Seperti biasanya,
mentari tetap bersinar dan menyinari hari yang datang dengan semangatnya.
Mungkin tidak ada kata jenuh bagi semua ini, atau kata jenuh tidak untuk sebuah
tindakan tapi hanya untuk perbuatan.
Dua bulan berselang saat
aku menemukan ada sebuah kehangatan yang tidak bersumber dari mentari dan ada
semangat yang datang tidak seperti pagi hari. Mulanya saat pertaruhan konyol
yang aku sepakati. Saat itu Dirman menantangku untuk mengucapkan salam pada adik
kelas. Awalnya memang aku canggun tapi karena Dirman ngotot, akupun bertindak
nekat.
“hay, Feby!”
“iya, mas?”, balas
wanita itu membuat aku terbata.
Akupun meninggalkan Feby
dengan rasa konyol yang entah dari mana datangnya. Mungkin ini yang diinginkan
Derman.
Selang beberapa saat,
Derman menatapku geli. Geli segelinya, mungkin dia berfikir aku sedang
menghiburnya. Terbukti taruhan konyol ini ternyata hanya jebakan Derman yang
mencoba menyindirku karena sibuk dengan tugas dan buku-buku.
“saatnya, ngelirik
kearah dia. Don!” sindir Derman kembali.
“apa, untungnya?”,
tanyaku dingin.
“setidaknya kesibukanmu nambah
satu lagi!”
Aku hanya menatapnya
dengan raut wajah seburam mungkin. Kalau saja aku punya perawakan seperti
Derman mungkin buku yang tengah kupegang saat ini, tak pernah ada dan tak
pernah ku baca. Bisa jadi aku akan sependapat dengannya.
***
Taruhan
kami ternyata membuatku terjebak, terjebak dalam tatapan mata Feby yang sangat
indah. Rasanya aku sangat merindukan sosok wanita itu, pipinya yang tidak
terlalu cabi sangat manis disambut dengan senyum dari bibir yang masih polos
tanpa lipstik. Sungguh sebuah paras yang masih terlihat ayu.
Tiap
kali aku melihat Feby, aku merasa kejadian saat kali pertama menatapnya dan
menyapanya berulang kembali. Mungkin sebuah memorian biasa atau memang ini yang
dikatakan mabuk kepayang. Hari-hari serasa semakin membebani, seperti hal nya
tugas-tugas dari para dosen.
Satu
kali aku kehabisan akal untuk menghindari Feby. Akhirnya aku nekat untuk
mendekatinya, sedikit dengan keberanian yang mungkin akan mengubah diriku. Saat
itu Feby tengah menunggu angkutan umum dan tampak sedang gelisah.
“hay”
“Iya,
mas!”, balas wanita itu dengan cekatan.
“Pulang
bareng yuk”
“Boleh,
tapi enggak apa-apa kan Mas?”, tanya Feby sedikit sungkan.
“enggak
kok!”
Kamipun berboncengan, ini pertama kalinya aku
merasa melayang. Perasaan bahagia dan cemas yang tak berlasan bercampur aduk
sehingga selama di perjalanan aku tak barang sedikitpun berbicara dengannya.
Ternyata
semuanya tersa sangat singkat, kamipun tiba di ruah kos Feby. Iapun perlahan
turun dari sepda motorku.
“Mas,
enggak singgah dulu?”, ajak Feby sedikit membuatku grogi.
“Kapan-kapan
aja, ya!”, balasku sedikit berharap padanya agar mehanku lebih lama lagi.
“Bener,
ya mas. Feby tunggu loh!”, balas Feby kembali.
Aku
semakin merasa tak alang-alang, tubuhku seakan tersetrum dan lidahku kaku
untuk menjawab ya atau tidak. Akupun hanya tersennyum sedikit lebar sembari
menyalakan mesin sepeda motorku untuk bergegas pergi.
“Mas
pulang dulu ya dek!”
“Iya,
hati-hati ya mas!”, ucap Feby dengan lambaian tangannya.
Akupun
pergi dengan harapan, harapan kalau ini bukan yang terakhir bisa berboncengan
bersama Feby. Inikah kesibukan yang dikatakan Derman itu?.
B
e r s a m b u n g……

Tidak ada komentar:
Posting Komentar