiba di ruah kos Feby. Iapun perlahan turun dari sepda motorku.

          “Mas, enggak singgah dulu?”, ajak Feby sedikit membuatku grogi.
          “Kapan-kapan aja, ya!”, balasku sedikit berharap padanya agar mehanku lebih lama lagi.  
          “Bener, ya mas. Feby tunggu loh!”, balas Feby kembali.

          Aku semakin merasa tak alang-alang, tubuhku seakan tersetrum dan lidahku kaku untuk menjawab ya atau tidak. Akupun hanya tersennyum sedikit lebar sembari menyalakan mesin sepeda motorku untuk bergegas pergi.

          “Mas pulang dulu ya dek!”
          “Iya, hati-hati ya mas!”, ucap Feby dengan lambaian tangannya.

          Akupun pergi dengan harapan, harapan kalau ini bukan yang terakhir bisa berboncengan bersama Feby. Inikah kesibukan yang dikatakan Derman itu?.

B e r s a m b u n g……

Tidak ada komentar:

Posting Komentar